Rabu, 24 Februari 2010

Bayu Ganteng

hmmm...ini judul blogku yang paling jujur sekaligus fiktif...yah, nggak juga lah.
jadi gini, kebetulan aku lagi membuka account facebook ku dan menemukan bahwa seorang sahabatku baru saja mengupload foto2nya bersama teman2nya yang dimuat dalam album berjudul "kampungan". nah...dalam album itu, ada sebuah foto yang tiba2 bikin aku tersenyum begitu lebarnya, karena sebuah kesadaran akhirnya menerpaku. sebuah fakta yang dari dulu selalu dia coba untuk tempelkan di otakku, tapi hati nuraniku yang jujur nggak bisa menerima "fakta" yang kukategorikan sebagai sebuah kebohongan bahkan fitnah tersebut. untuk lebih jelasnya, ini dia fotonya...

 

oke, nama manusia ini Bayuazie Yudhistira. kenapa dia begitu berharga untuk jadi bahan tulisan di postingan ini? jawabannya ada banyak: karena dia sahabatku, karena aku kenal dia mulai dari jaman kita masih sekelas di TK, karena dia agak sedikir gila dan "extraordinary", dan karena foto ini sangat fenomenal.

aku kenal manusia ini dari TK, kita sekelas waktu itu. beneran, sumpah nggak bo'ong. dan sampe hari ini status kita masih sahabat, mudah2an nggak bakal berubah sesuai dengan janji kita "teman selamanya" (udah ah, nggak mau alay2)! dari dulu, dia ini selalu berkelakuan agak berbeda dari sesamanya, walopun sebenernya ini dikategorikan wajar dalam pergaulanku yang juga dipenuhi orang2 serupa bayu. okelah, kalo gitu statementnya diganti menjadi: berkelakuan agak berbeda dari orang2 normal. yah, inilah yang paling tepat. salah satu kebiasaannya adalah menghinaku dari segi fisik. jangan merasa kasihan padaku, karena memang setan ini orang. awalnya sih aku sering kesal dan mengumpat karena dia mengucapkan hinaan2 itu tanpa pertimbangan bahwa dia juga nggak bagus dari segi fisik (hahahaha). tapi, lama kelamaan aku berhenti melakukan usaha itu. bukan, bukan karena dia sudah berhenti menghina, tapi karena dia nggak mempan dihina balik. akhirnya, sebagai manusia berbudi luhur aku putuskan untuk mengalah saja, menutup kuping dari semua ejekannya. setelah 12 menjalin hubungan...ehm, hubungan apa ya? hubungan yang memungkinkan kita saling menyebut "schoolmate", si bayu ini akhirnya harus pindah dari kota tempat kita sekolah sekian lama. wah, susahlah pokoknya ngebujukin dia biar nggak pergi, tapi ya udah, mesti diikhlasin demi kebahagiaannya (mulai lagi!). gobloknya...jijay banget mau nyeritain ini...waktu aku ketemu bayu di sekolahan, aku nanya ke dia bener nggak dia mau pindah. dia jawab nggak. tapi, berhubung aku tau dia bohong, aku nangis aja nggak tau malu. waktu itu aku lagi berdiri di balik pohon dan si bayu terpaksa nungguin aku nangis dari sisi lain pohon itu. hihihihi....persis film india. BEGO! hahahahaha......

nah, setaun terakhir di sma aku nggak ketemu bayu. bahkan sampe sekarang pun belum ketemu juga. hubungan kita saat ini masih berlanjut via dunia maya dan handphone. ya sudahlah, tak papa... berkaitan dengan foto ini (tanpa sadar aku udah ngelantur ke mana-mana) aku baru saja menyadari bahwa si bayu ini ternyata cukup ganteng* juga. nah, mohon diperhatikan bahwa kata 'ganteng' diberi tanda asteriks. nanti keterangannya aku bubuhkan. begitu ak melihat foto di atas, aku langsung teringat sebuah komentar yang dia posting berbunyi: "kata ibu saya, bayu itu ganteng". ya namanya juga ibu sendiri. kepada mamanya bayu: tante, kali ini saya setuju sama tante. telah bertahun2 bayu mencoba menyakinkan aku dan semua teman2ku bahwa dia memiliki kelebihan fisik terutama wajah yang dapat dikategorikan tampan. dan bertahun2 itu pula aku menghabiskan waktu untuk menyanggah pendapat itu dan mengembalikan bayu kepada persepsi dan kenyataan yang sesungguhnya bahwa ia salah menafsirkan perkataan ibunya. niatku waktu itu adalah mempertobatkan bayu dan menjaga agar jangan sampai bayu terkurung dalam kesalahan pandangan tersebut dalam sisa hidupnya.

ternyata eh ternyata, hari ini aku dengan sangat terpaksa namun juga sepenuh hati memutuskan untuk mengubah haluan. karena eh karena, hari ini pula aku akhirnya mampu menerima kenyataan bahwa bayu memang tampan. wah, nggak disangka akhirnya aku akan merubah sebuah prinsip hidup yang berbunyi: tak pernah percaya bahwa bayu itu ganteng. hari ini pula aku akhirnya mengerti dan mempertanyakan mengapa masih ada saja gadis yang menolak atau memutuskan pemuda berparas menawan ini. haduh, memang berat. life is not always like how we hope it supposes to be. wah, dengan terjadinya perubahan ini, aku merasa perlu untuk mengklarifikasi bahwa :
aku percaya si bayu memang ganteng.

waduh, nggak nyangka nih aku bakal post blog beginian. tapi, berlaku dan berkata jujur itu perlu kan. makanya, dengan ini aku pun menyatakan bahwa aku bangga punya sahabat yang cukup ganteng seperti bayu. bersama dengan blog ini, aku sekaligus menghimbau mbak-mbak sekalian yang sudah memutuskan bayu atau bakal ditembak bayu, mohon dipertimbangkan matang-matang jika akan melakukan hal yang dapat menyakiti hati perjaka penuh pesona ini. atau kalian akan menyesalinya sepanjang sisa hidup kalian. demikian blog ini, atas perhatiannya diucapkan terima kasih. cup cup waw waw!

buat bayu, kalo kamu baca juga posting ini: ampun bang. aku nggak punya motif tersembunyi apa pun. semuanya murni come from the bottom of my heart. ngeliat fotomu itu, seketika aku sadar bahwa kamu memang ganteng. this photograph brings out your inner charm that has been undiscovered so far. bwahahahaha......maaf, jangan marah. beneran nggak ada motif apa2. aku juga nggak tiba2 naksir sama kamu kok. hihihihi...pis yo! nah, baek2 sama aku ya, kan sekarang aku udah ngaku kalo kamu emang ganteng. hihiw... teman selamanya =) 



*kriteria gantengnya bayuazie yudhistira dalam foto ini: diatur dalam pose yang tepat dan mimik wajah yang sedikit dimanipulasi supaya lebih cool.  

Selasa, 23 Februari 2010

1000 Hari

maaf, selalu saja terlambat membuat posting tentangnya...

telah 1000 hari tertapaki tanpa kehadirannya. tak hanya aku, tapi juga mamaku, abangku, dan adikku...
tak pernah aku membayangkan akan menghabiskan waktu begini lama untuk berjuang sendirian tanpa keberadaan seseorang yang dapat kupanggil "bapak". bukan, aku bukan menyesali kepergiannya. karena di dalam doa, aku selalu mengucapkan syukur atas kepergiannya. bukan, bukan pula karena aku menginginkannya. tapi, karena kebaikan Tuhan yang Ia wujudkan dengan mengangkat semua sakit dan penderitaan bapak serta memanggilnya pulang ke pangkuan-Nya. tak pernah, dan tak akan kusesali karya Tuhan itu.

