Minggu, 25 November 2012

celetukan#2

Tidak semua kelompok orang dapat menjadikan kelompok mereka rumah di mana setiap pribadi dihargai sama pentingnya, dipelihara dengan kasih yang sama, dan berbahagia karena menjalani pekerjaannya seperti layaknya mengurus rumah sendiri. Namun, ketika 'rumah' itu dapat tercipta, saat itulah segala hal terasa sangat menyenangkan, bahkan pekerjaan berat pun diusahakan dengan sepenuh hati dan ikhlas. :)

kucing


Ada lima ekor kucing yang bersejarah dalam hidupku. Tak cuma bersejarah sih, melainkan juga meninggalkan kesan paling dalam. Di antara begitu banyak kucing yang hilir mudik seumur hidupku, sejauh ini hanya lima ekor itulah yang sungguh membekas di hati. Aku ingin bercerita tentang mereka. Akan tetapi, maaf sebelumnya bahwa aku ialah penyuka dan pemilik kucing yang tak pernah memusingkan nama panggilan untuk mereka. Untuk menyederhanakan banyak hal, aku selalu memanggil mereka dengan nama warna rambut di tubuhnya, atau yang kemudian akan kita sepakati disebut bulu supaya lebih akrab di telinga.

Kucing pertama ialah si Kuning. Ya tak lain tak bukan bulunya berwarna kuning. Ekornya pendek dan membulat. Kucing ini agak bodoh sebenarnya. Suatu hari ketika hujan deras, ia terjebak di dalam rumah. Entah mengapa, ia takut lalu berusaha mencari jalan keluar dari rumah. Aku mengejarnya kesana kemari untuk dapat menggendongnya, tapi ia terus berlari menghindar. Hingga akhirnya ia berlari menuju pintu depan yang tertutup. Di sebelah pintu terdapat jendela kaca yang besar sekali. Menyadari bahwa ia sudah terpojok (karena aku berada persis di belakangnya), si Kuning memutuskan untuk mencoba peruntungan dengan jendela kaca. Ia melompat menghantam kaca itu. Aku kaget bukan kepalang. Aku tahu persis ia adalah seekor kucing yang paham bahwa kaca macam itu tak dapat ditembus tanpa terluka. Masih jadi misteri bagiku alasan ia tetap mencoba menerobos jendela kaca rumah.

Kucing bersejarah kedua ialah si Hitam. Beruntung sekali aku pernah memelihara seekor kucing hitam mutlak yang sangat cantik dan menyenangkan. Ia seekor betina dan induk yang sangat subur. Entah sudah berapa kali ia beranak. Sedihnya, tak satu pun dari anaknya dapat bertahan di rumahku. Nasibnya selalu kandas sebelum mereka tumbuh besar. Sekalinya ada seekor yang dapat bertahan, aku harus menghadapi kenyataan bahwa orang tuaku tak suka kenakalan anak kucing itu. Meski sudah remaja, aku diam-diam menangis di kamar mandi ketika mengetahui bahwa si anak kucing telah dipindahkan alias dibuang oleh bapakku. Si Hitam adalah yang paling manis di antara lima kucing bersejarah itu. Ia adalah sosok ibu panutan dan teladanku nomor dua setelah ibuku. Tak bohong, ia melakukan tugas yang sama dengan yang dilakukan ibuku tiap pagi. Membangunkanku untuk sekolah. Jika aku kesiangan sedikit saja, ia akan masuk ke kamarku dengan yakin dan mengeong yakin pula supaya aku bangun. Suatu kali, abangku pernah memangkunya di teras rumah malam hari. Tangan abangku digigit nyamuk. Karena gatal, ia menggaruk bekas gigitan itu. Ternyata eh ternyata, si Hitam tiba-tiba menjilati bekas gigitan itu dengan lidahnya yang bergranula (mempunyai bulatan-bulatan timbul) supaya rasa gatalnya hilang. Astaga, rasanya aku kangen sekali dan ingin mengecup si Hitam.

Kucing ketiga ialah seekor anak kucing yang kutemukan di dekat sekolah dan kuasumsikan telah kehilangan induknya. Awalnya aku hanya berniat mengelus-elus si anak kucing ini, namun ternyata mbak Memes benar, aku terlanjur sayang. Aku melawan benakku yang mengkhawatirkan jika saja induknya akan kebingungan mencari nanti. Kuboyong ia ke rumah dan berdalih bahwa ia datang sendiri supaya aku tak dimarahi orang tuaku. Beberapa hari sempat kuajari dia melompati selokan kecil dan memanjat anak tangga yang rendah. Senang sekali melihatnya punya progres dalam melakukan hal-hal itu. Namun, sayang seribu sayang, suatu siang sepulang sekolah, aku dikabari bahwa ia sudah dikubur di belakang rumah karena tadi pagi terlindas kendaraan entah apa di dekat rumah. Habis sudah riwayat anak kucing manis yang bahkan belum sempat kuberi nama itu.

