Selasa, 29 Januari 2013

sore ini persis seperti hari 'mengejar merapi' kita


Sore ini persis seperti hari ‘mengejar merapi’ kita.

Kau terus berlari ke arah utara. Menerobos jalan-jalan sempit, memotong keramaian lalu lintas. Aku tak habis-habis tersenyum. Sesekali kuputar kepalamu menghadap jalan raya karena tentu akan jadi bahaya jika kau terus mengarahkan pandanganmu pada Merapi ketika kita sedang tidak menghadap utara. Terus, kau terus berlari. Enggan berhenti. Bahkan malam yang turun pun tak menghentikan lajumu mendekati Merapi. Pipiku mulai pegal tersenyum. Gedung-gedung tinggi itu menyelamatkanku dari ancaman kram sebab akhirnya kau menyerah setelah mereka menghalangi pandangan pada si cantik yang menjulang.

Kau putar arah ke selatan. Di sudut mataku tertangkap semburat oranye dan ungu yang sangat menyejukkan. Ini perjalanan yang sempurna. Matahari di sana sudah nyaris tertutup sepenuhnya oleh garis semu cakrawala. Tersisa bias warna sinarnya yang konon dicintai banyak orang sebagai salah satu suasana sendu sempurna selain rintik hujan. Tapi, aku tak merasa sendu. Aku bahagia. Ini hadiah yang hebat. Kukira aku sudah selamat dari kram, ternyata pipiku mulai pegal lagi. Aku tertawa bahagia.

“Lain kali kita akan mengejar merapi lagi,” begitu katamu.

Rabu, 23 Januari 2013

sudah selesai

Setelah berjarak sekian hari, ternyata tidak seheboh awalnya. Jadi, ceritanya saya akhirnya purna menunaikan tugas mulia: membaca novel yang digunakan untuk menulis tugas akhir kuliah. Ternyata, novel yang terdiri dari 196 halaman ini butuh menghabiskan waktu kurang lebih satu tahun untuk mencicipinya sampai halaman terakhir. Bisa-bisanya...bisa dong. Ini dia biang keroknya...



Sebuah tulisan pakde James Joyce yang konon menjadi awal karya besarnya. Waow. Tadinya, saya membaca ini atas rekomendasi teman. Saya mulai berpikir untuk beralih ke buku lain mengingat halaman demi halamannya saya lalui dengan amat sukar. Sebab musababnya ialah saya banyak menyaksikan kosa kata yang baru terbaca pertama kali dalam hidup saya di buku ini. Namun, entah mengapa saya berusaha keras bertahan maju perlahan-lahan. Sempat buku ini tak pernah berhadapan dengan lingkungan selain bagian dalam tas kuliah saya. Sempat pula saya tinggalkan di meja kamar selama berbulan-bulan karena saya hampir ngambek.

Maka, pada tanggal 18 Januari 2013 pukul 21.25 saya sampai-sampai ingin berlari keluar rumah dan mengguncang-guncang pagar dengan gembira karena akhirnya halaman 196 sudah saya baca hingga kata terakhirnya yang tak diakhiri tanda baca titik (.). Uwaow. Itulah hasil tirakat harian ketika liburan tiba. Sekarang buku ini ramai ditempeli kertas penanda warna-warni di berbagai halamannya. Nantinya, semua penanda itu akan saya pindahkan ke halaman yang persis sama di buku dengan judul sama yang akan menjadi milik saya sebagai hadiah ulang tahun dari seorang teman (buku yang saya baca itu pinjaman).

Sejauh ini, buku di atas adalah terbitan dengan catatan kaki terbanyak yang pernah saya baca. Keterangan catatan kaki itu tidak dibubuhkan di margin halaman di mana istilahnya dicantumkan, melainkan dikumpulkan jadi satu di bagian belakang. Semacam appendix.

Nah, sekarang jatahnya berpikir mau diapakan cerita dalam buku ini. Tapi, paling tidak satu langkah dari permainan ini sudah terjajaki. Hore.

