Senin, 01 Desember 2014

Sampaikan Salam Gembira

Malam minggu yang lalu saya sempat main musik dengan satu-satunya grup musik yang betah mempertahankan saya meski saya tidak punya kemampuan yang mereka inginkan.

Itu salah satu panggung yang asik selama riwayat grup musik kami pentas. Begitu banyak orang menari di hadapan kami. Mereka pun hafal sebagian besar lirik lagu yang kami bawakan. Saya melihat bagaimana mereka berkeringat, namun tetap jenak berdesakan. Menabrak satu dan yang lainnya, namun tidak marah, tidak tersinggung, tidak berantem. Mereka mengangkat dua tangan jika saya mengangkat dua tangan saya pula sembari meneriakkan lirik, "Gembiraaaaa...." Mereka menyenangkan sekali.

Menjelang turun dari panggung, tangan saya dijejali sesuatu oleh teman saya yang gendut, Anik. Dia berhasil malam mingguan dengan kekasihnya yang bekerja di luar kota. Menonton kami pula. Semoga dia senang dengan malam minggunya. Anik membawakan seikat bunga kesukaan saya dengan warna yang aduhai. Aih, saya terharu sungguh. Meski di suatu pentas sebelumnya saya pernah dikasih bunga mawar setangkai dan nyaris disawer (saya mentah-mentah menolak dengan pura-pura tidak melihat penyawernya), buket kali ini bikin saya bahagia sekali. Alasannya, itu buket gerbera, warnanya merah jambu, ada peacock-nya, Anik yang memberikan, dan saya bawa pulang selepas panggung yang mengasyikkan.

Maaf ya, hanya bisa memainkan tiga lagu. Padahal kami sudah siap jika diteriaki, "Lagi! Lagi! LAGI!" Kami sudah latihan beberapa lagu tambahan, namun maaf, barangkali memang kita diminta pulang sebelum hujan mengguyur di perjalanan. Tetaplah sehat, hindari masuk angin. Kapan-kapan kita sambung lagi.

Hal yang menyenangkan hati banyak sekali bahkan kalau kita bermimpi
Sekarang ganti baju agar menarik hati
Ayo kita mencari teman! - Soundtrack Chibi Maruko Chan (lagu pertama pentas kali itu)





Oh ya, terima kasih ya Tombo Gelo. Kapan-kapan saya menulis tentang kalian. :*



Salam sayang.


Senin, 17 November 2014

Buka Puasa

Sudah beberapa bulan terakhir saya menjalani masa puasa. Puasa jajan buku. Tujuannya cuma menata keuangan supaya kondisinya lebih baik terlebih dahulu, barulah kemudian bisa menganggarkan nominal yang menarik untuk belanja buku. Puasa itu tidak berlaku untuk menyetak dokumen PDF jadi buku. Puasanya hanya berlaku untuk jajan buku yang sudah jadi. Dalam beberapa bulan terakhir itu pula saya menghindari datang ke toko buku dengan sekadar iseng. Takutnya, iseng itu berbuah kekeringan finansial akibat tidak mampunya saya menahan niat.

Dan puasa ini akhirnya batal hari ini, Senin, 17 November 2014. Saya berbuka dengan ini.




Begitu dengar stoknya hadir lagi di toko buku (tepatnya setelah bos saya beli duluan), saya langsung pasang niat untuk memboyong satu pulang. Niat itu sempat tertunda beberapa hari oleh karena guyuran hujan yang tidak santai. Hari ini, tetap hujan, namun gembiranya hanya gerimis tadi. Maka, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mampir ke toko buku dan membungkus takjil saya ini.

Ini memang perilaku saya yang sangat embuh. Pun memilih karangan penulis aneh ini. Aneh, tapi buat saya dia brilian. Halah. Tidak, tidak, tidak sefantastis itu. Saya bermaksud mengatakan bahwa saya menyukai cara dia membuat gurauan. Setelah grup musiknya yang menyanyikan lagu-lagu dengan lirik yang brengsek itu, saya berniat melahap sebentuk lain isi otak Pidi Baiq.

Semoga yahud. Awas kalo enggak. Kalo enggak juga paling saya enggak bakal ngapa-ngapain. Tunggu ya, Dilan. Tunggu akhir minggu ini. :*



omong-omong, sepulang dari membeli buku ini, saya jatuh pilek
jangan-jangan ada penyakitnya

Senin, 25 Agustus 2014

Kita telah...


"Kita kalah, Ma," bisikku.

"Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya."



Percakapan antara Minke dan Nyai Ontosoroh di atas belakangan ini berseliweran di benak saya. Saya baru sadar bahwa itu adalah percakapan penutup di novel Bumi Manusia yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Saya merasa kalimat terakhir yang diucapkan Nyai Ontosoroh itu indah sekali.

Dan begitulah. Tidak ada usaha yang sia-sia. Semoga tidak habis harapan, tidak patah arang.



Yogyakarta, panas terik

Senin, 18 Agustus 2014

Terong Jazz

Waktu iseng Soundcloud-an, saya menemukan ini.



Saya ngekek sejenak melihat judulnya.

Nikmatilah, lagu "Terong" dalam versi jazz ehm... mbuh. Saya tidak terlalu paham genre-genre musik. Sepertinya sih jazz. :)

"I can't pronounce her name, but eggplant... I can't reveal her name, but eggplant... I can't pronounce her name, but eggplant is her game."

Kamis, 31 Juli 2014

Sepatu Merah

Aku tidak punya satu pun sepatu atau alas kaki lainnya yang warnanya merah. Selama dua puluh tahunan menjalani hidup sebagai seorang perempuan, aku terhitung seseorang yang amat membosankan soal pilihan warna barang-barang yang aku pakai. Entah karena aku cenderung dan sudah telanjur dikenal tomboi, atau karena entah apa, aku punya kebiasaan memilih warna-warna gelap untuk kupakai. Singkatnya, sebut saja hidupku monokrom. Hahaha.

Dulu, orangtuaku sampai lelah memprotes pilihan baju yang ingin kubeli karena semuanya berwarna hitam. Kadang-kadang putih atau cokelat. Hanya berkutat di sekitar warna-warna itu saja. Sekali waktu ibuku memaksa membelikan baju natal berwarna hijau. Sepanjang umur hidupku, sepertinya belum sampai lima kali baju itu kupakai. Selain karena warnanya agak “berani” buatku, bahannya membuat badan gatal ketika dipakai. Kuatlah alasanku untuk menghindari mengenakan baju yang satu itu.

Kebiasaan itu terus berlanjut dan makin menjadi-jadi selepas lulus sekolah dan meninggalkan rumah. Aku mulai kuliah di sebuah jurusan yang mengizinkan mahasiswanya mengenakan pakaian nonformal untuk ikut kuliah. Meski demikian, ibuku rupanya tidak terlalu mudah menyerah. Masih sering ia mengingatkan jika kami mengobrol lewat telepon agar aku memilih, membeli, dan mengenakan pakaian yang “lebih pantas” untuk kuliah. Ia bahkan sempat mengataiku pelit pada diriku sendiri saking kasihannya ia membayangkan bagaimana aku berpakaian ketika kuliah.

Aku benar-benar mengesampingkan peringatan itu karena lingkungan tempat aku bergaul pun tidak memberikan pengkondisian untuk hal itu. Ketika aku mulai kuliah, hampir setiap hari aku menghampiri satu atau dua meja di kantin yang penuh berisi orang-orang berpakaian warna hitam. Entah mengapa, mereka begitu suka pada warna yang satu itu. Sampai-sampai mengapa mereka selalu berpakaian hitam itu pernah jadi bahan pembicaraan lumayan panas di sebuah forum obrolan tulisan publik kami. Ada dua pihak yang “berdialog”: gerombolan si hitam dan gerombolan berwarna. Apa pun yang menjadi alasan sesungguhnya, saat ini aku berpendapat bahwa pakaian hitam yang seragam itu tidak hanya karena sekadar “Aku pengennya pakai ini”, tapi juga hasil sebuah konstruksi. Entah siapa yang memulai dan kapan, yang jelas kemudian citra mengenai pakaian warna hitam dan maknanya dan kesannya dan tetek-bengeknya itu terus dibangun dan diamini oleh teman-temanku ini.

Aku sebenarnya tidak terlalu peduli waktu itu, namun cipratan konstruksi pakaian warna hitam itu tentunya juga mengenaiku. Iseng, aku pernah menghitung jumlah kaus warna hitam yang kupunya. Mendekati sepuluh. Bahkan pernah suatu kali aku mencuci lalu menjemur sejumlah kaus yang semuanya berwarna hitam. Suatu kali, aku akhirnya menyadari kondisi itu dan mulai memikirkannya baik-baik dan iseng-iseng. Ada apa rupanya dengan warna-warna gelap ini?

Aku tidak ingat kapan persisnya, namun bisa jadi titik balik itu diawali oleh inisiatif ibuku untuk memperbaiki penampilanku. Ia mengirimiku paket. Isinya sebuah kaus oblong warna hijau dengan motif tengkorak kecil-kecil dan kaus berkerah berwarna merah jambu. Aku sungguh tidak paham dengan pilihannya kali ini. Bukan merah jambunya, tapi motif tengkoraknya. Aku menduga ibuku tidak memerhatikan bahwa motif di kaus itu adalah gambar tengkorak. Selain itu, ibuku bersikeras mengatakan bahwa kaus berkerah itu bukan berwarna merah jambu, melainkan salem. Aku tahu persis, ia melakukan hal itu untuk mengantisipasi aku menolak mentah-mentah pakaian berwarna merah jambu. Ia mengaburkannya menjadi warna salem. Aku menghargai usaha yang membuatku geli itu. Namun, sebenarnya ibuku tidak perlu berusaha sekeras itu. Kaus salem alias merah jambu itu baik-baik saja. Malah terlihat sangat manis dan menarik untuk dipakai.