Cerita pindah ke kucing keempat. Mungkin ada baiknya aku menjelaskan sebuah fakta menarik tentang riwayat pemeliharaan kucingku. Selama di rumah, kucing yang datang silih berganti selalu berwarna kuning dan hitam. Ya ampun. Entah bagaimana itu bisa terjadi, tapi tiap kali ada kucing yang bertahan untuk dipelihara pastilah warnanya kuning atau hitam. Maka, kucing keempat ialah si Kuning (lagi). Ialah yang bertahan paling lama di antara yang lain. Seekor jantan yang persis tokoh kartun kucing Garfield. Kuning, gendut, berekor pendek, malas, dan senang dimanja. Hal yang menarik dari kucing yang satu ini ialah ia mengerti kapan harus pulang ke rumah dan kapan tidak. Suatu kali, ia pernah pulang dalam keadaan berwarna abu-abu. Isi rumahku kaget bukan kepalang, bagaimana bisa hewan ini berubah warna. Setahu kami ia adalah kucing dan bukan bunglon. Yakin kok, bukan bunglon. Tapi, sungguh, ia pulang dan jadi abu-abu. Lalu ditemukanlah alasannya, si Kuning baru saja berguling-guling di abu bekas pembakaran sampah. Ibuku marah dan tidak mengijinkan si Kuning masuk rumah. (Mungkin) Ia sedih, lalu berjalan meninggalkan rumah. Selama seminggu ia tidak kembali. Aku sudah sempat kesal pada ibuku, gara-gara dimarahi, si Kuning jadi tak mau pulang. Baru saja aku mulai belajar mengikhlaskan kemungkinan si Kuning tidak kembali, ternyata ia pulang. Sudah berwarna kuning lagi. Seisi rumah menyambutnya dengan gembira. Kucing yang hilang telah pulang. Demikian seterusnya, jika ia sedang dalam keadaan sangat kotor atau sakit, ia tidak akan ada di rumahku. Nanti setelah ia bersih atau sembuh, ia akan kembali bergulung di rumah. Menyenangkan sekali.

Nah, sekarang kucing kelima. Ia sudah sempat kusebutkan di cerita sebelumnya. Ialah anak si Hitam yang sempat bertahan namun, akhirnya dipindahkan oleh bapakku. Dia istimewa sebab namanya bukan berdasarkan warna bulunya. Ia bernama Epan, singkatan dari Ekor Panjang. Ceritanya, ketika si Hitam beranak lima,  tiga di antaranya mati. Dua yang bertahan berwarna hitam dengan beberapa bercak putih di daerah perut dan kaki. Karena mereka mirip, cara membedakannya adalah dengan mengenali ukuran ekornya. Yang berekor panjang bernama Epan dan yang berekor pendek bernama Epen. Pada awalnya, Epen lahir dan bertahan dengan sehat walafiat. Si Epan malah sempat kritis dan hampir tidak bisa bertahan setelah dilahirkan. Lucunya, ketika mereka lahir, ibuku sudah cerewet mewanti-wanti supaya setelah mereka bisa berjalan aku harus memindahkan mereka dari rumah. Aku pura-pura tidak dengar. Akan tetapi, ternyata si Epen malah jatuh sakit. Ketika si Epan mulai bisa melompati selokan kecil, si Epen selalu terlihat tak bersemangat dan tidak menemani si Epan bermain. Ia sampai berhenti menyusu pada induknya. Suatu hari ketika si Epen benar-benar tidak sanggup berdiri lama, ibuku tiba-tiba menyuruhku membuatkan susu putih hangat. Ternyata…dengan sendok kecil ibuku menyuapkan susu itu ke mulut si Epen. Katanya biar ia bisa bertenaga lagi. Aku terharu sih, tapi agak lucu juga jika mengingat ibuku selalu menyuruhku membuang mereka. Sayangnya, Epen tak bisa bertahan. Maka, tinggal si Epanlah yang menjadi anak kucing tunggal yang sangat menyenangkan. Tapi, memang iya, ia agak nakal, suka buang kotoran di sembarang tempat di rumah.