Senin, 14 Januari 2013

on January


I accidentally remember this photograph. Once my little brother used to upload this and tag me on my Facebook acount. It was such a surprise when I found this photo 'again'. Hahaha... counting the candles on the cake, it should be my seventh birthday. That was how a birthday used to be in our home. Our mother cooked some special menu and never forgot the one that has always been being my favourite: black forest. :)

Having everything ready on the table, we would be sitting around and said a prayer. Afterward, everyone would greet me happy birthday. Actually, I have never demand any present from our family. However, in several random years they gave me some things which were intended to be presents.

I never wanted to have any party for my birthday. I never invited anyone to come on that day. It was always comfortable to celebrate it by giving thanks to God with this small lovely family.

What's funny in this photograph is that only my eyes that were looking straight to the camera. My older brother's (on my right) were looking at the cake. The younger one (on my left) was staring at the rice. All of us just realized it 13 years after this was taken. I nagged. They laughed. It was fun. :)

Well, I am 21 now. This is the very first year when birthday was not like what it used to be. But, it's really fine. There is nothing to complain. I found the underlying theme of my birthday: simplicity. :)


feeling january :)

Minggu, 06 Januari 2013

menjawab pertanyaan


“Daya tahan itu sama dengan keinginan manusia untuk hidup. Siapakah yang bisa meniadakan keinginan macam itu?”

Persis di atas kalimat tersebut saya membubuhkan kertas penanda supaya mudah bagi saya untuk menemukan kembali letakknya di balik halaman-halaman buku yang memuatnya. Kalimat itu tercantum dalam sebuah esai tulisan Romo Sindhunata berjudul ‘Pencak silat, Politik, dan Kejujuran’ yang saya kutip dari salah satu buku kumpulan esainya yang bertajuk ‘Ekonomi Kerbau Bingung’.

Buat saya, kalimat itu terasa sangat bertenaga. Tergambar di sana bahwa ada satu jenis keinginan yang tak bisa begitu saja dipupuskan oleh orang lain. Keinginan manusia untuk hidup, begitu katanya. Pertanyaan yang muncul di kalimat kedua seakan memberikan kesan bahwa tak mungkin ada yang mampu meniadakan keinginan seperti itu.

Setelah berhari-hari gelisah karena sebuah hari penting dalam hidup saya telah berlalu dan saya tak kunjung menemukan jawaban atas sebuah pertanyaan, kalimat di atas menjadi sangat membekas. Beginilah kira-kira.

Saya sering kali menemukan kata ‘keinginan untuk hidup’ atau ‘semangat untuk hidup’ di  berbagai cerita tentang seseorang yang menderita penyakit ganas yang memberinya hanya sedikit kesempatan untuk bertahan hidup. Poin dramatisnya selalu terletak pada perbandingan antara diagnosa medis yang cenderung pesimis dengan keinginan atau semangat yang optimis. Faktanya, banyak orang yang mampu pulih dari penyakit beratnya karena satu alasan: ia berjuang untuk hidup.

Maunya, saya juga mampu memahami hal tersebut tanpa perlu menderita penyakit ganas terlebih dahulu. Jika dilihat ke belakang, memang banyak masa-masa sulit yang pasti dialami semua orang. Akan tetapi, tak sedikit pula waktu-waktu yang terekam sebagai manisnya hidup. Kenangan macam inilah, yang menurut pengalaman saya, menjadi alasan untuk tidak begitu saja mencampakkan harapan untuk hari-hari yang lebih baik di tengah masa-masa yang sulit.

Ketika seseorang memiliki keinginan yang kuat untuk hidup, saya membayangkan ia menggenggam keberanian yang sangat besar. Hal itu saya yakini sebab hidup memang tak pernah mudah. Maka, ketika keinginan untuk bertahan hidup itu tumbuh, saat itulah keberanian mengiringinya. Keberanian untuk tetap menjejakkan kaki di jalan di depan mata meski mungkin sulit membaca kemungkinan konsekuensi yang akan muncul. Buat saya, itu juga berarti kesederhanaan untuk berbesar hati menerima dan memahami kehidupan. Dengan kesederhanaan yang sama, mudah-mudahan tumbuh semangat untuk memperbaiki kekurangan dan tidak kapok belajar mengasihi sesama.

