Kamis, 31 Juli 2014

Sepatu Merah

Aku tidak punya satu pun sepatu atau alas kaki lainnya yang warnanya merah. Selama dua puluh tahunan menjalani hidup sebagai seorang perempuan, aku terhitung seseorang yang amat membosankan soal pilihan warna barang-barang yang aku pakai. Entah karena aku cenderung dan sudah telanjur dikenal tomboi, atau karena entah apa, aku punya kebiasaan memilih warna-warna gelap untuk kupakai. Singkatnya, sebut saja hidupku monokrom. Hahaha.

Dulu, orangtuaku sampai lelah memprotes pilihan baju yang ingin kubeli karena semuanya berwarna hitam. Kadang-kadang putih atau cokelat. Hanya berkutat di sekitar warna-warna itu saja. Sekali waktu ibuku memaksa membelikan baju natal berwarna hijau. Sepanjang umur hidupku, sepertinya belum sampai lima kali baju itu kupakai. Selain karena warnanya agak “berani” buatku, bahannya membuat badan gatal ketika dipakai. Kuatlah alasanku untuk menghindari mengenakan baju yang satu itu.

Kebiasaan itu terus berlanjut dan makin menjadi-jadi selepas lulus sekolah dan meninggalkan rumah. Aku mulai kuliah di sebuah jurusan yang mengizinkan mahasiswanya mengenakan pakaian nonformal untuk ikut kuliah. Meski demikian, ibuku rupanya tidak terlalu mudah menyerah. Masih sering ia mengingatkan jika kami mengobrol lewat telepon agar aku memilih, membeli, dan mengenakan pakaian yang “lebih pantas” untuk kuliah. Ia bahkan sempat mengataiku pelit pada diriku sendiri saking kasihannya ia membayangkan bagaimana aku berpakaian ketika kuliah.

Aku benar-benar mengesampingkan peringatan itu karena lingkungan tempat aku bergaul pun tidak memberikan pengkondisian untuk hal itu. Ketika aku mulai kuliah, hampir setiap hari aku menghampiri satu atau dua meja di kantin yang penuh berisi orang-orang berpakaian warna hitam. Entah mengapa, mereka begitu suka pada warna yang satu itu. Sampai-sampai mengapa mereka selalu berpakaian hitam itu pernah jadi bahan pembicaraan lumayan panas di sebuah forum obrolan tulisan publik kami. Ada dua pihak yang “berdialog”: gerombolan si hitam dan gerombolan berwarna. Apa pun yang menjadi alasan sesungguhnya, saat ini aku berpendapat bahwa pakaian hitam yang seragam itu tidak hanya karena sekadar “Aku pengennya pakai ini”, tapi juga hasil sebuah konstruksi. Entah siapa yang memulai dan kapan, yang jelas kemudian citra mengenai pakaian warna hitam dan maknanya dan kesannya dan tetek-bengeknya itu terus dibangun dan diamini oleh teman-temanku ini.

Aku sebenarnya tidak terlalu peduli waktu itu, namun cipratan konstruksi pakaian warna hitam itu tentunya juga mengenaiku. Iseng, aku pernah menghitung jumlah kaus warna hitam yang kupunya. Mendekati sepuluh. Bahkan pernah suatu kali aku mencuci lalu menjemur sejumlah kaus yang semuanya berwarna hitam. Suatu kali, aku akhirnya menyadari kondisi itu dan mulai memikirkannya baik-baik dan iseng-iseng. Ada apa rupanya dengan warna-warna gelap ini?

Aku tidak ingat kapan persisnya, namun bisa jadi titik balik itu diawali oleh inisiatif ibuku untuk memperbaiki penampilanku. Ia mengirimiku paket. Isinya sebuah kaus oblong warna hijau dengan motif tengkorak kecil-kecil dan kaus berkerah berwarna merah jambu. Aku sungguh tidak paham dengan pilihannya kali ini. Bukan merah jambunya, tapi motif tengkoraknya. Aku menduga ibuku tidak memerhatikan bahwa motif di kaus itu adalah gambar tengkorak. Selain itu, ibuku bersikeras mengatakan bahwa kaus berkerah itu bukan berwarna merah jambu, melainkan salem. Aku tahu persis, ia melakukan hal itu untuk mengantisipasi aku menolak mentah-mentah pakaian berwarna merah jambu. Ia mengaburkannya menjadi warna salem. Aku menghargai usaha yang membuatku geli itu. Namun, sebenarnya ibuku tidak perlu berusaha sekeras itu. Kaus salem alias merah jambu itu baik-baik saja. Malah terlihat sangat manis dan menarik untuk dipakai.

Sejak aku punya kaus merah jambu itu, aku merasa ada baiknya aku mencoba sesuatu yang baru untuk hidupku. Aku jadi terlihat berbeda. Sudah terbukti satu kali ketika aku berangkat kuliah mengenakan kaus pemberian ibuku itu. Seusai kuliah, aku dan teman-teman mengunjungi seorang ibu teman kami di rumah sakit. Setibanya di kamar rawat inap, barulah aku tersadar karena dikomentari oleh orang-orang di kamar itu. Dalam rombongan penjenguk itu, hanya aku yang mengenakan baju berwarna cerah, merah jambu. Sisanya, seperti biasa, hitam. Ini mulai menarik.

