Minggu, 03 Mei 2015

Gendot

Jarak adalah yang kerap kali kusesali dalam rindu yang menyesakkan. Namun, dari jaraklah aku belajar mencintai. Pun aku belajar menghitung waktu, memutar balik ingatan tentang yang sudah mereka dan aku berikan, menghargai kehadiran mereka di tiap hariku, memikirkan hari depan bersama mereka, dan akhirnya belajar menjaga dan merawat mereka.


Aku punya beberapa teman. Dua di antaranya gendut. Mereka pun menyadari kondisi fisik itu. Tak pelak, mereka pun saling memanggil satu sama lain “Gendot”. Oh ya, nama mereka Anik dan Febi. Ketika pertama kali mengenal mereka, aku sudah melihat mereka bersama. Saat itu, aku sempat takut untuk kenal mereka lantaran mereka tampak gaul sementara aku tidak. Beberapa tahun sesudahnya, mereka pun mengaku padaku bahwa mereka juga sempat takut ketika melihatku pertama kali, dikira preman. Duh.

Dan… jadi kira-kira sudah enam tahun kami saling mengenal. Jika ditanya apa yang terlintas di kepalaku pertama kali jika nama mereka disebut, aku akan menjawab, “Seksi konsumsi.” Di bidang itulah mereka punya keajaiban yang tak terjawab dan tak tertandingi hingga hari ini. Febi dan Anik (dan Lolo yang tidak gendut) pernah memasang wajah panik sembari bicara padaku bahwa kami tak lagi punya stok makanan untuk melalui malam berbadai di sebuah bumi perkemahan di Kulonprogo sana, padahal ada sekitar 150-an perut yang rentan masuk angin. Aku mencoba tidak panik, tapi nyatanya memang usaha itu sia-sia. Kutemukan dua kardus arem-arem dan dua kardus nasi bungkus di kerumunan orang-orang yang rawan masuk angin itu. Ketika kutanyakan kepada Febi dan Anik (dan Lolo yang tidak gendut) mengenai kemunculan tiba-tiba arem-arem dan nasi bungkus itu, mereka menanggapi, “Iya, Pit. Kita cuma punya itu.” Biar kekinian: (((cuma))). Mungkin standar kami soal “tak punya stok makanan” itu berbeda. Nyatanya, tak pernah ada yang kelaparan selama dua gendot itu memegang tampuk kekuasaan seksi konsumsi. Tak pernah kelaparan, selalu ada kudapan tambahan, dan uang anggaran yang bersisa. Ajaib dan tak terjelaskan. Kalau ada yang bisa menjelaskan, mending tidak usah saja. Biar aku tetap percaya mereka ajaib.

Dengan karier yang gemilang di bidang konsumsi, dua gendot itu tak lantas tak berani mencoba tantangan yang lain. Febi ialah mitra permanenku jika kami harus mengurusi pertunjukan hajatan kami sendiri. Selain itu, dia juga jadi mitra permanenku untuk latihan olah tubuh gara-gara berat badan kami yang saling mendekati (ujung batas angka timbangan). Entah bagaimana caranya, kami berdua selalu berhasil saling menjerumuskan untuk menduduki posisi yang itu-itu lagi. Febi selamanya adalah pimpinan proyek terbaik dalam hidupku. Hahaha. Berlebihan sedikit, biar dia senang. Jika tekanan dalam garapan itu sudah mencapai puncaknya, tidak ada lagi yang bisa menolong Febi memperbaiki penampilannya. Ia akan tidak peduli bahwa celananya sudah sobek di sana-sini lantaran tubuhnya mekar, ikat rambutnya sudah meluncur sampai menjelang ujung rambut, wajahnya kumal, bulu ketiaknya mencuat ke sana kemari, ah, banyaklah pokoknya. Febi tidak akan peduli. Jika teman-teman menghinanya soal itu, dia hanya akan tertawa, tak peduli pokoknya.

Anik? Dia melebarkan sayap cukup luas sebenarnya. Meski ia tak pernah pindah dari lahan konsumsi, Anik mulai belajar jadi aktor. Aku tak akan pernah lupa dua penampilannya yang gemilang dan memukau penonton. Penampilannya sebagai aktor untuk yang pertama kali dilaluinya dalam kesesakan. Ya, semua kostum yang berhasil dipinjam tim untuk dikenakan Anik ukurannya selalu beberapa nomor di bawah ukuran tubuhnya. Nah, kuberi tahu sesuatu yang jadi rahasia umum: Anik punya punuk. Penampilannya kali itu membuat punuknya makin terpapar perhatian. Mumpung tokoh yang diperankan Anik dalam pertunjukan itu belum bernama, oleh sutradara tokoh ini diberi nama Camelia (dengan kata dasar “camel”). Nama itu langsung disepakati secara aklamasi. Hanya Anik yang bersikeras menggantinya, ia ingin bernama “Angelique”. Nama itu pun langsung ditolak secara aklamasi.

Penampilan kedua Anik di atas panggung sandiwara jauuuuuuh lebih di luar dugaan. Saat itu ia harus memerankan tokoh orang kulit hitam berusia dua puluhan. Entah mengapa, tim penata rias selalu kesulitan ketika harus mendandani Anik jadi hitam. Riasan tidak bisa menempel rata di wajahnya. Alhasil, ada bagian yang lebih hitam, sementara bagian lain masih kecokelatan. Anik bagai habis kejeblukan sesuatu. Nah, berbeda dengan penampilan pertama, kali ini Anik muncul dalam pakaian yang tidak sesak, malah cenderung kedodoran. Aku sampai tak habis pikir bagaimana ia dan tim penata busana bisa sepakat untuk membiarkan Anik mengenakan kostumnya kali itu. Kalau kamu kesulitan membayangkannya, nanti kuberikan fotonya di akhir tulisan ini.

Jadi, mengapa membahas Anik dan Febi? Hehehe. Ya, kalian tahu sendirilah alasannya. Tanggal 4 Mei 2015 pagi, mereka akan lepas landas menuju belahan dunia yang lain. Merajut cerita hidup lainnya. Ke negeri yang jauh sekali dari Yogyakarta. Dan untuk waktu yang tak singkat pula, satu tahun. Aku merasa tak perlu cemas, sebab Anik sudah kondang sebagai praktisi LDR dan Febi adalah penasihatnya. Maka, jarak yang lebih jauh ini akan mengantar mereka naik ke tingkat yang lebih tinggi dalam bidang LDR. Kali ini, tidak hanya LDR sama kekasih, tapi juga sama bapak, ibu, kakak, adik, teman-teman, rumah, penjaja siomay langganan, dan banyak lagi.

Apa yang akan kurindukan dari Anik dan Febi? Yang jelas: kehangatan. Mereka berdua adalah teman yang amat hangat, entah ketika memeluk maupun tidak. Kami pernah melalui masa bertemu setiap harinya, bahkan sampai berhari-hari hanya menghadapi wajah mereka melulu dan tidak bertemu dengan keluarga. Di saat yang lain juga kami pernah tak saling bersua hingga berminggu-minggu. Namun, kehangatan mereka tak pernah berkurang. Justru, semakin lama tak bertemu, semakin hangat mereka memeluk ketika akhirnya tiba waktunya untuk bertatap muka dan bertukar pelukan. Mereka juga bukan teman yang selalu lembut, hahaha. Sudah beberapa kali kami mengobrol sembari diiringi tatapan mata orang di sekitar yang keheranan, mengira itu arisan preman. Namun, di saat yang lain, Anik dan Febi bisa membuatku amat menye-menye karena pernyataan cinta yang tak diduga.