Semoga sungguh tak ada yang mampu meniadakan keinginan macam itu.


6 Januari 2013; 22.44
menjawab pertanyaan yang selalu terlontar setiap tanggal 3 Januari

Sabtu, 05 Januari 2013

celetukan#3

I do adore persons who stay in line with what they concern with. I know some of them who are also the friends of mine. What catch my appreciation in this kind of persons is their loyalty and totality in doing something. They might not be called multi-talented persons, but they do what they concern with whole-heartedly. I believe they had experienced a phase or maybe more of being bored by it. Hence, it becomes more appealing to me since they survived through that hard times.

They always seem enjoying every little thing they do. They love it. Therefore, they are not going to stop learning and finding more about it.

Hahaha...when I looked back to what I have done in this blog, I think I still need a long time to find the right word to define how my self is correctly. The content of this blog is too random, too random. Hahaha...

I feel quite sure that eventually I will find a certain path where I should step on and be consistent to. Huray! :D 

Rabu, 02 Januari 2013

natal buat pasangan orang tua yang berbahagia


Kekasihku Yusuf, kemarilah, duduklah di sisiku. Sudah lelah kita berjalan seharian ini mencarikan tempat untukku bersalin. Jangan menyalahkan siapa pun bahwa kita tak berhasil mendapatkan satu penginapan pun untuk memberikan kelahiran yang layak bagi anak kita. Kandang ini, suatu saat akan jadi tempat istimewa untuk banyak orang karena bayi yang lahir dari rahimku ini meneriakkan tangis pertamanya di sini. Namun untukku, kandang ini selalu menjadi istimewa karena engkau duduk di sini bersamaku malam ini.

Suamiku, aku begitu lelah. Melahirkan bayi ini memang tak mudah. Bahkan sejak awal kehadiran-Nya di dalam kandunganku, banyak hal menjadi tidak mudah. Ijinkan aku berterima kasih padamu karena engkau tak pernah meninggalkanku meski aku tahu sulit sekali bagimu untuk memahami semua ini. Begitu pun denganku, aku sendiri tak punya pilihan selain menguncinya dalam hatiku rapat-rapat. Tak lain karena aku mengerti bahwa tak semua orang akan paham dengan apa yang terjadi pada kita. Pun kata-kata hanya akan mendangkalkan semua makna yang kita pahami lewat peristiwa ini.

Yusuf, kini aku dan kau bukan lagi sekedar sepasang kekasih. Bayi ini menjadikan hidup kita tak lagi seperti hari-hari kemarin. Kini aku seorang ibu, dan engkau bapak. Berjalanlah terus bersamaku. Kita besarkan buah hati kita ini dengan kasih kita berdua. Aku tak pernah betul-betul tahu bagaimana kehidupan anak kita di masa mendatang sesuai dengan kehendak Tuhan, namun aku percaya kita berdua akan selalu menjadi orang tua baginya. Ia akan selalu menjadi anak yang kita kasihi sepenuh hati.

Hanya gembala yang menemani kita malam ini. Syukurlah, kuharap mereka mengerti keadaan kita yang tak mungkin melayani mereka dengan lebih pantas daripada membiarkan mereka duduk di sekeliling palungan ini. Inilah kelahiran yang kuharapkan. Dalam kesederhanaan dan bersamamu.

Yusuf, aku letih sekali. Sudah lahir bayi ini dengan selamat dan sehat. Mungkin tinggal kita yang terjaga untuk sisa malam ini. Ijinkanlah aku bersandar dalam dekapanmu. Aku tak akan tertidur. Aku akan tetap berjaga bersamamu. Aku ingin merayakan sukacita yang meluap-luap dalam hatiku ini denganmu, dalam kandang yang hangat ini. Dalam keheningan yang syahdu. Dalam kasihmu yang memelukku dan anak kita. Dalam doa-doa kita kepada Tuhan yang mengantarkan anak ini pada kita berdua agar kelak dapat kita besarkan Ia dengan semua kesederhanaan kita. Mari beristirahat sambil berjaga. Terima kasih untuk selalu bersamaku. Aku pun bersamamu, kekasihku.


merayakan natal
untuk pasangan orang tua yang berbahagia