Senin, 21 Juni 2010

nostalgia

tepat setahun yang lalu, aku baru tiba di yogyakarta untuk memulai pendidikanku di universitas. malam itu di dalam mobil yang melaju ke rumah saudara yang akan kutinggali selama seminggu, aku bersama ibuku memandangi jalanan kota yang selalu menghadirkan rindu itu. lampu-lampu berkelip, kesibukan kota terus berjalan, khas yogyakarta. setahun yang lalu aku meninggalkan rumah dan kampung halaman tempat aku tumbuh besar untuk memboyong niatku meneruskan pendidikan. malam ini, ketika berjogrok di rumah sendiri, aku kembali mengenangkannya.

besok, aku akan kembali lagi ke jogja. menunaikan tugas dan tanggung jawab yang kutangguhkan sejenak karena kebutuhan menghadiri wisuda abangku satu-satunya. hampir sebulan aku beristirahat dari kesibukanku di rumah yang hangat ini. malam ini rumah kosong, anggota yang lain sedang punya kesibukan masing-masing.

beginilah setiap kali aku akan meninggalkan kota ini dan kembali pada rutinitas kuliah di jogja. perasaan berat dan hampir tidak ikhlas selalu bercokol karena belum puas melepas rindu pada rumah yang kudiami 18 tahun ini. sebulan penuh kuhabiskan dengan berkutat di rumah, tidak beraktivitas di luar jika tidak benar-benar perlu atau terpaksa. aku merindukan rumah ini beserta isinya. rumah yang selalu hangat. rumah yang akan membawaku pada kelegaan ketika berteduh di kala hujan deras di luar. tempatku bergelung menikmati sejuknya hujan sambil kadang berbincang dengan orang tua dan saudara mengenai jalannya hidup. rumah yang mengingatkanku akan indahnya masa kecil yang kemudian selalu akan membuatku mendaraskan syukur tak henti untuk keluarga luar biasa ini.

(jangan nangis dong)

besok, aku akan kembali meninggalkan keluargaku di sini. kembali berjuang sendirian mengatasi kesepian di kamar kecil yang menjadi tempat tinggalku di jogja. tapi, inilah perjuanganku. aku tahu ini berat, tapi aku telah memilihnya. sekarang ini adalah tanggung jawabku untuk menyelesaikan apa  yang telah aku mulai. semua ini untuk kebanggaan dan kebahagiaan kalian semua, keluargaku.

Tuhan, kuatkan aku. aku akan selalu merindukan semua ini. semoga rindu ini akan selalu terobati dengan keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Sabtu, 19 Juni 2010

Paulo Freire : Pendidikan Bagi Kaum Tertindas

Satu lagi tulisan latah yang tujuannya untuk membagi informasi yang baru saja saya dapatkan dari sebuah bacaan. Satu bab dari buku Epistemologi Kiri tulisan Listiyono Santoso dan kawan-kawan kembali saya rampungkan tadi malam saat gangguan tidur melanda. Saya terseok-seok melahap sedikit demi sedikit buku ini karena di setiap halaman saya harus berhenti begitu lama untuk mengerutkan kening. Jika kemudian bisa dimengerti, saya akan melanjutkan. Akan tetapi, bila tidak jua paham saya akan tiba-tiba ngambek dan mandek membaca lalu membiarkan buku ini tergeletak begitu saja.

Seorang pemikir kiri bernama Paulo Freire memikat saya dengan pemikiran besarnya yang diulas secara singkat dalam salah satu bab di buku ini. Jadi, tulisan ini hanya rangkuman yang saya dapat dari tulisan Made Pramono yang sebelumnya menyarikan buku Paulo Freire, Education as The Practice of Freedom in Education for Critical Conscioudness.



Paulo Freire ialah seorang pemikir besar pada zamannya yang mendedikasikan hidupnya bagi perubahan pendidikan. Freire merilis pemikirannya sebagai bentuk kritik dari sistem pendidikan yang berjalan pada zamannya. Ide besar pemikirannya adalah tentang tujuan pendidikan sebagai instrumen yang mampu membebaskan manusia dari ketertindasan, yang mampu ‘memanusiakan manusia’. Menurutnya, pendidikan haruslah berorientasi pada humanisasi diri yang dinyatakan dalam usaha pengenalan realitas diri manusia dan dunia. Freire membawa filsafat ‘pendidikan bagi kaum tertindas’. Bagi Freire, penindasan apa pun alasannya adalah tindakan yang tidak manusiawi dan merupakan bentuk dehumanisasi. Pendidikan bagi kaum tertindas ini bertujuan untuk membebaskan mereka dari penindasan itu dan memanusiakan mereka. Dalam rangka pemanusiaan dan pembebasan itulah, Freire melihat penyadaran (conscientizacao) merupakan inti pendidikan. (Made Pramono, 2003: 131)