Anik dan Febi adalah teman-temanku bertumbuh menghadapi waktu-waktu yang tak ramah yang mengantarkan kami beranjak ke jenjang hidup yang selanjutnya. Teman-teman untuk berbagi hal yang kami sendiri belum bisa jelaskan mengapa terasa demikian. Teman menggerutu atas sekian banyak hal yang amat membingungkan belakangan ini. Teman menertawakan kedunguan diri kami sendiri dan kekacauan hidup yang embuh kenapa bisa begitu. Pertemanan dengan merekalah yang mengajariku bahwa kita selalu bisa memilih untuk bersikap hangat meski diterpa kebingungan, ditimpa kesesakan, dihajar kelelahan, dan bahkan diliputi kemarahan. Tak lain karena di mataku, Anik dan Febi adalah dua gendot yang tampaknya tak punya udel. Tak ada lelahnya mereka itu. Seliweran ke sana kemari melintasi beberapa kabupaten dalam satu hari, memenuhi janji dengan si itu dan si ini, makan segala macam kudapan dalam satu waktu (hahahahaha), namun tak pernah lupa tertawa dan membuat orang-orang yang ditemuinya bahagia pula.

Perjalanan mereka menyeberang ke benua lain ini kuyakini akan jadi kisah hidup yang indah buat mereka. Bukan berarti segalanya akan mudah. Jelas tidak pernah mudah. Pindah ke rumah lain yang jaraknya begitu jauh dari orang-orang yang dicintai akan menimbulkan perasaan yang amat kecu. Hahaha. Dan “rindu” itu juga bukan hal yang mudah diselesaikan. Perasaan yang satu itu bisa mengobrak-abrik segalanya dalam waktu singkat. Namun, bukan berarti tidak bisa diurusi. Nik, Feb, percayalah, kalau kalian di sana rindu, kami di sini setiap hari juga rindu sama kalian.

Meski langit yang kita pandangi sama (tsaaah), tidak usah membohongi diri, kita sedang tidak sama-sama, mau bertemu pun susah. Kalau kalian sedang selo sore-sore di sana dan ingin iseng telepon keluarga di Yogyakarta, belum tentu keluarga di sini betah melek larut malam untuk menjawab telepon kalian. 

HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA. Bukan jahat, ini cuma tidak mau sekadar ngeyem-yemi ati. Jaraknya memang jauh, komunikasi bisa jadi tidak begitu mudah, tapi semoga kalian yang di sana dan kami yang di sini semuanya mau bersabar dan berusaha tetap menyediakan waktu untuk melepas rindu.

Hati-hati di perjalanan kalian, ya. Tetaplah menjaga satu sama lain. Kalian tidak perlu saling dititipkan dengan kalimat semacam, “Nik, titip Febi, ya” atau “Feb, titip Anik, ya”. Kalian kan bukan kantong plastik yang harus dititipkan kalau mau masuk supermarket. Kalian masing-masing adalah pribadi yang bisa jaga diri. Gentho, je. Jangan syedih-syedih, ini perjalanan yang kalian pilih, jadi berbahagialah!


Porter   : Whatever happened, don’t you fret none. Life is too short. 
Mama  : Oh, I’m gonna fret plenty! Do you know what I wrote to Florence? 
Porter   : No, Ma’am. You don’t have to tell me. 
Mama  : I said, “Keep trying.”


Marge "Anik" Whitney
Iya, ini Febi. Dia mah gitu orangnya.

Wajah blong harian


You both are always our gendots, our beloved gendots! :* <3 o:p="">

Selasa, 21 April 2015

PMS, Dilan, dan Rindu

Tiba-tiba, tangan kanannya, memegang tangan kiriku. Ia tatap mataku dan senyum. Aku juga begitu kepadanya. Lalu, aku merasa sedang ditarik ke dalam pusaran yang begitu manis rasanya.

...

"Mana tanganmu?" Dilan mencari-cari tanganku.
"Kenapa?"
"Mau megang lagi."


Di saat harusnya saya membaca buku pelajaran dan merampungkan tulisan, saya malah buka Dilan. Terima kasih kepada PMS yang membuat saya malas melakukan apa pun. Terima kasih kepada Dilan yang bikin perasaan saya makin tidak keruan, eh mungkin itu seharusnya diucapkan kepada Pidi Baiq. Terima kasih kepada rindu yang... ah, susah ngomongnya.

PMS, Dilan, dan rindu. Sempurna untuk kukur-kukur tembok di pojok.


Nb: Tapi, walau apa pun dan bagaimanapun itu, adegan di atas memang manis sekali. :)


selo dan mbuh

Senin, 16 Maret 2015

"Doing Good to the World"

"What spends the spirit of the present generation is the apathy in which all but a few of us pass our lives, only exerting ourselves... for the sake of getting praise or pleasure out of it, never from the honourable and admirable motive of doing good to the world."


- Dikutip oleh M. A. R. Habib dari On the Sublime Longinus

Jumat, 06 Maret 2015

Adek

21 tahun.

Beberapa hari yang lalu, adik semata wayangku berulang tahun yang ke-21. Jauh. Kami sudah lama tidak bertatap muka. aku pun tidak tahu harus mengucapkan selamat dengan cara bagaimana.
Sudah beranjak banyak juga usianya.

Hal yang selalu diingat orang-orang tentang Christian adalah tubuhnya yang gendut. Tidak aneh memang, sejak kecil dia memang kuat sekali makan. Dalam sehari dia bisa bersantap sampai empat atau lima kali. Dia pun mulai rajin minum susu ketika aku mulai rajin minum susu. Namun, ketika aku berhenti, dia tidak ikut berhenti.

Hingga SMA, tubuhnya tidak kunjung susut. Gemuk dan terus tambah gemuk. Ketika mau masuk SMA, mama membelikannya sepeda untuk sarana berangkat ke sekolah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Mama sampai bolak-balik mengonfirmasi pedagang sepedanya bahwa rangka sepeda tersebut cukup kuat untuk menahan bobot tubuhnya. Setelah punya sepeda, Christian jadi rajin bersepeda ke mana-mana, meski sempat dalam beberapa hari ketika aku berlibur di rumah ia membangunkanku pagi-pagi dan minta diantar ke sekolah naik sepeda motor. Kini, sepeda itu ada bersamaku di Yogyakarta. Dikirimkan menjelang ia melanjutkan pendidikan ke seminari. Sepeda itu dinamai Mustafa oleh pacarku, lantaran di masa lalu oleh pemilik sebelumnya (Christian), the bike must (be) tough.

Kemauan adek berolahraga besar sekali. Dia main basket sejak SMP, main musik dol (yang jelas menguras energi), ikut klub sepeda, main bulutangkis, dan lain-lain. Tetap saja, tak kunjung kurus. Namun, lihatlah kini. Sudah berapa puluh kilogram menguap dari tubuhnya. Siapa pelakunya? Jelas seminari. Hehehe.

Iya, sejak memantapkan hati dan memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke seminari, adek beranjak kurus (akhirnya). Jelas saja, dia tidak bisa lagi sesukanya membuka tudung saji dan makan besar setiap saat. Ia harus patuh pada jam makan. Dan porsi makan. Di awal masa-masa belajarnya di seminari, mama tertawa setiap kali mendengar cerita soal porsi makannya yang sudah tidak bisa semena-mena lagi itu. Menjelang, tengah tahun, mama ganti memasang muka cemas ketika membahas hal itu. Beliau malah khawatir, jangan-jangan adek malah jadi tidak sanggup melanjutkan di sana. Ya ampun, aku ganti menertawakan mama.

Jujur saja, ketika Christian mengambil keputusan untuk menjadi calon imam, aku sempat khawatir. Khawatir dia akan kesulitan menghadapi kehidupan di tahun-tahun awal di seminari. Salah satu kekhawatiran jelas sama seperti yang digelisahkan ibuku sebelumnya: makanan. Hahaha. Aku lalu membayangkan bagaimana ia akan bertahan tanpa televisi, telepon genggam, internet, blablabla.

