Minggu, 23 Januari 2011

the insensitive

so this is another tragedy
am I really the insensitive?
or are you just the too-sensitive one?

may I say I'm tired?
because, I really am

I just can't stand these things
I'm not doing what most of you think I am doing
sorry, sorry for everything.

maybe I'm just too...
too...
akh, I do not really understand.
I've been trying, but it seems like not yet found
the reason.

Jumat, 21 Januari 2011

malam

Hari selalu penuh
Berakhir dalam lelah dan kadang jenuh
Namun ternyata malam tak lagi seorang yang sama
Malam tak lagi bisa memadamkan denyut di kepala
Tak juga bisa ia meretas kesepian dengan melelapkan
Atau akulah yang berubah?
Aku yang tak mau memadamkan denyut itu
Tak mau tenggelam dalam lelap
Aku menuntut banyak dari malam
Agar jangan ia melelapkanku lagi
Karena aku menemukan hening dengan jingkrak jangkrik yang rendah
Pula ada tembang-tembang mengalun yang tak akan sesyahdu itu
Tak akan sesyahdu itu jika siang yang menggulirkannya
Hanya ada aku dalam malam
Semua sudah terlelap
Eh, tak cuma aku ternyata
Tentu ada si malam…
Eh, ada yang bicara, siapa lagi itu? Mengganggu saja…
Oh, si rindu menjengukku, malam yang mengantarkannya
Masih ada lagi yang bicara
Kenapa semua bicara sih? Otakku, mataku, hidungku, telingaku, jemariku, tungkaiku, perutku…
Siapa lagi? Oh, biarkanlah aku menuliskannya dulu, semua yang kalian bicarakan itu
Biar perbincangan kalian jadi penanda hari ini, hari yang tak akan terulang lagi
Oh, sudah harus tidurkah aku?
Tapi, malam masih panjang…
Ya kah? Harus? Baiklah…
Biarkan aku bangun sesiang mungkin,
Supaya aku lebih dekat dengan malam
Aku ingin menemuinya lagi besok.



Bengkulu, dua hari menuliskannya
Pergantian hari ke-20 menuju hari ke-21 di bulan aku bertambah tua lagi

kutap-kutip: Jazz, Parfum, dan Insiden

Salah satu buku pinjaman yang  saya pakai untuk mengisi liburan kali ini adalah sebuah roman berjudul Jazz, Parfum, dan Insiden garapan Seno Gumira Adjidarma. Roman ini merupakan bagian dari trilogi insiden: Saksi Mata, Jazz, Parfum, dan Insiden, dan Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Ketiganya mengangkat topik insiden Dili. Untuk merampungkannya, saya masih harus membaca Saksi Mata yang kebetulan belum dipinjamkan pada saya.

Ini gambar sampulnya

Membaca roman ini merupakan hal yang cukup membingungkan buat saya, terutama ketika tokoh utamanya bicara tentang jazz. Pada akhirnya, jika saya benar-benar tidak bisa memahaminya saya hanya menerabas membaca. Namun, saya akan berhenti dan berpikir lebih lama ketika menemukan kalimat-kalimat yang menarik hati. Banyak juga ternyata, saya mengumpulkannya lalu mencatatkannya di bawah ini. Sayangnya, saya memulai pekerjaan ini ketika sudah menapaki bagian tengah bukunya, tidak sepenuhnya dari awal. Tidak apa-apa. Tulisan ini hanya mencantumkan kutipan-kutipan yang bagi saya ‘menarik hati’ dari roman berjudul Jazz, Parfum, dan Insiden tersebut.

Tanda * menandakan kutipan tersebut dikatakan oleh tokoh utama dalam roman tersebut. (Saya akhirnya memutuskan seperti ini karena kebingungan apakah sungguh Seno Gumira Adjidarma yang mengisi tokoh tersebut. Boleh dianggap iya maupun tidak.)
Berikut kutipan-kutipannya:





Aku tidak bisa membayangkan, apa jadinya kalau kita harus terus menerus hidup dengan kesadaran, bahwa kehidupan ini cuma sementara, kebahagiaan hanya sekejap, dan dunia ini adalah setumpuk taik kucing. –*
Barangkali kita justru harus bersyukur jika sempat mengecap apa yang disebut kesedihan. Itu membuktikan bahwa kita setidaknya masih punya perasaan. Banyak orang di dunia ini menderita begitu hebat, sehingga harus mengikis perasaannya sendiri. Supaya tidak perlu mengakui dirinya kesepian. Supaya tidak perlu takluk pada keterasingan. –*

Saya bukan menjadi pemimpin dari suatu gedung, air, batu, atau laut. Saya menjadi pemimpin dari suatu masyarakat. Saya tidak bisa cerai dari rakyat. –Gubernur Gidgid

Kalau saya diharuskan menyesuaikan dengan keadaan, dan tidak berjalan lurus sesuai dengan prinsip yang saya anut, lebih baik saya diberhentikan. Saya tidak merasa malu, kalau harus disingkirkan dari jabatan demi kebenaran yang saya pertahankan. Putih akan selalu saya kemukakan putih, demikian pula sebaliknya. Apa saja akibatnya, mau dieksekusi pun silakan. Tidak akan yang putih saya katakan hitam, hanya untuk menyenangkan pihak-pihak tertentu. –Gubernur Gidgid

Music is the sign of the opressed masses. It is the heart in a heartless world. –Bill Graham

Pada akhirnya, musik memang membuat kita hidup. Suka atau tidak suka, kita hidup dengan musik –dengan ritme, irama, beat, dalam hati kita. –*

Bahwa dunia ini tidak hitam, tidak putih, melainkan abu-abu. –* (Saya paling suka kutipan ini karena saya merasa dibela. Hahaha... :P)

