Jumat, 22 Juni 2012

lagi-lagi 19


Aku pernah merasa seperti ini. Persis 4 tahun yang lalu. Ketika aku baru saja mau menikmati satu tahun yang kukira akan jadi terakhir untuk bersama dengan seseorang. Nyatanya, tahun itu tidak pernah ada. Apa yang sudah kulewati, itulah tahun yang terakhir.

Ia berdiri di pinggir keramaian, mencoba mengatakan hal yang berkebalikan dari kebenaran hanya untuk membuatku tenang. Tapi, aku tahu. Aku tahu kebenarannya. Terlanjur tahu. Aku membiarkan semuanya lepas. Biar dia tahu betapa besar cintaku untuknya yang sebelumnya selalu kutopengi dengan hinaan, ejekan, dan caci maki. Biar dia tahu betapa besar porsinya dalam hidupku. Aku tak pernah melalui momen yang seromantis itu dengannya sebelum hari itu. Yang melintas di otakku hanyalah sosoknya ketika mengenakan seragam TK. Sudah berapa banyak waktu yang berlalu? selama itulah aku memupuk cintaku untuknya. Aku menangis karena membayangkan hari tanpanya. Sepi sekali.

Namun, apa yang lebih terasa menyenangkan daripada menuruti kata hati? Ia memilih sendiri jalannya dengan keinginannya sendiri. Lantas, apa yang bisa lebih membahagiakan dari itu baginya? Maka, akulah yang melapangkan hati untuk melepasnya berlabuh ke tujuan citanya. Jika aku menahannya pun aku tak yakin bisa memberi sesuatu yang dapat membuatnya bahagia. Maka, kuiringi ia dengan doa dan tawa saat ia akan beranjak. Aku siap menyaksikan ia bahagia.

Suatu kali ketika rindu berkunjung, kusebut dirinya dalam sebuah cerita. Ia mendengar cerita kecil itu dan mengatakan padaku bahwa ia teman selamanya. Manis sekali. Waktu terus menghanyutkan kami. Kami bertumbuh selama 4 tahun di tempat yang berbeda. Sesekali masih kuterima pesan singkatnya yang menggodaku tentang masa lalu. Aku selalu gembira mendengar gurauannya yang dari dulu selalu menyakitkan itu. Aku rindu wajahnya, tawanya, kebodohannya.

Ketika satu kali dalam setahun menjelang, aku pasti semangat. Aku melintas di depan bekas rumahnya. Pohon mangga, halaman rumput, semuanya menceritakan tentang berapa banyak waktu yang telah berlalu. Kini, aku bisa tersenyum ketika mengenangnya, mengingat hal-hal manis, dan mengetahui ia bahagia dengan pilihannya. Hidup harus berlanjut, bukan?

Nah, ternyata perasaan 4 tahun yang lalu itu kini terulang lagi. Aku sudah tahu bahwa air mata malah akan membuat langkahnya lebih berat. Maka, biarlah aku yang belajar melapangkan hati lagi. Biarlah aku yang menyiapkan diri menyaksikan ia bahagia, asalkan ia sendiri juga memilih jalannya untuk bahagia.

Dua kali merasakannya untuk dua orang yang berbeda, ternyata masih tetap sulit dilalui. Hahaha…tapi aku bisa pada akhirnya. Aku bisa karena aku ingin kamu bahagia. Tulus. Terima kasih. :)


lagi-lagi 19

Sabtu, 16 Juni 2012

kerendahan hati


Kerendahan hati adalah sesuatu yang kuinginkan berjalan bersamaku. Bukan karena aku takut dan tidak suka sendirian, melainkan aku mencintainya. Kerendahan hati membuatku mampu tersenyum tulus dengan mata berbinar, yang menjadikan telingaku cukup tenang untuk menjalankan tugasnya, yang melembutkan sentuhan jemati untuk menguatkan yang lemah, yang melantunkan kejujuran dari bibir yang lama terkatup, yang memberi waktu untuk terus belajar, yang menyembulkan rasa bahagia atas kebahagiaan teman seperjalanan hidup, yang menggulirkan syukur atas hari yang terus berputar, dan yang melapangkan hati untuk mengenali, menerima, dan menghargai diri dengan pantas. Namun, kerendahan hati tak pernah dengan mudah direngkuh. Ia berlari ke sana kemari, enggan dengan gampang dipanggil pulang. Kadang memang lelah mengikuti ke mana ia berlari, bahkan akhirnya aku sering sedih karena masih belum mampu berjalan bersamanya. Akan tetapi, dengan ia berlari ke sana kemari, aku bertualang ke banyak tempat, menemui banyak orang, dan bertahan dalam banyak keadaan. Dalam perjalanan itulah aku menyadari bahwa kerendahan hati membuatku memaknai banyak hal sebagai sebuah kesempatan belajar. Semoga perjalanan ini masih panjang. Amin.


13 Juni 2012
23.51
-(masih) akhirnya ku menemukanmu saat ku bergelut dengan waktu-