Sejak aku punya kaus merah jambu itu, aku merasa ada baiknya aku mencoba sesuatu yang baru untuk hidupku. Aku jadi terlihat berbeda. Sudah terbukti satu kali ketika aku berangkat kuliah mengenakan kaus pemberian ibuku itu. Seusai kuliah, aku dan teman-teman mengunjungi seorang ibu teman kami di rumah sakit. Setibanya di kamar rawat inap, barulah aku tersadar karena dikomentari oleh orang-orang di kamar itu. Dalam rombongan penjenguk itu, hanya aku yang mengenakan baju berwarna cerah, merah jambu. Sisanya, seperti biasa, hitam. Ini mulai menarik.

Pelan-pelan, aku mulai punya sejumlah barang yang warnanya tidak lagi hitam atau cokelat. Ada yang berwarna merah jambu, biru muda, hijau, oranye, kuning, dan lain-lain. Aku memutuskan demikian karena sepertinya hal-hal ini terlihat dan terasa lebih bagus dalam ragam warna-warni. Sesungguhnya memang ini hal praktis saja, semata-mata karena ingin melihat sesuatu jadi lebih baik. Akan tetapi, di balik pilihan praktis itu, aku melakukan sebuah dialektika besar dengan diri dan hidupku sendiri. Aku belajar mencoba sesuatu yang baru, yang lebih banyak warnanya, yang lebih banyak risikonya. Sepele sekali sepertinya, ya. Aku memang kadang berlebihan, maaf. Namun, memang begitulah kenyataannya. Butuh sekitar dua puluh tahun untukku berani mengambil tindakan yang berbeda dari rutinitas. Tidak seharfiah itu pastinya, tapi maksudku ini termasuk momen besar dalam hidupku karena utamanya aku belajar menerima lebih banyak hal, lebih banyak ragam, lebih banyak varian yang memang bagus dengan sendirinya. Aku merekonstruksi citra warna-warna dalam hidupku.

Nah, apa kaitan semuanya ini dengan sepatu merah?

Untuk yang satu ini, memang aku baru tertarik padanya kurang lebih satu tahun belakangan. Dulunya aku tidak pernah suka dengan pilihan warna merah untuk alas kaki. Siapapun yang mengenakan benda macam itu tadinya tidak pernah terlihat menarik buatku. Aku selalu berpendapat: norak. Namun ternyata pandangan itu ikut jungkir balik bersama citra warna-warna tadi.

Seorang teman laki-laki dulu pernah berujar, “Semua cewek pasti punya minimal satu pasang sepatu warna merah. Soalnya itu bikin mereka kelihatan seksi.” Aku langsung menyahut, “Aku tidak punya.” Ia menjawab pasti, “Kamu kan bukan cewek.” Aku tidak tersinggung, malah mendapat sebuah pengertian yang cukup menjawab keherananku atas pilihan warna merah untuk sepatu. Supaya terlihat seksi rupanya. Lama-kelamaan, sepertinya aku pun melihatnya demikian. Tidak ada yang salah dengan sepatu warna merah. Malah, aku belakangan kagum pada mereka yang mengenakannya. Aku tidak punya keberanian untuk sekadar pakai sepatu merah, apalagi memilikinya.

Sekarang, aku jadi ingin punya sepasang sepatu merah. Dulu sudah sempat hampir membeli, namun ternyata keberanian itu belum cukup. Bukan karena ingin terlihat seksi, tapi aku ingin mencoba punya keberanian yang besar untuk melakukannya. Aku jauh lebih tertarik untuk menguji keberanianku ketimbang mencari tahu seberapa efektif efek seksi akan muncul jika aku mengenakan sepatu merah. Sudah ada sangat banyak orang yang telanjur mengidentifikasiku lewat cara berpenampilan yang seperti laki-laki. Jika aku muncul dengan dandanan feminin, aku sudah pasti (dan sering) kebanjiran komentar heboh, tawa, dan rasa tidak percaya. Sudah biasa. Inilah mengapa mengenakan sepatu merah adalah sesuatu yang akan sangat memacu adrenalin buatku. Aku akan berhadapan dengan orang-orang yang bereaksi. Keberanian inilah yang sedang kupupuk sembari memilih-milih sepatu merah yang ingin kumiliki.

Sepatu merah kini jadi representasi keinginan-keinginan pribadiku untuk mencoba pilihan-pilihan hidup yang lain. Makin kemari, makin relevanlah keinginan itu mengingat hidupku pun sudah mulai berubah di sana-sini. Pastinya perlu penyesuaian. Siapapun boleh tidak sepakat denganku mengenai sepatu merah ini. Terutama mungkin yang merasa bahwa penanda keinginan-keinginan hidupku yang lebih esensial itu adalah sebuah hal yang amat sangat sepele. Tentu saja penanda ini kupilih untuk alasan yang sangat personal, untuk peristiwa-peristiwa yang bersinggungan langsung denganku.

Keinginan untuk memiliki sepatu merah ini masih harus kupupuk cukup lama mengingat aku bukanlah orang yang dapat dalam waktu singkat mengumpulkan keberanian untuk melakukan hal-hal di luar kebiasaan. Intinya, aku punya niat untuk beranjak dari posisiku yang cenderung stagnan selama ini. ada banyak hal-hal di luar sana yang akan sangat menarik untuk dijamah. Alasan lainnya yang membuatku sangat ingin melakukannya adalah untuk belajar mengerti. Belajar memahami bahwa sering kali aku menghindar atau tidak menyukai sesuatu justru karena aku tidak tahu apa-apa tentangnya. “That is just the way with some people. They get down on a thing when they don’t know nothing about it.” Begitu kalau Huckleberry Finn yang bilang.

Toh kini aku berpendapat bahwa benda-benda berwarna merah jambu itu tidak menjijikkan, melainkan manis. Pun kuning, cerah dan ceria. Oranye pun membuatku tampak lebih berani dan keren. Sepatu hijauku pun sangat bergaya dipasangkan dengan celana jeans mana pun. Jaket merah menyala juga tetap enak dipandang. Hitam, cokelat, dan putih dan apa pun itu, semuanya baik-baik saja. Jadi, aku tidak sabar memakai sepatu merah.

Kadang-kadang monokrom itu seru loh, kadang-kadang warna-warni itu seru loh.




Libur Lebaran 1435 H
kamar sudah berubah

Rabu, 04 Juni 2014

Tiup Lagi Lilinmu

Sudah ada banyak hari yang berlalu sejak kita mulai berjalan. Sudah ada banyak ragam raut wajah yang saling kita kenali ketika menghadapi sekian banyak hal dalam perjalanan ini. Sudah ada banyak demam dan rindu yang mengingatkan kita untuk selalu pulang dan saling menjenguk ketika keadaan menyeret kita untuk bekerja. Sudah ada banyak cangkir dan botol teh, kopi, jeruk, susu yang menunggui kita bicara sampai berbusa-busa.

Banyak orang mungkin akan berharap bahwa hal-hal semacam itu akan terus terasa sama seperti ketika pertama kali dialami. Tapi, tidak denganku. Pun nyatanya tidak lagi terasa sama. Jelas ada yang berbeda dan jelaslah berbeda karena kita telah semakin jauh berjalan. Hal-hal itu terasa lebih dalam, lebih membekas, lebih jauh.

Kita terus beranjak dewasa dan tua. Kini, aku tidak lagi takut pada hal itu. Tak lain karena aku tahu bahwa kemudaan ini akan selalu kita pelihara.

Berlarilah, kunjungilah rumah-rumah, temuilah wajah-wajah, dan kita akan pulang membawa semua kisah itu untuk saling kita tukarkan sembari terduduk tenang hingga jatuh tertidur. Semoga dengan itu kita selalu berbahagia. Kita tidak boleh takut pada ratap tangis, kegamangan, dan keluh kesah orang-orang. Sebab tidak semua kebahagiaan itu selalu bersumber dari gelak tawa dan canda ria. Mungkin dari jejak-jejak lelah dan sepi itulah kita akan belajar menghargai apa yang kita punya. Mungkin dengan ikut bersendu bersama mereka itulah kita akan tahu bagaimana caranya berbahagia dengan tetap bersama mereka pula.

Terima kasih untuk selalu dengan sederhana menjadi teman. Teman dalam apa pun itu. Semoga kamu selalu memilih untuk berbahagia. Semoga kamu bisa jadi kebahagiaan untuk orang-orang yang kamu jumpai.



sebuah hadiah ulang tahun yang terlambat
anggap saja ini masih penghujung Mei :)

Senin, 21 April 2014

Keseimbangan

Kalau pernah dengar salah satu ajaran Buddha, mudah-mudahan tahu tentang keseimbangan. Jagad raya ini terus berusaha berjalan dalam keseimbangan. Ada yang lahir, ada pula yang mati. Ada yang tumbuh, ada pula yang layu. Ada yang memangsa, ada juga yang dimangsa. Kadang-kadang, bahkan kita menyebut bencana alam sebagai salah satu proses penyeimbangan diri yang dilakukan oleh alam. Jika terjadi ketidakseimbangan dalam jagad raya, dengan sendirinya jagad raya akan mencari keseimbangannya lagi.

Nah, buat saya, hal yang sama terjadi dalam hidup manusia. Secara, manusia adalah bagian dari jagad raya. Manusia lahir, manusia mati. Memberi dan menerima. Mencintai dan dicintai. Mendapatkan dan kehilangan. Bahagia dan bersedih. Berhasil dan gagal. Maka, ketika manusia punya waktu untuk tertawa, ia juga akan punya waktu untuk menangis. Begitu pula sebaliknya. Kenapa kita butuh keseimbangan? Supaya dapat tetap hidup. Coba bayangkan jika seseorang selalu berhasil dalam hidupnya, tidakkah ia cenderung tumbuh jadi pribadi yang tak yakin bisa gagal? Lalu, jika ia gagal mampukah ia mengusahakan untuk berhasil lagi?

Seorang teman pernah berkata bahwa kerendahan hati memberi kita kesempatan untuk belajar. Orang yang tidak mampu rendah hati akan berpikir dirinya pintar, lalu tak mau belajar lagi. Titik di mana ia berhenti belajar inilah yang justru malah menandai kebodohannya. Lantas, maukah seseorang dengan rendah hati mengakui kegagalannya untuk dapat mulai belajar lagi?