1000 hari berlalu tanpa ucapan untuk membangunkan tidurku di pagi hari
tanpa aktivitasnya mengantarku sekolah di kala hujan turun dengan mobil kesayangannya
tanpa makan siang bersama yang dulu selalu kami nikmati bersama
tanpa omelan karena aku bolos les
tanpa suruhan membuatkan secangkir teh atau kopi di sore hari
tanpa permintaan memijat kaki setelah makan di malam hari
tanpa merasakan pijatan yang selalu dilakukannya ketika aku sudah tertidur dan kemudian kuprotes
tanpa ejekannya setiap kali aku mengisi teka-teki silang hari minggu
tanpa sepatu mahalnya yang selalu dilapkan ke tanganku
tanpa membukakan pintu garasi setiap beliau pulang kerja
tanpa senyum dan suara tawanya
tanpa genggaman tangannya saat menyeberang jalan raya
tanpa kebanggaanya setiap kali menerima rapot anaknya
tanpa traktiran makan setiap minggu
tanpa menatap wajahnya yang sangat kucintai...


1000 hari berlalu dengan kerinduan yang begitu besar
dengan air mata yang mengalir di dalam doa
dengan syukur penuh untuk kesembuhannya
dengan saling menguatkan untuk keluarga
dengan mengobrolkan kenangan-kenangan tentangnya
dengan belajar menerima kenyataan...dia telah selesai menjalankan tugasnya.


entah dengan apa aku mampu bertahan sejauh 1000 hari ini. jika kurenungi, aku tak akan sanggup melewati 1000 hari tanpa merasakan keberadaannya secara nyata dalam hidupku. namun, Tuhan tahu aku harus bertahan dalam 1000 hari tersebut, maka Ia mengaruniakan 1000 sahabat yang selalu menjadi sandaranku, 1000 anugerah yang patut kusyukuri, 1000 kemudahan dalam menjalani kehidupan, dan ribuan rahmat lainnya. maka, aku tak patut mengeluh...

bukan penyesalan yang menjadikan aku selalu menangis ketika mengingatnya, melainkan kerinduan begitu besar akan rengkuhan dan genggaman tangannya. tak sempat ia menyaksikan kelulusanku dan kuliah pertamaku. tak sempat ia mengiringi aku meninggalkan rumah untuk belajar di kota lain. tak sempat aku membuatnya cukup bangga akan diriku yang akan meyakinkannya bahwa pengorbanannya tak pernah sia-sia...
kini yang bisa kulakukan hanya mendaraskan doa seraya berusaha dan membuktikan padanya bahwa aku bisa menjadi seperti yang ia harapkan. aku janji aku bisa...



Back when I was a child
Before life removed all the innocence
My father would lift me high
And dance with my mother and me and then

Spin me around till I fell asleep
Then up the stairs he would carry me
And I knew for sure
I was loved


If I could get another chance
Another walk, another dance with him
I'd play a song that would never, ever end
How I'd love, love, love to dance with my father again

When I and my mother would disagree
To get my way I would run from her to him
He'd make me laugh just to comfort me, yeah, yeah
Then finally make me do just what my mama said

Later that night when I was asleep
He left a dollar under my sheet
Never dreamed that he
Would be gone from me

If I could steal one final glance
One final step, one final dance with him
I'd play a song that would never, ever end
Cause I'd love, love, love to dance with my father
again

Sometimes I'd listen outside her door
And I'd hear her, mama crying for him
I pray for her even more than me
I pray for her even more than me

I know I'm praying for much too much
But could You send back the only man she loved
I know You don't do it usually
But Lord, she's dying to dance with my father again
Every night I fall asleep
And this is all I ever dream 
 Luther Vandross

Rabu, 17 Februari 2010

Surviving Troubles

Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.
                                                                                                 Yakobus 1: 2b-4


tak hanya sekedar menyentil, tapi menampar. pahamilah sejenak firman Tuhan yang kutemukan 2 malam yang lalu ini ketika rutinitas sebelum tidur kulakukan agar aku dapat tidur dengan nyenyak dan tanpa rasa bersalah. kutemukan di saat yang sangat tepat, ketika aku merasa hidupku tak lagi membahagiakan hanya karena banyak hal yang tak berjalan seperti mauku. dan aku disadarkan kembali bagaimana Tuhan begitu mencintaiku...

pertanyaannya:
pernahkah kita berhenti sejenak dan berpikir bahwa cobaan yang sedang kita alami haruslah kita syukuri bukan kita keluhkan?

sulit memang, tapi bukan tak mungkin.
sepenggal firman ini memang baru muncul di kehidupanku 2 malam yang lalu. namun, makna serupa sudah pernah aku dapatkan dan hingga kini aku menggenggamnya sebagai tonggak penyokong ketika aku hendak menyeberangi sungai lumpur berarus deras dan aku nyaris terjatuh di tengahnya.
kejadian itu hingga sekarang kukenang dan kuratifikasi menjadi titik balik hidupku. waktu itu aku sedang menghadapi sebuah masalah yang sebenarnya sangat kecil, namun aku menangis. seorang sahabat sekaligus saudara sekaligus keluarga hari itu ikut menangis di hadapanku hanya karena aku tidak mampu mengatakan masalah apa yang aku  hadapi. hebat! kemudian setumpuk kata-kata yang merupakan makna dari sepotong ayat dalam Alkitab yang hingga kini aku pun tidak hafal letaknya di mana meluncur dari mulutnya,  

"kalo kamu merasa masalah yang kamu hadapi itu besar, berarti Tuhan menganggap kamu mampu menghadapi masalah lain yang lebih kecil."

yah, aku sudah mendengar makna itu berkali-kali dalam hidupku. tapi, tak juga aku anggap penting hingga aku mendengarnya dari bibir sahabatku saat dia mengguyurku dengan penghiburan. ya, karena kamu sudah mampu menyelesaikan perkara kecil, maka Ia memberikan perkara yang lebih besar untukmu. artinya apa? levelku naik di mata Tuhan. aku bukan anak kecil lagi bagi-Nya, tapi aku selalu diizinkan untuk menangis dan mengeluh pada-Nya jika aku rasa hal itu sangat berat. bisa bayangkan betapa baiknya Dia? kurang apa coba... lalu, cukupkah? belum memang. sahabat sekaligus saudara sekaligus keluargaku itu mengajarkan aku untuk melihat banyak hal melalui sisi baiknya. bersyukur? jelas. karena levelku naik di mata Tuhan. Dia memberikan perkara yang besar dan tak pernah lupa menambah kekuatan yang aku punya untuk menyelesaikannya. seberapa besar? jangan kau tanya. tak ada tandingannya. Dia memampukan aku untuk bekerja bersama-Nya menghadapi apa yang sering disebut sebagian orang sebagai "cobaan" dan sebagian lagi menyebutnya "anugerah". sekarang, aku sedang berusaha menjadi bagian dari orang-orang yang mampu menyebut hal itu sebagai "anugerah". dan aku tau aku pasti bisa...aku sedang menapaki jalannya...

