Selasa, 14 Agustus 2012

ceritanya bercerita


Memang benar, tak pernah ada cerita yang pasti dalam hidup. Kadang-kadang, memang kita ingin mencoba beberapa cara untuk mengetahui sekedar sepotong cerita tentang masa depan kita. Namun, kadang lainnya aku merasa heran dengan keinginan semacam itu. Tidakkah kita ingin menikmati debaran jantung yang menyongsong sebuah cerita yang tak pernah pasti itu? Apa yang membuat permainan dadu seru? Ketidakpastian akan angka yang akan bergulir dari dadunya dan ketidakkuasaan kita untuk menentukannya.

Pelan-pelan, aku melihat bahwa hal-hal yang terjadi dalam hidupku adalah sebuah sarang laba-laba besar. Layaknya sarang laba-laba pada umumnya, benang-benang itu tidak putus, melainkan terbentang dalam satu helai panjang, tentu saja karena dipintal dari satu sumber yang sama. Bentuknya—entah apa pun itu—selalu memungkinkan terciptanya jalan pintas untuk mendatangi beribu titik yang pernah dilewati si pemintal dengan sangat mudah tanpa harus meniti kembali sepanjang benang yang telah terpintal. Hanya ada satu kata: canggih. Tambah satu lagi boleh deh, indah.

Intinya (maaf kalau ternyata tidak nyambung dengan analoginya), tidak pernah ada kebetulan. Sama sekali tidak pernah ada. Semuanya yang kujalani sekarang adalah konsekuensi dari hal-hal yang terjadi di masa laluku, sehingga itu nantinya juga akan menimbulkan konsekuensi lainnya yang juga sangat relevan di masa yang akan datang. Yak, itu teori yang kuyakini sebagai sebuah penjelasan akan ketiadaan kebetulan itu. Meski begitu, kalimat itu tadi semacamnya perlahan menjadi bukan lagi teori. Kenyataannya, itu masuk akal juga. Jika dirunut dengan cermat, aku bisa senyum-senyum sendiri atau bahkan terbahak ketika menyadari bahwa ini dan itu ternyata berhubungan erat. Bahwa aku sering sekali dikerjai kenyataan. Dan aku sering kali senang dikerjai kenyataan.

Dulu pernah rilis sebuah film yang mengusung dua kalimat yang jadi populer, yakni God is an architecht dan God is a director. Pernah ada yang menanyaiku, “Kamu lebih setuju sama kalimat yang mana?” Seingatku, aku menjawab, “God is an architecht.” Jika menelusuri kemungkinan alasannya, aku pikir hobiku menonton acara flora dan fauna di televisilah yang menyebabkan jawaban itu meluncur keluar dari mulutku. Setelah beberapa tahun pindah tinggal dan hidup tanpa televisi dan acara flora fauna, jawabanku ternyata berubah. God is still an architecht. A multi-talented one. He even could direct many wonderful whole-life-time plays. Jawaban ini muncul bukan karena sekarang aku kenal lebih banyak orang yang menekuni dunia teater. Tapi, karena aku telah direkrut jadi pemain teater zaman (ini istilahnya mbak Dewi Lestari) sejak 20 tahun yang lalu dan aku baru sadar beberapa tahun belakangan.

Bedanya Sutradara yang satu ini dengan lumrahnya sutradara ialah mekanisme pentasnya. Di teater kebanyakan, proses yang harus dilalui aktor menuju pentas selalu meliputi berbagai macam kegiatan persiapan di luar panggung. Kalau di teater yang sedang kulakoni ini, segala macam prosedur proses dilakukan di atas panggung. Ckckck… bisa-bisanya. Perbedaan paling mencolok sekaligus menohok dari keduanya ialah yang satu ini, perhatikan : di teater pada umumnya, aktor mengetahui, memahami, dan hafal isi naskah, sementara di teater yang tak lazim ini naskahnya rahasia. RAHASIA.  Bukan main, Dia mau buat pentas macam apa coba? Bisa bayangkan nasib aktor-aktornya? Tidak perlu dibayangkan, dirasakan saja sendiri. Pasti mengerti.

Kadang-kadang, aku protes pada jalan cerita yang tidak sesuai dengan idealku tentang sebuah cerita. Tapi, menurut seorang temanku yang menekuni teater, “Aktor adalah tanah liat dan sutradara adalah senimannya. Jadi, biarkan seniman itu yang membentuk tanah liatnya menjadi bentuk apa pun.” Tapi (lagi), ternyata Sutradaraku ini tetap tidak terima pakai jalan lumrah seperti kata temanku itu tadi. Meskipun naskah besarnya dirahasiakan, Dia memberi kesempatan pada aktornya untuk menentukan jalan cerita bersama. Dia memang membingungkan.

Jika jalan ceritanya sedang menyenangkan, aku memainkan peranku sebaik-baiknya. Sungguh. Jika jalan ceritanya ruwet, aku bisa kebingungan sendiri mau beraksi apa supaya pentas ini tetap menarik untuk ditonton. Jika jalan ceritanya bundet, tragis, miris, lalu di ujung berubah jadi tenang dan membuatku tidak bisa menahan senyum, aku tinggal bilang, “Sialan, aku dikerjai lagi.” Bersamaan dengan itu biasanya aku membayangkan Sutradaraku itu cengengesan puas.

Itu sedikit cerita tentang pekerjaanku saat ini setelah aku direkrut dengan semena-mena sekaligus penuh cinta untuk jadi aktor teater zaman. Naskah yang kumainkan memang selalu rahasia dan aku berharap akan tetap selalu begitu. Hitung-hitung, lebih seru. Singkat kata, aku mau pamit dulu, sudah waktunya melanjutkan pentas.

Sut (panggilannya si Sutradara), berhubung Kamu sutradara, ada kalimat keren nih, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu (lagi-lagi tidak nyambung). Ayo main lagi!


badai sejuk 11,12,13 Agustus 2012
masih dalam rangka mencari maksud 3 hari dikerjai