Aku juga sudah sempat kenal beberapa teman lulusan seminari semasa awal kuliah. Nah, mereka bercerita padaku bahwa hiburan mereka sehari-hari adalah membaca (selain kenakalan-kenakalan konyol tentunya). Aku langsung sedikit panik. Christian jarang membaca. Maka, ketika mudik sekitar satu tahun sebelum ia berangkat ke seminari, aku mewanti-wantinya untuk mulai membiasakan membaca sebab ia akan selalu belajar dan belajar. Christian sempat diam sejenak. Enam bulan berikutnya, ketika aku pulang lagi ke rumah, kutemukan rak buku kecil di kamar tidurnya. Ada beberapa buku tersusun di sana dan di halaman dalamnya ada nama Christian. Ah, serius ternyata anak ini.

Sejak ia meninggalkan rumah untuk melanjutkan pendidikan, sudah berlalu waktu hampir tiga tahun. Kami sekeluarga pun jarang sekali berkomunikasi dengannya karena memang ada batasan toleransi komunikasi dengan orang-orang di luar biara. Bingung juga kadang kalau sedang rindu. Apalagi mama, ia pasti yang paling gelisah. Aku bolak-balik menyampaikan pada beliau bahwa pada akhirnya, hidup adek akan dipersembahkan untuk orang banyak. Mulai saat ini, kami harus mulai berlapang hati mempercayakannya pada orang-orang yang kini mendampinginya di pendidikan. Mulai percaya bahwa Christian pastilah bisa menyelesaikannya dengan hati mantap dan tekun.

Kami sekeluarga pernah mengunjunginya di postulan ketika natal. Aku masih ingat, wajahnya begitu sumringah mendapati aku dan mama sudah berdiri di depan pintu postulan. Ia lalu menyambar kunci mobil dan memarkirkannya ke belakang gedung. Ia tampak sehat. Dan kurus. Hahahahaha. Hanya sekitar dua jam kami bisa menemuinya sebab kami harus segera pulang ke rumah nenek. Waktu tempuhnya empat jam. Hehe. Tapi, layaklah itu dilakukan untuk si gendut yang selalu dirindukan.

Di ulang tahunnya kali ini, aku sebenarnya berniat mengiriminya sebuah foto ketika kami bergambar di kapel postulan. Namun, memang kakak perempuannya ini sialan. Begitu banyak hari berlalu dan pada akhirnya tanggal 27 Februari pun berlalu. Aku tak kunjung menyiapkan hadiah tak seberapa (dan tak jadi dikirim pula!) itu. Maka, jadilah tulisan ini sebagai penebusan rasa bersalahku lantaran tak bisa mengucapkan apa pun.

Paruh tahun kedua nanti, ia akan berangkat ke kota ini, Yogyakarta. Melanjutkan pendidikannya. Tak sabar menunggunya di sini. Semoga lancar semuanya.

Jalan yang dipilihnya ini, tak ada yang menduga. Christian memang sudah lama menginginkan dan merencanakannya. Tentunya, kami sekeluarga senang sekali menyambut niat ini. Pun tak lepas doa untuknya supaya jalan panjang ini ditapakinya dengan besar hati dan ia senantiasa tumbuh dalam iman dan kedewasaannya.

Terima kasih untuk semua yang selalu mendoakan Christian, aku dan keluarga selalu merasa bungah tiap mendengar ataupun membaca harapan-harapan itu. Christian pun selalu mendoakan kita semua.

Selamat ulang tahun, ya Dek. Berbahagialah!


26 Desember 2013


untuk Jonathan Christian Munthe
sudah Maret, yo ben


Kamis, 29 Januari 2015

Di Berandanya Gigih






Tadi iseng buka akun SoundCloud lagi. Gara-gara sudah terlanjur langsung masuk di ponsel, aku jadi tidak pernah hafal kata sandi akunku. Walhasil, harus menyetel ulang kata sandinya. Haha. Bodoh.

Nah, kutemukan bunyi yang tautannya kupasang di atas itu.

Ini adalah lagu Banda Neira yang pertama kali aku dengarkan dulu. Dalam sekejap itu juga, ini jadi nomor favoritku. Tak muluk-muluk alasannya. Lagu ini bertema rumah, pulang, blablabla yang selalu berhasil bikin aku menye-menye sejenak atau bahkan seharian. Sudah.

Setelah beberapa kali mencari tahu lebih tentang Banda Neira, aku menemukan tulisan Ananda Badudu di akun Tumblr Banda Neira yang bercerita tentang lagu Di Beranda. Hehehe. Ya, bisa ditebaklah reaksiku atas tulisan itu. Sama, Mas.

Tautan yang kulampirkan di atas adalah sebuah karya cover yang dikerjakan oleh Mas Gigih. Gardika Gigih Pradipta. Singkatnya, ia tukang main piano. Hahaha. Omong-omong, aku sendiri tidak sengaja bertemu Mas Gigih yang akun SoundCloud-nya sudah kuikuti sebelumnya itu. Sebenarnya lagi, aku pernah membantu hore-hore di sebuah acara akhir Desember 2013 yang ternyata juga melibatkan Mas Gigih. Tapi, aku tidak kenal. Di tahun berikutnya, aku lagi-lagi ikut hore-hore di sebuah pementasan teater di Yogyakarta. Ada Mas Gigih di sana. Lalu, pacarku memberi tahu bahwa kami sudah pernah bertemu dengannya di tahun sebelumnya. "Itu lho, masnya yang tulit-tulit main pianika," begitu kata pacarku. Wahahaha.

Mas Gigih menggarap komposisi musik untuk pementasan teater berjudul Biar Kutulis untukmu Sebuah Puisi Jelek yang Lain oleh Forum Aktor Yogyakarta. Di pementasan kedua yang diselenggarakan di bekas kampusku, ada beberapa teman yang menonton. Salah satunya, Mas Hario, sempat mengaku bahwa ada bagian-bagian di mana ia tidak fokus pada isi ceritanya lantaran perhatiannya tersita untuk musik yang dimainkan secara langsung oleh Mas Gigih. "Aku jadi jatuh cinta lagi sama pianika," begitu kurang lebih kata Mas Hario.

Nah, setelah ngalor-ngidul, akhirnya aku menganjurkan kalian untuk menyimak musik yang kusematkan di atas tulisan ini. Tak perlu susah-susah, tekan saja tanda putar di sana. Dengarkanlah. Mas Gigih masih main pianika juga di sana. Enak didengarkan di siang yang ngentang-ngentang begini maupun di malam hari yang sejuk.

Menurut saya? Ini garapan yang indah. Itu sudah. Kangen rumah? Nggaaak, nggaaaak *penyangkalan.

Selamat siang! Jangan lupa minum air putih.


menahan pipis biar tidak lupa bahan tulisannya

Selasa, 27 Januari 2015

Pengantar Minum Racun




Iya, ini kiriman hasil sontekan. Hahaha. Tautan video ini tadinya dilempar oleh seorang kakak angkatan saya di kuliah yang bernama Mas Galang. Dia mantan personel Cacal Mentat, grup musik keroncong dangdut legendaris di Universitas Sanata Dharma. Terima kasih buat sempilan hiburannya, Mas Galang!

Di tengah kesilulan kerja hari ini, saya benar-benar pulih akibat menonton video ini. Ya ampun, bikin kangen panggung musik.

