Minggu, 16 Desember 2012

SP#13

                Aku menuliskan ini agar jadi sebuah kenang-kenangan tentang cerita yang pernah dengan sangat penuh syukur kualami bersama orang-orang menakjubkan di sekelilingku.

                Kami terlahir sebagai sebuah tim yang jelas tak pernah kami prediksi akan mengalami nasib sedemikian yang telah kami lalui selama ini. Terlepas dari semua reaksi yang pernah muncul sepanjang perjalanan kami, jujur saja, yang aku lihat ketika pertama kali kami dipertemukan adalah ketulusan. Kami dengan setulus yang bisa kami usahakan mengambil kesempatan untuk memberi ruang bagi diri kami bertumbuh. Maka, dimulailah perjalanan bersama ini.

                Tak mudah memang awalnya, malah rasa-rasanya kami curiga bahwa menerima tantangan ini adalah sebuah tindakan mencobai diri sendiri. Menabrak tembok pembatas di sana-sini, terjegal akar yang mencuat ke atas, dan kehujanan ketika menuntun motor tua yang mogok, itulah rutinintas kami di masa itu. Tapi, semuanya tak jadi soal setiap kali kami mencoba duduk bersama lagi jauh dari semua kesesakan itu dan merenungi bagaimana kami akan memulai lagi perjalanan ini.

Sungguh, kami pernah benar-benar lelah dan muak dengan segala hal tentang perjalanan ini. Hal itu tak mengherankan jika memang setiap hari kami menghadapi wajah yang selalu sama dan perilaku yang tentu saja dalam intensitas pertemuan setiap hari tak mengalami perubahan signifikan. Ketika mengalami saat-saat seperti itu, aku kadang melihat betapa kebersamaan macam ini bisa punya dua wajah yang benar-benar beda: memberi semangat atau membawa kejenuhan. Kadang-kadang celetukan tentang ingin beranjak meninggalkan perjalanan ini terlontar, entah dalam kondisi bergurau atau bahkan genting. Namun, lagi-lagi kami ibarat orang tua yang sangat lucu. Tak pernah sungguh-sungguh tega memalingkan muka dari anak bandel yang jauh di dalam lubuk hati sangat kami sayangi meski ia kerap kena damprat.

Kami tetap melanjutkan perjalanan ini, masih melanjutkan perjalanan ini. Kami akan menyelesaikan perjalanan ini. Telah rilis sebuah karya kami yang lain beberapa waktu yang lalu. Aku tidak akan bicara tentang nilai baik atau buruk. Semua orang berhak memberi nilai masing-masing. Aku lebih terkesan dengan potongan perjalanan kami kali itu.

Hitungannya, kami mencobai lagi diri kami. Mencobai kali ini tidak bermakna seperti yang sebelumnya disebutkan. Kami menantang diri untuk memberikan sesuatu dari kesederhanaan (atau mungkin kemiskinan) kami. Jujur saja, aku tak (akan) pernah benar-benar paham rasanya mengalami perjalanan para pendahulu kami. Kami hanya pernah dengar ceritanya saja. Dari sanalah kami belajar. Meski demikian, dalam proses kami yang terakhir kami lalui entah kenapa aku merasa yakin ada kemiripan dan terlintas dalam hati, “Mungkin ini yang dulu dirasakan dan dilakukan mereka di masa awal kelompok ini.” 

Sederhana saja, aku tak mau sok tahu dan sok yakin. Namun, aku melihat perjalanan kami kala itu punya keserupaan dengan cerita-cerita yang pernah kami dengar tentang perjalanan para pendahulu kami. Singkatnya: kami ingin menampilkan sesuatu, maka kami membuat ruang untuk diri kami melakukan hal tersebut.

Dengan semua keterbatasan dalam hal bakat, keterampilan, kreativitas, dan referensi, kami mencoba mengolah ide bersama. Nah, di titik inilah banyak hal memikat mataku. Para pemula dan penampil amatir berkumpul jadi satu menghadapi sebuah keinginan yang sangat wajar: memberi penampilan yang layak tampil. Ketika pertama kalinya kami mencoba tampil di depan lingkaran kecil kami sendiri, nyatalah betapa banyak hal yang harus kami usahakan lebih jauh demi terwujudnya penampilan yang menyenangkan tersebut. Kami pulang dengan membawa pe-er memperbaiki karya kami. Kedua kalinya kami bertemu, hatiku tersentuh oleh fakta bahwa masing-masing dari kami mengerjakan pe-er dengan sungguh-sungguh. Memang  masih ada jawaban yang salah di sana-sini, tapi yang penting buatku adalah kami dengan sepenuh hati sadar kekurangan kami dan berusaha menggenapinya. Buatku, karya teman-teman terasa sangat indah karena mereka bicara kejujuran di sana.

Betapa mengharukan menyaksikan kami yang tak pandai dan tak cukup berpengalaman ini saling memberi masukan satu sama lain. Kami menyediakan diri untuk dibenahi oleh teman-teman kami. Juga, kami mencoba membenahi yang lain dengan kemampuan yang kami punya. Semangatku terus tumbuh bersama usaha kami dalam perjalanan yang satu itu. Kami menyiapkan sendiri ruang tempat kami akan tampil. Kami memindahkan rumah kami ke ruang itu. Kami tinggal di sana, tidur, makan, belajar, dan bermain di sana. Semua bergerak, semua berpindah, semua bertambah. Tibalah waktunya kami sungguh memberikan penampilan yang telah dipersiapkan itu. Tentu banyak kekurangan dan cacat di sana-sini. Tapi, tahu tidak? Aku sangat menikmati penampilan kami tersebut. Aku bahagia seusai mementaskan kejujuran dan kesederhanaan kami. 

Ya, kami masih perlu banyak berbenah. Malah jangan sampai kami berhenti berbenah. Jelasnya, cerita perjalanan itu membuatku benar-benar percaya bahwa ketulusan yang pernah kami bawa di awal perjalanan ini kembali nyata di dalamnya. Aku benar-benar percaya bahwa kami masih bisa tetap bertumbuh, meski perlahan tapi tak berhenti. Waktunya menjejakkan langkah lagi untuk perjalanan lainnya.

Terima kasih untuk para pengelana pendahulu kami. Terima kasih untuk tetangga-tetangga yang hidup menyertai kami. Terima kasih untuk ‘kami’ yang dengan tulus masih melanjutkan perjalanan mencobai diri ini. Salam hangat.



setulus hati untuk Bonaventura Andhiko Aji, Stefanus Edy Winarto, Patrick Anthonio Vesperanza, Rahmad Fauzan H., Dionisio Duarte Savio, Destyan Pijar Buana, Silkanzy Musrian Badjiser, dan Sakha Widhi Nirwa