yah, seperti yang disebutkan di atas, ujian terhadap iman menghasilkan ketekunan yang akan berbuah matang dan membuat kita sempurna. it seems quite impossible. but, I never doubt it. Tuhan memberikan itu semua untuk menempaku menjadi anak yang kuat. jika muncul pertanyaan : mengapa aku yang mengalami hal ini? dengan segera aku dapat menjawabnya, "karena Tuhan tau aku mampu. orang lain belum tentu mampu."
gampang! bukan kesombongan, tapi keyakinan bahwa aku dicintai maka aku diajari-Nya dengan cara seperti itu. jika orang-orang berkomentar bahwa hal itu menyiksa, yah mungkin memang benar...tapi, toh pada akhirnya aku selalu mampu mengatasinya. dan inti dari semuanya adalah belajar menerima rencana Tuhan, bersyukur, dan menjalaninya sepenuh hati. hasilnya tak pernah mengecewakan. yakin!

kutemukan di saat yang sangat tepat, ketika aku merasa hidupku tak lagi membahagiakan hanya karena banyak hal yang tak berjalan seperti mauku. dan aku disadarkan kembali bagaimana Tuhan begitu mencintaiku...
aku hanya perlu menghampirinya, Ia hanya sejauh doa.

pernah dengar sebuah novel berjudul Cinta Tak Pernah Tepat Waktu? well, aku tak setuju. karena Cintaku selalu tiba tepat pada waktu-Nya...

Selasa, 16 Februari 2010

finally

sudah begitu lama aku bertahan tanpa dirinya
terpisah jarak dalam rentang waktu yang lama pula
hanya sekelebat menyaksikan kembali sosoknya
dan tiba kabar bahwa ia sakit
aku tak tau ada apa dengannya
di mana dia saat itu
dan selalu seperti biasanya, aku tak punya keberanian untuk bertanya

hari ini akhirnya dia muncul kembali
akhirnya hatiku kembali berdetak
ternyata aku merindukannya
akhirnya aku dapat kembali berpura-pura tak kenal
akhirnya aku bisa tersenyum dalam hati
akhirnya aku...
menatap matanya lagi

akhirnya

Senin, 15 Februari 2010

belajar

ketika aku seorang anak kecil, aku berharap aku segera dewasa agar dapat segera mencicipi larangan-larangan yang menekan keingintahuanku
ketika aku beranjak dewasa, aku menikmati banyak hal yang menjadi dunia baruku seraya berharap aku tambah dewasa lagi supaya bisa berlaku sesuka hati
ketika aku menginjakkan kaki di usia dewasa, aku memiliki dunia di genggaman tanganku, aku dapat hidup semauku!

tapi, sekarang...lihatlah apa yang terjadi
banyak orang dewasa menginginkan kembali menjadi anak kecil
dengan segala keringanan beban
dengan semua keinginan yang terpenuhi
dengan teknik mencari perhatian
dengan izin untuk menangis...

oh, ya terserahlah...mungkin mereka ingin kembali ke masa anak-anak
tapi, aku tidak...
aku sangat sadar bahwa menjadi anak-anak tak semudah yang mereka kira
lebih tepatnya, aku takut kembali menjadi anak-anak

mengapa aku memiliki pola pikir yang sangat berbeda dari kebanyakan mereka?

aku merindukan masa kecilku, di mana aku bisa bercengkerama dengan keluargaku setiap waktu
aku rindu membuat orangtuaku marah karena aku jatuh dari pohon atau sepeda
aku rindu melihat orangtuaku tersenyum manis dengan rapot tanpa warna merah, padahal memang ibu guru tak pernah menuliskan nilai buruk dengan angka merah 
tapi, nyatanya apa? aku tidak bisa kembali menjadi anak kecil "sepenuhnya"
dan itu sangat menyakitkan untukku

look at me, you may think you see who I really am
but, you never know me 
who is that girl I see?
staring straight back at me
when will my reflection show who I am inside?

                            christina aguilera - reflection 

kenapa menyakitkan? karena aku mengalami kelainan
saat ini, aku adalah jiwa anak kecil yang terkurung dalam tubuh dewasa
membingungkan memang dan nyaris tak dapat dipercaya
tapi, memang beginilah adanya

aku berpikir seperti anak-anak
aku merasa seperti anak-anak
aku bertingkah seperti anak-anak
tapi, aku bukan anak-anak lagi
atau tepatnya, aku tak bisa jadi anak-anak lagi
aku sepenuhnya adalah gadis dewasa
yang dituntut untuk bersikap layaknya yang ditunjukkan tubuhku

sangat menyakitkan, berdiri di hadapan orang-orang
dengan berjubel ujian untuk memastikan aku memang dewasa
padahal jiwaku bertransformasi menjadi bocah
aku melihat orang lain di cerminku
aku ingin kembali menjadi sepenuhnya diriku
entah apapun caranya, aku akan menjalaninya
aku tak mau lagi mengurung jiwa orang lain dalam tubuhku sendiri
aku mau memperbaiki keadaan
karena aku tahu aku tak bisa menjadi dua rupa sekaligus
sekalipun aku ingin...

I won't pretend that I'm someone else for all time 

Jumat, 12 Februari 2010

dan semua pun menyayangiku

tadi malam akhirnya aku tidak menangis lagi. telah dua malam sebelumnya ak selalu menghabiskan sejumlah waktu untuk menangisi sesuatu yang bahkan ak tidak tau apa. bodoh memang. tapi entahlah...mungkin orang-orang nggak percaya dengan sesuatu yang terjadi tanpa sebab. namun, kenapa aku menangis begitu hebat dua malam yang lalu masih merupakan misteri bagiku sendiri.

tulisan ini adalah refleksi, apa yang telah menjadikan ak seperti ini...

ak merasa sesuatu terjadi padaku. sesuatu yang belum pernah terjadi di waktu-waktu yang lalu. ak adalah orang yang terobsesi menjadi sandaran dan andalan semua orang. mimpi aneh dan nyaris mustahil. tapi, hal ini menjadi obsesiku karena ak terbiasa dijadikan tempat pelarian teman-temanku ketika mereka bermasalah. dan ternyata aku menikmati peranku itu. kronologisnya selalu sama: mereka mendatangiku dengan wajah suram, duduk sejenak terdiam (optional), mereka memulai percakapan dengan pertanyaan reflektif atau terkadang langsung menuju sasaran yang ditanyakan, kemudian aku akan mendengarkan cerita itu hingga habis (kadang-kadang mengangguk atau mengernyit), setelah selesai mereka akan mengajukan pertanyaan yang berbunyi, "bagaimana?" dan "apa yang harus aku lakukan?". baiklah...sejenak kemudian ak akan mencekoki mereka dengan apa yang ada di kepalaku. selanjutnya, aku akan diberi kabar mengenai perkembangan masalahnya, dan aku akan kembali mendikte langkah-langkah yang harus dilakukan...
maaf, aku bukan mau sombong, sama sekali tidak. tapi kenyataannya, itulah kegiatan yang kuhabiskan sepanjang umur hidupku. mau tak mau ak mencintai pekerjaan itu, sebab pada akhirnya aku akan bisa menerima kabar gembira bahwa masalahnya sudah selesai, atau sekedar mendengar seorang sahabat yang menjadi korban itu berkata, "nggak papa, aku kuat". itu cukup buatku...

aku masih melanjutkan peran itu hingga saat ini. bahkan sekarang aku seakan membuka klinik konsultasi online dan via handphone. memang canggih zaman sekarang...kenapa aku masih mau melakukan ini? karena aku merindukan sahabat-sahabatku yang berada jauh di sana...ak selalu ingin jadi bagian penting dalam hidup mereka. aku ingin jadi hebat di mata mereka, aku egois...