Menariknya, dalam pemikiran tersebut Freire mengemukakan pendapat bahwa dalam penindasan terjadi dehumanisasi tidak hanya bagi kaum tertindas (oppressed), namun juga bagi penindasnya (oppressor). Bagi kaum tertindas dapat dilihat jelas bentuk dehumanisasi yang terefleksikan dalam pelanggaran terhadap hak-hak mereka untuk hidup bebas dan ketakutan terhadap para penindasnya. Sedangkan bagi para penindas, dehumanisasi termanifestasi lewat tindak penindasan itu sendiri yang tanpa disadarinya akan menghancurkan dirinya sendiri. Untuk memperbaiki kondisi inilah Freire mengusung ide pendidikan bagi kaum tertindas karena menurutnya kaum tertindaslah yang akan mampu membebaskan kedua pihak (kaum tertindas dan penindas) dari dehumanisasi tersebut.

Untuk mewujud nyatakan ide besarnya ini, Freire mengusulkan sebuah metode, yaitu dialog kritis. Berikut saya kutip langsung dari tulisan Made Pramono:
Dialog, dalam hal ini secara esensial didefinisikan Freire sebagai kata yang disusun oleh refleksi dan aksi. Kata yang diucapkan tanpa tindakan (atau maksud tindakan) adalah verbalisme, dan perkataan tanpa refleksi merupakan aktivisme.

Freire menyatakan, “There is no true word that is not at the same time a praxis. Thus, to speak a true word is to transform the world.” Bagi Freire, pendidikan bagi kaum tertindas tidak terlepas dari praktik sosialnya. Teori ini tidak boleh hidup sebatas ide saja, namun diwujudkan dalam tindakan yang menuntut komitmen. Salah satunya contohnya ialah program pemberantasan buta huruf bagi ribuan petani miskin di timur laut Brazil, negara tempat tinggal Freire. Ia yang saat itu menjabat sebagai direktur utama Pusat Pengembangan Sosial University of Recife menyatakan kepeduliannya dalam program tersebut. Namun, pada tahun 1964, Freire ditangkap atas tuduhan ‘aktivitas subversif’ kemudian dibuang ke Chile. Di dalam penjara ia menulis karya pertamanya yang berjudul Education as The Practice of Freedom. Kepedulian Freire akan pendidikan tidak luntur meskipun menjalani masa pembuangan. Ia bekerja selama lima tahun pada program pendidikan untuk orang dewasa di Chile. Karya besar Freire yang sangat ternama berjudul Pedagogy of the Oppressed.

Ide mengenai pendidikan bagi kaum tertindas dengan tujuan rehumanisasi manusia baik yang tertindas maupun penindasnya ini dimanifestasikan oleh Freire dalam rancangan sistem pendidikan yang dinamainya ‘problem-posing education’. Dalam bentuk ini, pendidikan dihadirkan dalam hubungan ‘partnership’ antara guru dan murid, di mana keduanya mampu saling memacu kreativitas dan kekritisan yang mendorong munculnya kesadaran. Dominasi guru yang diasumsikan mengetahui segala hal lalu membagikannya pada siswa diminimalisir sebab metode semacam ini dimaknai sebagai tindakan yang meletakkan siswa pada posisi tertindas. Problem-posing education memotivasi siswa menjadi pemikir yang kritis dan membuka seluas-luasnya kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas pribadinya. Pendidikan yang ditawarkan Freire ini mencoba memampukan individu-individu mengembangkan kemampuan mereka untuk memikirkan secara kritis eksistensi mereka di dunia dan merasa menguasai pemikiran mereka dengan berdiskusi pikiran tersebut, serta memanifestasi pandangan mereka tentang dunia baik secara eksplisit maupun implisit dalam pendapat mereka sendiri.

Pemikiran besar Freire ini memikat saya karena kemampuannya membaca dunia di sekelilingnya dan kepeduliannya untuk mendedikasikan hidup dan pemikirannya bagi ‘dunia’ itu. Dalam hal ini, realitas banyaknya kaum tertindaslah yang menggerakkan Freire untuk bergiat dalam pendidikan yang membebaskan ini. Ditambah lagi dengan prinsipnya yang menolak ide ini hanya sebatas teori melainkan menyatakan bahwa aksi sosial yang kongkret merupakan bagian tak terpisahkan dalam pemikiran besarnya ini. Pendidikan untuk rehumanisasi manusia yang terdehumanisasi oleh penindasan. Salut!

