Sabtu, 11 Desember 2010

hilang


Ya, menumpuk
makin lama makin mendesak
memanggulnya tanpa disadari
sudah berapa lama hilangnya?
ini tumpukannya buatmu

bait pertama buat tulisan "mas" dalam pesan singkat
buat kamar sesak hangat yang pernah menginapkanku
buat jaket pinjaman setahun lebih yang juga sekaligus sebuah doa
buat jalan-jalan pertama tengah malam mengitari jogja
buat adu mulut keras kepala di atas motor
buat hujan yang ditembus dalam demam
buat bangsal berhari-hari
buat semua kebodohanmu-kebodohanku

bait kedua buat kenangan masa kecil yang tak disadari
buat pohon mangga rajin berbuahmu
buat kamar lembab dan gelap
buat hinaan dan tertawaan
buat daun sirih di belakang rumah yang kamu minta tiap sore
buat tulisan pada embun di kaca angkot
buat pohon palem yang menyaksikanku menangis di hadapanmu
buat nama yang tercantum dalam presensi tapi tidak pernah ada
buat makan siang terakhir bersama
buat semua kebodohanmu-kebodohanku

bait ketiga buat pesanan lagu-lagu tua
buat malam-malam yang habis dengan telinga di radio
buat panggung dan desakan penonton
buat suara manis khas bervibra
buat gambar dinosaurus-tirex, ular kobra, dan semut
buat semua kebodohanmu-kebodohanku

bait berikutnya buat…buat…
bahkan sudah hilang semua ingatanku akan apa yang hilang
bagaimana mengobatinya kini?


ketika semua yang hilang berebut tempat di otak

Selasa, 07 Desember 2010

semua tentang cintanya, tentang cintaku


She’s not a superwoman. She’s not a wonderwoman. She’s not Mother Mary. Maybe she’s nobody to you. But, she’s the mother of mine.

                Sudah habis kata-kataku untuk membanggakan dia yang begitu kucintai itu. Bahkan sulit bagiku merangkaikan kata dalam tulisan ini. Dia satu-satunya bagiku, perempuan menakjubkan yang membuatku tak habis-habisnya mendaraskan syukur pada Sang Arsitek Hidup atas kenyataan bahwa aku dilahirkan dari rahimnya. Pada akhirnya tulisan ini hanya sekedar kata-kata yang tak sanggup mencapai bagaimana besar dan berartinya dia untukku, hanya tiba pada batas memuaskan hasratku untuk berbagi tentangnya. 

                Sudah hampir 19 tahun aku tumbuh di antara tumpukan cintanya. Banyak orang yang menyaksikan aku tumbuh dewasa menyatakan bahwa aku adalah “fotokopi” dirinya. Persis. (terdiam lama sekali, bingung mau menulis apa) Semakin banyak hari berlalu, aku makin sadar bahwa memang benar aku mirip sekali dengannya. Setiap kali komentar semacam itu dilontarkan, aku biasanya tertawa ringan membenarkan. Aku mau bicara tentang begitu banyak hal yang membuat dia menakjubkan di mataku. Sudah satu setengah tahun aku meninggalkannya demi niat mengejar ilmu. Awalnya memang tak pernah terbayang tentang waktu ketika aku harus lepas darinya. Ketika tiba harinya, aku menangis sejadi-jadinya. Aku tak membiarkan dia tahu tentang hal ini. Aku terlalu gengsi untuk mengakuinya. Bahkan sempat kudengar gurauannya dengan seorang ibu lain yang menanyakan bagaimana aku melalui saat-saat perpisahan dengannya. “Wah, saya malah dibiarin pulang sendiri kemarin. Nggak dianter,” begitu ujarnya sambil tertawa. Aku pun hanya tersenyum seraya tertawa malu dalam hati. Hingga saat ini, aku masih kerap mendengar suaranya yang bergetar ketika menciumku tiap kali aku pamit akan kembali ke kota tempat aku kuliah kini.

                Hal menakjubkan lainnya adalah kisah cintanya dalam dua bulan terakhir yang dihabiskannya bersama suami tercinta. Apa lagi namanya kalau bukan cinta yang membuatnya menyimpan begitu banyak perkara selama dua bulan itu sendirian demi tidak memberatkan beban keluarga? Semua adalah cinta ketika aku bicara tentang pekerjaan dan rumah yang ditinggalkannya dua bulan penuh. Tentang malam-malam yang dihabiskannya, berjaga di bilik rumah sakit dingin itu sambil berdaras doa. Tentang ketabahan hatinya yang memungkinkannya tidak menunjukkan kekhawatirannya. Tentang kemungkinan-kemungkinan terburuk yang dimengertinya namun tidak dibagi dengan anak-anaknya hanya demi menjaga kami tetap tenang. Tentang kepercayaannya bahwa dia akan sanggup bertahan melewati hari-hari itu. Tentang kesabaran dan kelapangan hatinya menghadapi perbedaan pendapat dengan orang-orang di sekitarnya. Tentang ketekunannya menumbuhkan keikhlasan dan kepercayaan pada pasangan hidupnya bahwa semua akan baik-baik saja. Tentang tiap butir air matanya yang entah kapan atau berapa banyak telah jatuh dan aku tidak tahu. Semuanya adalah tentang cintanya. Pada akhirnya belahan hatinya itu telah berjuang begitu keras, akan tetapi hidup punya caranya sendiri. Cintanya yang begitu besar telah membuatnya ikhlas dan berhasil meyakinkan kami untuk ikhlas pula. Bagian besar itu telah pulang untuk beristirahat.