apa yang membuat aku menjadi begitu cengeng akhir-akhir ini adalah sebuah permasalahan menyangkut kepribadian. aku sedang tidak stabil, itu kata seseorang. yah, mungkin semua ini mulai aku jalani sejak kepindahanku dari rumah menuju tempat di mana aku menempuh kuliah. tapi, aku tidak pernah menyadarinya, hingga saat ini aku dihantam di wajah dengan keras akan kenyataan bahwa aku memang sakit...
sindrom jauh dari rumah? sindrom perantauan? tidak, sama sekali tidak. jauh lebih rumit daripada sekedar kerinduan akan kampung halaman (aku kembali sombong).

 aku berubah menjadi anak kecil

 komentar orang-orang yang menyatakan aku ini sangat dewasa terbukti salah saat ini. ketika aku ditinggalkan oleh orang tuaku di kota ini untuk memulai tugas belajarku, aku tidak sebodoh ini, tidak selemah ini. aku menjalani semuanya begitu baik hingga sebuah kejadian menohok dan mempermalukanku begitu dalam. kejadian yang sebenarnya aku sangat malu untuk menceritakannya, tapi kejujuran dibutuhkan untuk mengerti permasalahan : adikku dibelikan sepeda dan handphone baru oleh mamaku. tok.
bisa bayangkan betapa malunya aku karena ternyata hal super duper biasa ini membuatku menangis setelah menutup telepon dari rumah? sangat malu...bagian terburuk dalam hidupku...
ternyata aku iri pada adikku. iri untuk apa? untuk materi duniawi...I WAS REALLY DUMB! sejak aku kecil, tidak pernah sekalipun aku merasa iri kepada dua saudaraku untuk hal-hal materi. sama sekali tidak pernah. dan sekarang, di usia yang sudah cukup untuk membuatku memiliki KTP, aku merasa iri pada seorang tak bersalah dan tak tau apa-apa. BODOH!

namun, akhirnya aku mendapat kesempatan untuk pulang ke rumah dalam liburan natalku. tak bisa kukatakan betapa bersyukurnya aku untuk kesempatan itu ketika akhirnya di malam natal aku mengetahui bahwa sahabat-sahabatku di kota ini tak dapat menikmati hangatnya cinta dalam keluarga di hari natal. sungguh, hatiku pedih membayangkan bagaimana mereka harus merayakannya tanpa keluarga. aku tidak akan tahan. kulepaskan rinduku yang menumpuk tinggi dan menyesakkan selama 6 bulan terpisah dengan menghabiskan waktu sebanyak-banyaknya dengan mereka yang akan kembali kutinggalkan sebulan kemudian. dengan hati berat aku kembali berangkat ke kota ini. kota yang menimbulkan dilema besar untukku, aku mencintainya, sekaligus membencinya. dan aku jatuh sakit. mamaku terpaksa datang ke kota ini demi merawatku. aku malu sekaligus bersyukur...

semenjak hari kepulangannya, aku menghabiskan malam-malam dengan berdoa, menitikkan air mata untuk mereka yang aku cintai. orang tuaku, saudaraku, dan sahabat-sahabatku. berangsur membaik dari hari ke hari. aku selalu berusaha menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan sahabat-sahabat lama yang sekaligus dapat mengobati rasa rinduku pada rumah dan keluarga. merekalah keluargaku di sini...
hingga akhirnya peristiwa lain membuatku semakin yakin bahwa aku bertransformasi menjadi bocah ingusan. seorang teman membatalkan janji. dan kemudian aku berpura-pura tegar. namun, ketika handphoneku berbunyi untuk ketiga kalinya, aku yang sedang mengerjakan tumpukan tugasku menjerit marah dan membanting pensilku, padahal itu hanya sms dari teman yang mengucapkan terima kasih. itu semua aku lakukan hanya karena rencanaku tak berjalan baik, padahal aku masih bisa memperbaiki rencana itu di lain waktu. BODOH!

lihatlah, betapa aku mempermalukan diriku dengan bertingkah dan berpikir kekanak-kanakan. aku menuntut semua orang untuk berkorban demi kepentinganku. demi melihat aku melompat kegirangan seraya menjerit gembira pula. aku ingin semua orang menanyakan keadaanku, apakah aku lelah? apakah aku sedih? aku memaksa semua orang meluangkan waktu untukku, menemaniku, mendengarkanku, melayaniku. aku marah ketika aku pikir aku dikecewakan. aku menangis ketika aku tidak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan.

memalukan...

aku tak lagi kenal siapa diriku saat ini. aku sangat malu dengan keadaan ini. aku tidak pernah mau berubah menjadi anak kecil yang merepotkan dan menyusahkan banyak orang. betapa ironis keadaanku sekarang dengan obsesi idealku...aku sangat hancur menerima kelemahan ini. ya, ini kelemahan. aku merasa telah terlalu lama terkurung dalam tuntutan untuk menjadi dewasa namun, ternyata aku jatuh dalam menapaki jalan itu. ya, aku sedang mendaki tanggaku untuk mencapai kedewasaan yang seharusnya, tapi saat ini sepertinya aku sedang lelah. aku sedang sejenak berhenti di tengah tangga, mengumpulkan kembali tenagaku untuk kembali melangkah. pasti, pasti aku akan kembali melangkah. kapan? tergantung seberapa lelah aku saat ini. semakin lelah aku, semakin lama waktu yang kubutuhkan untuk mengumpulkan tenaga baru.

lalu, aku membutuhkan sesuatu saat ini...aku butuh seseorang. yang tidak akan menertawakanku untuk apa yang kualami ini. yang tidak akan mencekokiku dengan nasihat-nasihat memualkan. yang tidak akan mengatakan, "tenang, hanya sindrom biasa...". yang akan memperlakukan aku layaknya anak kecil yang bersedih. yang mau menerima bahwa memang saat ini aku adalah anak kecil. yang bisa membimbingku untuk jadi dewasa sesegera mungkin. yang hanya mau mendengarkanku...yang mau memberikan bahunya untuk aku menangis. dan yang bersedia memelukku dan menunggu hingga aku tertidur, lalu terbangun masih dalam pelukannya namun telah kembali menjadi diriku seutuhnya.

aku percaya aku bisa. aku percaya aku kuat. aku percaya aku akan bertahan.
karena aku lahir bukan untuk menjadi lemah!

dan hari ini, aku dapat menuliskan (mengakui) segala kelemahan yang tengah menderaku saat ini karena...

aku disayangi. oleh mereka yang ternyata selalu setia tidak hanya di saat aku bahagia, namun terlebih di saat aku menangis menuntut penghiburan, mereka yang menyebut diri mereka "sahabat".

mereka membukakan mataku bahwa aku tak perlu menghadapi semuanya sendirian. aku bisa berbagi rasa sakit ini dengan mereka semua. aku hanya butuh sedikit waktu untuk memperbaiki ini semua. karena aku tau aku dicintai...ya, aku dicintai. dan aku bersyukur untuk itu, sangat bersyukur...


