Minggu, 31 Juli 2011

Posesif


Jika ternyata memang kamu yang bisa mengurai belitan rindu dalam diriku,
apakah salah aku mencintai berada di sisimu?
Aku tidak mencari-cari alasan
Hanya saja memang begitu kenyataan yang baru kusadari
Kamu membawakan hal-hal yang telah lama hilang dari hidupku
Dan yang selalu aku rindukan untuk kembali
Kamu membuatku merasa kembali memiliki segalanya
Kamu membuat utuh lagi hari-hariku yang selalu terasa berlubang
Sungguh, hal terbesar yang kutemukan kamu lakukan adalah
melepaskanku dari rindu yang benar-benar menyesakkan
Aku merasa aman di sekitarmu karena aku percaya aku kembali memiliki orang-orang yang kucintai
Ya, orang-orang yang ada dalam dirimu sekaligus
Kamu menghidupkan kembali kenangan-kenangan tentang mereka
Yang seiring waktu berjalan ternyata kerap terlupakan
Di tengah hari-hari yang penuh ini, kamu membawa mereka kembali
Untuk kembali kuingat bahwa aku pernah melewatkan waktu-waktu berharga bersama mereka
Waktu-waktu yang pasti tak akan pernah terulang lagi, itu yang aku percaya dulu
Namun, ternyata kamu sungguh membuatnya terulang
Bagaimana bisa aku tidak mencari keberadaanmu?
Aku mengenalmu seperti apa yang kamu suguhkan padaku
Tak usah pedulikan siapa orang-orang yang kamu bawakan padaku itu
Sepenuhnya aku menerimamu
Lantas, jika memang kamu melakukan semua hal itu,
apakah salah aku mencintai berada di sisimu ?

untuk matahari

di sana

Semua tetap di sana
Pohon-pohon tetap di sana
Pasir dan rerumputan tetap di sana
Anak-anak polos tetap di sana
Wangi yang tertiup angin tetap di sana
Daun-daun kering tetap di sana
Orang-orang itu tetap di sana
Mataku tetap di sana
Telingaku tetap di sana
Kenanganku tetap di sana
Di sana
Hanya kau yang tak ada di sana


akhirnya merindukanmu lagi
mungkin memang ku yang harus mengerti…

Jumat, 22 Juli 2011

Matahari


Aku bilang aku suka matahari. Semestinya, aku mengerti bagaimana matahari itu. Matahari tidak pernah tidak panas. Itu adalah satu hal pasti tentangnya. Namun, kenapa masih saja aku kerap berpikir bahwa ia tidak selalu panas ?
                Selalu, matahari selalu panas. Ia akan kehilangan panasnya hanya ketika ia padam. Dan sungguh, aku berharap tak akan pernah menyaksikan hal itu dalam hidupku. Biarlah matahari senantiasa panas karena hanya dengan itu aku diyakinkan bahwa ia masih bernyawa. Matahari itu panas. Tak peduli bumi berputar ke arah mana, atau lautan mengalir ke mana, atau angin berhembus ke mana, matahari tetap setia panas.
                Matahari memberikan banyak kesenangan bagiku. Aku mencintai semburat kemerahannya ketika beranjak naik cepat di pukul 06.00 di kota ini. Aku mencintai pantulan cahayanya di riak air. Aku mencintai sinar keemasannya yang jatuh di pucuk-pucuk pepohonan berlatar belakang langit biru. Aku mencintai warna merah, emas, dan ungu yang memenuhi sekitar cakrawala yang menenggelamkannya. Aku hampir mencintai segala hal tentang matahari.
                Kemarin aku berpeluh lebih banyak dibanding biasanya. Matahari sedang tak punya teman yang meredakan sedikit tenaganya. Matahari hari ini terlalu panas. Kulitku perih merasai panasnya yang tajam dan mataku berkunang-kunang setelah berusaha sekuat tenaga memicing memandangnya. Matahari sangat menyakitkan.
                Hari ini ternyata mendung. Matahari tersembunyi entah di mana. Hasilnya, hari ini tak secerah biasanya, tak sehangat biasanya. Aku mestinya mengerti, hari tidak akan selalu cerah seperti yang aku inginkan. Ya, semestinya aku mengerti.
                Matahari, selamat beristirahat. Kembalilah ketika kau sudah siap bersinar lagi. Aku akan belajar mengerti.

bicara

Bicaralah. Karena dalam diam tumbuh terlalu banyak kebingungan. Tak cuma itu, kebingungan nantinya akan menghadirkan prasangka. Ya kalau baik, kalau buruk nanti malah katanya berdosa. Bicaralah. Karena dalam kebisuan ada terlalu banyak pertanyaan. Kadang kala pertanyaan itu memang tak membuat situasi jadi runyam bila ditunda jawabannya, namun kala lainnya malah menghancurkan banyak rencana yang senantiasa butuh kepastian.

Sudah kubuktikan sendiri bahwa bicara membuka banyak jalan atas banyak kebingungan. Bicara menjawab pertanyaan-pertanyaan yang membuat jelas banyak hal. Baiklah, memang tak semudah itu untuk bicara. Aku sendiri perlu mengalahkan banyak hal untuk akhirnya bicara. Aku memangkas rasa malu, menindas rasa takut, dan menendang gengsi. Aku pun perlu merangkul sejumlah teman yang menguatkanku untuk bicara. Aku belajar berteman dengan kerendahan hati, kemauan untuk menerima kelebihan orang lain, kejujuran, dan kemauan untuk melapangkan dada.

Lantas, selesaikah segala hal dengan bicara? Tak selalu begitu, namun setidaknya bicara membukakan mata pada kemungkinan-kemungkinan yang mungkin sebelumnya tertutupi oleh kekalapan dan kekalutan. Bicara menenangkan hati yang sedang galau dan melonggarkan otak yang sedang penuh. Bicara mengeluarkan berbagai macam beban dan rasa yang hampir meluap, entah itu rasa sakit atau pun rasa gembira.

Bicaralah teman, aku pun ingin bicara denganmu. Hanya saja, masalahnya kita kerap kali terlalu banyak bicara.



Jogja, Juni-Juli 2011
mensyukuri pembicaraan dan meratapi diri yang masih terlalu banyak bicara

Selasa, 05 Juli 2011

when we grow up

I am just always too much missing you.

I regret the day you were leaving for growing more, but I thank God for the days when we grew up together...be good then, pal :)










Sabtu, 02 Juli 2011

siapa siapa siapa

Siapakah kamu ini?
Kamu bukan embun, tapi mampu menyejukkan pagi
Kamu bukan awan, tapi mampu meneduhkan terik mentari
Kamu bukan pelangi, tapi ku menemukanmu di balik tirai hujan sore
Kamu bukan senja, tapi seindah semburat jingganya
Kamu bukan malam, tapi menghembuskan keheningan syahdu untuk kurenungkan
Kamu selalu meninggalkan rindu
Yang memaksaku membuka mata setiap pagi
Untuk mencarimu lagi hari ini
Untuk kembali mengulas senyum



Ditemukan kembali di catatan JAKSA 2010
kemungkinan untuk sesuatu yang sudah berlalu
*ngomong-ngomong, tetap tidak ada nama 'matahari' di sana