Lubang ozon di atas itu menganga, rasanya itu lebih mengerikan dari ideologi politik mana pun –mestinya. Hutan-hutan ditebang habis, dan kita mengenal efek rumah kaca, sehingga bumi berada dalam risiko terpanggang –tidakkah ini jauh lebih konkret ketimbang sibuk dengan tawar-menawar ideologis? Barangkali ideologi memang belum mati. Namun kalau masih hidup pun sebaiknya ideologi dibunuh saja. Terlalu banyak omong kosong dalam perbincangan ideologis –yang kita perlukan adalah kebahagiaan yang konkret, O2 yang beres, dan desis sungai yang menyejukkan hati. Bukan mulut-mulut terbuka yang mengeluarkan bau busuk karena penuh dengan sampah dan barangkali tikus. –*

Bacalah koran, maka engkau akan membaca kebohongan. Bunyikan radio, maka engkau akan mendengar kebohongan. Nyalakan TV, maka engkau akan tenggelam dalam lautan kebohongan. Namun kita akan terus berada di depannya karena tidak punya pilihan lain. Dari saluran satu ke saluran lain, kita hanya akan mendapatkan kebohongan. Sampai kita tertidur di depan TV, dengan mimpi-mimpi yang juga bohong. –*

But when a majestic sound takes the field, when it parts the waters of silence and noise with the power of song, when this majestic concatenation of rhythm, harmony, and melody assembles itself in the invisible world of music, ears begin to change and those who were musically lame begin to walk with a shopistication to their steps. You see, when something is pure, when it has the noblest reasons as its fundamental purpose, then it will become a candle of soung in the dark cave of silence. Yes, it was a noble sound. –Reverend Jeremiah Wright, Jr.

Memang banyak hal tidak harus kita mengerti Alina, ada saatnya kita tidak harus mengerti apa-apa, tidak perlu memaklumi apa-apa, dan tidak perlu menyesali apa-apa, kecuali hanya merasa, bergerak, dan menjelma. –*

Barangkali memang sudah waktunya kita harus menjadi kejam kepada diri kita sendiri, membiarkan perasaan kita menggelepar seperti ikan, dan menciba hidup bersama kenyataan. Masalahnya, apakah kenyataan mau hidup bersama kita? –*

Kehidupan ini bisa begitu menyiksa tanpa ada korban, karena segala sesuatunya memang keras tanpa kekerasan, kejam tanpa kekejaman, dan begitu menghancurkan tanpa harus ada penindasan. –*




Demikian edisi kutap-kutip ini. Saya ingin melanjutkan petualangan ke buku lainnya. Terima kasih.

Sabtu, 15 Januari 2011

this is holiday

iseng-iseng, tapi saya sama sekali tidak bisa memotret. jadi,...ya tetep mawut...
haha...nggak papa yang penting cuma pengen berbagi :)


here comes the christmas tree






ini adalah makanan aneh yang dibikin mama. aku nggak tau namanya apa. tapi, rasanya lumayan...aneh...haha




salah satu buku yang saya baca liburan kali ini. buku lain tidak dipotret karena tidak tergeletak di meja.






if you decided to take a holiday at home, so you should have known and been ready for the amazing body weight increasing :D





and...voila! my favorite stuff... dari Lubis dan Lajun di hari ulang tahun pertama yang dirayakan bersama sekumpulan orang batak hahaha :D







hmm...this isn't over yet. let's see what I'll have days later... :D

Senin, 10 Januari 2011

Chitato, Buavita Jeruk, dan Pantai

Wahahahahahahahahaha…..aku sedang girang gumiraaang :D!

    Baiklah…ini cerita kecil tentang sore singkat yang kulalui hari ini. Telah sejak berbulan-bulan yang lalu aku meniatkan diri ingin menjenguk kembali Pantai Panjang di Bengkulu, bahkan  ketika aku masih di Jogja. Aku hanya ingin duduk di tepiannya, menikmati angin, menonton ombak, syukur-syukur sempat menunggui matahari terbenam dan senja merahnya. Hari ini terjawab sudah doaku.

    Setelah menjalankan tugas mengantarkan ibu tercinta ke gereja, sebenarnya beliau menyuruhku menunggu saja, tapi aku malas. Aku memilih kelayapan entah ke manalah. Kesempatan ini segera aku manfaatkan dengan menyusuri tepi pantai. Ahai…tempat itu sudah banyak berubah. Jalanannya makin lebar, fasilitas publik pun diperbanyak. Sport station yang dibangun sudah selesai dan kini ramai dipenuhi orang-orang yang berolahraga, main basket maupun sepak bola. Mereka yang bersepeda pun berseliweran, ada yang bergerombol, sendirian, bahkan tandem. Tidak ada lagi pungutan liar retribusi masuk. Aah…

    Setelah bingung-bingung mau memarkir motor di mana supaya aman, aku akhirnya memutuskan untuk memarkirkannya di mal yang berdiri di seberang pantai itu persis. Daripada bengong benar-benar bengong di pantai nanti, aku memilih untuk jajan dulu. Masuklah aku ke dalam pusat perbelanjaan itu. Hati ketar-ketir, takut dikira maling. Tadi sore, aku pakai celana pendek belel, sandal jepit, dan jumper gedombrongan. Aku sebenarnya tidak terlalu peduli orang mau komentar aku tampil seperti gembel, aku hanya takut dikira mau mencuri, soalnya tanganku selalu kuselipkan di kantung depan jumper. Haha…peduli amat ah. Aku segera masuk ke supermarket dan mendatangi gerai makanan dan minuman ringan. Aku memilih Chitato dan Buavita Jeruk. Setelah membayar, aku langsung beranjak keluar menuju spot paling asik di tepi pantai dengan berjalan kaki.

    Aah…senang sekali rasanya bisa kembali ke sini. Aku duduk di dam menghadap lurus ke matahari sore. Anginnya bertiup kencang sekali. Tanpa aku sadari, aku tersenyum menikmati semuanya itu. Aku duduk di pesisir tempat aku menghabiskan banyak akhir minggu bersama teman-teman sekolah dulu. Aku memandang laut yang sama yang pernah menghanyutkan robekan-robekan bekas kartu ujian semester ketika sekolah dulu.

