Minggu, 17 April 2011

menghanyutkan pagi

Gunung terbit, bukan matahari
Angin menusuk, bukan sejuk
Bunyi klakson, bukan alarm
Renung lalu jenaka, bukan hiruk pikuk
Memilih mengasingkan diri, bukan terusir



Berbarengan dengan lagu Pagi yang Menakjubkan

Selasa, 12 April 2011

I am in dilemma and you are the one who put me into

Okay, how many times has it happened? Times.
I have never even imagined.
I just need to say the truth, but I have not found anyone to be honest to.
I am just trying to enter deeper, or is it you who has entered too deep? You continue to do so, maybe unconsciously and unintentionally at all though.
Sorry for being overconfidence. It was only my blind assumption. And it was too fast, too simple, too banal.
Just flow as you do, I am making myself fit to it.

Oh...one more thing, please no longer hurt yourself and make them worried. Yes, you never tend to. But, we care.

Sabtu, 09 April 2011

Sepotong Cokelat Hari Ini

    Ada seorang gadis kecil yang tengah duduk di sudut memandangi sekelompok orang dalam keramaian. Tak ada hal-hal luar biasa yang membedakannya dengan anak perempuan lainnya. Ia hanya seorang gadis biasa yang senang menghabiskan waktunya berada di tengah keramaian, entah itu sambil berkutat di dalamnya atau pun hanya menonton dari sudut tertentu. Hari itu pun hanya hari yang biasa. Gadis kecil itu tak mengharapkan sesuatu yang berlebihan pada hari itu. Ia hanya duduk di sudutnya bersama beberapa orang di sekitarnya yang sibuk sendiri. Ia tak berkata-kata, hanya sesekali menyimpulkan senyum ketika keramaian yang ditontonnya menampilkan suatu kekonyolan. Apa yang bisa diharapkan seorang gadis kecil biasa di hari yang biasa seperti ini?

    Seorang teman tiba-tiba melintas di depannya. Ia adalah anak laki-laki yang selalu berlimpah makanan dan gemar sekali membagi persediaan makanannya dengan teman-teman bermainnya. Si anak laki-laki ini menyapa sang gadis kecil dan berceletuk ria bahwa ia punya sebungkus cokelat hari ini. Si gadis kecil meninggalkan kebisuannya dan segera melonjak riang. Ia begitu gembira karena si anak laki-laki menawarinya beberapa potong cokelat yang dibawanya. Tanpa berlama-lama mereka berdua berlari menuju tas si anak laki-laki untuk mencicipi cokelat itu. Sebungkus cokelat yang dibawa anak laki-laki itu ternyata berisi beberapa potong kecil. Sang gadis kecil bertanya pada temannya bolehkah ia meminta dua potong dari cokelat itu. Si anak laki-laki memberikannya dengan senang hati. Sang gadis kecil pun tak kalah senang. Ternyata hari yang biasa ini mulai menjadi hari yang ceria buatnya karena dua potong cokelat yang kini digenggamnya.

    Seusai mengucapkan terima kasih, sang gadis kecil kembali ke sudutnya untuk kembali menonton keramaian. Kali ini sambil menikmati cokelat yang ternyata begitu manis dan lezat. Si gadis kecil melahap potongan pertama cokelatnya dengan menaruh perhatian penuh pada keramaian. Ia tak henti menyunggingkan senyum karena keramaian itu begitu lucu baginya dan cokelat yang tengah dinikmatinya sangat membahagiakan hatinya.

    Sang gadis kecil belum beranjak ke potongan kedua cokelatnya meski potongan pertama telah habis. Keramaian itu begitu menarik hatinya sehingga potongan terakhir cokelat itu masih utuh dipegangnya di antara ibu jari dan jemari telunjuknya. Ia melanjutkan menonton keramaian yang makin lama makin konyol itu. Tiba-tiba, sang gadis kecil merasakan sesuatu berusaha meraih tangannya yang tengah memegang cokelat. Si gadis kecil kaget bukan kepalang. Ia segera menolehkan kepalanya ke arah gerakan yang mendekati tangan pemegang cokelatnya itu. Kekagetannya tak usai karena ternyata yang dihadapinya ialah seorang anak laki-laki lainnya yang bahkan belum pernah diajaknya bicara meski mereka telah saling kenal. Anak laki-laki itu meletakkan ibu jari dan jemari telunjuk tangan kanannya di potongan cokelat yang juga tengah dipegang oleh si gadis kecil. Si anak laki-laki itu memasang wajah polos. Sang gadis kecil masih setia dengan mimik kagetnya.