Pelan-pelan, aku mulai punya sejumlah barang yang warnanya tidak lagi hitam atau cokelat. Ada yang berwarna merah jambu, biru muda, hijau, oranye, kuning, dan lain-lain. Aku memutuskan demikian karena sepertinya hal-hal ini terlihat dan terasa lebih bagus dalam ragam warna-warni. Sesungguhnya memang ini hal praktis saja, semata-mata karena ingin melihat sesuatu jadi lebih baik. Akan tetapi, di balik pilihan praktis itu, aku melakukan sebuah dialektika besar dengan diri dan hidupku sendiri. Aku belajar mencoba sesuatu yang baru, yang lebih banyak warnanya, yang lebih banyak risikonya. Sepele sekali sepertinya, ya. Aku memang kadang berlebihan, maaf. Namun, memang begitulah kenyataannya. Butuh sekitar dua puluh tahun untukku berani mengambil tindakan yang berbeda dari rutinitas. Tidak seharfiah itu pastinya, tapi maksudku ini termasuk momen besar dalam hidupku karena utamanya aku belajar menerima lebih banyak hal, lebih banyak ragam, lebih banyak varian yang memang bagus dengan sendirinya. Aku merekonstruksi citra warna-warna dalam hidupku.

Nah, apa kaitan semuanya ini dengan sepatu merah?

Untuk yang satu ini, memang aku baru tertarik padanya kurang lebih satu tahun belakangan. Dulunya aku tidak pernah suka dengan pilihan warna merah untuk alas kaki. Siapapun yang mengenakan benda macam itu tadinya tidak pernah terlihat menarik buatku. Aku selalu berpendapat: norak. Namun ternyata pandangan itu ikut jungkir balik bersama citra warna-warna tadi.

Seorang teman laki-laki dulu pernah berujar, “Semua cewek pasti punya minimal satu pasang sepatu warna merah. Soalnya itu bikin mereka kelihatan seksi.” Aku langsung menyahut, “Aku tidak punya.” Ia menjawab pasti, “Kamu kan bukan cewek.” Aku tidak tersinggung, malah mendapat sebuah pengertian yang cukup menjawab keherananku atas pilihan warna merah untuk sepatu. Supaya terlihat seksi rupanya. Lama-kelamaan, sepertinya aku pun melihatnya demikian. Tidak ada yang salah dengan sepatu warna merah. Malah, aku belakangan kagum pada mereka yang mengenakannya. Aku tidak punya keberanian untuk sekadar pakai sepatu merah, apalagi memilikinya.

Sekarang, aku jadi ingin punya sepasang sepatu merah. Dulu sudah sempat hampir membeli, namun ternyata keberanian itu belum cukup. Bukan karena ingin terlihat seksi, tapi aku ingin mencoba punya keberanian yang besar untuk melakukannya. Aku jauh lebih tertarik untuk menguji keberanianku ketimbang mencari tahu seberapa efektif efek seksi akan muncul jika aku mengenakan sepatu merah. Sudah ada sangat banyak orang yang telanjur mengidentifikasiku lewat cara berpenampilan yang seperti laki-laki. Jika aku muncul dengan dandanan feminin, aku sudah pasti (dan sering) kebanjiran komentar heboh, tawa, dan rasa tidak percaya. Sudah biasa. Inilah mengapa mengenakan sepatu merah adalah sesuatu yang akan sangat memacu adrenalin buatku. Aku akan berhadapan dengan orang-orang yang bereaksi. Keberanian inilah yang sedang kupupuk sembari memilih-milih sepatu merah yang ingin kumiliki.

Sepatu merah kini jadi representasi keinginan-keinginan pribadiku untuk mencoba pilihan-pilihan hidup yang lain. Makin kemari, makin relevanlah keinginan itu mengingat hidupku pun sudah mulai berubah di sana-sini. Pastinya perlu penyesuaian. Siapapun boleh tidak sepakat denganku mengenai sepatu merah ini. Terutama mungkin yang merasa bahwa penanda keinginan-keinginan hidupku yang lebih esensial itu adalah sebuah hal yang amat sangat sepele. Tentu saja penanda ini kupilih untuk alasan yang sangat personal, untuk peristiwa-peristiwa yang bersinggungan langsung denganku.

Keinginan untuk memiliki sepatu merah ini masih harus kupupuk cukup lama mengingat aku bukanlah orang yang dapat dalam waktu singkat mengumpulkan keberanian untuk melakukan hal-hal di luar kebiasaan. Intinya, aku punya niat untuk beranjak dari posisiku yang cenderung stagnan selama ini. ada banyak hal-hal di luar sana yang akan sangat menarik untuk dijamah. Alasan lainnya yang membuatku sangat ingin melakukannya adalah untuk belajar mengerti. Belajar memahami bahwa sering kali aku menghindar atau tidak menyukai sesuatu justru karena aku tidak tahu apa-apa tentangnya. “That is just the way with some people. They get down on a thing when they don’t know nothing about it.” Begitu kalau Huckleberry Finn yang bilang.

Toh kini aku berpendapat bahwa benda-benda berwarna merah jambu itu tidak menjijikkan, melainkan manis. Pun kuning, cerah dan ceria. Oranye pun membuatku tampak lebih berani dan keren. Sepatu hijauku pun sangat bergaya dipasangkan dengan celana jeans mana pun. Jaket merah menyala juga tetap enak dipandang. Hitam, cokelat, dan putih dan apa pun itu, semuanya baik-baik saja. Jadi, aku tidak sabar memakai sepatu merah.

Kadang-kadang monokrom itu seru loh, kadang-kadang warna-warni itu seru loh.




Libur Lebaran 1435 H
kamar sudah berubah