    Aku tidak tahu apakah orang lain juga menikmati waktu-waktu seperti yang kuhabiskan tadi. Aku hanya duduk diam di sana. Manusia terkadang terlalu banyak bicara. Aku pun manusia. Maka, aku ingin punya waktu untuk sekali-sekali tidak bicara. Hanya diam dan membiarkan semesta yang ganti berbicara. Aku membiarkan ombak yang bicara. Aku membiarkan angin yang bicara. Aku membiarkan pasir-pasir yang bicara. Aku membiarkan gumpalan awan mendung yang bicara. Aku membiarkan matahari hampir terbenam yang bicara. Biar mereka semua yang bicara, aku mau mendengarkan suaranya. Aku lelah terlalu banyak bicara.

    Aku tidak melamun, pandanganku tidak kosong. Aku melihat dan memperhatikan sekitarku. Aku lelah selama ini terlalu tak acuh dengan sekelilingku. Aku tidak memikirkan apa-apa. Aku lelah terlalu banyak memikirkan macam-macam hal. Aku tidak bersedih. Aku lelah terlalu bermelankoli ria. Aku pun tidak tertawa. Aku lelah terlalu banyak tergelak dan berguling. Aku hanya tersenyum, mengerutkan kening sesekali. Sumpah, aku tidak memikirkan apa-apa. Aku hanya diam dan mendengar semua hal di sekitarku bicara.

    Kebetulan, aku juga disapa oleh seorang kenalan di SMP yang menjadi teman di SMA. Namanya Eko Reva Miranda. Si Menko Dept. 7. Dia mengobrol denganku sekilas, bicara tentang kuliah dan teman-teman SMA.

    Sore yang asik. Syukurlah aku bahagia. :)



Bengkulu, 10 Januari 2010

Bersabdalah saja maka saya akan sembuh

Berikut sebuah potongan cerita yang dikutip dari The Alchemist karya Paulo Coelho di halaman 200 - 203:

“Aku ingin menceritakan padamukisah tentang mimpi,” kata sang alkemis.
    Si anak lelaki mendekatkan kudanya.
    “Di Roma, pada masa pemerintahan Kaisar Tiberius, ada seorang laki-laki yang baik hari. Dia mempunyai dua putra. Yang seorang masuk militer dan telah dikirim ke wilayah-wilayah paling jauh dalam kekaisaran itu. Putra satunya seorang penyair yang memukai seisi Roma dengan syair-syairnya yang indah.
    “Suatu malam sang ayah bermimpi. Ada malaikan mendatanginya dan menyampaikan bahwa ucapan salah seorang putranya akan dikenal dan dibicarakan di seluruh dunia hingga turun-temurun. Sang ayah terbangun dari tidurnya dan menangis penuh rasa syukur, sebab hidup ini begitu murah hati kepadanya, dan telah mengungkap hal yang pasti membuat bangga ayah mana pun.
    “Tak lama sesudahnya, sang ayah meninggal ketika mencoba menyelamatkan seorang anak kecil yang hampir dilindas roda-roda kereta perang. Karena selama ini sang ayah menjalani hidupnya dengan benar dan saleh, ia langsung masuk surga. Di sana dia bertemu malaikat yang mendatanginya dalam mimpi.
    “’Selama hidupmu kau orang yang baik,’ kata malaikat itu padanya. ‘Kau menjalani hidupmu dengan penuh kasih, dan meninggal secara terhormat. Maka aku akan mengabulkan apa pun permintaanmu.’
    “’Hidup telah bermurah hati padaku,’ kata sang ayah. ‘Ketika kau muncul dalam mimpiku, aku merasa segala usahaku tidak sia-sia, sebab syair-syair putraku akan dibaca orang hingga turun-temurun. Aku tidak menginginkan apa-apa untuk diriku sendiri. Tapi ayah mana pun tentu akan bangga kalau anak yang dirawatnya sejak kecil dan diberi pendidikan hingga dewasa menhadi orang terkenal. Aku ingin mendengar ucapan anakku di masa depan.’
    “Maka malaikat itu menyentuh bahu sang ayah, dan mereka pun dibawa ke masa depan. Mereka berada di sebuah lapangan sangat luas, dikelilingi ribuan orang yang berbicara bahasa yang tidak mereka pahami.
    “Sang ayah menangis bahagia.
    “’Sudah kuduga syair-syair putraku akan abadi,’ katanya pada malaikat itu di tengah-tengah air matanya. ‘Bisakah kaukatakan padaku, syair-syair mana dari putraku yang diucapkan orang-orang ini?’
    “Malaikat itu mendekati sang ayah dan dengan lembut membimbingnya ke sebuah bangku yang tidak jauh dari situ. Mereka pun duduk.
    “Syair-syair putramu yang menjadi penyair sangat populer di Roma,’ kata malaikat itu. ‘Semua orang sangat menyukai dan menikmatinya. Tapi setelah masa pemerintahan Tiberius berakhir, syair-syairnya terlupakan. Kata-kata yang kaudengar saat ini adalah kata-kata putramu yang masuk militer.’
    “Sang ayah terperangah memandang malaikat itu.
    “’Putramu dikirim ke tempat jauh dan menjadi
centurion. Dia orang yang adil dan baik hati. Suatu siang salah seorang pelayannya jatuh sakit dan sepertinya akan mati. Putramu mendengar ada seorang rabi yang bisa menyembuhkan penyakit, maka dia pun berkuda berhari-hari untuk mencari rabi ini. Dalam perjalanan dia diberitahu bahwa laki-laki yang dicarinya ini adalah Anak Allah. Dia bertemu orang-orang yang telah disembuhkan oleh rabi ini, dan dari orang-orang ini dia belajar tentang ajaran-ajaran rabi itu. Meski dia seorang prajurit Romawi, akhirnya dia beralih memeluk kepercayaan mereka. Tak lama sesudahnya, dia tiba di tempat yang sedang dikunjungi rabi yang dicari-carinya itu.
    “Dia mengatakan pada orang itu bahwa salah seorang pelayannya sakit parah. Rabi itu bersiap-siap ikut pulang bersamanya. Namun begitu besar iman perwira Romawi ini, dan saat memandang ke dalam mata eabi itu, dia yakin yang ada di hadapannya ini Anak Allah.
    “’Dan inilah yang dikatakan putramu,’ kata malaikat kepada sang ayah. ‘Beginilah ucapannya kepada rabi itu, yang tidak pernah dilupakan hingga turun-temurun, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.”’”
    Sang alkemis berkata, “Setiap orang di dunia ini, apa pun pekerjaannya, memainkan peran penting dalam sejarah dunia. Dan biasanya orang itu sendiri tidak menyadarinya.”
    Si anak lelaki tersenyum. Tak pernah dibayangkannya bahwa pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan ternyata begitu penting bagi seorang gembala.
    “Selamat tinggal,” kata sang alkemis.
    “Selamat tinggal,” kata anak itu.