Yang mengejutkan buat saya adalah kemiripan kondisi panggungnya dengan panggung-panggung keroncong dangdut yang sering saya datangi di kampus. Panggungnya sempit lantaran personel grup musiknya banyak amat, penonton yang sekaligus adalah laskar joget maju menghimpit panggung saking inginnya dekat dengan sumber musik, vokalis bawa sontekan (hahaha) sebab lirik lagunya panjang dan susah dihafal (atau malah memang tidak berusaha menghafal, hahaha). Bagaimanapun juga, laskar joget itu sungguh mengagumkan. Mereka tidak capek-capek berdesakan menggoyang badan sesuka hati. Lama-lama pada buka baju karena keringatan. Huahahahahahahahaha.

Hahaha. Sial, saya beneran pegel tersenyum ini. Dulu saya mana tahu grup musik beginian. Tapi, sejak kuliah di Fakultas Sastra, saya jadi gandrung. Malahan, ketika tidak sengaja menonton salah satu serial Warkop DKI di televisi dan menemukan sebuah adegan pesta dengan bintang tamu Pengantar Minum Racun, saya dan teman-teman histeris kegirangan. Hahaha. Di video ini mereka sudah tampak tua. Tapi, masih ingat saja sama lagu-lagu mereka segitu banyak.

Hehe. Kalau kamu mau menonton video ini, sempatkan membaca deskripsi yang disematkan oleh pengunggah videonya. Saya ketawa senang membacanya. Terutama di bagian si pengunggah video membahas Johnny Iskandar main harmonika pakai sisir dan "hitting the right notes. It was dead funny,...". His sentence was also dead funny for me to read.

Sudah ah, nikmati saja videonya biar kamu ikut bahagia!

"Bintang capricornuuus... kalau menggigit bisa tetanus!"


fully charged *ahmasa?

Senin, 26 Januari 2015

Tentang Kekhawatiran

Tentang menangani kekhawatiran-kekhawatiran dalam hidup di tahap seperti ini.

Tadi sore aku habis menjenguk rumah calon kantor baruku. Tim kantor akan pindah dalam minggu depan. Dalam rumah yang sangat besar itu, kami akan berbagi ruang dengan teman-teman bos yang membuka usaha kedai kopi 24 jam di lantai bawah. Kami akan bekerja di lantai atas. Rumah itu manis sekali.

Kami memang belum mulai ngapa-ngapain. Rencananya mulai minggu depan kami akan menyicil kebutuhan untuk pindah kantor. Sementara itu, lantai bawah calon rumah kantor baru itu tadi sudah ramai dengan anak-anak muda, laki-laki semua, yang sudah mulai membersihkan, mengecat ulang perabot, dan lain-lain. Kalau dihitung-hitung, besar sekali modal yang dibutuhkan oleh calon kedai kopi itu. Tapi, terasa sekali bahwa hal yang menyetir semua keberanian untuk memulai usaha-usaha ini tak lain adalah semangat kemudaan. Yah, dari hamparan rentang umur orang-orang yang muncul di sana tadi, kutebak semuanya masih bisa dikategorikan sebagai orang muda (walaupun mungkin mereka sudah berkeluarga).

Ya, begitu banyak rencana, begitu banyak ide, pun begitu banyak tenaga. Semuanya itu terasa sekali di rumah yang masih bersaput debu di sana-sini itu.

Aku pulang setelah beberapa jam melihat-lihat di sana. Di perjalanan menuju kos, aku melewati warung kopi langgananku hampir setiap malam. Sejak beberapa minggu terakhir, warung kopi yang baru akan buka pukul 18.00 itu berbagi lahan juga untuk usaha lainnya yang buka sejak pagi hingga sore.

Pecel Sarjana. Itu namanya. Yang berjualan ialah teman-teman salah satu pemilik saham warung kopi itu semasa SMA. Seumuranku juga. Kabarnya, mereka ini baru saja menyelesaikan pendidikan kuliah dan tentunya memboyong gelar sarjana di ujung nama mereka. Barangkali semangat itulah yang kemudian menggerakkan mereka untuk menamai usaha baru mereka ini: Pecel Sarjana. Aku pernah bertemu beberapa dari mereka sebelumnya di sebuah panggung musik yang digelar teman-teman kuliah menjelang akhir tahun lalu. Iya, para penjual pecel ini adalah anak band juga. Grup musik mereka ini pun sudah cukup kondang di belantara musik Yogyakarta (tsaaah). Penampilannya? Seperti personel grup band rock.

Nah, ketika aku melewati tempat jualan mereka tadi sore, aku melihat mereka sedang beres-beres. Tampaknya sudah selesai jualan. Ada suara musik terdengar dari sebuah pemutar musik yang dihubungkan ke pengeras suara. Dan ada suara lain yang mengiringinya. Suara salah seorang pedagang pecel itu. Kalau tidak salah dengar (maklum, aku melintasinya dalam waktu hanya kurang lebih 10 detik), ia sedang berkaraoke lagunya Aerosmith – I Don’t Wanna Miss a Thing. Ia tengah menyanyikan salah satu bagian dengan nada tinggi melengking. Dan ia berteriak yakin. Selang satu rumah di sebelahnya, ada tiga orang gadis (mungkin seumuran mereka juga) sedang duduk-duduk. Salah satunya memerhatikan si penyanyi pede itu dengan senyum tipis (cieee, mbaknyaaa).

Sebentar, kuluruskan satu hal. Aku tidak berniat promosi lewat tulisan ini. Ya tapi, kalau ada yang ingin mencicipi Pecel Sarjana ini mainlah ke lokasinya Warung Kopi Lidahibu (ini juga bukan promosi, plis!) di Jl. STM Pembangunan Mrican. Entah nomor berapa, aku tak hafal. Datanglah pagi atau siang atau sore hari, kurang lebih begitulah jam bukanya. Aku pun tak hafal, hehehe.

Jadi, apa sebenarnya yang mau kukatakan?

Back to the very first line typed in this writing. Orang-orang yang kutemui sedang membereskan calon kedai kopi mereka dan para penjual Pecel Sarjana ini membuatku mengingat salah satu hal yang ingin kupelajari di tahun dan usiaku ini. Menangani kekhawatiran-kekhawatiran dalam hidup.

Aku, dengan semua identitas diri yang kukenali selama ini, kurang lebih yakin tidak akan berani melakukan apa yang dijalani oleh orang-orang itu tadi. Membuka sebuah usaha milik sendiri atau kelompok, mempertaruhkan modal yang tidak sedikit, berjudi dengan minat pasar dan pesaing-pesaing yang sudah lebih dulu bergerak, dan menyerahkan diri pada ketidakpastian soal usaha itu akan melimpahimu dengan keuntungan atau balik modal saja atau malah merugi besar. Tapi, tahu tidak, entah kenapa gambar penjual pecel itu bernyanyi keras di tepi jalan tadi terus-terusan menempel di benakku. Ia tampak begitu ringan hati, sewajarnya orang yang telah selesai bekerja.

Iya, ia tampak tak khawatir akan sesuatu. Ia sudah berusaha dan sedang menjalaninya. Pun dengan orang-orang yang membereskan kedai kopi itu tadi. Jalani saja. Aku tentunya tidak serta-merta berpikir demikian. Aku sangat yakin bahwa ada kekhawatiran-kekhawatiran pula dalam kepala mereka. Mungkin lebih besar daripada yang bisa kubayangkan. Akan tetapi, mereka tetap bergerak, tetap berbagi ide dan semangat, tetap tertawa meski berpeluh, tetap bernyanyi meski berlumur sambal kacang. Jadi, itu pemandangan yang indah sekali bukan? Orang muda bergerak, bermain, memilih jalan hidup yang membuat mereka bahagia, dan terus bekerja keras meski berurusan dengan perjudian peruntungan. Hoho.