Rabu, 16 Juni 2010

cantik

Topik ini adalah salah satu topik favorit yang jadi bahan perbincangan antarteman, mungkin terutama teman laki-laki. Selama ini saya selalu mengalami kesulitan untuk membela pendapat saya ketika menilai seorang perempuan bersama seorang teman laki-laki. Sebagian besar dari mereka selalu saja memilih perempuan yang tidak cantik menurut saya. Akar permasalahan ini adalah perbedaan kriteria dan standar cantik yang kami pegang. Saya bisa menilai seseorang ketika saya bisa merasakan aura dan karakter yang baik dari perempuan tersebut. Jadi, wajah dan penampilan fisik bukanlah indikator nomor satu. Mungkin memang kadang-kadang saya menilai dengan semena-mena, dalam artian saya kerap beberapa kali menebak seseorang ‘pasti cantik’ padahal saya belum kenal siapa dia. Sementara, teman laki-laki saya kebanyakan memiliki kriteria penilaian yang benar-benar berbeda. Sebagai akibatnya, setiap kali mereka menunjukkan pada saya gadis yang kejatuhan hati mereka, saya selalu bingung mengapa mereka menyebut gadis ini cantik. Subyektivitas saya benar-benar menonjol ketika menyanggah pendapat mereka itu. Tak jarang perbedaan pendapat ini membawa kami pada adu mulut tidak penting yang meskipun menguras tenaga, tidak akan menggoyahkan niat teman saya itu untuk mengejar sang gadis.

Entah kenapa, cantik yang selama ini saya pahami selalu menuntut begitu banyak nilai di luar fisik. Ketika saya bisa melihat bagaimana seorang perempuan pandai bersosialisasi, pemikirannya cerdas, lembut, bisa tersenyum tulus, dan lain-lain, saya akan dengan wajah berseri bilang pada teman-teman, “Ini baru namanya cantik.” Segi fisik memang tidak luput dari indikator-indikator yang ada, tapi posisinya bagi saya sebagai nilai plus, bukan primer.

Saya pun sering berdiskusi dengan teman-teman kampus yang mungkin lebih banyak kemiripan dengan saya dalam hal menilai seorang perempuan cantik atau tidak. Kalimat-kalimat bernada sindiran dan keprihatinan pun bermunculan di akun jejaring sosial mereka ketika belakangan ini digelar pemilihan puteri-puteri dan ‘miss-miss’ di televisi. Saya ingin merangkum keprihatinan mereka tersebut.

Bisa dilihat secara jelas, kriteria ‘cantik’ yang dijadikan dasar para juri ajang pemilihan macam ini adalah ‘cantik’ yang selama ini menjadi hegemoni di masyarakat. Sekalipun ada tes kepribadian, kepandaian, talenta, dan lain sebagainya, penampilan fisik tetap sangat kentara ditonjolkan dalam ajang ini. Buktinya, tidak ada satu pun dari peserta pemilihan tersebut yang berpenampilan fisik ‘kurang proporsional’. Semua kontestan adalah perempuan-perempuan dengan rasio pinggang dan pinggul yang ideal, kulit bersih (jika tidak putih), susunan tulang-tulang wajah yang membentuknya jadi ‘cantik’, rambut indah, kaki jenjang, dan lain-lain. Standar kecantikan macam ini telah lama menghegemoni masyarakat. Sebagian orang berpendapat bahwa hal ini terjadi karena inferiority complex yang timbul semenjak zaman penjajahan dahulu. Seperti yang diketahui secara luas, kaum penjajah pada masa lampau kebanyakan adalah orang-orang Eropa. Tak pelak, perempuan-perempuan Eropalah yang pada akhirnya menjadi ‘dewi impian’ para perempuan di negara terjajah. Standar kecantikan masa kini adalah standar kecantikan perempuan Eropa. Lucunya, sempat terdengar oleh saya bahwa sebagian perempuan berkulit hitam yang berdomisili di benua Afrika pun turut mempercayai standar kecantikan tersebut.

Keinginan untuk menjadi ‘seperti’ atau ‘menyerupai’ perempuan Eropa pun merajai pikiran para perempuan lainnya. Ingin berkulit putih, ingin menjadi tinggi, ingin langsing! Hebatnya, hasrat ini pun diiringi dengan produksi produk-produk kosmetik yang menjanjikan terwujudnya keinginan tersebut. Walhasil, bisnis kosmetik pun menjadi lahan yang cukup menjanjikan karena para perempuan berbondong-bondong menyerbunya.

Seorang teman laki-laki saya pun pernah mengeluarkan pernyataan seperti ini, “Kalau seandainya dulu kita dijajah oleh bangsa Afrika, mungkin perempuan masa kini akan menjadikan penampilan fisik perempuan Afrika sebagai kiblat mode.” Yah, mungkin.

Selain standar kecantikan Eropa ini, seorang teman lain pernah mengeluhkan betapa untuk menjadi cantik perempuan dituntut untuk menahan rasa sakit yang menyusahkan. Lebih tepatnya, teman saya ini merasa kurang nyaman jika harus mengenakan aksesori yang kerap digunakan perempuan dalam momen-momen di mana mereka ingin tampil cantik, misalnya sepatu hak tinggi.

