Rabu, 31 Juli 2013

"Don't imagine, you're too familiar..."





Waktu saya kecil dulu, ibu saya sering memutar kaset berjudul Just the Way You are yang berisi sejumlah lagu yang semuanya berjudul Just the Way You are. Hanya saja lagu-lagu itu masing-masing dinyanyikan oleh penyanyi yang berbeda. Awalnya aku sering protes karena bosan mendengarkan lagunya. Tetapi ibuku bersikeras memutarnya hampir setiap hari. Bahkan ia pernah bercerita bahwa ketika masih lajang dulu, teman yang adalah tetangganya juga pernah mengomentari kaset itu dengan bertanya, "Kenapa lagunya sama semua sih? Kaset macam apa ini?"

Setelah beberapa tahun berlalu (kira-kira ketika duduk di bangku SMA), saya akhirnya bersedia mendengarkan lagu ini dengan sungguh-sungguh setiap ibu saya memutarnya. Ternyata, lagunya sangat menyenangkan dan saya jatuh hati dibuatnya. Jadi, sejak saya meneruskan sekolah ke luar kota dan tidak tinggal bersama ibu lagi, saya selalu mendengarkan lagu ini atau melantunkannya jika saya sedang rindu padanya.

Tautan di atas berisi versi lain dari lagu tersebut. Ada banyak sekali penyanyi yang telah memproduksi ulang lagu tersebut. Bahkan grup lawak Warkop DKI pernah menggarap aransemen dangdutnya dengan sangat menghibur (saya suka sekali versi itu). Versi yang paling saya gandrungi tentulah yang ditembangkan oleh penyanyi aslinya, Billy Joel. Nah, tautan tersebut adalah salah satu versi yang cukup asik dan paling mirip dengan versi aslinya.

Bukan, ini bukan lagu jatuh hati pada seorang pemuda, melainkan lagu rindu pada ibu. Walau aku tak segan juga menyanyikannya suatu hari nanti untuk pemudaku. :)

Selasa, 30 Juli 2013

realitanya

"But, there's thing we can't do because they ain't gonna let us."


-Marge Whitney-


quoted from a playscript by Alice Childress

Selasa, 23 Juli 2013

Selasa, 09 Juli 2013

Film Kungfu dan Kesabaran

Sejak kecil, saya sudah bersinggungan dengan film-film kungfu. Yah, sebutlah demikian. Mulai dari film ‘boboho’, Once Upon a Time in China dengan Wong Fei Hung-nya yang legendaris, hingga rilisan masa kini. Saya selalu kagum menyaksikan adegan berkelahi yang biasanya dibubuhi efek suara kibasan kain, tapak kaki, dan tak lupa debu. Rasa-rasanya seperti sungguhan.

Nah, di antara sekian banyak adegan dalam film kungfu, favorit saya adalah adegan yang menceritakan latihan awal kungfu. Satu metode yang tak pernah luput ialah memikul dua gentong air dari sumber mata air hingga ke perguruan tanpa menumpahkan isinya sesedikit apa pun. Digambarkan di sana, medan yang ditempuh berupa bukit-bukit dan kebun. Alhasil, banyak pemula kungfu yang gagal menjalani tugas ini pada awalnya sebab isi gentong begitu penuh dan akan tumpah karena guncangan selama membawanya. Namun, guru mereka tak akan mengizinkan muridnya melewatkan latihan yang satu ini. Tak peduli tumpah sedikit maupun habis semua isinya, si murid akan disuruh mengulang lagi higga sanggup menyelesaikannya seperti yang diharapkan. Selama berbulan-bulan, bahkan mungkin hitungan tahun, si murid diberi tugas untuk memenuhi kebutuhan air di perguruan setiap harinya.

Hampir di semua film, pasti digambarkan sebuah peristiwa ketika si murid akhirnya bosan melakukan latihan yang sama berulang-ulang. Si murid tak sabar menantikan latihan jurus pamungkas dari gurunya. Tapi, selalu saja si guru tak mau kompromi tentang hal itu. Jurus pamungkas tak pernah disingkap sampai entah kapan. Si murid mau tak mau bersabar dengan segala tugas memikul gentong air dan berlatih kuda-kuda sekian jam setiap harinya. Tak ada yang lain.

Saya jadi teringat ketika masa awal mulai diajari memasak oleh ibu saya. Satu-satunya hal yang boleh dan harus saya kerjakan adalah mengupas bawang. Kemudian dilanjutkan dengan mengiris bawang. Selama bertahun-tahun ia tidak mengizinkan saya menyentuh bahan masak dan metode yang lain. Bosan saya menangis terus setiap kali diajak memasak oleh ibu.