                Hari-hari selanjutnya bukan waktu yang mudah. Masih kutemukan dengan tidak sengaja dia terisak karena terdesak rasa rindunya. Banyaknya kenangan yang tertinggal di rumah itu seakan meneriakkan padanya bahwa ada sesuatu yang hilang; sesuatu yang sangat berarti. Sesuatu yang dahulu ia perjuangkan dengan peluh dan air mata. Sesuatu yang berjalan bersamanya membangun keluarga ini. Sesuatu yang seumur hidupnya –apa pun yang terjadi– tak pernah dia sesali. Pedih sekali menyaksikan butir-butir air matanya mengalir di tengah semua kelelahan dan kerinduannya. Tapi, di waktu yang sama sekaligus aku mengaguminya. Aku selalu percaya dia akan melalui semuanya dengan kuat. Dia telah membuktikannya selama ini. Dia memulihkan dirinya. Berangsur-angsur keadaan dan suasana membaik. Dia bisa tersenyum lagi. Dia berdiri tegak dan mengangkat kepalanya menghadapi kehidupan.

                Hal yang paling kusyukuri dari menjadi anaknya adalah kemampuannya membuatku merasa bertumbuh dewasa di matanya. Dia memberiku begitu banyak kepercayaan yang tak semua anak lain dapatkan. Dia percaya padaku. Dia mempercayakan banyak hal padaku, terutama setelah kepergian pendamping hidupnya yang biasanya menjadi teman bercerita. Kegelisahannya, kebingungannya, kerinduannya, keletihannya, tak luput pula kebanggaannya, rasa syukurnya, kebahagiannya ditumpahkan padaku. Ya, sudah waktunya aku melepaskan kekanak-kanakan dan kemanjaanku padanya. Dia membutuhkanku untuk menjadi gadisnya yang tumbuh dewasa, yang dicarinya ketika hidup sudah mulai tidak ramah lagi padanya. Begitu pula dengan bujang-bujangnya yang bersamaku sedang belajar memahami tanggung jawab dan melanjutkan keluarga ini.

                Dia betul-betul percaya pada kami semua. “Orang lain –bahkan saudara– ya hanya bisa mendukung, yang benar-benar mengerti dan menjalaninya ya kita (keluarga kami) sendiri,” suaranya di telepon beberapa hari lalu. Maka, kami akan berjalan bersama melalui semuanya.

                Perempuan yang sederhana itu terus mencurahkan semua cinta yang dimilikinya untuk keluarga ini. Perempuan yang menggilai lagu Just The Way You Are dan Wonderful Tonight. Lagi-lagi semua adalah tentang cinta ketika aku bicara tentangnya. Dia adalah perempuan yang setiap malam selepas hari –kuintip dari balik tirai kamarnya– duduk di hadapan altar kecil buatannya; memandangi lilin sementara jemarinya menggulirkan butir demi butir rosario. Dia adalah perempuan yang tak gentar bekerja keras demi kehidupan. Dia adalah perempuan yang berdiri di samping kami dalam perjalanan menghadapi dunia. Dia tidak memaksakan kehendak dengan memimpin jalan di depan, tidak pula mendalangi kami dengan berada di belakang. Dia membebaskan kami berjalan sesuai dengan hati kami masing-masing. Dia akan selalu mengiringi dengan cerita pengalaman, harapan, dan doa. Dia tidak melimpahiku dengan harta benda; dia mengisi waktuku dengan kelembutan.

                Hai perempuanku, karenamu kini kita berdiri tegak dan mengangkat kepala pada dunia. Mari berjalan lagi, aku akan jadi gadismu yang terus tumbuh dewasa. Kita mencintai hidup, maka semoga hari-hari akan tetap penuh dengan cinta kita.

I said I love you
and that's forever
This I promise from the heart
I couldn't love you any better
I love you just the way you are 



The ‘nothing’ gratitude dedicated to the amazing woman
Thank you for every single second which is full of love

"Jam 2 Pagi" baru menyelesaikannya dan beranjak tidur