Memang kadang hal-hal semacam ini menimbulkan dilema bagi para perempuan. Ingin tampil cantik tanpa menyakiti diri sendiri, tapi kadang (ini saya kutip dari sebuah kelas listening di semester yang lalu) boys don’t see what you see in me. Tidak semua orang mau menilai hal-hal yang sederhana. Yah, sejauh ini keprihatinan ini masih sering menggelisahkan. Entah bagaimana caranya merubah pemikiran yang telah menjadi hegemoni i

Selasa, 15 Juni 2010

Atheis dan Theis

Beberapa hari yang lalu saya membaca tulisan seorang teman mengenai atheisme. Definisi atheisme yang disajikannya dalam tulisan itu adalah: menolak percaya eksistensi Tuhan atau tuhan dalam bentuk apapun. Ini bukanlah sebuah aliran kepercayaan karena para atheis sama sekali tidak menyembah apa pun yang bersikap sebagai tuhan. Teman saya ini juga menolak pandangan sebagian orang yang menyatakan bahwa atheisme adalah salah satu jalan menuju theisme. Pandangan ini menyebutkan bahwa para atheis sedang berada dalam jalan mencari kebenaran sebelum pada akhirnya kembali juga pada Tuhan yang ‘benar’. Pendapat ini ditampik keras oleh para atheis karena mereka benar-benar tidak menuhankan apa pun, mereka tidak percaya pada keberadaan Tuhan atau pun tuhan.
nih kalau mau baca lebih lengkapnya Penjelasan Sangat Ringkas Tentang Atheisme

Komentar-komentar panjang yang juga diiringi debat menghiasi tulisan itu. Saya sendiri memilih untuk sekedar berterima kasih karena ditandai dalam tulisan tersebut. Saya menganggapnya sebagai sumber ilmu baru, wahana memperluas pengetahuan. Untuk urusan menilai seberapa tingkat ‘kebenarannya’ itu terserah masing-masing orang sesuai dengan porsi ilmu dan pengalaman yang dimilikinya.

Jujur saja, ketika pertama kali saya bertemu dengan teman saya yang atheis ini, saya benar-benar kaget. Saya serasa tidak percaya karena bertemu dengan hal semacam ini di kehidupan nyata. Saya yang sebelumnya tertutup atau mungkin sengaja menutup diri dari berbagai hal baru yang agak tidak lazim seperti ini terang saja merasa terkejut. Tapi, pelan-pelan saya memaknai pertemuan dengan teman yang beragam sebagai ajang belajar yang begitu luas. Dalam urusan kepercayaan pada Tuhan ini khususnya, saya akhirnya benar-benar mewujud nyatakan apa itu toleransi yang sejak dulu bercokol di buku-buku PPKn SD hingga SMA.

Saya yang selama ini masih sering mendoktrin orang-orang di sekitar dengan pemikiran-pemikiran saya merasa tertampar keras dan malu. Saya selalu menuntut orang-orang menghargai dan mendukung pilihan saya karena merasa pilihan itulah yang paling benar dan orang lain tidak tahu. Sementara ketika orang lain menentukan pilihannya, saya masih kerap kali menggerecoki keputusan itu. Di titik ini saya akhirnya menyadari bagaimana berbedanya saya yang mengklaim diri sebagai ‘theis’ dengan mereka yang mengklaim dirinya ‘atheis’. Sadar atau tidak, sebagian besar orang theis selalu menanamkan cap buruk bagi mereka yang atheis. Berbagai macam gelar disandang oleh para atheis di mata para theis: sesat, gila, biadab, kafir, dan sebagainya. Hebat. Manusia dapat menghakimi sesamanya demikian kejam. Atheis juga tak lebih dari pilihan kan? Lalu mengapa tidak dihargai pula?

Hal yang membuat saya salut pada teman-teman yang atheis adalah mereka tidak memaksakan pandangan mereka itu secara berlebihan dan lebih mampu menghargai keberadaan orang-orang atheis di sekitarnya. Sebaliknya, justru umat beragamalah yang tidak mau menerima kehadiran teman-teman yang kebetulan berbeda pandangan dengan mereka ini, padahal agama selalu mengajarkan yang baik kan? Apakah mereka yang menjalankan ajaran agama salah tafsir itu merasa hidupnya lebih baik daripada mereka yang mengaku tidak bertuhan? Para atheis yang sering dengan kejamnya dicap sesat itu malah bisa merealisasikan toleransi yang digembar-gemborkan semua agama itu dengan lebih baik daripada sebagian umat beragama yang lain.

Rasionalisasi orang yang menjadi theis memang benar menurut mereka yang theis pula. Tapi jika demikian, maka rasionalisasi seseorang yang menjadi atheis juga benar menurut mereka yang atheis. Bukankah kebenaran itu sangat subyektif? Mengingat kedua pihak tidak bisa saling memaksakan ‘kebenaran’ versi mereka satu sama lain, mungkin memang jalan yang tepat adalah mau saling menghargai. Umat beragama tetap menjalankan ibadahnya sesuai dengan ajaran agamanya masing-masing dan juga menjalin relasi sosial yang baik dengan lingkungan. Demikian halnya dengan atheis, hanya saja mereka tidak akan menjalankan ibadah apa pun karena mereka tidak menyembah apa pun.