Hmm…jelas sekali menarik buatku. Aku belum pernah mendengar kisah yang diceritakan sang alkemis itu kepada anak lelaki di dalam cerita. Klarifikasi: aku termasuk orang-orang yang mengenang kata-kata sang prajurit Romawi itu hingga saat ini. Sungguh, aku terkesan betul dengan kisah ini. Karena kata-kata itu begitu berarti buatku, aku mencoba bertanya pada ibuku yang aku pikir mungkin punya pengalaman lebih soal cerita ini. Dan beliau memang tahu. *prok, prok, prok. Ia menyebutkan bahwa kisah itu juga ada di dalam alkitab, di bagian Injil. Sayang, ia lupa di mana letak persisnya. Maka, malam ini aku memutuskan untuk mencarinya.
Jeng…jeng…aku menemukannya. Tercantum di Injil Lukas 7:1-10 (baca: Injil Lukas bab 7 ayat 1 sampai 10). Inilah versi alkitabnya:

Yesus menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum
Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya: “Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami.” Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuah di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” Dan setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, didapatinyalah hamba itu telah sehat kembali.


    Memang agak berbeda, namun ada yang memuat kalimat yang lebih mirip dengan potongan cerita sang alkemis itu di Injil Matius 8:8 (baca Injil Matius bab 8 ayat 8). Ceritanya mirip, namun kalimat yang diucapkan prajurit itu kurang lebih serupa:

Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.”


    Wow, waktunya menjelaskan alasan semua ini begitu menarik perhatianku. Di dalam perayaan Ekaristi yang dirayakan oleh umat Katolik terdapat bagian di mana semua umat mengucapkan kalimat yang serupa dengan yang diucapkan oleh prajurit tersebut. Perayaan Ekaristi diselenggarakan setiap hari di seluruh penjuru dunia oleh berjuta-juta orang, itulah sebabnya sang malaikat dalam cerita The Alchemist menyebutkan bahwa kalimat prajurit itu tidak pernah dilupakan oleh orang-orang turun-temurun. Bagian ini dalam Ekaristi ditandai dengan seusai mengucapkan Doa Syukur Agung, imam (biasa juga disebut Pastur) mengangkat hosti besar dan piala berisi anggur –yang melambangkan tubuh dan darah Kristus– ke hadapan seluruh umat. Ia kemudian melanjutkannya dengan doa yang kurang lebih berbunyi seperti ini: Berbahagialah saudara-saudari yang diundang ke dalam perjamuan Kristus. Selanjutnya, seluruh umat akan menjawab kalimat yang mirip dengan yang diucapkan oleh prajurit itu: “Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya. Tapi, bersabdalah saja maka saya akan sembuh.

   Momen itu adalah bagian dalam Ekaristi yang paling berkesan buatku. Aku selalu berusaha menghayatinya lebih dalam dari semua bagian yang lain. Nyatanya, memang hanya bagian inilah yang paling dominan aku hayati jika dibandingkan dengan bagian lainnya. Terutama ketika aku mengalami masa-masa krisis. Aku bisa serius ketika mengucapkannya. Ketika mengucapkan kalimat itu, aku berharap Tuhan menyembuhkan semua penyakitku. Semua keletihan dan keraguanku, semua iri hati dan dengki, semua rindu, semua kekecewaan dan kesedihan, semuanya. Bagiku, itu merupakan bentuk kerendahan hati dan pernyataan iman paling dahsyat. Sekaligus, kalimat itu menunjukkan bahwa betapa Tuhan itu mahabaik dan mahakuasa.   

Ada alasan lain yang membuat kisah-kisah ini begitu menarik buatku. Ketika aku bertanya pada ibuku tentang cerita ini, ia mengungkapkan bahwa firman alkitab itulah yang terakhir kali dibacakannya untuk didengarkan bersama dengan almarhum bapakku. Waktu itu, mereka berdua sedang berada di Jakarta, di rumah seorang keluarga, karena sedang menjalani pengobatan untuk bapakku. Hari itu hari raya Pentakosta, namun mereka berdua tidak bisa ikut misa di gereja. Maka ibuku mengajak bapakku berdoa bersama. Ibuku secara acak memilih firman itu. Sekedar memberitahu, saat itu bapakku sudah dinyatakan secara medis tidak bisa sembuh dari kanker yang menggerogotinya. Ternyata, sabda terakhir yang didengarkan bapakku itu bicara tentang kesembuhan. Bersabdalah saja, maka saya akan sembuh. Aku tidak pernah tahu persis apakah kisah ini juga bermakna besar bagi bapakku –aku tidak sempat tanya dan aku baru tahu beberapa hari yang lalu–. Syukur pada Tuhan, pada akhirnya bapakku bisa menerima semua rencana-Nya dengan tenang dan ikhlas. Setelah itu, ibuku juga bilang bahwa kejadian itu membuatnya selalu terkenang akan almarhum suaminya itu tiap kali ia mendaraskan kalimat itu di dalam Ekaristi.

Sudah ah, aku cuma mau cerita sebuah letupan-letupan peristiwa yang saling berkaitan dan menarik buatku beberapa waktu belakangan ini.

