Rabu, 04 Mei 2011

anak-anak paling bahagia sedunia

Hai, perkenalkan. Nama saya Maria Puspitasari Munthe. Saya anak-anak paling bahagia sedunia. :)

Aku menyadari sepenuhnya bahwa selama ini memang yang menjadi masalahku adalah tingkah kekanak-kanakanku yang keterlaluan. Jika butuh membela diri, aku akan menanggapi dan meyakinkan diri sendiri bahwa tiap orang pun punya sisi itu dalam dirinya, dan itu wajar. Maka, tenanglah hatiku. Namun, ternyata tingkah itu dengan sendirinya seringkali melampaui batas dan menjadi sangat keterlaluan. Aku sedang berusaha mengatasi itu agar tidak jadi berlebihan.
Beberapa waktu yang lalu seorang sahabat mengungkapkan pendapatnya tentangku. Jawabannya: aku memang seperti anak-anak. Hahaha...aku sempat khawatir dengan jawaban itu karena biasanya ketika ada seseorang yang dikomentari seperti anak-anak, komentar itu selalu keluar karena ada kejengkelan. Sepertinya memang aku menjengkelkan. Namun, sahabatku itu bilang bahwa hal itu sama sekali tidak mengganggunya karena dia telah mengenal aku seperti itu sejak awal. Menurutnya, aku tidak berusaha menutup-nutupinya (dia tidak tahu saja), maka hal itu tidak mengganggu sama sekali.

Maka, aku pun makin berbahagia dengan pembenaran itu. Hahaha...
Ya, ini aku Maria Puspitasari Munthe yang mengerucutkan bibir dengan menyebalkannya sambil memukul-mukul meja dan bicara sendirian karena teman-temannya mengerjakan tugas dengan komputer jinjing masing-masing dan tidak mau diajak bicara. Ini aku yang dengan riang gembira kemudian menyambut malam berikutnya dengan mengumpulkan kertas bekas dari papan pengumuman atau tempat sampah untuk bermain origami dan membawa pulang replika speedboat, perahu panjang, kamera, kubus, burung pelikan, kodok, dan seperangkat robot serta pesawat G-Force. Ini aku yang menikmati membakar kertas atau tisu hanya karena tidak ada benda lain di atas meja. Ini aku yang selalu membuat bintang dari sedotan setelah digunakan untuk minum es. Ini aku yang lebih memilih jajan nyamnyam dan sugus rasa jeruk. Ini aku yang selalu menyambut gembira pedagang es krim keliling. Ini aku yang memukul-mukulkan dua batang kayu hingga menyakiti sejumlah teman hanya karena bosan dan tak punya mainan. Ini aku yang berteriak-teriak minta diajak main. Ini aku yang bersorak riang ketika berlari-larian dan bermain bola-voli-buatan-sendiri di halaman rumput bersama teman-teman di masa-masa beranjak tua ini. Ini aku yang berterima kasih pada kalian yang selalu dengan betahnya (walaupun sebenarnya menahan kesal dan dongkol) terpaksa meladeni kekanak-kanakanku. Ini aku yang baru bisa minta maaf jika semua itu menyebalkan dan tidak ada gunanya di mata kalian.

Tapi, aku jujur bahwa aku sungguh menikmati saat-saat seperti itu. Terima kasih sekali karena telah meluangkan waktu untuk membantuku menangguhkan sejenak beban-beban dan kekhawatiran. Terima kasih sekali karena telah menyediakan diri untuk bersamaku melepaskan gelak tawa tak peduli sekitarnya. Terima kasih sekali. Terima kasih. :)