Terserah masing-masing mau berkomentar apa. Tulisan ini hanya mengungkapkan keprihatinan atas diskriminasi yang selama ini terjadi. Sekaligus sebagai ungkapan syukur karena bisa menuai pelajaran dari berbagai wacana yang saya temui.

Selasa, 08 Juni 2010

kiri

Dibuat dengan terburu-buru dan referensi yang sangat sedikit, berhubung saya baru saja membaca bagian prawacana buku Epistemologi Kiri yang ditulis oleh Listiyono Santoso. Kalau mau dibilang tulisan latah, ya mungkin ada benarnya...

Menurut penulis, selama ini masyarakat telah salah kaprah mendefinisikan terminologi "kiri". Begitu mendengar kata ini, impresi yang langsung muncul di kebanyakan pikiran mereka adalah komunisme dan Marxisme-Leninisme. Tidak bisa disalahkan karena memang pengaruh pandangan semacam itu telah menyebarluas dan mendogma orang-orang. Saya pun kerap berpikir yang sama sebelum pada akhirnya membaca tulisan di buku Epistemologi Kiri itu. 'Kiri' yang acap kali dengan begitu saja (baca: langsung) diidentikkan dengan komunis atau paham Marxis itu berkaitan dengan luka sejarah yang begitu membekas di masyarakat Indonesia. Bertahun-tahun selama masa Orde Baru masyarakat dicekoki dengan pandangan bahwa komunisme --dalam hal ini PKI-- 'terbukti' telah melakukan pengkhianatan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menerima tuduhan umum tentang pembunuhan jenderal-jenderal Angkatan Darat pada tahun 1965 (mohon diperbaiki jika kata-kata saya ini tidak tepat). Kebetulan, paham komunisme menggunakan ajaran Marx --seorang pemikir 'kiri'-- sebagai semangat ideologisnya. Dengan demikian, masyarakat menerima mentah-mentah bahwa 'kiri' selalu berarti komunis yang berlabel 'jahat'.

Bagian yang bertajuk Prawacana dalam buku Epistemologi Kiri ini menjelaskan bagaimana sebenarnya terminologi 'kiri' dimaksudkan. 'Kiri' adalah pemikiran yang membaca ulang dan mengkritisi kemapanan (kadang disebut kebenaran) yang selama ini hidup dan menjadi kebenaran mutlak di masyarakat. Tujuan dari pemikiran ini adalah menciptakan kontra-wacana dari kemapanan-kemapanan tersebut supaya tercapai kemajuan ilmu pengetahuan. Mirip dengan konsep dialektika yang diusung beberapa filsuf besar, 'kiri' merupakan bagian dan hasil dari dialektika. Dalam dialektika, ada tiga unsur yang menyertai yaitu negasi, kontradiksi, dan mediasi. Dari wacana yang ada diciptakan negasi (pengingkaran) supaya dialektika itu tercipta.

Maka, pemikiran 'kiri' timbul dari kemapanan-kemapanan yang telah diterima oleh kebanyakan orang sebagai kebenaran. Pengertian ini membuka pandangan bahwa cakupan pemikiran 'kiri' tidak hanya sebatas komunisme dan Marxisme, melainkan semua pemikiran yang mengkritisi kemapanan tersebut. 'Kiri' adalah 'pembacaan ulang pengetahuan dominan secara kritis' --demikian ditulis dalam Prawacana itu--.

Setelah membaca Prawacana ini, saya kemudian menyadari bahwa salah kaprah yang mendarah daging di pemikiran masyarakat mengenai 'kiri' ini semestinya diperbaiki. Tapi, saya mempredikisi (hampir) pasti akan sulit sekali untuk mengubah pandangan ini karena kesalahpahaman ini menimbulkan reaksi antipati terhadap segala hal yang berbau 'kiri'. Masyarakat memilih untuk menghindari bahkan mengkriminalisasi 'kiri' hanya karena dogmatisasi yang dilakukan oleh pemerintahan rezim Orde Baru tentang komunisme. Meskipun tidak banyak (benarkah tidak banyak?) yang mau mempelajari pemikiran 'kiri' ini sebagaimana maksudnya, mudah-mudahan saya tidak lagi ikut-ikutan salah kaprah...Amin.


maaf jika tulisannya nggak mutu, namanya juga tulisan latah. ini cuma usaha untuk membagi pengetahuan baru saya, siapa tahu ada yang iseng baca...
sangat mengharapkan dan terbuka terhadap kritik, terutama koreksi, mengenai tulisan ini...

Kamis, 03 Juni 2010

KERITING UNDERCOVER BROTHERHOOD

Inilah balada indah hidup segelintir manusia yang telah membuktikan keakuratan peribahasa “From Zero To Hero”... (emang kita sekarang udah jadi hero?), saya persembahkan dengan segenap hati penggalan-penggalan kisah indah yang saya harap akan membuat anda semua tersenyum dan menghargai eksistensi kami...