Saya mau menutup omongan ngalor-ngidul ini dengan perkataan lainnya dari seorang teman lainnya ketika ia ditanyai mengapa tangan (atau mungkin kaki depan) T-Rex semacam tidak berguna. Jawaban teman saya: “Karena jika tangan itu dapat berfungsi optimal, T-Rex akan jadi makhluk tak terkalahkan.”


Tabik!


Tulisan ini pernah dimuat dalam kolom Editorial di Papan Sastra - Media Sastra
2 April 2012

Jumat, 28 Maret 2014

Sermo: Sebuah Memoar (Bagian 3)


Di tahun 2007 dan 2008, makrab ajaib ini juga diselenggarakan di Sermo. Lalu, di tahun 2010 dan 2011 kami kembali lagi. Pilihan ini bukannya tanpa alasan, justru malah menandakan bahwa Sermo ini cukup pas untuk mengakomodasi hal-hal yang kami rencanakan. Sudah empat kali Sermo disambangi oleh gerombolan beridentitas sama. Tahun berganti, Sermo nampaknya tetap up to date (atau kami yang stagnan?) di tahun 2012. Maka, kami ke sana lagi. Rasa-rasanya memang sudah kenal, sudah mengakrabi setiap sudutnya. Tapi, Sermo tetaplah area di mana kita bisa melihat hewan-hewan (terutama serangga) yang sepertinya baru pertama kali kita lihat. Ada begitu banyak hal ajaib dan baru tentang Sermo setiap tahunnya. Maka, kami sadar untuk tidak main-main menghadapinya terlepas dari keakraban kami di tahun-tahun sebelumnya.

Di tahun 2012, kami menghabiskan waktu yang lebih singkat di Sermo. Biasanya kami bermalam di sana 4 hari, kali ini hanya 3 hari. Sama, cuaca Sermo juga cukup bersahabat di kesempatan ini. Akan tetapi, kali ini kami tiba di Sermo lebih awal. Siang yang amat panas (ngentang-ngentang) membuat kami berpeluh banyak sekali waktu menurunkan berbagai macam barang bawaan dari bak truk yang disewa. Sermo masih tetap cokelat. 2 tahun belakangan, kami selalu melakukan ritual menyiram tanah lapang sebelum semua persiapan dimulai. Tujuannya supaya tidak terlalu berdebu dan mengurangi hawa panas. Tahun 2010, jangan ditanya. Tanah lapang Sermo sudah becek lebih dahulu. Oh iya, bagi mereka yang sudah bertahun-tahun mengunjungi Sermo, pastilah kenal dengan seorang laki-laki yang kerap dipanggil Mas Rianto. Dia adalah pengurus Gerakan Pramuka Kwarcab Kulonprogo yang membawahi pengelolaan Bumi Perkemahan Sermo. Beberapa kali ia menyapa akrab teman-teman angkatan atas yang tentunya juga sudah lama kenalan dengannya.

Secara umum, Sermo berlaku baik juga pada kami tahun itu. Sampai dengan seekor hewan membuat heboh. Semua peserta dan sebagian besar panitia sedang ada di hutan pinus siang itu untuk acara diskusi. Cuacanya memang panas betul, semua orang kipas-kipas. Saya dan beberapa teman memilih untuk leyeh-leyeh istirahat di bawah rindang pohon. Sebagian yang lain mengisi waktu luang dengan menggali umbi tanaman yang saya tidak ingat persis itu jenisnya apa, entah kencur, jahe, atau kunyit. Kemungkinan besar kunyit. Ada banyaaaaak sekali tanaman itu di sana. Mereka baru berhenti membongkar umbi tanaman ketika diingatkan bahwa itu mungkin milik petani sekitar dan lebih baik jangan diambil. Mereka memang berhenti namun, sambil menenteng satu plastik umbi yang telah telanjur dibongkar.

Nah, sementara siang yang terik itu membuat kami malas melakukan apa pun, suara-suara dari saluran HT menggungah kami untuk bangkit. Informasinya tidak terlalu jelas. Saya baru mengetahui ada yang tidak beres ketika seorang teman dari kelompok Kemah Ceria mendatangi kami di hutan pinus untuk mencari Gondes, si koordinator keamanan. Setelah kasak-kusuk, pergilah Gondes kembali ke perkemahan. Saya bertanya pada teman-teman yang ikut kasak-kusuk tadi. Jawabannya, “Ada (orang) yang diseruduk babi.” Saya takjub. Saya tanya lagi yang lainnya, ia menjawab, “Tadi ada yang lagi bawa galon, lalu tiba-tiba ditabrak babi.” Saya tambah bingung, berusaha mencari tahu siapa yang tertabrak babi. Seorang lainnya memberi kabar begini, “Ada babi sebesar galon nubruk orang.” Tidak ada satu jawaban pun yang menolong.

Sementara terjadi kebingungan di hutan pinus, teman-teman yang ada di lahan perkemahan juga sudah berhenti memberi kabar. Entah ke mana atau apa yang sedang mereka lakukan. Seusai aktivitas hari itu, barulah Adul bercerita bahwa setelah berita tentang babi itu tersebar, Eric dan teman-teman lain yang tadinya sedang kelelahan malah jadi bergairah kembali. Eric langsung menghunus golok dan berjalan keluar tenda sambil berkata, “Mana makan malam kita?” Mereka sungguh-sungguh berkeliling mencari hewan yang tiba-tiba jadi kondang itu. Berkaitan dengan berita yang simpang siur, seorang teman lain dari Kemah Ceria yang akhirnya bercerita pada saya mengenai kejadian sesungguhnya. Mereka sedang istirahat siang di sekitar tenda mereka ketika tiba-tiba Dito (salah seorang dari mereka) datang dalam kondisi berkeringat dan langsung menjatuhkan diri di dalam tenda. Lainnya tidak begitu menghiraukan sampai dengan Dito bersuara, “Ono babi neng kene. Aku bar ditubruk.” Artinya, “Ada babi di sini. Aku baru saja ditabraknya.” Hebohlah mereka seketika. Ternyata cerita yang benar adalah: Dito sedang membantu teman-teman konsumsi memindahkan galon berisi air. Ia mendengar suara berkeresak dari semak-semak. Baru berniat mencari tahu, sesuatu dari balik semak itu melompat keluar dan menabrak tubuhnya. Dito jatuh, galon yang tengah dibawanya menggelinding. Babi itu lalu lari meninggalkannya (Kalau ceritanya salah, tolong diperbaiki ya). Sayang, Eric tidak jadi makan malam pakai daging babi. Hewan itu tidak ketemu.

Masih tentang hewan. Pada malam pertama kami menginap di Sermo, saya tidur di mobil bersama Anik dan Sakha. Karena lumayan lelah, saya tidak bisa langsung tertidur. Sambil berusaha tidur, saya memejamkan mata. Tiba-tiba terdengar suara seperti geraman yang cukup kencang. Saya bangun dengan panik. Saya melihat ke arah Sakha dan Anik, dua-duanya kelihatannya sudah tidur. Saya mencoba merem lagi. Suara itu datang lagi dan makin kencang. Ketika saya lihat Sakha bergerak sedikit, saya tahu dia juga belum tidur. Maka langsung saya sambar kesempatan untuk bertanya, “Itu suara apa, ya?” Dengan masih merem, Sakha menjawab santai, “Macan.” Saya tidak terima begitu santainya dia menjawab ada hewan buas di luar sana. Karena tidak ada penjelasan lebih lanjut, saya menyimpulkan itu bohong. Tapi, ya saya tetap tidak paham itu suara apa.

Ketika pagi tiba, saya menceritakan pengalaman itu kepada beberapa teman yang lain. Usut punya usut, mobil yang saya pakai tidur di malam sebelumnya itu diparkir bersebelahan dengan sebuah mobil lainnya. Misteri auman itu terkuak sudah. Ternyata, seorang panitia tidur di dalam mobil yang diparkir di sebelah mobil kami tadi malam. Namanya Kanzy. Dia mendengkur. Seperti macan. Saya benar-benar lega sekaligus takjub. Lega karena Sermo tidak jadi kedatangan hewan buas. Takjub karena dengkuran Kanzy bisa menembus kaca mobil dan terdengar seperti auman macan.

Seperti biasa, setiap kali akan pulang dari Sermo kami selalu bergambar di gunungannya yang ternama itu. Setelah semuanya beres, pulanglah kami.

Bahan perbincangan tentang Sermo tak kunjung habis. Sebenarnya, makrab itulah yang membuatnya jadi begitu akrab dengan kami. Ada banyaaaaaaaak sekali hal yang tidak sanggup saya ceritakan di sini. Mereka yang pernah berkunjung ke sana mungkin kenal dengan pendopo yang teduh itu, pohon-pohon kayu putih dan pabriknya di pinggir sungai, kamar mandi yang konon angker dan tak pernah dipakai, pintu saluran air yang baunya sangat tidak enak, gardu pandang, gunungan, dan waduk tempat memancing dengan papan peringatan bertulisan “Bahaya, dilarang memancing.”


Ternyata rindu juga padanya. Mungkin lain kali asyik juga bertandang ke sana. Saya pasti jadi amat sentimentil jika tiba lagi di sana. Patutlah berterima kasih pada Sermo. Mudah-mudahan ada kesempatan untuk bertemu lagi dengannya, bertamu ke rumah teman lama. J



sudah habis sambungannya.