Sekaligus aku mau berterima kasih pada Tuhan atas pertemuanku dengan kisah-kisah ini. Terima kasih banyak ya, Tuhan. :)





 
 
Bengkulu, 9 Januari 2010, 23.38
Di kamar sendiri; ditemani hujan, alkitab, dan The Alchemist; duduk berselimut

Minggu, 09 Januari 2011

Manjali dan Cakrabirawa

Judul        : Manjali dan Cakrabirawa
Penulis     : Ayu Utami
Penerbit   : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Terbit       : Juni 2010 (Cetakan Pertama)
Tebal       : 251 halaman
ISBN       : 978-979-91-0260-7




    Manjali dan Cakrabirawa merupakan novel keempat Ayu Utami. Novel ini juga disebut-sebut sebagai sekuel dari novel sebelumnya, Bilangan Fu, karena menggunakan tokoh-tokoh yang sama. Jika novel Bilangan Fu mengambil latar dominan perbukitan kapur di Watugunung lengkap dengan cerita-cerita para pemanjat tebing, Manjali dan Cakrabirawa berpindah ke daerah candi Calwanarang.

    Dalam novel keempatnya ini, Ayu Utami membawakan cerita mengenai Marja, seorang mahasiswi 19 tahun yang bertualang menjelajahi candi-candi bersama Parang Jati, pemuda pintar yang menjadi sahabatnya. Marja dan Parang Jati mendatangi sebuah candi yang dikenal dengan nama Candi Calwanarang bersama dengan seorang arkeolog berkebangsaan Perancis yang disapa Jacques. Kedatangan mereka bertujuan untuk menjenguk sebuah penggalian situs purba oleh masyarakat sekitar dan membantunya. Perjalanan ini menjadi sedikit berbau mistik bagi Marja karena Parang Jati mengawalinya dengan sebuah cerita mengenai candi yang mereka kunjungi itu.

    Nama Calwanarang diambil dari nama seorang juru teluh pada zaman Kerajaan Airlangga. Ratu Calwanarang ini dikenal memiliki ilmu sihir yang begitu dahsyat sehingga ia begitu kenamaan. Calwanarang memiliki seorang putri yang bernama Ratna Manjali. Setelah mendegar cerita ini, Marja mulai gelisah memikirkan kemiripan namanya dengan putri Calwanarang itu. Marja Manjali. Ia bolak-balik mulai merasakan sentuhan-sentuhan gaib yang diduganya merupakan hubungan nama Manjali tersebut. Petualangan Marja, Parang Jati, dan Jacques sejak dari awal dibumbui dengan kisah jatuh cintanya Marja pada Parang Jati. Marja sesungguhnya telah memiliki kekasih bernama Sandi Yuda yang juga merupakan sahabat kental Parang Jati. Marja harus mengatasi nafsunya dan rasa bersalahnya pada Yuda. Kisah cinta terlarang bin sembunyi-sembunyi itu mendominasi keseluruhan cerita.

    Dalam perjalanan yang sama pula, Marja dan Parang Jati bertemu dengan seorang ibu tua yang tinggal sendirian di dalam hutan dekat Candi Calwanarang. Ibu bernama Murni itu kemudian diketahui sebagai salah seorang saksi hidup dari peristiwa pembantaian massal yang dikenal dengan G 30 S. Diceritakan, Ibu Murni kehilangan suaminya, seorang tentara yang turut menjadi korban pembantaian tahun itu atas tuduhan memiliki kaitan dengan PKI (Partai Komunis Indonesia). Dari petunjuk yang didapatkannya, ia datang ke hutan tersebut untuk mencari makam suaminya. Namun, karena tidak jua ketemu, ia akhirnya hidup sebatang kara di sana. Di akhir cerita, Marja dan Parang Jati berhasil menemukan makam suaminya.

    Di tempat terpisah, Yuda, kekasih Marja, merahasiakan aktivitasnya melatih militer memanjat tebing dari sahabatnya, Parang Jati, yang amat membenci militer. Yuda kemudian berkenalan dengan seorang tentara, bernama Musa Wanara, yang begitu tertarik dengan benda-benda semacam jimat. Karena sebuah ketidaksengajaan, Yuda menceritakan pada Musa bahwa kekasih dan sahabatnya menemukan sebuah arca Bhairawa Cakra dalam penggalian mereka di Candi Calwanarang. Musa langsung bergairah karena ketertarikannya pada mantra Cakrabirawa yang diyakininya tertulis pada arca tersebut. Musa percaya bahwa ia ditakdirkan untuk memiliki mantra itu. Ganti Yuda yang kewalahan. Akhirnya, Musa dan Yuda sungguh-sungguh berangkat menyusul untuk mengambil arca tersebut. Mereka melaksanakan perampokan berencana, mencuri arca Bhairawa Cakra yang diangkut oleh petugas dinas purbakala. Marja, Parang Jati, dan Jacques yang telah meninggalkan area penggalian terpaksa kembali lagi ke candi tanpa mengetahui siapa yang mencurinya.

    Ketika menginap di kompleks candi, mereka mendapati Sandi Yuda telah menyusul ke tenda mereka. Yuda datang dengan tiba-tiba sambil memohon pertolongan karena seorang temannya tercebur ke dalam sumur yang pernah digali. Tak lain Musa Wanara-lah yang terjerumus. Ia berusaha mencari artefak-artefak lainnya yang bisa ia miliki. Yuda menolongnya dengan masuk ke dalam sumur tersebut dibantu oleh Parang Jati yang memegangi talinya. Musa Wanara berhasil ditarik keluar dari sumur itu dan dilarikan ke rumah sakit. Selanjutnya, Yuda terpaksa mengakui semua hal yang dirahasiakannya dari Parang Jati bahwa ia berlatih memanjat bersama militer dan juga bahwa merekalah yang mencegat petugas dinas purbakala di jalan untuk mengambil arca tersebut.