Landasan Idiil

         Kamu semua pasti ngerti bahwa tiap manusia di dunia ini diciptakan beda-beda dengan keunikan masing-masing. Yang saya tekankan adalah mengenai penampilan fisik. Beribu-ribu ras umat manusia tercipta dengan ciri khasnya masing-masing. Namun, sayangnya nggak semua orang mikir bahwa apa yang kelihatan kurang pada diri seseorang sebetulnya bukan kekurangan tapi, justru kunci keberhasilan.
         Saya, Maria Puspitasari Munthe contohnya. Ada bagian dari perjalanan hidup saya yang sampai sekarang masih jadi misteri padahal udah bertahun-tahun berlalu. Waktu saya udah mulai pinter dan bisa ngebedain keadaan suatu benda dengan benda yang lain, saya menyadari sesadar-sadarnya bahwa saya punya rambut keriting. Tulen keriting! Nah, berhubungan dengan fakta ini, saya yang waktu itu mulai menapaki jalan pendidikan di TK mengamat-amati teman-teman saya. Cuma seupil yang rambutnya keriting kayak saya. Tapi, namanya juga anak TK, selama masih sama-sama doyan main ayunan ya tetep aja teman namanya.
         Beranjak ke SD, fase sekolah paling ngebosenin yang pernah diciptakan. 6 tahun dihabisin cuma pake seragam merah putih mulu! Jejak-jejak diskriminasi mulai kerasa di tingkat-tingkat kelas 4 ke atas. Temen-temen mulai pada ngerti dandan. Nggak cewek nggak cowok, semuanya mulai gaya-gayaan ke skolah. Nah, berhubung pas jaman saya sekolah di SD ,odel-model tren yang berkembang belum keterlaluan kayak sekarang, jadi mau nggak mau saya merhatiin temen-temen cewek saya yang mulai pada menata diri. Terutama rambut mereka. Rambut!
         Sebagian besar dari mereka punya rambut panjang hitam. Saban sekolah, kuncirannya ngalah-ngalahin petasan betawi ramenya. Yang dijalinlah, dikuncir-kuncir aja banyak-banyak, digimbal...(hah, anak SD gimbal?). Pokoknya macem-macemlah! Ibu mereka emang mengagumkan. Di samping ngerjain kerjaan rumah masih sempet aja nguncirin rambut anaknya segitu banyak.
         Nah...sebagai anak terkenal di sekolahan (suer deh, emang terkenal kok!), saya merasa ada perllunya bersikap kayak mereka biar nggak dibilang ketinggalan jaman! Maka, dengan bekal memperhatikan model rambut temen-temen, saya pulang dengan riang gembira ke rumah dengan membawa semangat menggebu untuk minta dikuncir sama mama saya buat besok pagi. Sebelum dikuncirin sama mama besok paginya, saya memutuskan untuk bereksperimen dulu. Saya buka pintu lemari yang ditempeli cermin segede badan saya. Ngaca beberapa saat,...ada feeling nggak enak. Tapi, semangat untuk tampil up to date belum surut, nyamber sisir ama segenggam karet...ban!
         Dan dimulailah percobaan mengutak-atik gaya rambut. 5 menit...10 menit...15 menit...keringet mulai ngucur...30 menit...
         “Aaaaaaaaaakkkhhhhhh..........mamaaaaaa toloooooonnng!!”, saya malh menjerit-jerit lantaran rambut saya yang keriting imut ini kena musibah. Sisir yang muter (eh, nyebutnya apa sih?) atau sisir yang giginya keliling penuh itu nyungsep dengan suksesnya di rambut saya! Niatnya sih bikin rambut saya jadi bergelung indah kayak diblow gitu tapi, hasilnya malah tuh rambut dikuwel-kuwel di sisir dan nggak bisa lepas.
         Walhasil, serumah langsung pada heboh. Mama saya datang terus ngomel liat kelakuan saya, sementara itu sodara-sodara saya ngakak girang. Naasnya, rambut indah saya ini nggak bisa diselamatkan. Dengan sangat terpaksa harus dipotong, untungnya nggak banyak. Maka, pupuslah harapan untuk tampil sempurna layaknya teman-teman yang lain. Setelah hari itu, saya menyadari bahwa rambut saya itu keriting sekeriting-keritingnya! Berantakan, megar gila-gilaan, plus nggak bisa dibentuk-bentuk suka-suka hati kayak rambut temen-temen yang lurus.
         Sejak kejadian itu, saya belajar hidup dari kenyataan yang pahit itu, bahwa rambut saya nggak sebagus rambut temen-temen. Di sekolah, rambut keriting mulai jadi bahan olok-olok khas anak SD. Untuk alasan ini saya akhirnya sangat menyadari dan memaklumi bagaimana Nelson Mandela rela berjuang mati-matian untuk menghapuskan apartheid. Padahal waktu itu saya nggak tau siapa Nelson Mandela (lha, kok bisa mikir gitu? Biasalah, sok pinter...).
         Paradigma masyarakat tentang rambut lurus itu lebih bagus daripada rambut keriting terus menghantui hidup saya. Untung di jaman itu belum ada yang namanya rebonding, kalo ada pasti saya udah ikutan dan nggak akan pernah nulis ini. Maka saya menghabiskan masa SD dengan berpenampilan sama setiap harinya. Yaitu, rambut dijalin rapi atau dikuncir ekor kuda rapi. Pokoknya serapi yang dimungkinkan rambut saya. Sementara itu, temen-temen saya bergaya dari hari ke hari...
         Ketika masuk SMP, mata hati saya udah sedikit terbuka. Saya belajar bahwa saya emang keriting dan saya emang pinter! (lho, kok malah sombong?) Jadinya, saya nggak banyak mikirin urusan rambut. Tetap dijalin atau dikuncir tiap harinya. Tapi, yang namanya anak SMP itu lebih lebay daripada anak SD. Mulai pada mikirin yang namanya pacaran. Nah...di tahun pertama di SMP, berpuluh-puluh kakak kelas berusaha macarin anak kelas 1. Satu per satu temen-temen saya pacaran. Saya perhatikan...mereka semua berambut lurus! Sungguh nggak adil! Emang nggak ada gitu yang suka sama yang rambutnya keriting?!