Jumat, 21 Maret 2014

Sermo: Sebuah Memoar (Bagian 2)



Tahun berikutnya, kami kembali ke Sermo lagi. Kali ini dengan santun dan persiapan lebih. Kami tak mau lagi diombang-ambingkan badai. Sermo jadi lebih cokelat. Lapangannya sebagian besar botak, bahkan rumputnya pun bersalut debu sehingga warnanya kekuningan. Sermo ternyata jauh lebih bersahabat tahun ini. Kami bermalam di sana 4 hari 3 malam dan tetap sehat. Kami sempat menunggui matahari terbit setiap pagi dan bersenang-senang di malam hari. Teman-teman lama dan tua pun turut mengunjungi kami di Sermo. Dini hari kedua, seorang teman yang biasa dipanggil Mas Sugeng berkelakar. Saya tengah berusaha tidur dalam posisi duduk memeluk lutut di sisi tembok bertangganya Sermo ketika Mas Sugeng berbicara dengan Samson yang juga masih terjaga. Mas Sugeng memprotes arah parkir kendaraan roda empat. “Kuwi ngopo mobil sakmono akeh e parkir madep kono? Piye nek tiba-tiba ono panitia sing titit e kekethok? Ndadak atret! Suwi!” Kira-kira artinya, “Kenapa semua mobil itu parkir menghadap ke sana? Bagaimana kalau tiba-tiba ada panitia yang burungnya terpotong? Harus mundur putar kepala dulu! Lama!” Samson terkekeh keras. Saya lemas, kelelahan. Tapi, saya sadar Mas Sugeng tidak sedang berkelakar, ia justru sedang memprotes keras teknis yang tidak tepat. Posisi parkir yang membuat mobil menghadap ke dalam itu tidak sesuai dengan standar penanganan kondisi darurat. Mestinya kepala mobil menghadap jalan keluar agar mudah digunakan dengan segera. Terima kasih Mas Sugeng.

Belum setengah jam saya tertidur, saya dibangunkan lagi karena memang sudah waktunya bergegas menyiapkan acara selanjutnya. Hari masih gulita, setengah sadar saya berdiri di pinggir lapangan. Menggigil kecil karena anginnya Sermo begitu menggigit. Kami akan memberangkatkan teman-teman peserta makrab ke perjalanan dini hari. Rekan saya yang berkepentingan, Adul dan Sakha, pamit untuk ikut mengiringi dan mendahului peserta menuju lokasi akhir perjalanan. Saya akhirnya memutuskan untuk berjaga di perkemahan, membantu persiapan yang lain. Setelah mereka berangkat, saya duduk sendirian di tepi lapangan. Tibalah Wowok dari dapur melapor pada saya bahwa air sudah mendidih dan siap diantarkan. Dengan polosnya saya berkata pada Wowok, “Oke Wok. Makasih. Dianter ke hutan pinus ya, Adul sudah di sana.” Wowok tidak protes. Ia hanya menimpali, “Ada senter, Pit?” Saya segera mencarikan senter lalu memberikannya pada Wowok yang sudah menenteng satu wadah besar air panas. Setelah senter ada di tangannya, Wowok tidak kunjung berangkat. Lalu ia berujar lagi, “Jaketku yang tadi kamu pakai untuk selimut mana ya, Pit?” Saya bergegas mencarinya. Tidak ketemu. Akhirnya saya menyerahkan jaket saya ke Wowok. Dia tadinya menolak namun, saya berdalih bahwa saya tidak perlu keluar dari perkemahan sehingga saya tidak akan kedinginan di lapangan ini. Wowok akhirnya mau mengenakan jaket saya dan berangkat mengantarkan air panas.

Berbulan-bulan setelahnya barulah Adul bercerita pada saya bahwa suara Wowok lebih dahulu tiba di hutan pinus ketimbang tubuhnya. Wowok ternyata mengumpat sepanjang jalan. Saya lantas bertanya alasan Wowok mengumpat. Ia menjawabnya demikian, “Kowe ki ra peka! Aku ki jaluk dikancani!” Wowok memarahi saya yang tidak peka karena sebenarnya dini hari itu Wowok minta ditemani berjalan ke hutan pinus. Saya tertawa keras-keras dan membela diri, “Lha kan waktu itu kamu cuma minta senter sama jaket, Wok. Lha ya tak kasih.” Wowok kembali mengomel menjelaskan bahwa itu hanya kedok yang gagal saya pahami. Jalur menuju hutan pinus itu berbatu dan diapit pepohonan agak rapat. Memang sudah ada beberapa lampu minyak yang dipasang di sepanjang jalur itu tapi, tetap saja gelap. Ternyata Wowok hanya butuh teman. Senter dan jaket tidak cukup baik untuk jadi temannya. Maaf ya, Wok.

Wowok jadi bintang di Sermo tahun itu. Sebelum kejadian mengumpat di jalan ke hutan pinus itu, ia sempat bikin heboh panitia lewat saluran HT. Sore itu peserta makrab baru saja menyelesaikan trekking. Jadwal selanjutnya buat mereka adalah mandi. Maka, diumumkanlah himbauan pada para peserta untuk bergantian mandi. Lokasi kamar mandi Sermo mengapit dapur—yang tahun itu jadi markasnya Wowok, si koordinator konsumsi. Terang saja Wowok punya banyak interaksi dengan kamar mandi. Nah, setelah himbauan mandi itu tersiar, tiba-tiba Wowok berusaha membatalkan jadwal mandi. Ia mengabarkan lewat HT dengan nada panik, “Peserta jangan disuruh mandi dulu, ada semangka di kamar mandi!” Saya bingung mau jawab apa. Saya tidak paham apa yang dimaksud Wowok. Daripada bingung bincang-bincang lewat HT, saya memilih mendatangi langsung kamar mandi yang menghebohkan itu. Setibanya di dapur, saya menemui Wowok dan bertanya. Ia langsung menjawab, “Iki lho!” sambil menuding semangka di meja dapur. “Ini tadi ada di dalam kamar mandi cewek.” Masalah selesai. Peserta akhirnya boleh mandi lagi. Usut punya usut, semangka utuh itu bisa ada di kamar mandi akibat ulah seorang teman kami bernama Aryo Baskoro. Ia berbelanja semangka (tertipu pedagangnya pula!) lalu berusaha mendinginkannya dengan meletakkan buah itu di kamar mandi. Iya, saya tahu, tindakan itu memang tidak jelas. Namun, masalah masih tersisa berupa kebingungan saya atas perilaku Wowok. Mengapa dia begitu takut pada semangka di dalam kamar mandi sampai-sampai ia melarang peserta mandi? Mengapa tidak langsung dikeluarkan saja (seperti yang akhirnya ia lakukan)? Mengapa Wowok heboh? MENGAPA? Sampai saat ini, setelah hampir 3 tahun berlalu, saya tetap tidak menemukan jawabannya.

Tahun itu saya sempat memanjakan keinginan saya pribadi untuk duduk di puncak gunungan Sermo menikmati sore yang cerah sambil melihat aktivitas di perkemahan. Hanya sebentar memang. Tapi, cukuplah untuk membuat saya punya gambar di kepala mengenai Sermo yang manis.

Ada-ada saja tingkah teman-teman saya tahun itu. Pernah terjadi sebuah tenda dome terbang dari lokasi seharusnya dan mendarat di lapangan bawah. Leo, seorang panitia penjaga keamanan, panik waktu diberi tahu sebab menurut pengakuan Leo ada Amor (panitia lainnya) yang sedang tidur di dalamnya. Saya juga sempat membangunkan teman-teman petugas dokumentasi di pagi hari dan meminta mereka memotret acara senam pagi itu. Kalang kabut mereka bangun. Seorang di antaranya saya temukan sedang berdiri di tepi lapangan, menggenggam kamera di tangannya, dengan mata tertutup. Saya takut Dias (nama bocah aneh ini) tertidur dalam posisi berdiri; dia bisa jatuh. Saya goncang-goncang tubuhnya sambil memanggil namanya. Dias langsung menyahut, “Aku nggak tidur, Mbak!”. Saya makin bingung, “Terus, kenapa merem?” Dias mengeluarkan jawaban ini, “Mataku masih blereng kena sinar, bentar lagi bisa melek kok.” Ada-ada saja.


Sermo baik sekali tahun itu. Cuacanya baik untuk kami beraktivitas. Sempat turun gerimis sebentar di malam kedua. Meski persiapan sedikit lebih baik, darah saya berdesir lagi mengingat tahun sebelumnya. Saya akui, ketika gerimis itu turun, saya kalap. Semua orang yang tersedia saya mintai tolong untuk menyiapkan tempat beratap. Saya berdoa sungguh-sungguh dalam hati, semoga tidak terulang lagi badai macam sebelumnya. Saya berkomunikasi lewat HT dengan siapapun yang memegangnya. Saya dan Sakha sepakat bagi tugas mengurusi lapangan bagian atas dan pendopo bawah. Adul sedang offline sebab ia jadi penampil dua kali malam itu. Saya kaget ketika terdengar suara Adul memanggil lewat HT padahal HT Adul sedang saya kantongi dalam keadaan mati. Saya dan Sakha dipanggil ke tepi panggung. Ketika melihat Adul, saya berusaha menahan tawa. Mukanya serius sekali (nampaknya ia juga panik) namun, pakaiannya sungguh tidak serius. Ia berbicara dengan kami dalam balutan kostum pom-pom boys. Adul pakai rok dan tanktop, wajahnya berrias. Ternyata, hujan tidak jadi turun malam itu. Sermo menjaga kami dengan baik tahun itu.



masih ada lagi sambungannya...

Kamis, 20 Maret 2014

Sermo: Sebuah Memoar (Bagian 1)

Warnanya cokelat. Setidaknya begitulah yang banyak tertangkap oleh hasil jepretan lensa kamera. Sesekali hijau.

Saya berkenalan dengannya pertama kali di tahun 2010. Saya menginjakkan kaki di sana untuk pertama kalinya karena sebuah keputusan bunuh diri yang terlanjur saya ambil sebelumnya. Tapi, ya sudahlah, saya pertanggung jawabkan saja keputusan terburu-buru itu. Menurut beberapa orang, ada yang terlewatkan dalam pertemuan pertama kami dengan Sermo kala itu: kula nuwun. Semuanya masih baik-baik saja hingga tiba saatnya bersiap bermalam di sana untuk beberapa hari. Kami menghampiri Sermo dengan serangkaian kejadian nahas. Satu per satu kabar kecelakaan menyambangi telinga saya. Kabar terakhir di malam itu datang ketika saya terjebak hujan deras yang memaksa rombongan saya menunda melanjutkan perjalanan ke Sermo meski hanya sekitar 10 menit lagi kami akan sampai. Saya lupa bagaimana persisnya perasaan saya saat itu, yang jelas seperti ada yang memukul dada saya. Saya gagap menjawab kabar yang disampaikan lewat telepon itu. Setelah telepon itu, tiap ada teman yang melemparkan guyonan, saya hanya tersenyum terpaksa.

