Senin, 17 November 2014

Buka Puasa

Sudah beberapa bulan terakhir saya menjalani masa puasa. Puasa jajan buku. Tujuannya cuma menata keuangan supaya kondisinya lebih baik terlebih dahulu, barulah kemudian bisa menganggarkan nominal yang menarik untuk belanja buku. Puasa itu tidak berlaku untuk menyetak dokumen PDF jadi buku. Puasanya hanya berlaku untuk jajan buku yang sudah jadi. Dalam beberapa bulan terakhir itu pula saya menghindari datang ke toko buku dengan sekadar iseng. Takutnya, iseng itu berbuah kekeringan finansial akibat tidak mampunya saya menahan niat.

Dan puasa ini akhirnya batal hari ini, Senin, 17 November 2014. Saya berbuka dengan ini.




Begitu dengar stoknya hadir lagi di toko buku (tepatnya setelah bos saya beli duluan), saya langsung pasang niat untuk memboyong satu pulang. Niat itu sempat tertunda beberapa hari oleh karena guyuran hujan yang tidak santai. Hari ini, tetap hujan, namun gembiranya hanya gerimis tadi. Maka, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mampir ke toko buku dan membungkus takjil saya ini.

Ini memang perilaku saya yang sangat embuh. Pun memilih karangan penulis aneh ini. Aneh, tapi buat saya dia brilian. Halah. Tidak, tidak, tidak sefantastis itu. Saya bermaksud mengatakan bahwa saya menyukai cara dia membuat gurauan. Setelah grup musiknya yang menyanyikan lagu-lagu dengan lirik yang brengsek itu, saya berniat melahap sebentuk lain isi otak Pidi Baiq.

Semoga yahud. Awas kalo enggak. Kalo enggak juga paling saya enggak bakal ngapa-ngapain. Tunggu ya, Dilan. Tunggu akhir minggu ini. :*



omong-omong, sepulang dari membeli buku ini, saya jatuh pilek
jangan-jangan ada penyakitnya