 


 

Senin, 08 Februari 2010

Miss Them So Bad

THE KINDERGARTEN FRIENDSHIP






























Gnostis Sanguinis

tulisan ini bukan berisi definisi gnosis sanguinis karena sebenarnya saya nggak terlalu ngerti apa itu gnosis sanguinis. istilah ini saya baca dari buku tulisan Ayu Utami berjudul Bilangan Fu. dalam cuku tersebut dijabarkan bahwa gnosis sanguinis adalah "pengetahuan seturut darah. Sebagian besar pengetahuan disimpan dalam sel-sel otak. Tapi ada bentuk pengetahuan lain yang hidup dalam sel-sel darah."

tadi waktu kuliah Dasar2 Ilmu Budaya, saya mengajukan pertanyaan berkenaan dengan gnosis sanguinis karena materi yang sedang dibahas menurut saya memiliki relasi yang cukup dekat dengan gnosis sanguinis. sebagai contoh, ketika manusia purba menghadapi kebutuhannya akan makanan, terutama di zaman yang dikenal dengan berburu dan meramu, mereka diharuskan untuk menemukan cara mengolah bahan makanan yang mereka dapat dari alam agar dapat dimakan dalam keadaan baik dan tidak mengganggu kesehatan. cara pertama yang terpikirkan adalah memasak bahan tersebut. entah bagaimana mereka berpikir bahwa untuk memasak dibutuhkan api. dan kemudian mereka pun dengan entah cara apa menemukan bagaimana menyalakan api. pertanyaan yang saya ajukan pada dosen adalah, dalam contoh kasus ini bagaimana mereka menemukan atau setidaknya menebak cara untuk membuat api. kemudian ibu dosen hanya menjawab bahwa kebudayaan dalam contoh itu mencirikan bahwa kebudayaan terus berkembang karena sifatnya yang dinamis. seiring waktu, manusia memikirkan bagaimana cara melakukan hal itu dengan lebih mudah sehingga terciptalah alat2 yang membantu kehidupan manusia di masa sekarang. jawaban ini sayangnya tidak memuaskanku sepenuhnya akan pertanyaan yang saya ajukan sebelumnya. lalu, pertanyaan itu kembali saya perjelas, yang saya tanyakan adalah mengenai gnosis sanguinis yang saya duga mereka miliki sehingga mereka bisa akhirnya menemukan bagaimana menciptakan api. namun, kembali dosen tersebut mengulangi jawaban yang sama tidak memuaskannya. saya hanya mengangguk2 (pura2) mengerti karena saya pikir apa yang saya tanyakan tidak termasuk dalam esensi materi pelajaran. ya sudah...


kenapa saya begitu tertarik dengan istilah gnosis sanguinis ini? pada awalnya, saya agak ngeri ketika memahami pengertiannya melalui buku Ayu Utami yang saya baca itu. pengetahuan yang disimpan di dalam darah. dan ditularkan melalui gigitan. oke, itu metafor. tapi, tetap saja, definisi itu membuat saya sedikit ngeri karena bayangan yang muncul di kepala saya. selanjutnya, saya memahami gnosis sanguinis sebagai istilah lain dari naluri. namun, saya malah jadi kebingungan sendiri. karena naluri itu sering diidentikkan dengan perasaan atau sesuatu dalam diri yang berperan seperti sistem peringatan. sebagai contoh, jika ada seorang anak sakit atau mengalami sesuatu yang buruk dan membahayakan, biasanya si ibu akan merasakan sesuatu sebagai tanda bahwa anaknya tidak dalam keadaan baik. semacam firasatlah. hal ini selalu disebut2 sebagai "naluri keibuan". sementara itu, berdasarkan pemahaman saya, gnosis sanguinis sendiri lebih identik dengan pengetahuan yang tanpa dipelajari dimiliki oleh manusia. lebih seperti anugerah kecerdasan yang membedakannya dari ilmu pengetahuan yang dipelajari di institusi resmi seperti sekolah.
saya tak begitu yakin apakah hewan juga memiliki sejenis gnostis sanguinis, karena kebanyakan orang menyebut kemampuan hewan untuk melakukan sesuatu itu didasari insting. nah, menarik kan gnostis sanguinis ini? jika secara ekstrim diartikan, istilah ini mengidentifikasi ilmu pengetahuan manusia yang sejak lahir dimiliki tanpa perlu dipelajari secara khusus. ketika pertama kali menikmati hidup di dunia, manusia telah memiliki pengetahuan itu di dalam sel2 darahnya (dengan definisi yang saya buat sendiri ini, saya tidak lagi merinding disko mendengar kata "darah").


lalu, mengenai kata2 "ditularkan melalui gigitan" ini jika secara harfiah dipahami akan jadi perwujudan metode penyebaran ilmu pengetahuan yang paling mengerikan. melalui kata "ditularkan", dapat ditarik dugaan bahwa gnostis sanguinis ini tidak dimiliki oleh semua manusia, oleh sebab itu perlu ditularkan. namun, yang mendatangkan kebingungan selanjutnya adalah pengetahuan macam apakah gnostis sanguinis ini yang hanya dimiliki oleh sebagian manusia?
kemungkinannya ada 2. yang pertama, memang pengetahuan ini dianugerahkan kepada manusia tertentu saja, yang mungkin lebih mirip dengan "gift". kemungkinan yang kedua, setiap manusia memiliki gnostis sanguinis yang spesifik dan berbeda satu sama lain. maka, untuk membagikan pengetahuan itu, manusia harus bertukar...apa ya? bertukar darah? malah jadi tambah ngeri...yah, mungkin inilah yang menyebabkan beberapa agama melarang transfusi darah. karena ada pengetahuan yang tidak disimpan di dalam sel otak melainkan dalam pembuluh darah.


subjek ini sangat menarik buat saya, karena jarang terdengar dan dibahas oleh orang2. siapapun yang mempunyai info mengenai gnostis sanguinis yang mengerikan sekaligus menakjubkan ini, boleh dibagi ya...terima kasih banyak.