    Dalam novel Bilangan Fu, Ayu Utami menyajikan informasi-informasi yang menarik mengenai pemanjatan dan sejarah terutama sejarah Jawa. Manjali dan Cakrabirawa pun memuat hal yang sama. Selain itu, yang menjadi informasi utama yang ingin dicantumkannya adalah potongan-potongan peristiwa ’65. Sayangnya, menurut saya novel keempatnya ini kurang rapi jika dibandingkan dengan Bilangan Fu. Penulisannya untuk memasukkan info-info sejarah tersebut kurang halus sehingga terkesan seperti terlalu dipaksakan. Kebetulan, saya pernah menghadiri diskusi dan bedah buku Manjali dan Cakrabirawa di Yogyakarta. Hadir pula Ayu Utami dalam acara tersebut. Saya datang terlambat sehingga tidak mengikuti diskusi dari awal. Seorang teman menyampaikan pendapatnya bahwa terdapat kesenjangan-kesenjangan informasi peristiwa ‘65 yang disajikan Ayu Utami dalam novelnya ini. Saya tidak ingat persis Ayu Utami menjawab apa, namun saya mengutip, “Saya memang tidak bermaksud menulis novel sejarah.”

    Bagi saya, novel ini kurang jelas memilih fokus. Saya kebingungan jika ditanya topik utama dari Manjali dan Cakrabirawa. Ada banyak poin yang disajikan, namun saya sungguh kehilangan fokus. Bagian terakhir dari novel ini dijuduli Teka-teki. Menurut saya detil-detil informasi menuju pemecahan teka-tekinya ditulis dengan cukup baik. Akan tetapi, plotnya agak kurang terencana. Susunan alurnya untuk sebuah teka-teki masih belum terlalu manis.

    Terlepas dari itu semua, novel ini tetap menarik bagi saya karena memberikan informasi-informasi sejarah terutama mengenai situs-situs purbakala yang menjadi latar cerita.

Perkenankan saya menuliskan beberapa hal dalam buku ini yang bagi saya menarik :)
-    Melankoli berasal dari rasa tak bisa memiliki.
-    Misteri itu rahasia yang belum diketahui apakah jawabannya tetap atau pasti, namun teka-teki memiliki jawaban yang tetap dan pasti.        


 
Bengkulu, 9 Januari 2010

Senin, 03 Januari 2011

3 Januari 2011

angka 19 berjogrok manis dengan nyala api kecil di atasnya hari ini menghampiriku. aku berteriak, "Aaaaa....reseeee'!" seraya melempar rubik mainan ke sofa dan menghampiri yang membawa kue. cokelat, dengan tulisan : Happy Birthday 'AJAIB'.
haha...aku suka...
dan ada abang-abang berpakaian polisi ikut duduk di teras rumah. haha, abang keritingku!

maka geng yang selalu bikin lelah dan kemeng karena tertawa pun turut menyambangi rumahku. ah, bahagia.

terima kasih, terima kasih, terima kasih semuanya :)

2 Januari 2011

Hm. Makin lama ulang tahun makin jadi hari yang kurang istimewa. Bukan berarti kecewa, aku tetap menyukai hari itu. 3 Januari yang membuatku merasa istimewa, yang sejujurnya kusukai karena alasan –tak-akan-kalian-percaya ketika masih SMP dulu. Selalu, selalu istimewa. 3 Januari yang juga dirayakan oleh 3 orang teman laki-lakiku yang kusebut saudara sebagai hari ulang tahun. *sebenarnya aku kesulitan menulis ini karena apa ya? Apakah memang kebetulan tidak ada yang sedang kurasakan, atau efek dari ‘kekeringan’ lagi?

Atau jangan-jangan ini efek menjadi dewasa? Ah, apakah benar jadi dewasa itu selalu mengabaikan hal-hal seperti ulang tahun? Aku pikir ulang tahun adalah waktu yang tepat (selain setiap waktu yang terlewatkan) untuk berhenti sejenak dan melihat kembali seberapa jauh aku telah berjalan. Dalam tahun-tahun yang telah terlewati itu, apakah aku menjadi berarti? Atau hanya menjadi robot dari rutinitas hidup? Merenungi kembali adakah aku telah mencapai sesuatu yang sungguh membuatku semakin dekat pada kedewasaan? Ah, hidup lebih pintar bicara dan mengajari tentang itu. Sedih sebenarnya ketika menyadari tidak ada lagi sensasi deg-degan ketika menyambut hari ulang tahun seperti tahun-tahun yang lalu. Cemas menunggu ucapan dari teman-teman, mengharapkan kejutan mereka, terutama ketika hari ulang tahun itu jatuh ketika hari sekolah (ini jarang sekali terjadi).

Manis. Mengenang beberapa tahun yang sempat terlewatkan dengan hadiah-hadiah dan kejutan aneh-aneh dari para sahabat membuatku makin menyukai ulang tahun. Ketika kecil, ulang tahunku selalu jadi hal yang sederhana namun hangat. Mama tak pernah lupa menyediakan makanan enak dan kue black forest andalannya. Tak pernah ada undangan atau pesta, hanya lingkaran kecil yang memulai upacara rutinnya dengan doa. Aku selalu puas dengan itu semua. Hingga ulang tahun yang ke-16 menjadi sesuatu yang agak berbeda. Sama, tetap ada makanan, tetap ada lingkaran kecil dan doa. Tapi, tak sepenuhnya sama, karena lingkarannya bertambah kecil. Hmm…yah, aku harus makin kuat. Aku tahu hangatnya tetap sama, cintanya tetap sama, semua tetap sama, hanya tidak lagi terlihat kasat mata. Aku mulai terbiasa. Kejutan-kejutan dan ucapan masih sama, aku makin menyukainya. Tetap tak ada pesta, aku tidak suka. Aku lebih menikmati ulang tahun dalam kesederhanaan dan ketenangan. Jauh lebih menikmatinya.

Tahun lalu mulai terlihat tanda-tandanya. Aku merasa sedih dan nyaris menangis di ulang tahunku sendiri. Entah kenapa. Sepertinya aku kaget. Tahun sebelumnya ada kejutan manis bertubi-tubi, sementara tahun itu lempeng saja. Yah, aku menerima dan mengakuinya. Aku kekanak-kanakan sekali. Namun, kini semua terasa makin biasa saja. Kejutan dan hadiah itu bukan lagi hal penting yang harus ada. Aku mencoba memaknai ulang tahun bukan lagi sebagai sekedar momen senang-senang, melainkan waktu untuk menyadari bahwa tanggung jawab makin berat dan persimpangan hidup makin nyata. Aku harus berhadapan dengan  tuntutan-tuntutan dan pilihan-pilihan yang menghampiri. Maka, aku harus memenuhi dan memilihnya.