Mereka mungkin tidak kenal siapa aku. Tapi, hari ini mereka berarti banyak buatku. Aku yang sedang dalam pergumulan untuk menangani kekhawatiran-kekhawatiran dalam hidup ini belajar dari mereka bagaimana caranya tertawa dan bernyanyi dalam ketekunan bekerja dan berusaha. Kekhawatiran itu pasti selalu ada. Namun, bukan berarti tak bisa diajak kompromi. Toh kalau terus-menerus khawatir biasanya malah akan tambah pusing dan tak sempat melakukan apa pun.

Sabar. Belajar bersabar itu kini terasa sangat penting. Tidak semua hal tiba-tiba jadi besar. Semua perjalanan pasti dimulai dengan langkah pertama. Memulai dari awal. Nanti di tengah jalan pun pasti akan terjepit, entah persisnya di mana. Pasti sempat pusing dan tegang karena harus berhitung ketat untuk hidup. Terkadang harus berutang, kali lainnya harus membantu orang lain. Sekali waktu bisa memanjakan diri dan jiwa, di kesempatan lainnya harus merelakan sesuatu yang disayangi.

Tidak, buatku tidak klise. Demikianlah. Seorang teman lainnya pernah berkata, “Perjalanannya panjang. Harus sabar. Optimis bernapas panjang.” Hahaha. Aku sepakat. Jadi, khawatir sesekali itu perlu. Menanganinya itu tak kalah penting.

Selamat malam minggu!


akhir minggu yang tenang

Rabu, 21 Januari 2015

Boy

Aku habis menonton sebuah film. Iya, memang tidak biasanya jam segini aku melakukan hal begitu. Tadi, dalam perjalanan pulang dari kantor, tiba-tiba saja terpikir ide untuk beli teh manis hangat terenak se-Asia Tenggara di angkringannya Om Ramto lalu dibawa pulang untuk diseruput pelan-pelan sambil menonton film di kamar kos. Ternyata ini ide bagus juga.

Aku memilih acak film dari folder simpanan filmku. Pilihan jatuh pada sebuah karya berjudul Boy. Aku memilihnya karena durasi filmnya tidak sampai dua jam. Dan karena posternya bergambar anak laki-laki lucu. Dan karena tulisan judul filmnya menggunakan font seperti tulisan tangan anak-anak yang berwarna-warni. Oh, sungguh, sepele amat.

Hmm… aku tidak bisa banyak bercerita soal latar filmnya karena waktu menulis ini aku masih di dalam kamar kos yang kurang baik menangkap sinyal untuk internet. Hubungannya apa? Maksudku begini, aku tidak bisa berselancar di internet untuk mencari tahu informasi lebih tentang filmnya, hahaha.

Kalau disuruh mengomentari film ini dengan satu kata, aku akan bilang, “Aneh.” Iya, aku tahu tidak ada yang menyuruhku berkomentar, apalagi cuma satu kata. Mau banyak kata pun boleh, kan ini tulisanku sendiri. Akhirnya, kuakui saja, satu kata itu tidak cukup. Hahaha. Filmnya aneh tapi, bukan berarti tidak menyenangkan. Di sebagian besar ceritanya, aku lumayan banyak tertawa. Kuberi bocoran singkat saja. Film ini bercerita kurang lebih tentang dua orang anak laki-laki yang tinggal bersama nenek dan banyak sepupu. Suatu hari mereka kedatangan orang yang mengaku bapaknya. Tenang, memang itu sungguhan bapak mereka. Gaul pula. Sisanya tonton sendiri saja, nanti aku dimarahi kalau membocorkan lebih banyak.

Hal yang membuatku sangat tertarik adalah salah seorang tokoh anak laki-laki itu. Bukan si Boy—yang adalah tokoh utama—melainkan adiknya, Rocky. Tampan kali bocah itu. Hahahahaha. Kalau tidak salah di cerita itu usianya enam tahun. Rambutnya cokelat lurus berponi. Garis wajahnya manis. Alisnya jelas akan membuat iri para gadis masa kini yang sedang gandrung belajar menggambar alis. Ketika ia muncul mengenakan kemeja flanel, duh Deeeeeek! Hehehe. Lebih dari itu semua, yang paling memikat buatku adalah ia menggambari makam ibunya. Kijing ibunya itu jadi paling mencolok di antara jajaran makam lainnya. Dia gaul abis pokoknya! Nama pemerannya sempat kuintip di credit title: Te Aho Eketone-Whitu. Jangan tanya dia orang mana, aku belum mencari tahu.

Boy, abangnya Rocky, sangat mengidolakan Michael Jackson. Pun ia percaya bapaknya itu sedemikian mengagumkan. Dalam beberapa adegan, bapaknya ditampilkan meniru penampilan Michael Jackson dengan cukup fasih meski ia sebenarnya lebih mirip Freddy Mercury sebab kumisnya baplang. Pemeran bapaknya ini ialah sekaligus sutradara dan penulis naskah film ini. Hehe, jadi ingat pada film Life is Beautiful yang juga dibintangi oleh sutradaranya sendiri yang bermain peran sebagai seorang kepala keluarga di zaman Nazi berkuasa. Bapaknya Boy dan Rocky yang mirip Freddy Mercury ini rada jahat dalam ceritanya. Tapi, secara umum tidak bisa dimungkiri, dia bapak yang gaul. Hehehe (standar gaulku memang tidak jelas, sudahlah).

Aku bukan penikmat film yang sungguh-sungguh, maka aku tidak pandai mengomentari film-film yang kutonton. Tapi, bolehkan aku sedikit saja menyampaikan opini soal film Boy ini. Apa yang aku lihat dalam film ini adalah kebiasaan manusia untuk berusaha jadi keren dan menyingkirkan orang-orang yang dianggap cupu. Sering sekali kita melakukan hal-hal yang dianggap cool dan bergaya, tapi lupa menyadari sejatinya apa gunanya hal-hal itu buat kita. Kita? Aku aja kali. Saking inginnya jadi gaul dan terkenal, jadi lupa bagaimana bahagianya membereskan rumah bersama adik-adik, memasakkan makan malam mereka, main benteng bersama teman sekelas, memelihara dan mengajak bicara kambing, … ya begitulah.

Oh ya, satu lagi. Belajar dari tokoh bapak dalam film ini, aku diingatkan lagi bahwa bertambahnya usia tidak serta-merta membuatmu harus jaim sepanjang waktu. Jadi orangtua itu bisa banget asyik. Masih boleh kok main perang-perangan imajiner bersama anak. Masih boleh berjoget ala bintang pujaan dan melakukan hal-hal menyenangkan lainnya. Berbahagialah. Tapi, jangan keterlaluan. Hehehe. Apa pun yang terlalu sudah jelas tidak baik.

Hmm… begitulah. Semoga sehat dan bahagia semuanya! Tontonlah film ini kalau memang penasaran. Kalau tidak, ya yang penting tetap bahagia saja. Hehehe.



P.S. Rocky, you rock!



19.27, sesi film yang tak lazim

Senin, 12 Januari 2015

Pino In Memoriam

10 Januari 2015. Satu hari persis sebelum tanggal ramai kondangan di Yogyakarta gara-gara tanggalnya dibawa kondang dalam lagunya band Gigi.

Bosku mengirimi pesan di grup WhatsApp, mengabari bahwa Pino jatuh sekarat. Waktu membaca pesan itu, aku langsung bingung membayangkan “sekarat”-nya itu seperti apa. Hanya berselang kurang lebih satu jam, datang lagi pesan. Pino sudah mati.

Aku pernah menjalani hidup di rumah yang selalu disambangi kucing yang kemudian jadi peliharaan. Bertahun-tahun. Aku pernah juga menulis tentang kucing-kucing itu di sini. Namun, sejak aku berangkat merantau kuliah, aku sudah jarang mengurus kucing dan menikmati waktu dengan membelai-belainya di pangkuan.

