Rabu, 19 Juni 2013

A Letter to Pooh

Dear Pooh,

for even the most important person in your life, Christopher Robin, always called you "Silly Old Bear", I never seriously consider that you were saying something serious. I only adored you visually. But, ever since I believed that all children stories always bring many meaningful things, I started to believe that you were no more that silly.


These days, I do hope you exist in my real room. You just teach many valuable things in mostly stupid ways. It simplifies many things. You know, being adult is inevitable. Although I consider that my childhood was specially delightful, I consciously decided to grow mature. Yap, the consequence is that the books of adult are not as amusing as the children's.



That is why I love the way you say something just like it's nothing whereas in fact it IS a thing. Sometimes we need to comprehend something complicated, but we are not that patient to face the complicated words. Thank you for simplifying some of them. No, this is not a statement of avoiding complicated thing. I face it sometimes, even I choose so. However, it is pleasing to be able to touch deeper in a lighter way.


Thank you, Pooh.




Regards.

Kamis, 13 Juni 2013

mari bercerita




"Sungguh, bicara denganmu tentang segala hal yang bukan tentang kita selalu bisa membuat semua lebih bersahaja." -Payung Teduh

ketika aku akan mengayuh

akan tiba harinya
ketika aku menemukanmu pulang dalam keadaan lelah, sangat lelah
ketika aku menungguimu sejenak di sisi dipan seraya mengusap keningmu
ketika aku memelukmu sekejap dan mengecupmu singkat
ketika aku akan mengayuh sendiri
ketika aku mencarikan obat penurun panas untukmu
ketika aku akan mengayuh lagi pulang
ketika aku akan menungguimu sepanjang sisa malam

akan tiba harinya
aku akan mengayuh sendiri

ya, aku akan mengayuh sendiri
dengan kakiku sendiri
aku angan mengayuh demimu
untukmu



seraya bersepeda

Rabu, 12 Juni 2013

to be honest (or not to be)

Suatu Selasa sore, saya dan sejumlah teman berbincang. Rasa-rasanya bukanlah topik yang amat berat, akan tetapi jika diresapi lebih jauh kenyataan yang kami temukan tidak hanya demikian. Bukan berat, tapi berisi banyak sekali.

Perbincangan ini kami lakoni tidak dengan hanya duduk dan bercakap-cakap. Kami sempat bermain bersama. Ya, saya menyebutnya bermain. Bagian pertama disebut dengan 'olah tubuh'. Seorang teman bernama Doni Agung Setiawan yang sudah cukup lama bergulat dan bergulung di dunia olah tubuh mencontohkan sejumlah bentuk-bentuk tubuh untuk kami tiru. Hampir semuanya tak bisa kami lakukan dengan sempurna. Bahkan ada yang tak mampu sama sekali.

Di bagian akhir sesi tersebut, Doni Agung Setiawan mengajak kami bercakap-cakap. Dari pembicaraan tersebut, ketidakmampuan melakukan gerakan-gerakan yang ia contohkan ditengarai disebabkan oleh pikiran kami sendiri yang membatasinya. "Duh, nggak bisa," demikian biasanya kami membatin. Gara-gara satu kalimat ini saja, usaha apa pun bisa kandas dan ketidakmampuan itu akan jadi kenyataan. Inilah yang menurut Doni Agung Setiawan harus kami dobrak. Selama logika tubuh bisa menerima gerakan dan bentuk itu, tidak ada istilah 'tidak mungkin dilakukan'. Hal yang dibutuhkan hanya kemauan untuk mencoba. Tentunya perlu disadari bahwa ada resiko menderita cidera. Akan tetapi, demikianlah prosesnya harus berjalan.

Sesi kedua menjadi waktu untuk mengolah hal lainnya. Suara. Sebagian besar sudah biasa kami lakukan sehingga tidak terlalu menyulitkan untuk diikuti. Tantangan selanjutnya yang harus kami kuasai ialah kemampuan mempertahankan stabilitas suara yang (memang) ingin diciptakan meski harus dikombinasikan dengan gerakan-gerakan yang menghalangi produksi suara seperti biasanya.

Hal yang paling berkesan buat saya muncul di sesi ketiga. Kali ini giliran emosi, ekspresi, dan imajinasi yang diolah. Doni Agung Setiawan menyebutkan bahwa ada dua pilihan gaya yang bisa kami gunakan: alami atau palsu. Ia memaksudkan bahwa bentuk-bentuk emosi dan ekspresi dapat dipalsukan atau dibuat-buat tanpa harus lebih jauh mengutak-atik memori pribadi. Namun, metode pertama yang ia gunakan adalah "menemukan kenangan - mengingat-ingat kenangan - mengalami (mengekspresikan) ulang kenangan".

