Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Berhala

The Name of the Rose[i]. Saya menjemput buku ini dari rak perpustakaan kampus di kala sedang tidak jenak belajar. Sembarang saja saya tarik, karena melirik nama Nin Bakdi Soemanto sebagai penerjemahnya. Ternyata, keisengan ini mengirim saya ke sebuah perjalanan membaca yang campur aduk rasanya: hanyut, bingung, ngeri, panik, tergelitik, tertohok, patah hati, tegang, malu, sedih, dan seterusnya. Tapi, di catatan ini saya ingin membagikan dua hal yang membekas benar dari perjalanan itu.
Saya akan mengawalinya dengan catatan pertama. Demikian kira-kira. Novel The Name of the Rose ditulis oleh Umberto Eco, diterbitkan pertama kali pada tahun 1980. Ketika membacanya di tahun 2018—38 tahun setelahnya—saya sering senyum-senyum karena mendapati banyak percakapan di dalam novel ini memberi tawaran cara membaca realitas yang kini saya—dan saya yakin Anda juga, setidaknya dalam beberapa aspek—hidupi.
“Menurutku, banyak dari orang bidah ini, lepas dari dok[t]rin yang mereka pakai, memperoleh sukses…

Postingan Terbaru

Potret Diri: Sebuah Perjalanan Mencari

Ulang Tahun Si Emak

Sheila on 7, Kenangan, Mimpi, dan Kenyataan (Apaan Sih?)

24

Gendot

PMS, Dilan, dan Rindu

"Doing Good to the World"

Adek

Di Berandanya Gigih

Pengantar Minum Racun