Nah, pertama kalinya aku datang ke tempat kerjaku, aku merasa begitu bersemangat gara-gara sebuah kandang kucing berisi seekor induk dan lima anaknya. Aku akan segera berinteraksi dengan kucing lagi, begitu pikirku.

Hari itulah pertama kalinya aku bertemu Pino. Tentu saja ia belum bernama kala itu. Tubuhnya masih kecil, berdiri masih goyah, digendong masih menjerit-jerit takut, dan masih menyusu. Ia adalah satu-satunya dari antara lima ekor anak kucing yang lahir seangkatan dengannya yang bertahan di rumah kantor itu. Warnanya hitam dan putih. Warna bapaknya, bapak dari sekian banyak adik-adiknya yang juga lahir dari induknya setelahnya. Ada coreng hitam kecil di dekat mulutnya. Bikin ia terlihat seperti laki-laki berkumis.

Pino tumbuh jadi kucing yang cantik sekali. Menjelang dewasa, ketahuanlah tingkah anehnya. Pino doyan sekali minum air. Tempat minumnya tak bisa kosong barang sebentar. Ia akan membuntuti siapa pun yang membawa tempat minumnya. Mengekor sambil mengeong keras-keras minta wadah air itu dikembalikan segera. Ia juga melakukan hal yang sama tiap kali mendengar bunyi air mengucur dari keran wastafel dapur. Ia mengeong minta air lagi, dan lagi, dan lagi.

Tak hanya itu, Pino kemudian menjadi benar-benar maniak air. Ia sering sekali menyelinap masuk kamar mandi hanya untuk minum dari ember padahal wadah air minumnya pun terisi penuh. Sejak itu, seisi kantor selalu rajin menutup pintu kamar mandi agar Pino tidak terus-terusan mencuri kesempatan masuk. Tapi, ia benar-benar gigih. Sudah berapa kali aku pipis sambil ditunggui Pino di depan pintu. Oh, bukan di depan pintu ding, persisnya Pino melongokkan kepalanya ke celah kecil di kusen pintu kamar mandi. Mengeong. Lagi-lagi gara-gara mendengar suara air.

Pino pun tidak terlalu rajin makan. Ia tidak terlalu semangat menyambut suara biskuit makanan kucing dituangkan ke wadah makanannya. Ia jauh lebih beringas kalau melihat wadah air minumnya diisi. Suatu kali ketika kantor akan kosong selama kurang lebih tiga hari, kami harus menyiapkan air minum buat Pino sebanyak mungkin. Sampai dua wadah besar sekaligus. Jangan sampai Pino kehausan. Rasanya sudah tak ada lagi yang bisa dilakukan. Kami terima saja, Pino memang gila akan air. Setidaknya, ia terhindar dari risiko sakit ginjal.

Waktu masa berahi pertamanya tiba, bosku langsung memutuskan untuk mengawinkannya di klinik dokter hewan. Ya, di klinik, soalnya kucing tidak perlu sama agamanya untuk kawin secara sah. Tujuannya cuma satu, biar Pino tidak dikawini kucing jantan kompleks perumahan yang sekaligus adalah bapaknya. Kalau dikawini oleh jantan satu itu, anaknya pasti sama saja bentuknya dengannya dan saudara-saudaranya. Inginnya, ada varian warna lain selain hitam dan putih untuk generasi anak kucing selanjutnya. Semua bersemangat menantikan Pino bunting. Jadi induk kedua setelah Rudi, yang ternyata malah jadi satu-satunya induk sejauh ini. Pino tak kunjung bunting.

Kamis lalu, seorang bocah perumahan bersepeda ke rumah kantor kami. Ia mengabarkan bahwa Pino sepertinya tertabrak kendaraan dan sedang tergeletak berlumur darah. Aku dan bosku berangkat menjemput Pino. Si cantik itu sedang berbaring di rerumputan dekat lampu jalan perumahan. Separuh tubuhnya tampak bekas basah kecokelatan. Seperti darah. Ia mengeong-ngeong keras sekali. Ketika dipegang, makin keras jeritannya. Aku lalu mengambilkan keranjang Pino supaya bisa dibawa ke klinik. Pino menjerit-jerit ketika mau diangkat. Mungkin ia bingung, pasti tubuhnya rasanya sakit sekali. Tapi, jika tak diangkat ia tak akan dapat pertolongan. Akhirnya bosku menguatkan hati untuk menggendong Pino masuk ke dalam keranjang. Sepanjang perjalanan ke klinik yang tidak jauh itu, Pino sudah lebih tenang. Mungkin tahu ia sudah ada di tangan yang aman dan akan segera ditolong.

Setibanya di klinik, kami pun tidak bisa menjelaskan apa-apa. Entah karena apa Pino jadi begitu. Mungkin tertabrak, mungkin juga lainnya. Yang jelas Pino tidak bisa berdiri karena kesakitan dan darahnya tampaknya keluar dari anus. Pino diinapkan di sana untuk dapat perawatan. Esoknya, diagnosa dokter mengatakan mungkin Pino kena virus. Tapi, rasanya tidak demikian. Kami sempat menduga Pino sedang bunting dan keguguran karena sesuatu, mungkin tertabrak.

Ternyata, hingga saat ini kami tetap tidak tahu apa yang menyebabkan Pino kesakitan kala itu. Pino tidak kuat lagi. Sakitnya pasti betul-betul. Pino dibawa pulang dari klinik kedua dalam keadaan tak bernyawa. Pino dikuburkan di halaman rumput rumah kantor kami.

Pino adalah kucing favoritku di kantor. Kucing-kucing di kantorku itu memang bukan tipe kucing yang senang menghampiri manusia untuk sekadar minta dipangku atau dielus. Mereka biasanya tidak betah berlama-lama dalam gendongan. Tapi, Pino agak sedikit berbeda. Istilahnya bosku, Pino itu kucing yang sopan. Jika aku menggendong Pino, ia tidak akan berontak menolak. Pino pasti sabar menunggu aku puas memeluknya dan membelai-belainya di pangkuan buat hiburan di sela-sela bekerja. Ia akan menunggu aku mengendurkan gendonganku, lalu melompat turun dengan lembut. Mungkin Pino mau bikin manusianya puas dulu, biar tidak kecewa karena sudah menggendong.

Ah, kucing cantik. Pino benar-benar cantik. Suaranya itu tidak parau, melainkan cempreng lembut (piye kuwi cempreng lembut, hahaha). Ia jarang sekali marah. Jika meminta air minum pun, ia akan mengeong manja (tapi tetap keras-keras) sambil ngelendot manja pula ke kaki manusia yang mau memberinya minum. Pino mewarisi perilaku induknya, tidak suka berebut makanan. Ah, Pino baik bangetlah pokoknya.

Selamat jalan, Pino. Jangan lupa bagi-bagi air minum sama kucing lainnya di sana.


We love you so fucking much. :*



To infinity and beyond

Rabu, 07 Januari 2015

23

Hai, aku sudah berusia 23 tahun sekarang. :)

Tulisan ini adalah salah satu rutinitas tahunanku setiap habis ulang tahun. Bukan kebetulan (hanya gara-gara aku tidak percaya kebetulan), tanggal ulang tahunku itu berdekatan dengan tanggal tahun baru masehi. Jadi, momen menulis seperti ini biasanya aku pakai untuk sekalian mengulas balik perjalanan hidupku di umur sebelumnya dan harapan-harapan di umur yang baru akan dijalani.