Nah, di sesi ini, meskipun saya juga harus berkonsentrasi pada diri saya sendiri, tak sengaja terlihat bagaimana teman-teman yang lain melakukannya. Doni Agung Setiawan hanya meminta kami menemukan empat jenis kenangan: gembira, sedih, marah, dan takut. Setelah melalui sesi ini, saya jadi mengerti bahwa ada sejumlah teman yang tidak pernah bisa marah atau bahkan tidak pernah mengalami ketakutan yang bisa diekspresikan. Menarik sekali.

Seusai sesi ketiga, Doni Agung Setiawan melontarkan sebuah frasa yang membuat saya menahan cengiran lebar menjadi hanya senyum simpul. Setelah saya rekonstruksi sendiri, begini kira-kira katanya, "Tujuannya adalah to be honest." Rasa-rasanya saya ingin tertawa terbahak-bahak. Menertawakan diri sendiri tentunya. Ya, to be honest or not to be, that is the question. :) Ya, emosi dan ekspresi bisa kita palsukan atau lebih-lebihkan (semacam yang lazim terjadi di sinetron), namun pertanyaannya adalah 'bagaimana jika kamu harus melakukannya dengan jujur?'

Saya rasa tulisan ini sampai di situ saja.

To be honest or not to be, that is the question.
Bagaimana jika kamu harus melakukannya dengan jujur?


hari kesebelas di bulan juni yang ke-dua ribu tiga belas

Jumat, 07 Juni 2013

"I don't want to be someone who walks away so easily, I'm here to make the difference that I can make"

Ever since I heard this song, I've been loving it. I directly listened to the lyrics, then I adored it more. It's just so honest. These few days, every thing that happened make me deeply wanting to sing it out to you.




When I look into your eyes, it's like watching the night sky or a beautiful sunrise
Well, there's so much they hold
and just like them old stars, I see that you've come so far to be right where you are
How old is your soul?

I won't give up on us even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up

And when you're needing your space to do some navigating
I'll be here patiently waiting to see what you find
'Cause even the stars they burn
Some even fall to the earth
We've got a lot to learn
God knows we're worth it
No, I won't give up

I don't want to be someone who walks away so easily, I'm here to make the difference that I can make
Our differences, they do a lot to teach us how to use the tools and gifts we got
Yeah, we got a lot at stake
And in the end you're still my friend, at least we did intend for us to work
We didn't break, we didn't burn
We had to learn how to bend without the world caving in
I had to learn what I've got, and what I'm not, and who I am

I won't give up on us even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up
Well, I won't give up on us
God knows I'm tough enough
We've got a lot to learn
God knows we're worth it

I won't give up on us even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up


Please do not give up on me. We know we worth it.


it keeps repeating in my mind

Rabu, 05 Juni 2013

to My Son the Fanatic

Kita pernah punya cerita yang mudah-mudahan tak akan lekang dimakan usia. Tentang pertemanan yang sungguh seperti kepompong karena hal yang tak mudah berubah jadi indah.



 

Ceritanya kita awali dengan sebuah perubahan. Bibir kita yang biasanya hanya untuk mengumpat dan mengejek satu sama lain, kali ini harus melafalkan kata-kata berbahasa lain yang kadang masih kita tebak-tebak pula artinya. Tak cuma itu, mimik wajah yang kita akrabi setiap hari berkutat seputar tawa dan kejahilan kali ini harus beralih jadi macam-macam rupa.




Kita bermain-main dengan waktu. Selalu begitu. Kita punya sekian hari untuk dihabiskan dengan usaha-usaha menuju tanggal mainnya. Rasa-rasanya hari-hari itu tidak beranjak ke mana-mana sebab kita tak sabar menanti ujung ceritanya. Namun, sesekali si waktu semacam sosok sialan yang tiba-tiba berlari entah ke mana sehingga tertinggallah kita dalam tumpukan pekerjaan yang juga sama tak sabar menanti diselesaikan.






 



“… but one time it would come because the earth moved round always.” Itu kata James Joyce melalui benak Dedalus. Ya, dan tibalah saatnya berdiri di panggung sandiwara.




Terus kita berbicara untuk mengusahakan yang lebih baik. Kadang tak sengaja memojokkan, menuding, berprasangka, bergosip. Maka, pemahamanlah yang selalu mengantar kita pada kenyataan bahwa kita saling membutuhkan dan sedang menjalani cerita yang sama.




Meski demikian, masih terus terulang kebodohan-kebodohan kecil. Semuanya untuk kita tertawakan bersama di kala senggang.




Artifisial. Tentu semua rekayasa kita. Wajah, suara, pakaian, cahaya, semuanya artifisial. Tapi, cinta yang kita beri untuk semua ini adalah satu-satunya hal yang tidak artifisial.




Purna sudah satu cerita kita.




Ada lelah dan sedih yang turut terbawa pulang, namun syukur tulus untuk semua cerita sederhana ini mudah-mudahan tetap bertumbuh di hati. Tumbuh layaknya kuntum manis dari kekasih hati…




dan semua hal tak mudah telah kita ubah jadi indah
geng bunga matahari rocks!