Beberapa minggu tutup kuping atas perintah memindahkannya, ibuku sudah tak tahan. Suatu hari, aku menitipkan pada bapakku seberkas tulisan untuk dikirimkan ke sebuah kompetisi. Siangnya, sepulang aku dari sekolah, bapak dan ibuku belum ada yang sampai di rumah. Adikku membocorkan rahasia yang juga pasti menyakitkan hatinya (itulah sebabnya ia melaporkannya padaku). Si Epan juga turut diboyong ke kantor pos oleh bapakku. Terjawablah sudah mengapa si Epan tak menyambutku pulang di depan rumah seperti biasanya. Aku diam saja. Sore harinya, bapak dan ibuku minum teh di rumah. Tanpa rasa bersalah, ibuku bertanya, “Si Epan mana? Tumben nggak pecicilan.” Aku diam saja, pokoknya aku mogok bicara tentang Epan. Aku kesal sekali dibohongi seperti itu, jadi aku beranjak mandi dan menangis lama sebelum akhirnya aku mandi sungguhan. Sesudah makan malam barulah bapakku mengaku dengan intonasi bicara yang sangat lembut. “Tenang saja, tadi sepertinya si Epan melangkah menuju rumah makan. Dia pasti nggak akan kelaparan.” Bapakku memang suka bercanda tapi, kali ini tidak terasa lucu sama sekali. Aku masih mangkel. Namun, setelah beberapa hari aku tidak ngambek lagi. Kuikhlaskan si Epan dan tetap menyayang si Hitam seraya berharap suatu hari ia akan beranak lagi.

Selain lima kucing bersejarah di atas, pernah ada si Mbah, si Mbah Buyut, si Belang, Maesaroh, dan banyak kucing lainnya yang tak bernama. Memang banyak yang bilang kucing itu hewan yang menyebalkan dan suka mencuri tapi, buatku kucing punya satu hal menyenangkan. Kucing tak menolak disayang. Aku sangat menikmati melihat kucing memejamkan matanya dan menggosok-gosokkan bagian tubuhnya ketika aku mengelus bagian atas dan bawah kepalanya, atau perutnya. Itulah intinya, kucing tak menolak disayang.  

Kamis, 15 November 2012

menjancukkan

suatu hari, saya disangoni sebuah papan tulis kecil dan berhasil menemukan spidol. Lantas, semuanya jadi begitu menyenangkan karena setelah berhasil berfoto dengan satu orang sambil memegangi papan yang sudah saya tulisi dengan kata-kata menyenangkan itu, semua orang lainnya malah berebut minta foto bersama papan saya yang menyenangkan tersebut. :)







and here I am... the jancukizer! :D

celetukan#1

Mungkin di masa yang akan datang, aku tidak butuh punya televisi lagi (jika program televisi masih seperti sekarang ini). Satu-satunya pertimbangan untuk masih ingin punya televisi mungkin hanya program berita supaya tahu apa yang sedang terjadi di seluruh penjuru dunia. Setelah itu, yang biasanya dicari adalah program humor untuk memberi kesempatan tertawa. Nah, untuk yang satu inilah aku merasa tak lagi butuh televisi. Jika bisa menertawakan hidup, maka tak butuh kan menonton hal semacam itu? Hahahaha....

Minggu, 04 November 2012

si Yusuf


Santo Yusuf yang menjaga keluarga Nazaret
kau menjaga Bunda Kudus juga Yesus Penebus
sudilah doakan kami pada Yesus anakmu
dan lindungilah selalu kami sekeluarga


Lagu di atas adalah satu dari sedikit lagu yang mengisahkan seorang tokoh dalam kisah penyelamatan umat Kristen, Yusuf (kadang-kadang juga disebut Yosef). Semua versi kisah kelahiran Yesus selalu menyebutkan bahwa laki-laki ini ialah tunangan dari seorang gadis bernama Maria yang kala itu kena jackpot untuk menjadi ibu yang dikenal oleh manusia di seluruh dunia. Ibu luar biasa.

Nah, uniknya adalah kita mengerti faktanya bahwa ada tiga orang yang terlibat langsung dalam kisah kelahiran Yesus itu: Yesus, ibu-Nya, dan bapak-Nya. Tapi, tidak dipungkiri bahwa dua orang di antara mereka jauh lebih populer ketimbang satu sisanya. Siapa lagi kalau bukan si Yusuf yang harus berdiri di balik layar dan tak terlalu banyak menikmati namanya disebut-sebut dalam doa umat Kristiani di masa-masa sesudah ia hidup. Hebatnya lagi, namanya berhenti disebut dalam kitab suci setelah Yesus memulai perjalanannya mengajar banyak orang. Nasib si Yusuf tak diketahui lagi setelahnya. Meninggalkah ia? Ataukah ia meninggalkan Keluarga Kudus?