Akreditasi : Ironi Antara Tujuan dan Pelaksanaan

Telah diketahui secara luas, akreditasi merupakan salah satu kriteria yang patut dipertimbagkan dalam memilih sebuah lembaga pendidikan. Secara khusus, perguruan tinggi merupakan salah satu lembaga pendidikan yang menggantungkan kelangsunganya pada status akreditasi. Tanpa akreditasi yang memuaskan, perguruan tinggi harus siap-siap gulug tikar karena kekurangan mahasiswa. Mau tak mau, harus ditempuhlah sebuah usaha untuk tetap mempertahankan eksistensi.
Akreditasi perguruan tinggi adalah penilaian kelayakan program studi dan/atau satuan pendidikan tinggi berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan untuk jaminan mutu kepada masyarakat. Pernyataan tersebut merupakan definisi akreditasi berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 28 Tahun 2005. Termuat pula dalam peraturan tersebut bahwa akreditasi dilaksanakan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) yang beranggotakan ahli-ahli evaluasi pendidikan, kurikulum pendidikan tinggi, manajemen perguruan tinggi, dan perwakilan unsur masyarakat pendidik yang memiliki wawasan, pengalaman, dan komitmen untuk peningkatan mutu pendidikan. Penilaian akreditasi diarahkan pada tujuan ganda, yaitu menginformasikan kinerja perguruan tinggi kepada masyarakat dan mengemukakan langkah pembinaan yang perlu ditempuh oleh perguruan tinggi dan pemerintah, serta partisipasi masyarakat.
Berdasarkan pernyataan tersebut, akreditasi perguruan tinggi memang diselenggarakan dengan tujuan yang mulia. Hasil akreditasi perguruan tinggi dapat menjadi bahan pertimbangan bagi masyarakat dalam memilih dan memutuskan untuk bergabung dengan perguruan tinggi yang sesuai. Selama ini hasil akreditasi memang memegang peranan penting dalam kelangsungan perguruan tinggi. Sebagian besar perguruan tinggi dikenal dengan program studi (prodi) andalannya yang terakreditasi dengan hasil yang memuaskan. Prodi-prodi tersebut biasanya dibanjiri ribuan peminat atau calon mahasiswa yang harus bersaing ketat, saling mengungguli yang lain untuk dapat menjadi bagian dari prodi unggulan tersebut. Sementara itu, prodi-prodi yang belum terakreditasi dengan hasil yang baik selalu kelabakan mempertahankan izin penyelenggaraannya dengan jumlah mahasiswa yang sangat minim.
Akreditasi memang salah satu jalan untuk mengetahui kualitas pendidikan sebuah prodi dalam perguruan tinggi. Dengan proses audit yang dilaksanakan oleh BAN-PT, masyarakat dapat menilai kelayakan sebuah perguruan tinggi. Adapun kriteria yang dijadikan dasar penilaian program studi dalam proses audit tersebut terdiri atas beberapa poin di antaranya kesesuaian penyelenggaraan prodi denga peraturan perundang-undangan, sarana dan prasarana, efisiensi penyelenggaraan prodi, produktivitas prodi, dan mutu lulusan. Bahkan juga memungkinkan sebuah perguruan tinggi menyiapkan data-data pendukung yang memuat informasi mengenai lokasi kerja alumni, prestasi prodi, penelitian yang telah dibuat, dan keberlanjutan studi dosen.
Meskipun telah dilaksanakan atas kriteria-kriteria yang telah ditentukan oleh para ahli yang berkredibilitas, proses audit akreditasi prodi dan/atau perguruan tinggi masih sering kali diragukan hasilnya. Hal itu disebabkan oleh terlalu singkatnya proses audit yang lebih banyak dilakukan melalui dialog di ruangan. Kecil kemungkinan dilakukan evaluasi secara mendalam melalui bukti-bukti fisik atau dokumentasi. Hal ini tentunya merupakan contoh kekurang akuratan hasil akreditasi oleh BAN-PT. Dengan demikian, hasil akreditasi belum seluruhnya mencerminkan peta kualitas perguruan tinggi di Indonesia.
Dengan adanya poin sarana dan prasarana sebagai salah satu kriteria penilaian, semestinya para auditor benar-benar meninjau keberadaannya di lapangan, bukan hanya sekedar menilai dari dialog dengan pihak penyelenggara prodi. Selain itu, juga perlu dilakukan dialog dengan mahasiswa untuk memastikan validitas data yang disajikan penyelenggara prodi.
Proses penyelenggaraan audit oleh BAN-PT memang baik dalam tujuan membantu masyarakat memperoleh informasi mengenai kredibilitas perguruan tinggi. Namun, tak jarang dalam pelaksanaan mencapai tujuan tersebut, akreditasi memicu tindakan ketidak jujuran dari pihak yang diaudit yang akhirnya menjadi salah satu batu sandungan dalam memastikan keakuratan hasil akreditasi. Dengan adanya tuntutan kriteria tertentu yang belum terpenuhi, pihak perguruan tinggi terkesan terburu-buru, bahkan “terkesan asal-asalan” dalam usahanya memenuhi kriteria tersebut, misalnya melanggar tahap-tahap prosedur yang semestinya. Kondisi ini tercermin dalam contoh kasus pengadaan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) fiktif untuk alasan kriteria akreditasi yang belakangan ini merebak di kalangan perguruan tinggi tertentu. Hal ini terjadi karena salah satu kriteria yang menjadi bahan penilaian adalah dinamika kehidupan organisasi mahasiswa di bidang non-akademik. Penilaian didasarkan pada ada tidaknya organisasi aktif yang menjalankan program-program bidang non-akademik. Keberadaan organisasi dengan hirarki dan keanggotaan yang tidak riil ini menyebabkan prodi yang bersangkutan memperoleh predikat “akreditasi palsu”.
Salah satu kelemahan lain dari proses penyelenggaraan audit dalam proses akreditasi adalah keberlanjutan dari proses audit tersebut. Selama ini, audit hanya diadakan dalam jangka waktu tetap dan dalam waktu yang singkat. Namun, tidak ada pemantauan berkesinambungan di antara rentang waktu tersebut. Hal ini menyebabkan perguruan tinggi hanya memperbaiki dan mempersiapkan diri saat akan dilaksanakan audit. Sebagai contoh, komunitas kemahasiswaan yang seharusnya berjalan di bawah naungan program studi namun, ternyata tidak memperoleh support baik dalam bentuk bantuan finansial maupun perlindungan dari pihak universitas, seperti Media Sastra di tahun pertama berdirinya. Komunitas ini pernah mengajukan diri untuk bernaung di bawah Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, dan Universitas. Namun, saat itu ketiganya ditolak, yang berarti komunitas ini tidak mendapat bantuan dana dari ketiga tingkat tersebut. Padahal, komunitas inilah yang secara riil mempunyai pengurus dan anggota serta menjalankan program-program kerjanya. Pihak universitas tidak bersedia membawahi komunitas ini dengan alasan bentuknya tidaklah resmi seperti HMPS. Maka, Media Sastra menjalankan kegiatannya tanpa dukungan dan pengakuan dari universitas. Namun, ketika akan dilangsungkan proses audit untuk akreditasi, komunitas tersebut seketika itu juga diajak untuk bernaung di bawah salah satu institusi tersebut.
Dengan kendala-kendala yang disebutkan di atas, dapatkah BAN-PT menjamin keakuratan hasil akreditasi yang dilakukannya? Tercapaikah tujuan mulia menginformasikan kepada masyarakat mengenai kualitas dan kredibilitas perguruan tinggi? Ada baiknya bila dilakukan musyawarah dan revisi mengenai peraturan penyelenggaraan proses akreditasi agar dicapai hasil yang akurat yang nantinya akan menjadi bahan pertimbangan masyarakat dalam memilih perguruan tinggi yang sesuai. Selain itu, BAN-PT perlu menindaklanjuti hasil akreditasi dengan himbauan dan langkah pembinaan kepada perguruan tinggi yang belum terakreditasi memuaskan untuk dapat mencapai perbaikan dan peningkatan mutu dalam jangka waktu tertentu. Maka, diharapkan akan tercipta keselerasan antara tujuan dan proses pelaksanaan dalam penyelenggaraan akreditasi.

Jumat, 05 Februari 2010

The Inspiring Rain

sedang hujan deras waktu ak membuat tulisan ini. sudah lama sekali ak tak menyaksikan hujan yang begini derasnya turun di kota ini, kota tempatku menuntut ilmu yang sangat jauh dari rumah...
pertama kali ak tiba di kota ini, ak begitu bersemangat menyaksikan hujan yang turun untuk pertama kalinya. entah kenapa, saat itu ak merasa terharu, sampai2 ingin meneteskan air mata. entah kenapa, terkadang memang ak menjadi begitu bodoh. hujan pertamaku di jogja itu membuatku melongo memandangi sekaligus menikmatinya dari beranda kamar kostku, sementara tak ada orang lain yang bersamaku untuk menikmati keindahan tak terkatakan itu. seketika itu, ak menyambar telepon genggam dan mengirimkan pesan kepada teman2 lama hanya menginformasikan bahwa ak sedang menyaksikan hujan pertamaku di kota jogja, dan ini sangat indah. sms yang sangat bodoh. tapi, itu membahagiakan hatiku. sangat bahagia bisa berbagi keindahan yang tak terkatakan ini...
sekarang, ak juga sedang memandangi derasnya rinai yang mengguyur bangunan tempatku berteduh. hujan selalu membuatku terdiam dan merenung, padahal ak sendiri tak pernah dapat menjelaskan apa yang ak pikirkan di kala hujan. setelah terdiam sejenak, ak akan tersenyum memandangi hujan lebih lama lagi. dan jangan tanya kenapa ak tersenyum, ak pun tak tau alasan jelasnya. it's just about rain, all about rain. and i always smile while looking at the rain. that's all, no reason for it.