Sebab hujan tak kunjung reda sementara kami harus segera tiba, saya dan rombongan yang berteduh langsung tancap gas menuju Sermo. Tiba di sana, saya sungguh kebingungan. Makin terbukti bahwa keputusan yang saya ambil dulu itu sungguh-sungguh tindakan bunuh diri. Saya tidak tahu harus berbuat apa, mengarahkan sesuatu pun tidak tepat, meminta sesuatu ditolak, memberi sesuatu ternyata tidak dibutuhkan. Saya hanya menunggui hujan. Hujan yang terus mengguyur itu malah membangkitkan kecurigaan teman-teman saya. Mereka merasa ada yang tidak pas dengan hujan itu. Seakan-akan hujan merupakan pertanda selamat datang yang tidak ramah. Mereka masih bisik-bisik sehingga saya juga belum paham. Saya baru mengerti keadaannya ketika segerombol orang keluar dari ruangan yang tadinya dikunci dan tidak boleh dimasuki siapa pun. Ternyata mereka habis berdoa, berusaha menghentikan hujan. Satu di antara mereka keluar dari ruangan sambil menggelengkan kepala dan bergumam, “Susah. Dia nggak mau.” Siapa pula ‘dia’?

Saya mulai paham siapa yang mereka maksud dengan ‘dia’ itu ketika tercetus sebuah usulan yang disepakati untuk dilakukan berupa memanggil bala bantuan yang lebih mumpuni untuk mengurusi hujan ini. Datanglah dari ujung lain kota ini dua orang pemuda—berhujan-hujan—untuk mencoba negosiasi yang lebih baik dengan si ‘dia’. Beberapa waktu kami menanti sambil berlagak tenang sementara dua pemuda itu menyalakan dupa di tengah lapangan yang diguyur air hujan. Nyala kok. Namun, malah tersambar ban mobil yang tidak sadar ada benda itu di sana. Seketika semua orang kalang kabut: teman saya bernama Samson berlari mengejar mobil itu untuk menghentikan supirnya, dua pemuda tadi lari menuju dupa, saya bingung tidak karuan. Si supir mobil diminta untuk meminta maaf (entah dengan cara apa) pada ‘dia’ yang dihadiahi dupa itu. Setelah itu, dupa coba dinyalakan kembali. Tak sampai sepuluh menit berselang, baranya mati. Dinyalakan lagi, mati lagi. Begitu seterusnya hingga akhirnya dua pemuda yang sudah berdiri di sebelah saya ini menggerutu. Salah satunya berujar, “Wah jan, goro-goro kae lho! Ket mau neng kono, ra gelem.” Kurang lebih artinya, “Wah, gara-gara itu lho! Dari tadi di sana, nggak mau.” Saya makin bingung sebab pemuda itu menyebut ‘kae’ sambil menuding bagian atas sebuah pohon di pojok. Saya mulai paham dan memilih untuk tidak bertanya apa-apa karena saya memang tidak melihat apa-apa selain langit.

Singkatnya, hujan sedikit mereda malam itu. Kami bisa melanjutkan persiapan hingga hari berganti. Siang itu kami menunggu peserta malam keakraban menyusul kami di Sermo. Tibalah mereka sambil dihujani rintik gerimis. Kegiatan sore hari itu harus dipindah lokasi bolak-balik dari dalam ruangan ke luar ruangan serta sebaliknya karena hujan yang turun lalu reda, lalu turun lagi, kemudian reda lagi. Saya merasa dikerjai. Teman-teman mengiyakan. Sudahlah, saya tidak terlalu paham hal-hal semacam itu maka saya mengalihkan pikiran ke hal yang lain.

Pagi hari kedua membawakan harapan yang membuat kami sedikit berbunga-bunga. Hari ini sepertinya akan cerah. Kami memberangkatkan teman-teman peserta untuk berjalan kaki menyusuri wilayah Sermo. Setibanya kelompok pertama di pos paling akhir, tiba-tiba awan hitam menggulung cepat bergulir dan menghujani kami sederas-derasnya. Acara dibubarkan, semua orang dikembalikan ke perkemahan. Ternyata perkemahan pun amburadul. Semua orang basah sore itu. Malamnya hujan sudah reda, tapi kami tetap basah. Beberapa orang basah air mata karena terpaksa mengantar pulang teman-teman peserta. Perasaan saya? Remuk.


Keesokan harinya kami menutup perjumpaan dengan Sermo dengan mengemasi semua barang. Kami sempatkan berfoto di gunungan Sermo yang ternama itu. Di foto itu, kami tampak bahagia. Tampak bahagia. Dalam beberapa hari sepulang dari sana, saya mendapati kabar buruk masih terus menyambangi telinga saya. Seorang teman tertimpa musibah kecelakaan yang cukup parah, seorang lainnya pingsan dan sakit. Saya teringat cerita teman-teman (entah burung atau bukan) mengenai pengalaman mengunjungi Sermo dua tahun sebelumnya. ‘Dia’ ikut pulang bersama mereka. Saya kalut sekali waktu itu. Menemui seorang teman lalu menangis sejadi-jadinya karena ketakutan. Takut hal yang serupa terulang dan teman-teman kena akibatnya. Untungnya, semua hal dapat berjalan dalam kendali kami dan mereka yang sakit dapat segera pulih. Sermo ternyata tidak suka diajak main-main.


akan ada sambungannya...

Jumat, 21 Februari 2014

Huck Tengil

“NOTICE: PERSONS attempting to find a motive in this narrative will be prosecuted; persons attempting to find a moral in it will be banished; persons attempting to find a plot in it will be shot. –BY ORDER OF THE AUTHOR, Per G.G., Chief of Ordnance”

(“CATATAN: SIAPAPUN yang berusaha mencari motif dalam cerita ini akan dihukum; yang berusaha mencari pesan moralnya akan dikucilkan; yang berusaha menganalisis alurnya akan ditembak. -
ATAS PERINTAH PENULIS”)


Gambar diambil dari psychgames.weebly.com

Berkaitan dengan tulisan ini, semacamnya saya akan dilaporkan ke meja hukum setelah ini. Tapi apa daya, saya benar-benar ingin bercerita tentang “narrative” yang tidak boleh diapa-apakan tersebut meski mungkin cerita saya ini tidak ada apa-apanya. Saya abaikan sebentar saja larangan keras dari penulisnya itu.

Nah, kalimat-kalimat di atas tercantum di halaman dalam persis setelah judul di buku The Adventures of Huckleberry Finn. Satu-satunya alasan saya bersikeras baca buku ini adalah iri hati saya pada tokoh Huck dengan segala ketengilannya. Tadinya, ia adalah salah satu tokoh dalam buku tulisan Mark Twain lainnya berjudul The Adventures of Tom Sawyer di mana Huck ialah seorang kamerad setia Tom Sawyer. Seingat saya, buku itu sudah pernah saya baca dan sejak saat itu saya penasaran pada tokoh Huckleberry Finn. Seorang individu yang jadi idaman saya.

The Adventures of Huckleberry Finn tentunya berisi rangkaian petualangan Huck (Tom Sawyer tetap muncul di bagian awal dan menjelang akhir buku) sendiri. Hal yang membuat saya gemas pada Huck adalah ketidak khawatirannya pada banyak hal. Di beberapa kesempatan tentunya ia tetap merasa was-was mengingat ia membawa lari seorang budak kulit hitam yang dulunya bekerja di rumah bibinya, Jim, tanpa sepengetahuan siapa pun. Akan tetapi, semua hal yang terjadi di sungai yang dia arungi, di rumah kosong yang ia temukan, di hutan tempat perang saudara antarkampung, di mana pun, ia jalani begitu saja. Ia seakan-akan tidak khawatir besok makan apa atau jika terjadi badai mereka akan selamat atau tidak. Catat kata saya, ‘seakan-akan’.

Huck awalnya dirawat oleh salah seorang yang kemudian ia panggil bibi karena ayahnya, oleh pengadilan, dianggap tidak mampu dan tidak layak mengurus anak. Oleh bibinya, Huck dibawa ke pertemuan sekolah minggu, tapi Huck tetap mencuri. Huck diajari tata krama, tapi Huck tetap bikin geng bersama Tom. Kata benak saya, “Ini bocah merdeka.”

Ada sebuah kalimat Huck (yang sekaligus narator dalam cerita itu) yang langsung membuat saya tertawa terpingkal-pingkal untuk pertama kalinya begitu membaca buku ini. Kalimat itu tertera di bagian sangat awal dari bukunya. Begini bunyinya, “That is just the way with some people. They get down on a thing when they don’t know nothing about it” (“Begitulah kebanyakan orang-orang. Mereka sering menganggap remeh hal-hal yang bahkan mereka tidak tahu sama sekali”). Kalau saya ada di sisi Huck waktu dia bilang begitu, pasti saya akan menyahut, “Ciieee…”

Huck, oleh lingkungannya, dianggap sebagai bocah mbeling yang tidak habis-habisnya bikin masalah. Tapi, itu agak terkendali sejak Huck tinggal bersama bibi asuhnya. Menariknya, Huck bukanlah anak yang bertingkah nakal karena ingin mencari perhatian (seperti yang banyak dilakukan anak-anak lainnya). Huck tidak butuh jadi terkenal karena kebebasannya berlari ke sana-ke mari dan lain sebagainya. Huck hanya tidak betah bertingkah dalam keteraturan. Wajar saja, sebelumnya Huck hidup dengan dirinya sendiri, sekali waktu dengan ayahnya yang tukang mabuk itu. Huck melakukan semuanya itu semata-mata untuk bertahan hidup. Untuk merasa hidup.