         Bagi sebagian orang mungkin apa yang saya pikirin ini nggak penting tapi, buat saya ini amat sangat penting emnyangkut keberlangsungan hidup saya di masa depan! Kalo semua cowok sukanya sama cewek berambut lurus, terus saya nggak bakal punya pacar gitu?? Wah, ini gawat darurat kalo terus berlanjut! Tapi, saya masih sibuk belajar selama di SMP demi mempertahankan image siswa pintar, teladan, baik hati, berbudi luhur, dsb, dsb.... Saya nggak pernah serius untuk memulai perjuangan emansipasi saya. Yang saya tau cuma, orang-orang masih berpikir bahwa rambut lurus lebih bagus daripada rambut keriting. Dan temen saya yang keriting yang berhasil dapet pacar baru 2!! Ya ampun...
         Nah, waktu saya masuk SMA, teknologi baru yang kemudian saya haramkan berkembang membabi buta, menjamur dan menyebar secara sporadis, merambah seluruh kasta sosial dari brahmana sampai paria! Eh, brahmana nggak ding...kan nggak punya rambut! Berarti dari ksatria sampai paria. Yaitu, tak lain tak bukan –REBONDING-!! Beribu-ribu umat berduyun-duyun mencoba penemuan baru yang dapat mengubah rambut kriwil menjadi mulus ini. Saya cuma bisa menggelengkan kepala menyaksikan temen-temen senasib saya pada mengadu nasib ke salon. Bukan, bukan mau kerja di sana, tapi mempertaruhkan masa depan rambutnya di ujung catokan!
         Mereka yang awalnya sama aja kayak saya (baca: rambutnya megar nggak karu-karuan) jadi pede melenggang keluar dari salon dengan rambut baru yang lurus bak jalan tol Joglo-Semar! (Ih, bohong banget! Jaman dulu Joglo-Semar belon ada!) Uuuh...rambutnya disibak sana-sini, dan olok-olok yang mereka terima pun berkurang. Sementara saya, cuma menyaksikan seraya mohon kekuatan dari Tuhan supaya saya nggak ikut-ikutan. Alasan utama saya nggak mau rebonding adalah takut rambut ciptaan Tuhan yang nempel di kepala saya bertahun-tahun ini rusak gara-gara panasnya catokan. Tapi, seiring waktu berjalan, saya menemukan alasan kuat untuk tetap tidak rebonding...
         Di SMA, saya ketemu manusia-manusia sejenis dengan saya yang berprinsip sama kayak saya. Yang tetep setia menjaga rambut orisinil, yang pede dengan keadaan apa adanya, yang berjuang dengan segala cara untuk mengangkat harkat dan derajat dengan cara terhormat! Sebenarnya banya sih, tapi yang kahirnya saya tarik untuk berjuang bersama saya ada empat orang. Semuanya cowok! Jadi, I’m the one and only beautiful creature. Hehehe....
         Di sore hari yang rame itu, saya lagi ngejogrok di pinggir lapangan basket sekolah yang dialih fungsikan menjadi lapangan futsal lantaran ada liga futsal gitu. Saya duduk rame-rame ama temen-temen saya nonton pertandingan yang sedang berlangsung. Nah...di lapangan itu ada seorang cowok yang jadi bintang lantaran punya bakat membanggakan dan menjanjikan dalam rangka bermain bola. Namanya Lajun Siado Rio. Saking hebatnya, dia selalu pake nomor punggung 10. Walopun sebenernya mau pake nomor berapa aja nggak ngaruh, cuma biar keren aja. Kesalahan, bukan kebetulan, si top scorer ini rambutnya tercipta keriting sejak lahir.
         Tiba-tiba saya nyeletuk dengan girangnya, “Gimana ya kalo satu tim futsal isinya keriting semua?” Lalu, saya mulai menyebutkan satui per satu nama makhluk-makhluk keriting berkelamin cowok yang ada di angkatan saya, “Fhosya, Frizan, Nanda, Lajun, Deja!” Yang namanya Fhosya dan Frizan lagi duduk mengapit saya. Mereka menjawab, “Boleh! Dikau manajernya deh!” Nanda yang saya sebut sebelumnya itu juga sedang bermain di lapangan. Dan dia juga jadi tumpuan harapan SMA tempat kami bersekolah untuk membantu mengharumkan nama sekolah di bidang sepak bola. Padahal, sebenernya mereka nggak perlu berusaha segitunya, soalnya saya udah sering nyemprotin parfum di papan nama sekolahan...(bego!)
         Berawal dari facebook baruku...eh, berawal dari obrolan ngalor ngidul ngulon ngetan tersebut di atas, pembicaraan berlanjut menjadi lebih serius. Kami berniat untuk mendirikan sebuah organisasi yang akan mewujudkan mimpi dan harapan kami. Yang akan menjadi tempat bersandar dan penyelamat eksistensi kaum kami. Organisasi yang akan membantu kami menunjukkan pada dunia, bahwa kesempurnaan fisik yang selama ini mereka anggap nomor 18 dan penampilan kami nomor 20 adalah paradigma bodoh yang menggiring mereka pada kehancuran. Hahahahahahahaha...(ketawa musuhnya power rangers!)
         Maka, atas nama seluruh umat keriting di dunia, saya nyatakan dengan bangga...dengan resmi saya mendirikan KERITING UNDERCOVER! Lalu, saya ditimpukin sandal, ya iyalah, saya masih di lapangan futsal tadi sambil teriak-teriak! Fhosya dan Frizan menyaksikan dengan penuh haru adegan ini. Air mata mereka berdua menetes sambil kemudian berkata ala banci, “Eke nggak kuaaaat...!!” Dasar nggak nyambung mereka!
         Dikarenakan umat keriting itu bejibun jumlahnya, saya memutuskan untuk mendirikan lagi tim pengurus rumah tangganya (duile, seenak jidat aja ngediriin ini itu...). Setelah berpikir sejenak, saya memutuskan untuk mengambil empat orang keriting selain saya yang di mata warga sekolah adalah suri tauladan. Dan pilihan saya jatuh kepada sodara-sodara yang di kemudian hari saya angkat menjadi abang-abang saya di bawah nama KERITING UNDERCOVER BROTHERHOOD. Kami adalah:
1. Frizan Donovan
    Lahir: 1 November 1990
    Bakat: Nggak jelas
2. Fernanda Pratama
    Lahir: 17 Januari 1991
    Bakat: Main bola
3. Fhosya Apriando
    Lahir: 18 April 1991
    Bakat: Mengasah bibir
4. Lajun Siado Rio
    Lahir: 6 Juni 1991
    Bakat: Main bola
5. Maria Puspitasari Munthe
    Lahir: 3 Januari 1992
    Bakat: Multi