tadi, sempat terbahas olehku dan teman2ku ketika suara rintik hujan mulai mengganggu aktifitas kuliah. kami semua setuju, bahwa kami cinta bau hujan. atau setidaknya begitulah yang kami maksudkan. karena kami menyebut aroma yang muncul di kala hujan turun itu dengan berbagai bahasa. ada yang bilang bau tanah, bau aspal tersiram hujan, atau bau hujan. ya sudah kami menyebutnya bau hujan...

apa yang sebenarnya membuatku mencintai hujan?

ak nggak pernah benar-benar tau. hanya yang ku ingat, ketika ak kecil ak sangat takut akan hujan. tiap kali hujan turun apalagi disertai dengan petir yang menyambar-nyambar, ak akan mencari keluargaku dan tidur di sofa ruang keluarga sambil menutup telinga. ak sangat takut, ak tak suka hujan. namun, sebuah peristiwa terjadi ketika ak kelas 2 smp, yang ternyata mengubah persepsiku tentang hujan. peristiwa konyol khas cinta monyet anak remaja sebenarnya, tapi bermakna besar buatku...

waktu itu ak menyukai seorang temanku laki-laki. ketika tiba waktunya untuk pulang, kami berjalan bersama menuju jalan raya. ak mengenakan jaketku, dia pun begitu. hawanya begitu dingin dan hujan masih rintik, sehingga ak merapatkan jaket dan menundukkan kepalaku. dia ternyata memperhatikan perubahan perilaku ini lalu menyahut, "mau pake jaketku?"
ak mengangkat kepalaku tak percaya. namun, ternyata dia tidak bohong. ak hanya menolak seraya berkilah ak sudah pake jaket. dia hanya tersenyum. sejak hari itu, ak sangat menyukai hujan. karena seperti utopia bilang...



aku selalu bahagia

saat hujan turun
karena aku dapat mengenangmu untukku sendiri...
aku bisa tersenyum sepanjang hari
karena hujan pernah menahanmu di sini
untukku...





ya, sejak saat itu, setiap kali hujan turun di sekolah, ak akan menyambutnya dengan riang gembira. karena itu artinya, teman2 tak akan pulang, melainkan akan berkutat bersamaku menikmati indahnya hujan. segala hal dapat kulakukan saat hujan, kecuali mungkin menjemur pakaian di luar. yah, itu kadang jadi alasan kenapa ak bersedih ketika hujan turun.

hujan telah menanggalkan taringnya, ia malah menemaniku dengan lembut. karena setiap kali hujan turun, ak menyaksikan keindahan yang tak terkatakan, ak merasakan kehangatan yang memelukku.

waktunya menikmati hujan... =)

Kamis, 04 Februari 2010

3 Januari 2010

ak 18 tahun. udah dewasa ya? tapi ak belum punya sim. beberapa taun belakangan ak menghabiskan hari ulang tahunku dengan jadi bahan kenakalan teman2. hari ini? kenapa ak jadi kayak anak kecil?
tadi, waktu berada di pinggir kolam renang ngeliat puluhan anak2 kecil ketawa2 girang main air sama temen2nya, ak dengan jeleknya nyaris nangis. nggak jelas kenapa. ato sekarang ak jadi pencemburu? kurang apa sih? udah makin tua bukannya makin dewasa malah jadi childish! nggak jelas. semua doa menuntutku untuk jadi lebih dewasa, tapi ak heran kenapa malah di usia sebesar ini belakangan ak sering bertingkah seperti anak2. bukan gara2 ak doyan menyanyikan lagu sekolah minggu dengan gaya autis, ato gara2 ak doyan main gelembung sabun, ato gara2 saban ke minimarket ak selalu beli nyam2, tapi gara2 sifat cemburu dan iri yang bolak-balik lewat nggak liat2 umur. sodaranya dibeliin ini itu, nangis...tmen2nya pada pulang kampung, nangis...tmen2nya kumpul2, nangis...bego' banget lah! nggak ngerti kenapa. kalo ada temen susah, sok2 ngasih nasehat ini itu...berusaha sok dewasa dengan memotivasi mereka biar dewasa, tapi di belakang mereka mewek terus. katanya terobsesi jadi "shoulder to cry on"...sekarang malah jadi "tears who falls on anyone else's shoulder"! CUPU!

apakah untuk jadi dewasa kita harus meninggalkan semua keinginan yang biasanya jadi impian anak kecil? HARUS? tapi kalo itu malah bikin kita sedih dan hilang arah gimana? ada yang bilang "jadi dewasa bukan berarti kita tau segalanya, bahkan menirukan tawa anak kecil pun kita sudah tak dapat....lalu dibutuhkan jembatan untuk itu semua, kerendahan hati." iya, emang bener...ak nggak bisa lagi berkelakuan kayak anak kecil. ak sadar itu tanpa semua orang terus mengingatkan. tapi, tidak adakah yang mau memaklumi kerinduanku untuk bertingkah kekanak-kanakan di usia sedewasa ini bahkan barang sekali saja? bukan...ak tak peduli masalah hobiku menyanyi lagu anak2 dengan bodoh dan makan nyam2, tapi tidak bolehkah ak iri? kan ak tidak menginginkan perasaan ini ada di dalam diriku, itu muncul sendiri tanpa dapat ak kendalikan. herannya, kenapa dulu ak nggak pernah selemah ini, sekarang ketika semua orang berharap dapat bersandar padaku malah ak bersedih layaknya anak kecil yang tidak dapat perhatian. mungkin memang ak mengharapkan perhatian. ak mengharapkan sebuah kejutan yang tidak didapatkan orang lain dalam hari yang disebut ulang tahun ini. benar2 anak kecil ya ak!

ya sudahlah, biar bagaimanapun sedihnya aku hari ini, ak selalu merasa bersyukur dan berterima kasih untuk apa yang ak punya saat ini. merayakannya kembali dalam kehangatan dan kesederhanaan keluarga kecil ini, sungguh membuatku terharu (air mataku menetes saat menulis kalimat ini). ini adalah ulang tahunku yang ketiga tanpa kehadiran bapak. tapi, ak kuat kok! jangan kira ak akan jadi lemah hanya karena hal semacam itu. karena dia sebenernya nggak pernah lupa mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikan hadiah untukku sekalipun itu tak kasat mata. ak tau dia nggak pernah lupa...dan ak pun berbahagia karena 3 sodara laki2ku yang hari ini pun bersamaan denganku merayakan ulang tahun masih ingat untuk saling mengucapkan selamat dan doa. makasih bro, proud of being your sister. Tuhan, jadikan ak dewasa seperti apa yang mereka semua yang menyayangiku harapkan...ak nggak mau mengecewakan mereka. AKU SUDAH DEWASA!



akulah perempuan dengan jiwa bocah
mencoba dewasa, mencoba berubah
mohon dampingilah jangan tinggalkan
kau alasanku untuk dewasa
dan aku tak ingin kau terluka
segenap jiwa akan kujaga keindahanmu... -sheila on 7-


(tulisan paling kekanak-kanakan yang pernah aku buat!)