Minggu-minggu menjelang usia 23 ini tidak jauh beda dengan minggu-minggu menjelang usia 22 tahun lalu. Hahaha. Aku selalu kelabakan di akhir tahun sebab tiba-tiba punya begitu banyak hal untuk dikerjakan. Kalau tak hati-hati, biasanya aku akan jatuh sakit pula. Biasanya penyakit ringan yang tetap bikin menderita, seperti flu. Hanya flu, tapi lantaran itu berlangsung ketika suasana kegiatan begitu riuh, rasa-rasanya seperti mau mati. Ya, terdengar berlebihan, abaikan. Pun akhir tahun lalu aku harus mencari tempat tinggal sewaan baru karena belum menemukan rumah yang cocok untuk ditempati bersama teman-teman sesuai rencana. Hal konyolnya adalah aku sempat begitu kesal dan capek, sampai-sampai gara-gara hujan saja aku menangis. Menangis karena terancam batal pindahan lagi. Untunglah aku punya pacar yang begitu sabar dan berusaha memahami keanehanku itu. Haha.

Seperti tahun-tahun perantauan sebelumnya, aku pulang ke kampung halaman menjenguk rumah. Mudik tahun sebelumnya hanya memberiku kesempatan untuk ada di rumah selama tiga hari. Sisanya lalu-lalang di jalan dan di rumah nenek. Mudik terakhir itu kumanfaatkan untuk bergeletakan saja sampai puas di rumah. Ternyata didukung dengan kenyataan bahwa aku jatuh sakit (seperti biasa) persis di hari Natal. Semuanya masih sama. Ibuku masih tetap memasak menu lebaran untuk natalan di rumah. Kami punya banyak kesempatan mengobrol hingga hari terakhirku di sana. Syukurlah.

Aku menghabiskan malam tahun baru dengan belajar. Iya, belajar! Aku membaca dengan serius sementara  televisi di depanku menayangkan siaran-siaran heboh menjelang tahun baru. Aku sendiri gumun dengan apa yang aku lakukan. Ini bukan buat sombong, tapi ini menyadarkanku betapa random-nya hidupku. Di malam-malam lain, malam yang jauh lebih nyaman untuk belajar karena tidak ada kembang api berledakan tak henti, aku tidak punya semangat sama sekali untuk membuka bacaan. Justru di malam ketika semua orang berliburlah (aku sendiri juga sebenarnya memasang niat untuk berlibur) aku bergerak untuk belajar. Ini pertanda bahwa benar perkataan seorang temanku di perantauan sini, aku perlu belajar mengenal diriku sendiri.

Kalimat itu tidak klise sama sekali buatku. Justru sangat menohok. Sebab di tengah beranjak banyaknya angka umur, aku disadarkan bahwa mungkin malah aku tidak begitu kenal dengan baik siapa diriku sendiri. Bukannya belum pernah melakukannyatentu saja aku sudah pernah mencobaaku lupa bahwa manusia itu berkembang. Berubah. Maka, aksi macam itu bukanlah sesuatu yang hanya perlu dilakukan satu kali dalam seumur hidup. Tak aneh kalau aku tak kenal diriku yang sekarang ini kalau memang aku tidak pernah mencoba lagi untuk mengenali. Kan aku berubah. Tapi, soal random itu tadi, aku tahu persis aku ini memang sangat acak. Hahahaha.

Nah, kini aku mau bercerita soal ulang tahun. Sudah dua tahun terakhir ini aku tidak merayakannya di rumah. Biasanya aku selalu ingin hari itu dirayakan dengan kebiasaan khas keluarga kami jika ada salah satu anggota yang berulang tahun. Tidak aneh-aneh, hanya berdoa dan makan bersama. Dulu ketika kecil, ibuku rajin membuatkan kue ulang tahun dan masak enak untuk hajatan kecil ini. Namun, suatu kali di tahun akhirku di SMP atau malah tahun pertama di SMA, aku pernah membuat adikku kesal gara-gara memilih menu yang kurang oke untuk syukuran ulang tahunku. Tahun itu ibuku tidak masak sendiri. Aku diminta memilih mau makan malam apa di hari khusus itu. Aku menjawab dengan enteng, “Nasi padang.” Wajah adikku langsung menekuk sedih. Ia bingung, hahahaha, tidak mungkin protes karena yang membuat permintaan makan itu adalah si gadis yang berulang tahun. Apa dayanya menolak, meski lidah dan perut ingin menu yang lebih mewah. Bapak pun sempat berulang kali mengonfirmasi menu ini, agaknya tidak percaya menu makanannya sesepele itu. Tapi, saya dengan yakin mengulanginya, “Nasi padang.” Ketika kami sedang makan bersama di rumah, abangku menelepon untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Saat itu ia sedang menjalani studi di Palembang dan tidak bisa pulang untuk natalan bersama karena harus menghadapi ujian semester. Dia bertanya basa-basi, “Makan apa di rumah?” Aku mengulangi frasa sakti hari itu, “Nasi padang.” Abang langsung tidak percaya, bahkan menuduh aku diberi hadiah lain yang jauh lebih mewah dan mahal oleh orangtuaku gara-gara menu makan malamnya tak menantang dompet. Itu salah satu hari ulang tahun paling menggelikan yang pernah kualami.

Tahun ini, aku menerima sebuah hadiah yang lebih cepat dari hari ulang tahunku. Adikku yang sedang menjalani pendidikan di novisiat mengirimiku kartu ucapan selamat ulang tahun yang tiba di rumah tanggal 1 Januari. Ada ucapannya, ada fotonya. Di bagian depan fotoku (entah umur berapa) sedang mangap tanpa tujuan di ruang tamu rumah, di bagian dalam foto kami tiga bersaudara di hadapan sajian makan malam ulang tahunku yang ketujuh (kalau tidak salah). Aku senang sekali dapat kartu itu, geli juga. Hahaha.

Pergantian hari menuju ulang tahun kali ini kulalui tepat di Stasiun Cirebon. Ceritanya aku sedang dalam kereta dari Jakarta menuju Yogyakarta. Persis pukul 00.00 keretanya berhenti di Stasiun Cirebon. Dua menit berselang, masuk pesan ucapan selamat dari mas pacar. Hehe, aku cengengesan sendiri di dalam kereta. Untung penumpang di sebelahku sedang ke kamar kecil. Setelah itu aku melanjutkan tidur. Lebih baik tertidur daripada bengong menunggui AC kereta yang terlalu dingin itu dirapikan suhunya oleh petugas. Subuhnya aku tiba di Yogyakarta disambut hujan. Lalu dijemput kekasih dan bermandi gerimis syahdu di atas sepeda motor menuju rumah kosku. Tsaaah. Hari ulang tahun itu berlalu dengan sederhana. Aku memberi hadiah kecil buat diriku sendiri dengan minta krimbat di salon dekat kos lalu makan malam mi Jawa kesayanganku dan mas pacar. Jebul masnya yang jualan sudah kangen dengan kami yang rajin bertandang ke sana, hehehe.

Jadi, setelah tetek-bengek hari ulang tahun itu, mau apa aku di usia 23 ini?

Di ulang tahun kali ini, seorang temanku yang gendut, Febi, menyelamatiku dengan sekian banyak cerita pergumulan orang-orang berusia 20an. Cerita-cerita itu membuat kami berdua sering terkekeh, menertawakan betapa berantakannya diri kami tahun-tahun ini. Aku sih sebenarnya tidak terlalu kaget dengan hal-hal yang kualami dalam hidupku belakangan ini, soalnya aku sebenarnya panik. Hahahahahaha.