         Maka, berdirilah tim yang digawangi oleh orang-orang berprestasi kayak kami. Kelemahannya cuma satu, prestasi yang kita raih nggak sebanding sama keonaran yang kita buat. Di hari-hari selanjutnya, kita berusaha berprestasi tapi, yang ada malah bikin onar. Acara pelantikan dilaksanakan dengan mandi kembang tujuh rupa, ngidupin dupa di rambut, dan menyanyikan lagu Bunga Citra Lestari, Sunny...lho?! perang emansipasi baru dimulai! Fight till the end!
         Di akhir acara pelantikan, kami mengucap sumpah dan menyusun visi misi organisasi. Di tengah ramainya lalu lintas di depan sekolah, kami berteriak dari kantin, (lho?!)
         “Sekali Keriting, Tetap Keriting!”
Hiks, sungguh mengharukan. Ibu kantin sampai mengusap air matanya yang jatuh saat mengiris bawang. Sekali keriting, tetap keriting...
         Kami, Keriting Undercover Brotherhood menyatakan visi dan misi organisasi kami.

Visi    :            Meningkatkan harkat dan derajat kaum keriting
Misi   :  1. Mensyukuri anugerah Tuhan dalam wujud rambut keriting
            2. Berprestasi dan menjadi terkenal demi eksistensi umat keriting

Tujuan :  1. Menyadarkan semua umat keriting bahwa kami istimewa
               2. Memusnahkan teknologi rebonding yang telah kami haramkan

Anggota  : Semua umat keriting yang rambutnya asli. Tidak direbonding maupun dikeriting. Asli ciptaan Tuhan!

Idola       :
1.      Riri Riza
2.      Mira Lesmana
3.      Andy F. Noya
4.      Barrack Obama
5.      Andrea Hirata
6.      Mahatma Gandhi (lho, kan botak?!)
7.      Giring Ganesha
8.      Ahmad Albar
9.      The Cosby
10.  Orang tua kita, karena mereka keriting

And the story goes...