    Setelah dalam waktu sekejap mengatasi kekagetan, sang gadis kecil beranjak bingung. Ia mulai menerka maksud si anak laki-laki di hadapannya itu. Sang gadis kecil menyimpulkan dengan sangat cepat dan mudah bahwa si anak laki-laki ingin meminta sebagian dari potongan cokelat itu. Jemari mereka masih tertaut di potongan cokelat terakhir itu. Sang gadis kecil menunggu si anak laki-laki mematahkan potongan cokelat yang ingin dimintanya itu. Namun, si anak laki-laki tak kunjung melakukannya. Sang gadis kecil makin bingung lalu memandang si anak laki-laki yang mimik wajahnya makin tak tertebak. Mereka saling pandang hanya dalam kurang lebih dua detik.

    Tiba-tiba seorang gadis kecil lainnya yang juga adalah teman mereka mengulurkan potongan cokelat yang juga diberikan padanya oleh pemilik cokelat yang sama. Ia menyerahkan potongan cokelatnya pada si anak laki-laki yang membingungkan itu karena ia sudah kenyang. Si anak laki-laki dengan riang gembira melepaskan jemarinya dari cokelat si gadis kecil lalu menerima potongan cokelat dari gadis kecil lainnya itu. Ia bahkan tak memandang pada si gadis kecil yang ditinggalkannya dalam kebingungan yang berlipat ganda.

    Sang gadis kecil sungguh-sungguh tak paham dengan tingkah anak laki-laki itu. Mereka bahkan tak sempat berucap barang satu kata pun. Sang gadis kecil akhirnya menelan potongan terakhir cokelatnya itu, namun kali ini tidak dalam keadaan bahagia. Ia sungguh-sungguh kebingungan. Sepanjang sisa hari itu, sang gadis kecil terus-menerus memikirkan tingkah anak laki-laki itu. Di ujung hari ia membuat sebuah tebakan bahwa sebenarnya anak laki-laki itu meminta semua potongan cokelatnya yang tersisa. Ia tak memahami maksud anak laki-laki itu karena mereka sama sekali tak berbicara, padahal dengan senang hati sang gadis kecil akan memberikan potongan cokelat itu seluruhnya untuk anak laki-laki itu sebagai tanda pertemanan.
Ternyata satu hari tidak cukup untuk merenungkan dan menemukan jawaban yang memuaskan. Hingga sejumlah waktu sesudahnya bergulir, sang gadis kecil ternyata membuat tebakan lain akan maksud si anak laki-laki. Kini, ia sungguh-sungguh menyesal akan peristiwa hari itu. Ia sangat menyesal tak memberikan semua potongan cokelatnya. Ia menyesali alasan tak jelas si anak laki-laki untuk tidak menyampaikan keinginannya akan cokelat itu. Ia begitu menyesali rangkaian perisitiwa itu usai dalam sebuah kebingungan—bahkan mungkin prasangka—padahal sang gadis kecil bersedia menyerahkan sepotong cokelatnya hari itu. Bahkan ia bersedia menyerahkan berpotong-potong cokelat lagi untuk anak laki-laki itu di hari lainnya.




Memutar lagu-lagu lembut sambil mengenang banyak hal
Rabu gaul, 01.15

(masih) menunggu

Jika hari ini belum mampu,
Aku masih menunggu hari esok
Jika hari esok belum mampu,
Aku masih menunggu lusa
Jika lusa belum mampu,
Aku masih menunggu hari setelah lusa
Jika hari setelah lusa belum mampu,
Aku masih menunggu hari kedua setelah lusa
Katakan saja, aku belum tahu kapan ini akan berakhir
Tapi, jangan pernah tanya aku kapan dimulainya
Aku tidak pernah bisa menjawab
Mungkin tidak akan pernah bisa.




Dan saya semakin butuh teman bicara jujur
Kebingungan makin menjadi-jadi