Pola itu tergambar jelas ketika Huck dan Tom menjelang akhir cerita hendak menyelamatkan Jim yang ditawan oleh keluarga Phelps karena diduga sebagai budak pelarian. Tom Sawyer bersikeras menyusun rencana agar Jim dapat kabur dari tahanan itu dengan terkenal dan penuh kehormatan. Tom sibuk memaksakan agar penggalian terowongan menuju dan keluar dari rumah tahanan Jim tidak dilakukan dengan sekop, melainkan dengan pisau kecil. Itu akan makan waktu kurang lebih sekian tahun. Biar dramatis, begitu pembelaan Tom. Jim juga harus menuliskan catatan harian yang kadang pilu namun tetap penuh dengan semangat pembebasan layaknya tahanan-tahanan lainnya yang terkenal sesudahnya. Akan tetapi, Huck tidak paham kegunaan semua itu. Satu-satunya hal yang ia mengerti adalah ia harus menyelamatkan Jim sesegera mungkin karena ia menyayangi Jim dan Jim tidak bersalah. Ia sudah mencoba protes pada Tom atas rumitnya teknis pembebasan Jim namun, Tom keras kepala. Huck terbiasa percaya bahwa Tom Sawyer itu manusia terdidik yang bisa menemukan cara lebih baik dalam melakukan segala hal. Maka ia manut. Tapi, Tom ingin membuatnya berkesan sementara Huck hanya ingin Jim kembali. Hanya itu.

Hal lain yang menakjubkan dari diri Huck adalah kefasihannya berbohong pada siapa pun. Ia jarang sekali gugup dalam mengarang cerita. Kisah-kisah karangannya mengalir begitu saja ketika ditanyai orang mengenai dari mana ia berasal, mau apa ia datang ke sana, mengapa ia memegang benda-benda yang sepertinya bukan miliknya. Huck dengan percaya diri menyusun kebohongan demi kebohongan. Geli sekali saya membaca cerita-cerita bohong itu. Jarang sekali ia ketahuan berbohong. Nah, sepertinya kebohongan memang atribut khusus Huck. Di paragraf pertama ceritanya, ia berkata demikian,

You don’t know about me, without you have read a book by the name of The Adventures of Tom Sawyer; but that ain’t no matter. That book was made by Mr. Mark Twain, and he told the truth, mainly. There was things which he stretched, but mainly told the truth.

(Kamu pasti tidak kenal aku jika belum pernah membaca sebuah buku berjudul The Adventures of Tom Sawyer—Petualangan Tom Sawyer—; tapi tidak apa-apa. Buku itu ditulis oleh Mark Twain, dan dia bercerita dengan jujur, yah sebagian besar begitu. Ada beberapa hal yang memang dia lebih-lebihkan, tapi sebagian besar dia jujur.)
Seakan-akan di buku tentang Huck, Mark Twain lebih banyak bercerita yang bohong ketimbang yang jujur. Kedekatannya dengan Mark Twain membuat dia berani bicara bahwa ada banyak hal bohong yang dituliskan oleh Mark Twain. Hahaha…

Huck, yang pada kebanyakan waktu hidup dengan dirinya sendiri, adalah pribadi yang realistis. Sesuatu yang ia hadapi selalu adalah realitas. Ia jarang berlarut-larut dalam imajinasi. Justru dalam kebohongan-kebohongan yang sering ia ciptakan itu, ia belajar tentang kejujuran. Huck tahu cukup baik hal-hal yang benar terjadi dan meski berusaha diubah banyak orang untuk jadi lebih baik tetap saja hal-hal tersebut tidak berkutik.

That’s just they way: a person does a low down thing, and then he don’t want to take no consequences of it” (“Memang begitu: orang melakukan perbuatan buruk, lalu mereka tidak mau menerima konsekuensinya”). Nah lho. Huck sudah berhadapan dengan beragam jenis orang mulai dari keluarga terhormat sampai bajingan tengik. Ia mengenal manusia-manusia ini dan kecenderungan-kecendungan mereka. Suatu kali pun ia pernah dengan rendah hati bernarasi, “But that’s always the way; it don’t make no difference whether you do right or wrong, a person’s conscience ain’t got no sense, and just goes for him anyway” (“Selalu begitu: tidak ada bedanya bertindak benar atau salah, hati nurani seseorang itu tidak berpengaruh dalam menilai orang lain, hanya berlaku buat dirinya sendiri”). Huck jelas tidak teledor, ia memperhatikan sungguh-sungguh orang-orang yang berinteraksi dengannya.

Terlepas dari tindakan-tindakan tengil Huck, ia selalu bisa menimbang sejauh mana ia tega melakukan hal-hal itu pada orang-orang yang ia temui. Suatu ketika ia dan dua orang penipu yang menemani perjalanannya tinggal di sebuah rumah bangsawan yang pemiliknya baru saja meninggal. Dua penipu itu mengaku sebagai saudara si bangsawan (Huck diberi identitas palsu sebagai pelayan mereka berdua) agar dapat merampok warisan melimpah. Huck tadinya hanya akan diam saja melihat tindak-tanduk dua penipu itu namun, pada akhirnya Huck tidak tega dan merasa berhutang budi pada putri bangsawan itu. Huck akhirnya membeberkan penipuan kedua rekannya dan mengatur rencana agar uang warisan itu dapat kembali ke tangan pewaris sahnya. Ia berhasil dan dikenang si gadis putri bangsawan sebagai seorang penyelamat.

Huck selalu membuat saya iri terutama karena kemerdekaannya sebagai bocah. Dia sudah sangat menarik dengan semua ketengilannya yang justru amat jujur. Huck tidak pernah cari perhatian. Ia hanya ingin hidup tenang dengan orang-orang yang bisa menerima dia dan segenap gaya hidupnya. Ia mencari makan ketika lapar; ia kabur ketika dikejar penjahat; ia menyelamatkan orang yang tidak bersalah; ia menjaga dirinya dengan baik.


So, Huck, as I have known you a little bit more, I will not get down on you and people like you. :)

Kamis, 13 Februari 2014

Boys








Time flies. We grow, not go. Life is what lies ahead. But, home is where we always belong.


to boys
although they are not before flowers, they are lovely

Rabu, 05 Februari 2014

Ordinary and Safe

“Rosemary          : What’s the matter by being ordinary and safe?” –Doris Lessing

Saya petikkan kalimat itu dari sebuah naskah drama yang ditulis oleh Doris Lessing berjudul Each His Own Wilderness. Doris Lessing ialah seorang penulis asal Inggris yang cukup kondang. Saya sedang menonton gladi sebuah pentas drama yang dibuat teman-teman sebagai ujian akhir mata kuliah Staged Performance ketika kalimat itu saya dengar. Saya terkikik dalam hati.
                
Dalam naskah itu, kalimat tokoh Rosemary di atas disebutkan setelah terjadi sebuah konflik antara dirinya, Tony Bolton (seorang pemuda yang baru saja menghabiskan masa wajib militernya), dan Myra Bolton (ibu Tony, seorang aktivis dan demonstran yang flamboyan). Myra menentang Rosemary dan Tony yang menganggap tindakan Myra turun ke jalan untuk demonstrasi itu omong kosong. Salah satu adegan sebelumnya menampilkan Tony yang dengan sinis menyindir ibunya yang melakukan aksi massa untuk memperjuangkan pengentasan kemiskinan dengan bertanya, “Have you seen the poverty? I mean, the real one.” Dalam Bahasa Indonesia kurang lebih berbunyi, “Pernahkah Ibu melihat kemiskinan? Yang nyata.” Ibunya hanya diam. Jelas saja Tony bertanya demikian, ibunya hendak berangkat ke demonstrasi dengan mengenakan seperangkat busana mewah dan rapi.
                
Di bagian akhir drama, Myra begitu marah dengan pilihan Tony dan dukungan Rosemary untuk berdiam diri saja di rumah mengurusi kehidupan mereka supaya tenang. Myra menuduh mereka ingin menikmati revolusi yang diperjuangkan orang-orang di luar sana, namun dari tempat yang aman. Itulah alasan Rosemary mempertanyakan mengapa rupanya jika hidup aman dan biasa-biasa saja.
                
Nah, ingatan tentang drama ini membawa saya pada kondisi yang tengah saya pikirkan sekarang. Pernahkah kamu merasa kebingungan ketika harus mengambil keputusan untuk menyudahi atau mempertahankan sesuatu? Kondisinya, hal itu sudah patut disudahi karena tidak lagi memberikan manfaat apa pun. Jika dipertahankan, hanya akan ada segelintir orang yang harus mati-matian memelihara kehidupannya yang sudah hampir tanpa napas. Dalam kekalutan itu tetap ada usaha untuk berpikir jernih, yakni dengan memerinci hal-hal yang akan jadi bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan.
                
Jika berusaha jadi optimis, bisa jadi keputusan untuk mempertahankanlah yang diambil. Mungkin keputusan ini juga akan dibela dengan keyakinan bahwa manusia itu berubah. Sayang sekali jika ternyata kesempatan untuk berubah dan memperbaiki keadaan itu malah ditutup. Romantisisme masa lalu juga jadi halangan yang cukup berat untuk menyudahinya. Kebanggaan atas kemenangan dan kejayaan tidak akan dengan mudah lepas dari ingatan. Belum lagi jika itu semua dicapai lewat berbagai kekalahan, lelah, sakit, dan cerita-cerita sumbang dari orang-orang. Dramatis. Setelah semuanya itu, bagaimana mungkin bisa disudahi begitu saja? Selain itu semua, tidak ketinggalan pula cita-cita luhur dan mulia (jangan sebut ini gombal karena memang ada yang dengan tulus berpikir demikian) untuk berusaha jadi berguna buat kehidupan orang lain. Benar-benar tega menyudahinya?
                
Nah, ternyata semua alasan untuk mempertahankan itu adalah juga alasan untuk menyudahi. Iya, manusia memang berubah. Berubah jadi apa dan bagaimana, tidak ada yang bisa memastikan bukan?  Kalau kondisinya sudah begini buruk, adakah yang dapat menjamin bahwa manusia tidak akan justru jadi lebih buruk lagi? Masa lalu yang romantis itu juga adalah bayang-bayang yang malah menguntit dan membuat manusianya ketakutan sendiri. Segala macam dramatisasi cerita lampau itu hanyalah tanggungan yang dijamin berat untuk dipanggul. Itu kan masa lalu, coba saja rasakan kondisinya sekarang. Bisa apa? Tentang cita-cita mulia itu, keinginan muluk yang tidak perlu dibesar-besarkan. Lebih baik disudahi, bukan?
                