Dulu –aku lupa ulang tahun keberapa–, seorang teman yang sudah lumayan dewasa mengirimi aku ucapan yang beberapa tahun setelahnya baru aku ketahui sebagai sebuah penggalan dari sebuah tulisan Dewi Lestari. Aku begitu terkesan dengan ucapan itu. Bukan doa, bukan nasihat, hanya sebuah cerita kehidupan. Tentang pohon kecil yang melihat kupu-kupu sebagai burung raksasa. Tentang pohon yang sama yang kemudian tumbuh besar dan malah menjadi tempat tinggal burung-burung. Ia menuliskan pula kalimat yang tak terlupakan buatku. “Menjadi dewasa bukan berarti kita tahu segalanya. Bahkan menirukan tawa anak kecil pun kita tak dapat. Maka, dibutuhkan jembatan untuk menjembatani itu semua, yaitu kerendahan hati.” Oke, saya sungguh menyukai kalimat-kalimat (yang sebenarnya saya reka ulang sendiri, saya sudah lupa bagaimana persisnya) itu. Setelah sempat terlupakan selama beberapa tahun, kalimat itu seakan-akan kembali lagi ke hadapan muka saya (tepatnya ya ketika menemukan tulisan Dewi Lestari itu) ketika saya menghadapi kenyataan bahwa rendah hati itu adalah hal abstrak yang minta ampun susahnya untuk dicapai. Sejak saat itu, aku menjadikannya sebuah orientasi: menjadi rendah hati. Bukan orientasi yang diselimuti ambisi dan obsesi, melainkan orientasi yang memberikan kesempatan belajar seumur hidup. Aku masih terus berusaha.

Ah, aku akan menghadapinya. When the going gets tough, the tough gets going. Akhirnya, aku mengakhiri cerita aneh ini dengan lagu-lagu favoritku (maaf karena ada gubahan yang semena-mena sesuai kebutuhan).


Akulah (masih)  perempuan dengan jiwa bocah,
yang coba dewasa, yang coba berubah…
Maka, apapun yang terjadi,
akan kujalani, akan kuhadapi dengan segenap hati
Walau ku terluka, memang ku terluka
tak pernah ku lari dari semua ini

Here I am, in the journey to be mature, to be humble.





Malam menuju 19 tahun, akhirnya hujan, seisi rumah sudah tidur
Menunggu 3 Januari bergulir

Sabtu, 01 Januari 2011

refleksi sesingkat-singkatnya

Sebuah tahun yang begitu penuh. Sangat penuh. Diawali dengan ulang tahun yang tak begitu mengenakkan pada awalnya karena kerinduan pada perhatian teman-teman lama. Menjadi dewasa memang tak selalu membahagiakan, ada konsekuensi yang harus dibayar. Kepulangan ke kota yang ngangenin itu pun ternyata malah menambahi beban. Baru seminggu meninggalkan rumah dan isinya, aku harus membuat seorang teman hujan-hujanan mengantarkanku dalam keadaan demam tinggi untuk menginap di rumah sakit. Akhirnya, sang empunya rumah yang baru saja ditinggalkan pun memaksa diri untuk mengunjungiku di seberang pulau. Asem, hancur sekali aku waktu itu. Sedih rasanya membuat orang repot  dan mengorbankan banyak hal penting. Namun, cerita ini pun membuahkan sebuah kesadaran penuh bahwa cinta dari teman memang tak pernah ke mana-mana. Manusia-manusia yang menyebut dirinya teman itu, menunjukkan –tak lain tak bukan– cinta yang tulus yang aku harap tidak akan pernah habis digerus waktu. Aku belajar. Belajar melihat dan merasakan cinta di sekitarku. Belajar menghargai dan mensyukuri itu semua.

Setelah kejadian itu, entah mengapa aku tidak jua sembuh. Sindrom lain menderaku. Sindrom kekanak-kanakan. Titik awal yang kupikir adalah cikal bakal gangguan psikologis ringanku. Kerap kali aku melamun, memikirkan hal-hal yang membuatku kebingungan sendiri. Tak jarang menderaikan air mata tanpa sebab musabab yang jelas. Heran, memang aku agak aneh. Perasaan rindu terus menerus bercokol di hari-hariku. Pagi, siang, dan sore menjadi waktu-waktu kebohongan yang menampakkan senyum dan tawa berguling-guling. Namun, malam menjadi begitu sendu dan menyiksa. Ketika semua orang sudah terlelap dan aku tidak punya alasan lagi untuk berpura-pura. Butir-butir kalung doa itu bergulir dan selalu basah terhujani air mata yang sekaligus menumpahkan segenap rindu. Ya, 6 bulan yang begitu berarti untukku; masa paling mesra dan hangat bersama sang Arsitek Hidup. Aku belajar. Belajar mengatasi rindu dan kekanak-kanakan itu dengan mendaraskan doa.

Malam-malam pun habis dalam kerumunan orang. Entah itu hari-hari bahagia yang dipenuhi dengan gelak girang, banjir peluh karena beraktivitas lebih, dan genjrengan ramai gitar. Entah itu malam-malam sendu yang memberi waktu untuk merenung bersama, memikirkan apa yang terjadi pada hidup, menyadari keterbatasan untuk saling mengisi, dan petikan pilu lagu patah hati. Kadang lupa waktu; mengabaikan petugas ronda yang berkeliling dan pura-pura tidak tahu bahwa mata nyaris terpejam. Tidak berhenti jika saja ayam tidak berkokok atau adzan subuh tidak berkumandang. Sudut-sudut remang jalanan, kamar kos kecil untuk tidur berjejalan, rel kereta beratapkan langit malam, jalan raya tak dikenal yang ditempuh dalam 5 jam, semua habis dilalap. Satu keluarga baru. Aku belajar. Belajar tentang apa itu malam. Belajar merenung dan memaknai hidup bersama. Belajar memberi. Belajar berbagi.