Rabu, 03 Februari 2010

Rindu Setengah Mati

aku rindu setengah mati kepadamu
namun ku tak ingin kau tau
aku rindu setengah mati...

ini bukan karena ak sedang sok mellow, tapi entah karena apa. ak sendiri juga tidak tau kenapa tiba2 ak merasa seperti ini...



persis sebulan yang lalu ak sedang berada di kampung halamanku, merayakan hari ulang tahunku sambil menontoni anak2 kecil bermain di kolam renang dan ak nyaris menangis karenanya. saat itu ak sedang bersama mama dan adikku. 11 hari berselang, ak berangkat meninggalkan mereka. mencium tangan mama di bandara sebelum lepas landas, menahan air mata yang akan jatuh karena harus kembali meninggalkan rumah. tapi, tugas belajarku baru saja dimulai, tak pantaslah ak merengek dan mengeluhkan betapa jauh jarak yang harus kutempuh. berusaha tak memikirkan berapa lama lagi waktu yang harus berjalan sebekum ak dapat kembali pulang dan bertemu dengan keluarga. setibanya di kota yang juga aku rindukan ini, ak merayakan kedatanganku dengan menemui sejumlah teman lama yang tak seberuntung diriku untuk menikmati liburan yang singkat di kampung halaman. kuceritakan segala hal untuk mengobati rindu mereka. dan ak mulai terbiasa dengan hidupku lagi...
hanya 3 hari berselang, ak jatuh sakit. bukan rasa sakit yang membuatku menangis, tapi keberadaanku yang begitu jauh dari orang yang biasanya mengurusiku di saat sakit. ak merindukan omelan yang selalu kudengar tentang kegiatan yang terlalu banyak, pulang malam, dan jadwal makan yang berantakan setiap kali mengeluh sakit. namun, seketika itu juga -masih dengan nada marah- saran2 untuk segera menelan obat dan merebahkan diri untuk istirahat memenuhi telingaku. ak kembali tenang...namun, kali ini tidak ada lagi ocehan2 marah itu. yang ada hanya nada2 cemas dari teman2 yang bertemu. ak tak puas, sama sekali tak puas...
dengan tenaga seadanya, ak mencoba menahan rasa sakit ketika menjalani kewajiban untuk hadir di kampus. 2 hari bertahan, setiap saat kuhabiskan untuk menekan keinginan menelepon dan menangis mengeluh, menumpahkan semua ketidakpuasan pada orang2 yang sedang berada di rumah yang masih tak tau jika ak begitu sakit dan membutuhkan mereka. ak selalu berpikir bahwa ak tak mau merepotkan dan mencemaskan mereka dalam jarak yang begini jauh. kembali bertahan...tapi ak tak sanggup. akhirnya kuhubungi juga orang yang biasa memarahiku saat sakit itu. dan kudengar lagi nada tingginya, kali ini campuran antara marah dan cemas. selama sehari ak diganggu bunyi telepon genggam yang kemudian menghubungkanku dengan suara bernada tinggi itu lagi. malam itu juga, di tengah derasnya hujan bersama seorang sahabat yang penuh pengorbanan, ak divonis terpaksa menginap di rumah sakit. makin hancur hati ini, karena ternyata usahaku untuk tidak merepotkan keluarga hancur berantakan. dengan jujur kembali kutelepon nada tinggi itu, nadanya berubah. lebih pelan lebih rendah, tapi ak tau nada itu menyimpan kesedihan yang sedang ditutupi. ak hanya menggumamkan maaf dalam hati...
seorang sahabat penuh pengorbanan itu membawa seorang sahabat lain yang akhirnya menungguiku hingga 2 malam. ak begitu mensyukuri kehadiran mereka dalam hidupku. tak pernah kukira ak akan tiba pada situasi di mana mereka akhirnya menunjukkan kasih yang begitu besar yang akan selalu membuatku tak henti mendaraskan doa untuk mereka...entahlah, ak harus selalu menahan keinginanku untuk menangis dan menjerit layaknya anak kecil setiap kali telepon dari orang yang nada bicaranya telah berubah rendah namun makin tak tenang dari hari ke hari itu menyambangi telepon genggamku. selalu kuyakinkan untuk tidak mendatangiku di sini, ak cukup kuat sendiri...

tapi, nyatanya dia tetap datang, dengan segudang pengorbanan dan kepentingan yang ditinggalkan. dengan nada cemas yang akhirnya tak bisa ditutupi. ak sangat hancur, usahaku ternyata gagal total...

kuusahakan untuk sesegera mungkin sembuh. dan puji Tuhan ak sembuh...dari dukungan dan kasih begitu banyak orang yang menakjubkanku...kuhabiskan waktunya yang tersisa di sini dengan mengantarnya ke mana pun, tak peduli badanku menjerit lelah. dan akhirnya ak yang harus ganti mengantarnya pergi. kembali mencium tangannya, kembali menahan tangis, kembali sendiri...kembali sendiri

malam2 berikutnya kuhabiskan untuk mendaraskan doa untuk mereka semua yang kucintai, lalu ak tiba pada sebuah kesadaran. ak belum sembuh. ak masih sakit. karena ak merindukan rumah. merindukan isinya. merindukan kehangatannya. merindukan semuanya. padahal baru saja ak berada di sana merasakan semua yang ak rindukan. tapi, ak tak puas, selalu tak pernah puas. nyaris menggoyahkan niatku untuk melanjutkan ini semua. namun, ak berusaha...ak berusaha untuk tak lagi mengacaukan rencana dan niatku. ak tak mau lagi merepotkan orang2 yang kurindukan. sudah cukup semua yang ak dapatkan.
tapi ini semua masih tak bisa dijelaskan. ak rindu nyaris mati. ak belum pernah merasakan ini. kedewasaan yang mereka tuntut meninggalkanku dalam pribadi seorang anak kecil. yang menginginkan semua hal ada untuknya, miliknya. tapi, tak bisa...yang bisa kulakukan hanya memohon kekuatan, menimba pelajaran dari teman2 seperjuangan. teman2 menakjubkan yang begitu kuat. sahabat2 sekaligus keluargaku di sini. ak sadar ak sangat mencintai mereka. sangat cinta...ak berharap mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan cinta yang sama besar dengan yang mereka punya untukku...

ak rindu, Tuhan...sampaikanlah sejuta rasa rindu ini untuk mereka semua yang selalu membuat air mataku menetes hari2 ini. jagai mereka semua. rencanaku tak kan gagal, karena ada Kau di sisiku...

untuk mereka yang kurindukan, nantikanlah ak untuk selalu pulang ke tengah2 kehangatanmu. ak tetaplah seorang anak kecil di hadapanmu yang selalu mencari tempat untuk pulang dan menangis ke pangkuanmu, merasakan rengkuhan dan mendengarmu menyelesaikan semua persoalan yang membelitku...tapi, ak janji akan berusaha untuk jadi lebih dewasa...untukmu


saat-saat seperti ini
pintu tlah terkunci, lampu tlah mati
ku INGIN PULANG, tuk segera berjumpa...denganmu
waktu-waktu seperti ini
di dalam selimut, harapkan mimpi
bayangan pulang, tuk segera berjumpa...denganmu
ku (tak) ingin kau tau, ku bergetar merindukanmu
hingga pagi menjelang
...
tak ingin terjaga sampai aku pulang -sheila on 7