Pikiran macam itulah yang berseliweran di otak saya tiap kali saya berusaha mengambil sikap atas kondisi ini. Itu belum semua, masih ada beberapa pendapat dari orang lain yang saling bertentangan. Ada yang bilang bahwa satu-satunya cara menuntaskan kebobrokan ini adalah dengan menghancurkan bentuknya sekarang. Sehabis-habisnya. Jangan ada sisanya. Biar nanti dimulai lagi dari awal tanpa dendam dan pengaruh masa lalunya. Tapi pikir saya, apa iya tidak akan ada sisanya? Memangnya ada hal yang tidak dapat pengaruh dari mana pun? Pendapat lainnya menuturkan kekhawatiran yang lebih mengerikan: jika ini disudahi, siapa yang mau memulai lagi? Tapi pikir saya, bukankah demikian siklusnya: sesuatu yang dimulai suatu saat akan berakhir, maka sesuatu yang baru dapat dimulai lagi.
                
Sampai di titik ini, saya teringat pada kalimat yang diucapkan Rosemary dalam drama yang saya jabarkan singkat di awal. Banyak manusia yang mendambakan kehidupan yang aman dan tenang. Ordinary and safe. Mereka mungkin ingin hidup dengan alur yang biasa-biasa saja tanpa perlu terlalu banyak mempertaruhkan batang leher mereka untuk dapat makan hari ini. Hidup bersisian dengan mereka sebagian lainnya yang terus bergejolak dan berontak. Orang-orang ini menilai bahwa keadaan saat ini parah dan busuk sehingga perlu dilakukan perubahan besar-besaran supaya semua manusia bisa hidup sejahtera. Di antara mereka juga tumbuh orang-orang yang percaya pada keniscayaan. Niscaya semua hal (yang dianggap) buruk itu akan terjadi sebagai suksesi. Maka, niscaya akan lahir hal lain yang bisa jadi lebih baik.
                
Apa urusannya semua ini dengan kondisi membingungkan yang saya alami tadi? Saya sepakat dengan keniscayaan macam itu, bahwa kadang memang dibutuhkan kehancuran untuk memulai lagi sesuatu yang baru. Tapi, hal itu tidak akan pernah dengan serta merta terjadi tanpa campur tangan siapa pun, apa pun. Saya tidak masalah dengan pilihan untuk hidup ordinary and safe seperti yang diinginkan Rosemary dan Tony. Wajarlah jika manusia menginginkan itu mengingat sudah begini berat hal-hal yang harus mereka hadapi setiap harinya untuk tetap bertahan hidup. Sementara itu, saya juga belajar banyak dari mereka yang memilih mengusik sedikit (atau banyak) hidup mereka yang memang tidak pernah baik-baik saja untuk memperjuangkan sedikit (atau banyak) kesempatan untuk menghidupi sesuatu yang lebih baik. Jika tidak ada yang berani melakukannya, entah bagaimana sebagian manusia akan menjalani hidup yang manusiawi. Inilah yang membuat saya percaya bahwa keniscayaan yang saya sebutkan tadi tidaklah akan dapat terjadi apabila tidak ada manusia yang bergerak. Tidak ada manusia yang menghancurkan. Tidak ada manusia yang membangun kembali.
                
Saya percaya bahwa setiap manusia selalu punya kegelisahan yang baik disadari maupun tidak menggerakkan manusia itu untuk terus bergerak dan mencari. Saya tidak meragukan itu sama sekali. Jika demikian, mengapa saya begitu lamban dalam mengambil pilihan menyudahi atau mempertahankan? Bukankah pada akhirnya siapa pun yang menjalaninya akan turut merasa gelisah? Nah, inilah bagian yang selalu membuat saya berhenti karena benar-benar kehabisan keberanian. Iya, saya memang percaya bahwa kegelisahan itu selalu menghinggapi masing-masing manusia. Namun, hal yang membuat saya tidak berani taruhan adalah kemauan dan keberanian manusianya untuk menjawab kegelisahan itu. Siapa yang bisa menjamin hal semacam itu?
                
Inilah kekhawatiran yang saya pikirkan dalam hidup semacam ordinary and safe. Situasi tenang dan aman bisa jadi membuat manusia enggan untuk bergerak lagi. Manusia khawatir akan capek, jatuh, tersandung akar pohon, terbentur meja, kejatuhan tangga, lecet dan tergores, kehujanan, serta lainnya jika harus keluar lagi dari rumah yang tenang dan nyaman. Nah, apa jadinya jika ternyata kegelisahan dan jawabannya itu berada di luar rumah? Beranikah manusianya mengambil semua resiko sakit dan terluka itu deminya?
                
Sesuatu yang hanya terus-menerus membuntuti masa lalunya yang jaya tapi tak bisa berdamai secara rasional dengan kondisinya saat ini yang sudah tidak lagi sehat pastilah melelahkan untuk dihadapi. Ia sibuk bicara tentang masa lalu dan tidak mudah baginya untuk mendengarkan suara zamannya kini. Jelas saja banyak yang menganjurkan untuk menyingkirkan hal macam itu. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa sejarah hidupnya itu memberi pelajaran bagi mereka yang mengenalnya. Ketika inilah segelintir dari teman lama itu merasa berat hati jika harus merelakan ia diistirahatkan. Orang-orang ini keberatan bukan karena sirnanya jasad, melainkan hilangnya semangat. Mereka akan tetap bergairah menantikan sesuatu yang baru. Adakah yang mau dan berani memulainya?
                
Rosemary dan Tony dalam drama Each His Own Wilderness mungkin jengah dengan hiruk pikuk peperangan dan demonstrasi yang memenuhi hidup mereka setiap hari. Ditambah lagi mereka kecewa pada Myra yang terlibat dalam itu semua tapi sungguh tidak tahu apa-apa pada kenyataannya. Ya, terlibat tapi tidak tahu apa-apa. Lalu buat apa? Atau mungkin Myra memang tidak pernah ingin tahu apa-apa karena ia merasa hidupnya berkecukupan dan memungkinkan ia untuk jadi demonstran tanpa harus ikut jadi miskin? Lantas, siapa sebenarnya yang hidup ordinary and safe ? Tidakkah Myra juga merasa aman dengan kondisinya saat itu ?
                
Jadi, begitulah. Tulisan ini adalah jawaban saya untuk pertanyaan Rosemary. Masih adakah keberanian manusia untuk menjawab kegelisahannya? That is the matter by being ordinary and safe.




sangat kontekstual meski tidak disebutkan konteksnya
Jogja, penghujung bulan kesayangan

Senin, 20 Januari 2014

Di Beranda - Banda Neira




"Kini kamarnya teratur rapi. Ribut suaranya tak ada lagi. Tak usah kau cari dia tiap pagi. Dan jika suatu saat buah hatiku, buah hatimu untuk sementara waktu pergi, usahlah kau pertanyakan ke mana kakinya kan melangkah. Kita berdua tahu, dia pasti pulang ke rumah."


Iya, saya memang seperti sedang menye-menye. Lagu ini menyenangkan sekali di telinga. Bicara tentang ikhlas dan percaya. Dua hal yang dikira sepele, namun bisa membuatmu mati kutu karena khawatir jika tidak memilikinya. :)

Rabu, 15 Januari 2014

Mati Rasa

Apakah bertambahnya usia sungguh membuat manusia mati rasa?

Sudah Januari lagi. Sudah jalan setengah bulan pula. Ini Januari pertama yang mengajakku pulang ke Yogyakarta lebih awal dari biasanya. Tanggung jawablah yang membawaku kembali. Aku berusaha tidak menggerutu dengan terus menjejali pikiranku dengan keyakinan bahwa Januari panjang di Yogyakarta ini akan menarik.

Aku memeluk ibu dan bersalaman dengan abang, lantas berlalu. Seperti biasa, aku menghindari drama yang beresiko membuatku enggan berangkat. Kubuat kebas perasaanku. Aku membiarkan diriku tidur selama perjalanan dan turun dari pesawat tanpa berbenah diri. Ah, mau memikat siapa memangnya? Itulah alasan untuk menguncir rambut sekenanya dan berjalan tanpa menatap orang-orang. Aku baru tersenyum ketika melempar pandang ke deretan orang yang menjemput penumpang penerbangan dan menemukan kekasihku di antaranya. Kami pulang.

Aku menemukan kamar tempat tinggalku dalam keadaan bersih dan rapi, padahal aku meninggalkannya dalam keadaan berantakan dan jorok karena kegiatan dan demam yang menjepit. Laki-laki yang mengantarku pulang inilah biang keladinya. Berbekal kunci kamar yang kutitipkan padanya, ia menyapu lantai, membersihkan sarang laba-laba, merapikan tumpukan sampahku, dan mengganti sprei. Aku hanya bisa menanggapi dengan, “Kamu curang.” Ia tertawa kecil.

Seusai makan malam, kepalaku mulai berdenyut menyebalkan. Ini masih sore, pikirku geram. Kami akhirnya sepakat untuk singgah di rumah kontrakan teman-teman agar bisa beristirahat sejenak dengan bertemu mereka. Sakit kepala itu membuatku malas dan menggeletak di hadapan televisi. Makin lama, rumah itu makin ramai. Satu per satu teman yang lain datang. Ada apa, aku juga tak tahu. Ke sana kemari kami mengobrol hingga akhirnya sampai pada topik Vicky Prasetyo (aku yakin topik ini tidak direncanakan). Tiba-tiba mereka bersahut-sahutan, “22 my age.” Tanpa prasangka aku mengoreksi, “29 my age, ya.” Mereka tidak berhenti bersahutan. Aku tidak peduli dan tetap menatap televisi.