Dulu, pertanyaan-pertanyaan semacam itu sempat mampir di pikiran saya. Jika diingat-ingat, saya pernah menanyakannya pada ibu saya, tapi saya lupa apakah ia mampu menjawabnya. Si Yusuf memang sering terlupakan juga oleh saya, namun ketika pertama kali saya diajari menyanyikan lagu di atas oleh guru saya ketika kelas 5 SD, saya sungguh terkesan. Oh…begini citranya, itu yang melintas di kepala saya waktu itu. Sebelumnya, saya tak pernah tahu manusia macam apa si Yusuf ini. Cukup mengetahui bahwa ia adalah suaminya Maria dan bapaknya Yesus, saya tak pernah mencari tahu apakah Yusuf ini introvert, atau ceria, atau pemalas, atau pelupa, atau baik hatinya.

Beberapa waktu belakangan ini, si Yusuf kembali menyambangi pikiran saya. Setelah saya pikir-pikir, saya renung-renung, saya tebak-tebak…saya menemukan sebuah frase untuk mendeskripsikan si Yusuf : menggetarkan hati. Entah bagaimana saya bisa tiba pada temuan semacam itu. Saya hanya mencoba membayangkan perasaan hati si Yusuf ketika ia memulai karirnya dalam kisah penyelamatan umat manusia.

Hidup sebagai seorang laki-laki biasa yang bekerja sebagai tukang kayu dan sudah bertunangan dengan gadis sederhana pula, hidup seharusnya tetap baik-baik saja untuknya. Akan tetapi, ketika malaikat Gabriel mendatangi gadis tunangannya, bubarlah semua impian untuk hidup tenang. Tiba-tiba ia harus menghadapi bahwa gadisnya itu telah hamil duluan. Maria, diceritakan dalam kitab suci, menerima itu semua dengan kalimat sakti ikon kepasrahannya, “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Tapi, tak pernah ada yang menceritakan bagaimana Yusuf menerima hal yang sama. Mungkin, Yusuf harus menghilangkan prasangka bahwa Maria jangan-jangan telah lebih dulu berhubungan dengan laki-laki lain dan memaksa logikanya menerima penjelasan tentang bayi dalam kandungan tunangannya itu ialah anak dari Roh Kudus.

Tak seperti kisah cinta lainnya, ungkapan cinta si Yusuf jarang sekali didramatisir. Satu-satunya bukti cintanya yang terlihat dramatis ialah ketika ia mengantarkan Maria mengelilingi banyak penginapan, mencoba mencari tempat untuk bersalin. Tak berhasil ternyata. Akhirnya kandang ternak pun dibuat layak untuk menjadi calon tempat ziarah umat beriman di kemudian hari. Sebelum dan setelah peristiwa itu, si Yusuf sebenarnya telah melakukan banyak hal heroik lainnya. Bolak-balik ia didatangi malaikat dalam mimpi. Ia diperingatkan dan diperintahkan untuk membawa Maria dan Yesus (baik ketika dalam kandungan maupun ketika sudah lahir) pindah ke berbagai tempat.

Dari sedikit sekali sumber kisah tersebut, saya mendapati bahwa si Yusuf ini ialah seorang—tak ada kata lain—bapak. Mungkin ia tak pernah memperkirakan bahwa istri dan anaknya itu suatu hari nanti akan dibuat replikanya dan berdiri di gedung gereja seluruh dunia. Dengan semua kesederhanaan yang ia punya, si Yusuf menjalankan segala tanggung jawabnya sebagai bapak. Ia (mungkin) tak mempersoalkan seberapa terkenalnya ia di kalangan orang-orang yang memuja dan menghujat anak laki-lakinya. Tak kalah dari Maria, Yusuf ialah juga seorang yang patut diteladani keikhlasan hatinya.

Mungkin karena si Yusuf ini tak pernah diceritakan sedang mengatakan kalimat apa pun, saya membayangkan ia adalah seorang yang pendiam. Ia bicara lewat keheningannya, lewat tindakannya. Hebatnya, hal yang ia katakan ialah cinta yang teramat besar dan mampu ia sederhanakan tidak dalam kata. Memang keren si Yusuf ini. Maka, saya merasa makin tepatlah frase yang saya sandangkan untuknya: menggetarkan hati.