Secara pribadi, aku merasa pernah melalui tahun yang terasa begitu berat lantaran hidupku mulai jungkir balik ketika itu. Pemahamanku akan banyak hal bergeser atau bahkan berbalik arah, toleransiku dan kedisiplinanku soal prinsip juga banyak berubah. Nah, tahun-tahun berangka 20an ini belum terasa seberat tahun yang satu itu. Tahun yang brengsek tapi bikin melek itu. Hahaha. Meski begitu, terasa juga sih bagaimana sekian banyak hal mulai berjejalan masuk minta tempat di pikiran.

Buatku, alasan usia 20an itu begitu penuh kegalauan buat kebanyakan orang masa kini (termasuk aku) adalah pengondisian dari lingkungan sekitar. Ini bentukan. Jelas sekali manusia sepertiku, yang lulus SMA lalu melanjutkan kuliah dan berusaha lulus untuk bertanya lagi mau bagaimana melanjutkan hidup, turut mengalami kegalauan-kegalauan itu di umur begini. Kegalauan soal tepat atau tidaknya memilih jurusan waktu kuliah dulu, soal mengapa memilih lulus dari universitas dalam waktu sekian tahun, soal dapat apa selama kuliah, soal memilih mau tetap setia sama disiplin ilmu itu atau beralih ke hal lain yang lebih berprospek, soal mau bekerja apa setelah lulus, soal cukup atau tidaknya penghasilan dari kerja itu untuk kebutuhan harian dan tabungan masa depan, soal berita pertunangan dan pernikahan di sana-sini, soal akan menikah atau tidak serta kapan dan dengan siapa, soal biaya hidup yang terus naik dan bikin berpikir jika menikah dan punya anak nanti bagaimana cara membayar keperluan itu semua, soal pilihan-pilihan untuk tidak mengikuti arus itu dan mengambil jalur alternatif untuk (katanya) menikmati hidup, soal menyerahkan gaji pertama kerja untuk orangtua tapi lupa setelah itu mau hidup pakai uang apa, soal pertemanan yang kadang terasa begitu dewasa sekaligus tidak, soal pilihan-pilihan untuk bahagia. Banyak sekali soalnya. Selesai atau tidak selesai menjawabnya, hidupnya harus jalan terus. Tidak akan menunggu semuanya terjawab. Ibu dan bapakku sih kurasa mengalami hal begini bukan di usia 20an. Soalnya begitu lulus SMA mereka langsung memilih untuk bekerja. Jadi, kira-kira di usia 18an. Hahaha.

Intinya, aku melihat bahwa semua keramaian itu muncul bukan lantaran angka usia, melainkan tahapan hidup yang sedang dijalani. Buatku dan sebagian besar teman, tahap ini dijalani ketika umur 20an. Aku tidak ingin mendramatisirnya dalam tulisan ini, sudah cukuplah itu kulakukan di kehidupan nyata. Dalam banyak kesempatan memang pusing juga memikirkan hal-hal di atas itu tadi, tapi aku tidak menyangkal bahwa tahun-tahun ini indah. Umur ini seru.

Salah satu pelajaran besar yang kumafhumi di usia 23 ini adalah soal menangani kekhawatiran-kekhawatiran dalam hidup. Ya, semua orang pasti pernah khawatir dengan rencana-rencana mereka. Dengan belajar pada mereka yang lebih santai dalam menghadapi hidup (aku sendiri termasuk orang yang sangat mudah panik dan tegang dalam banyak hal), aku menandai satu hal penting untuk segera mulai kujalani. Aku perlu membuat diriku tenang, menyadari bahwa segala sesuatunya tidak serta-merta terjadi. Ada proses dan perjalanan yang harus dilalui. Hidup adalah cerita yang tak pasti tapi, banyak hal yang harus dilalui. Itu kalau kata penggalan lirik lagu kondangnya Mas Natan dan Mas Doni, teman kuliahku. Iya, aku harus, harus terlebih dahulu melalui perjalanan itu. Entah itu akan mulus, berliku, menanjak, menukik, berbatu, berlubang, bergelombang, lurus, atau bagaimanapun, itulah jalan yang juga akan dilalui semua orang dalam hidup. Cita-cita dan rencana tetaplah perlu dipegang sebagai penentu jalur, tapi yang tak kalah penting adalah ketekunan untuk terus berjalan.

Perjalanan yang lalu juga membuatku paham sedikit demi sedikit bagaimana diriku sebenarnya. Kenyataan bahwa aku sering sekali (dan dengan mudah) jatuh sakit menunjukkan bahwa aku sudah cukup lalai memelihara diri. Aku perlu jadi lebih sehat. Alasanku dua: untuk diriku sendiri agar bisa menjalankan rencana hidup dengan lancar dan untuk orang lain agar tidak kerepotan mengurusiku bolak-balik sakit. Aku sering lupa bahwa aku harus merawat diri dengan benar, tidak lagi rewel soal jadwal makan hanya karena sedang tidak ingin atau tidak dalam suasana hati yang bagus, tidak lagi memaksa diri bekerja sampai kelelahan dan di kali lain bermalas-malasan sampai sakit kepala. Aku punya resolusi (biar seperti lazimnya kata kunci tahun baru) untuk lebih disiplin menjaga kesehatan jiwa dan raga. Hahaha. Aku punya keinginan mengurangi konsumsi obat-obat atau suplemen dari bahan kimia dan mengalihkannya jadi konsumsi makanan yang lebih sehat. Aku punya keinginan untuk lebih jujur dan sering berbagi agar tidak sering njebluk karena kepenuhan. Hehehe.

Hmm… apa lagi, ya? Oh ya, soal yang sedang ramai berlangsung di sekitarku sekarang: pernikahan dan rumah tangga. Hahahahahahaha. Aku dan sebagian besar teman pernah begitu enggan berbicara tentang hal ini lantaran takut dan tidak yakin dengan diri sendiri (tapi, sok-sokan menutupinya dengan alasan semacam “ingin menikmati hidup”, memangnya menikah membuatmu serta-merta tidak bisa begitu?). Tapi, perjalananku mengajariku satu hal lagi soal identitasku. Aku punya kecenderungan bahagia jika merawat atau memelihara sesuatu. Oleh karena itu, kini berumah tangga adalah salah satu bagian dari rencana hidupku. Sebabnya, tak lain karena di dalam rumah tangga ada banyak hal untuk dirawat dan dipelihara. Hahahahahahahaha. Nah, berdasarkan pemahamanku yang seadanya soal rumah tangga keluarga, aku belajar untuk tidak lagi menghindari obrolan-obrolan mengenainya (mengingat aku sendiri punya rencana untuk menjalaninya). Ini bukanlah hal remeh. Maka, rasanya wajarlah kalau dibicarakan, dipikirkan, dipersiapkan sejak jauh-jauh hari.

Penyakitku kumat, tulisan ini jadi panjang sekali gara-gara melantur ke sana-sini. Hahaha. Biarlah, setelah sangat lama tidak menulis, aku ingin sedikit mengabaikan aturan kenyamanan baca demi bercerita dengan gembira.

Hmm… akhirnya, apa yang ingin kuusahakan di usia baru ini (dan seterusnya) adalah menjadi bahagia. Dengan apa pun bahagia itu bisa kurasakan. Aku ingin bahagia menjalani pilihan-pilihanku dengan tidak menyesalinya dan berusaha konsekuen. Aku ingin bahagia dengan apa yang sudah, sedang, dan akan kumiliki. Aku ingin bahagia bersama orang-orang di sekitarku (karena bahagiaku itu bergantung pada banyak orang, hahahahaha). Kalau kayak kata band FSTVLST, aku ingin “menyudahi sedihku yang belum sudah”. Hehehe.

Itu saja deh, nanti aku malah melantur keterlaluan lagi.

Terima kasih buat semuanya yang membuat peringatan 23 tahun ini ria. Aku sayang kalian semua. Sayang banget. :*