Aku dipaksa bangun. Menoleh. Tersenyum malu. Hanya demikian. Laki-laki pembersih kamar kost itu menyodorkan kue ulang tahun dengan lilin bernyala. Mereka memintaku membuat permintaan dalam hati. Aku tiup saja lilin itu. Permintaannya tidak sempat kubuat. Mereka menungguku memberikan potongan pertama kue itu. Dengan yakin aku melahap sendiri potongan pertama. Seseorang nyeletuk, “Kowe ki pancen ra seru (Kamu ini memang tidak seru).”

21 hari ulang tahun lainnya sebelum ini selalu kujalani dengan kondisi benak tidak henti mendaraskan, “Ini tanggal 3. Besok sudah tanggal 4, tidak lagi istimewa. Habiskan baik-baik.” Pikiran itu masih lewat terus-menerus di kepalaku di tanggal 3 Januari tahun ini sembari aku memberadabkan tempat tinggal yang aku tinggalkan dua minggu. Lalu aku tidur. Lalu aku dijemput pacarku untuk main ke kampus lain. Lalu sudah.

Aku jadi takut. Rasanya beda. Iya, aku tetap bahagia. Tapi, ya…ada yang tidak ada. Semua jadi kebas rasanya. Aku rindu menjerit, terbahak, menangis sampai sesenggukan, melompat, berlari menghindari tangkapan, basah kuyup kehujanan, gemas, deg-degan, jatuh cinta, menghampiri penjual es krim lalu girang, duduk mengobrol sore, dan… dan…. Aku sampai lupa. Aku rindu punya rasa dan berani merasakannya. Aku harap ini bukan karena bertambahnya usia.

Sepertinya sudah waktunya membuang gengsi. Aku akan menghampirimu lagi, rasa.




menjawab pertanyaan lagi dengan tetap berbahagia

Rabu, 08 Januari 2014

Berlibur ke Rumah Nenek

Karangan Usai Liburan
Nama              : Maria Puspitasari
Kelas               : XVI A
No. Absen       : 22
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia


Sebagai warga Negara Indonesia yang pernah mengemban pendidikan di Sekolah Dasar, saya sangat terbiasa dengan kegiatan membuat karangan seusai liburan. Tentulah banyak dari kita yang juga akrab dengannya. Biasanya, ibu atau bapak guru akan meminta murid-muridnya untuk menuliskan cerita liburan mereka.

Entah bagaimana asal-muasalnya, contoh karangan seusai liburan yang dicantumkan di buku pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Dasar pada masa itu berkisah tentang seorang anak yang berlibur ke rumah nenek. Di sekitar rumah neneknya terhampar banyak sawah. Tak lupa dibubuhkan cerita perasaan hati bahwa lingkungan sekitar rumah nenek adalah hal yang memberikan kesenangan. Cerita senada tentang liburan juga muncul di lagu anak-anak berjudul “Paman Datang”. Demikian sepenggal liriknya: “Padaku paman berjanji, mengajak libur di desa. Hatiku girang tidak terperi. Terbayang sudah aku di sana, mandi di sungai, turun ke sawah, menggiring kerbau ke kandang.” Desa, sungai, sawah, ternak, dan nenek adalah kata kunci yang melekat erat pada kebiasaan bercerita tentang liburan.

Saya tahu persis bahwa tidak semua murid SD punya nenek yang tinggal di desa dengan kondisi lingkungan demikian. Saya juga mengerti bahwa banyak teman saya yang kala itu lebih sering berlibur ke ibukota negara, mengunjungi taman bermain terkenal, dan berbelanja baju-baju bagus yang distribusinya tidak sampai ke kota kami. Meski demikian, buku pelajaran Bahasa Indonesia sudah terlanjur menanamkan gambar yang kuat di kepala kami bahwa salah satu liburan menyenangkan adalah: berlibur ke rumah nenek dan melihat sawah.

Saya adalah –dengan subyektif saya berani bilang– salah seorang murid SD yang beruntung sebab dapat mengalami liburan seperti yang diceritakan oleh bocah di buku pelajaran Bahasa Indonesia itu. Rumah nenek saya memang berlokasi di desa yang jauh dari hal-hal yang dianggap sebagai tanda-tanda modernitas pada umumnya. Jika saya mengunjungi desa nenek, saya memang menemui hamparan sawah. Setiap hari saya menyaksikan warga sekitar menggiring ternak, pagi ke ladang, sore ke kandang. Murid-murid berangkat sekolah mengendarai sepeda.  Pak tani dan ibu tani juga mengendarai sepeda menuju sawah, kadang-kadang sambil memanggul pacul. Sedemikian miripnya desa nenek saya dan desa si bocah di buku Bahasa Indonesia membuat saya merasa sedikit bangga saat itu.

Demi menemui desa impian sebagian murid SD di Indonesia itu, saya dan keluarga harus menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 600 kilometer. Bapak saya selalu jadi orang yang terjaga paling lama sepanjang perjalanan karena ialah yang menyupir. Saya bisa tidur kapan saja, terutama ketika kepala mulai berputar dan perut mual karena jalan yang berliku-liku. Setibanya di rumah nenek, lelah saya selalu tergantikan oleh perasaan bahagia yang meluap-luap karena rindu akan rumahnya nenek dan segala atributnya itu terobati. Saya selalu sudah siap makan ketupat dan opor natal, memetik rambutan dan salak, berburu nanas, naik sepeda ontel, memberi makan ayam, dan menjerang air dengan tungku.

Nah, pengalaman berlibur ke rumah nenek setelah umur saya beranjak lebih banyak ketimbang siswa SD ternyata memberikan kesan lain. Saya mulai menyadari seberapa luas lahan milik kakek dan nenek saya itu yang menampung bangunan rumah, kandang sapi, kandang ayam, pelataran untuk menjemur padi, lumbung, kolam ikan, kebun salak, dan halaman depan yang ditumbuhi rambutan dan nanas. Pikir saya dalam hati, kakek dan nenek saya ini ternyata kaya raya. Bagaimana tidak, saya pusing menghitung nilai beli tanah seluas itu pada masa sekarang. Tidak mungkin keluarga kami mampu membeli lahan semacam itu saat ini. Sementara kakek dan nenek saya dulu mendapatkannya dengan cuma-cuma sebagai fasilitas bagi transmigran. Namun, pada kenyataannya kakek dan nenek saya tidak pernah kaya raya. Cerita masa kecil ibu saya dan saudara-saudaranya berkutat soal perjuangan mereka untuk hidup nyaman. Nah lho…

Masih ada banyak sawah di desa ini. Saya begitu gemar melemparkan pandang ke sisi-sisi jalan untuk menikmati jarak pandang yang jauuuuh sekali yang dimungkinkan oleh sawah-sawah ini sebab di perkotaan pandangan saya selalu mentok membentur tembok. Klise memang kegembiraan saya berkunjung ke rumah nenek ini. Tapi, kesempatan bersinggungan dengan kemajuan teknologi dan pembangunan di daerah tempat saya belajar membuat sejumlah hal jadi terasa sulit ketika berlibur di desa. Saya memperhatikan bagaimana anggota keluarga saya mulai garuk-garuk kepala yang tidak gatal jika sinyal HSDPA memburuk, mengumpat kecil jika rumah nenek kena giliran pemadaman listrik, memaki jauhnya jarak menuju sarana hiburan belanja, mengambek karena bau kotoran babi yang tak hilang seharian, serta meratap ketika ban mobil harus kena becek tanah setiap kali hujan. Padahal dulu kami semua kalem.

Makin banyak tahu, makin frustasi. Ketika masih kecil, perjalanan ke rumah nenek adalah hal yang menyebalkan buatku. Jarak tempuh yang jauh, medan yang berliku-liku, jurang dan tebing yang mengerikan, dan hutan lindung sepanjang jalan adalah alasanku untuk tidur sepanjang hari di mobil. Tapi sejak sering begadang baik dengan terpaksa maupun sukarela selama masa kuliah, tidur tidak lagi jadi hal gampang buat saya. Saya tidak kunjung tertidur selama perjalanan ke rumah nenek yang lalu. Alhasil, saya harus menghadapi semua hal yang selama belasan tahun saya hindari itu. Nah, di perjalanan itu saya menyaksikan ibu saya sebagai penumpang dan abang saya sebagai supir tertekan. Kondisi sebagian jalan lintas Sumatera: tidak layak guna. Lelah berserapah, kami bertiga berdiskusi. Penduduk Sumatera beruntung masih bisa menikmati barang-barang yang didistribusikan dari Pulau Jawa lewat jalur darat dalam kondisi jalan utama yang demikian parah karena prioritas pembangunan yang terbalik.


Sekarang saya sadar bahwa karangan usai liburan yang saya tulis setelah saya menyelesaikan kuliah berbeda sekali nadanya dengan karangan usai liburan SD dahulu. Tidak ada keceriaan meriah. Saya mulai mengenal rasa lelah. Meski demikian, bukan berarti saya tidak gembira. Tentu saja saya berbahagia bisa kembali berlibur ke rumah nenek. Kegembiraan ini berwujud syukur saya atas rehat hangat yang dengan rela saya bayar dengan beberapa waktu tanpa menyentuh internet. Jelasnya, saya bangga masih bisa bercerita tentang berlibur ke rumah nenek di desa yang seperti dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia. :)

Jalan Pulang si Jalan Pulang




Sabtu yang lalu, saya malam mingguan dengan menghadiri sebuah acara sambatan. Sambatan buat pacar saya, tontonan buat saya. Di acara itu tampillah sebuah grup musik yang langsung menyita perhatian saya. Iya, saya memang tidak gaul. Saya sering mendengar nama grup mereka, namun belum pernah mendengarkan musiknya. Nah, malam itu jadi interaksi pertama saya dengan musik mereka yang -asiknya- dibawakan secara langsung. Saya suka lagu di atas. Saya tidak punya argumen pintar untuk reaksi itu. Saya hanya merasa -seperti biasa- dekat dengan tema-tema seputar 'rumah' dan 'pulang'.

Jangan bingung, judul lagu dan nama grup musiknya memang sama. Itu saja.