Nah, berikutnya adalah bagian yang paling ngebak-ngebaki dan bermakna besar tak hanya untuk tahun ini, namun juga seumur hidupku. Ketika dengan takaburnya aku menerima tanggung jawab bertumpuk tanpa persiapan. Bulan-bulan penuh kebingungan dan hati yang sakit. Kecewa pada diri sendiri yang ternyata tidak sehebat yang dengan sombong diharapkan. Kacau. Namun, tiap kali sakit hati itu terasa, aku menemukan wujud-wujud cinta yang mengobatinya dan tidak membiarkanku tergeletak. Aku ditarik lagi untuk meneruskan perjuangan bersama ini. Memang sakit, memang lelah, memang menuntut banyak pengorbanan, tapi semua itu akan terbayar dengan pantas. Bayarannya, sebuah keluarga baru. Lelah dan pusing kularutkan dalam tawa gurih dini hari di emperan jalan lengkap dengan angin-menusuk-tulangnya. Hari-hari penuh bersitegang urat dan lelehan air mata tertebus oleh senja-senja indah ketika bermain (saling) lempar bambu –sebenarnya berbahaya, namun menghibur– dan ceburan rusuh di kolam dangkal. Awan hitam bergulung, derai hujan beserta badainya segera disusul malam meriah, alunan dangdut memabukkan, kembang api berledakan, serta pelukan-pelukan hangat penuh syukur dan terima kasih. Pelanginya muncul seusai badai. Bulan-bulan inilah yang membuatku mengucapkan syukur paling banyak untuk sebuah imbalan yang tak pernah kukira akan diberikan padaku. Aku lagi-lagi belajar; kali ini banyak sekali. Belajar menerima perbedaan, belajar mau bicara, belajar peduli dan peka, belajar bekerja, belajar mengerti dan mendengarkan, belajar mengakui kesalahan, belajar saling mengingatkan, (lagi) belajar memberi, dan belajar rendah hati.

Hari-hari berikutnya kupikir akan lebih tenang, ternyata gejolak muncul lagi. Kesombongan dan ketidak pedulian pada sekitar menyebabkan kejenuhan dan degradasi mutu. Satu atau beberapa bagian nyaris lepas. Namun, syukurlah…kontrol sosial masih berfungsi dalam keluarga ini. Kemauan bicara dengan rendah hati menyelamatkan kami. Semoga ikatan ini tetap bertahan dan mendidik kami untuk mau berproses bersama, membuka hati dan mata serta peka. Aku belajar. Belajar berani bicara, belajar minta maaf. Belajar menghargai sebelum kehilangan.

Masalah terbesarku tahun ini masih saja bercokol belum terselesaikan. Iri hati dan keragu-raguan. Niatan menata hati masih berjalan namun belum mencapai hasil maksimal. Entah terhalang kemauan yang belum total, keseriusan yang belum penuh, atau kemalasan yang bersarang dengan senang. Aku pun sudah memilih; aku bersedia bertanggung jawab. Namun, rasanya masih tetap kering. Oh Tuhan…sungguh aku menunggu hati ini sejuk lagi. Ya, aku belajar. Aku telah, sedang, dan akan terus belajar. Aku tidak mau melewatkan sedikit waktu pun untuk mencoba mengembalikan keadaan menjadi lebih nyaman.

Akhirnya pelajaran terbesar yang kuterima tahun ini adalah tentang kedewasaan dan kerendahan hati. Menjadi dewasa itu memang terkadang terasa menyakitkan. Banyak hal tidak seperti yang aku bayangkan. Namun, mau tidak mau aku tetap menapaki jalan kedewasaan itu, ketika lebih banyak tanggung jawab ditumpangkan di pundak dan pertimbangan untuk keputusan dijejalkan di pikiran.  Hidup mulai menjajakan persimpangannya; aku berjalan menujunya. Berbekal kepercayaan dari orang terkasih, aku pun menentukan pilihan dan bertanggung jawab atasnya kemudian. Aku belajar menguatkan hati dan mengorbankan keinginan kekanak-kanakan. Banyak hal tidak terduga bergulir di depan mataku. Semua ini mengajariku sesuatu yang tak kalah penting: tidak menghakimi dan menjaga kepercayaan. Semua orang punya hak yang sama untuk memilih dan bertindak. Rendah hati, hal paling abstrak yang sedang berusaha kucapai sambil terseok-seok. Berulang kali gagal sempat membuatku jatuh dan menyesali diri. Sulitnya minta ampun. Tapi, justru di situlah letak istimewanya. Aku tidak mau meraihnya dengan begitu mudah karena itu akan membuatku berhenti belajar. Dan ketika aku berhenti belajar di situlah titik kebodohanku. Aku akan mengejar kerendahan hati itu; kuharap hingga akhir hidupku.

Pelajaran lainnya adalah tentang berdamai. Aku menemukan bahwa ada sakit hati dan kekecewaan yang begitu dalam yang menghabiskan banyak waktu untuk meredakannya. Tapi, kemudian aku memilih untuk mencoba berdamai. Ya, cukup berhasil. Aku belajar berdamai dengan diriku sendiri. Berdamai dengan keadaan. Itu melegakan.

Haah…penuh sekali tahun ini. Begitu penuh. Kuucapkan terima kasih yang besar untuk Dia yang memberiku kesempatan belajar di tiap waktu selama tahun ini. Terima kasih pula atas kesetiaan mendampingi dan menguatkanku dalam proses belajar ini. Sekaligus, aku minta maaf untuk semua yang dikecewakan dan terkecewakan tahun ini. Aku penuh dengan kekurangan, teman. Namun, percayalah…aku belajar. Mohon sabar. Aku mau belajar lagi. Meneruskan pelajaran di periode satu tahun berikutnya, dua tahun berikutnya, tiga tahun berikutnya, dan seterusnya hingga habis umurku. Maukah belajar bersamaku?


Happy being a better person.
Happy making the world a better place to live.

Berkah dalem.




Tahun berganti, kembang api berledakan, Sheila On 7 tampil, seisi rumah terlelap
Terima kasih Tuhan.