Nah, dua cerita di atas ini melintas lagi sekitar seminggu yang lalu ketika saya sedang mengikuti sebuah sesi latihan olah tubuh bersama seorang teman bernama Doni Agung Setiawan. Telah beberapa sesi berlalu dan Doni Agung Setiawan tetap meminta saya dan teman-teman mengulangi semua latihan dasar olah tubuh. Dia memang membawakan banyak hal baru setiap sesinya, namun latihan dasar tidak bisa ditawar. Ketika kami berbincang di sesi latihan berikutnya tanpa Doni Agung Setiawan, beberapa orang teman mengutarakan kejenuhannya akan metode latihan yang tak kunjung berganti. Sebab kejenuhan ini, mereka sempat kehilangan minat untuk mengikuti sesi latihan.

Ternyata, dalam proses apa pun yang sedang dijalani, setiap pelakunya dituntut untuk punya kesabaran yang cukup. Memikul gentong air yang sama setiap harinya dan membuat gerakan tubuh yang sama setiap harinya pasti melelahkan. Apalagi jika tak ada tantangan baru yang muncul. Namun, layaknya cerita dalam film kungfu selalu paparkan, si murid yang tekun berlatih akan tumbuh jadi petarung yang handal. Tenaganya perlahan bertambah dan ia memiliki daya tahan yang baik. Sebagai catatan, waktu yang dibutuhkan tidak sebentar. Bisa jadi makan waktu sejak si murid masih kanak-kanak hingga akhirnya jadi pemuda. Meskipun itu cerita fiksi di film, tetapi hal yang sama juga akan berlaku di dalam kehidupan nyata. Mengulangi hal kecil yang sama setiap harinya pasti akan memberikan suatu pengaruh dalam diri.

Pengulangan macam itu ditujukan untuk memberikan manfaat. Kejenuhan yang muncul karenanya akan terbayar jika saja mau menyadari kembali sudah sejauh mana diri berkembang. Pasti ada yang berubah. Efek yang dirasakan atas kesabaran macam itu memang tidak muncul dalam waktu singkat. Meski demikian, jika suatu hari bertemu dengan rekan yang melewatkan hal-hal yang kita kerjakan tadi, maka kita akan tahu alasan kita meluangkan kesabaran untuk melakukannya.


Jalanilah dengan sabar.

Rabu, 03 Juli 2013

don't stay naked



"The whole world is putting on masks. You too. Don't stay naked."

-Parashurama-



quoted from The Mahabharata p.111

Selasa, 02 Juli 2013

(ke)sepi(an)


Katanya kita kesepian. Kata siapa? Kata kita sendiri sepertinya.

Sepertinya ini adalah salah satu istilah yang baru aku temukan ketika mulai beranjak dewasa. Jarang sekali kudengar seorang apalagi beberapa bocah yang menyatakan dirinya kesepian. Ketika aku bertumbuh menapaki jenjang usia remaja, saat itulah aku membedakan dengan sadar kondisi yang bernama ‘kesepian’ dari kondisi lainnya.

Meski kerap diduga tidak nyaman, toh kerap pula kesepian itu dicari. Biasanya di hari-hari yang terasa terlalu ramai. Dalihnya keinginan untuk menenangkan diri. Namun, tak jarang pula kesepian dihindari. Kali ini dalihnya, “Siapa yang tahan berdiam sendiri tanpa kawan?”

Bagaimana jika kali ini aku beri kesempatan untuk kesepian menjadi teman bicara? Sering kali kesepian berbicara padaku tentang betapa berartinya teman-teman yang sering mengelilingiku. Kali lainnya kesepian juga menceritakan kisah tentang kebosanan menghadapi orang yang sama, cerita yang sama, tingkah yang sama, pemikiran yang sama, dan banyak hal lain yang sama. Sepertinya ia jujur. Aku percaya ia jujur.

Oh iya, kesepian juga beberapa kali melakukan hal menyebalkan. Ia melagukan kekosongan besar yang selama ini ditutupi dengan cengir lebar demi tampak kuat dan orang lain tak akan bertanya tentang kekosongan tersebut. Kesepian bertanya nyaring, “Mengapa tak berani bermuka sedih?” Jangan-jangan memang berlari dari kekosongan dan berusaha melupakannya. Mungkin disusul doa tak sadar supaya berlari dan melupakan dapat menyelesaikannya. Doa sia-sia.

Buatku kesepian bukan tentang absennya bunyi. Kesepian justru sering kali berteriak lantang, meneriakkan apa yang selama ini mungkin ditolak didengar. Kesepian kadang membuatku merasa seperti robot yang terus bergerak karena program dan bukan karena rasa. Mengerikan. Robotnya yang mengerikan, bukan kesepiannya.

Ternyata kesepian bisa bicara. Coba balas kata-katanya.


untuk Fauzan