Jumat, 28 Maret 2014

Sermo: Sebuah Memoar (Bagian 3)


Di tahun 2007 dan 2008, makrab ajaib ini juga diselenggarakan di Sermo. Lalu, di tahun 2010 dan 2011 kami kembali lagi. Pilihan ini bukannya tanpa alasan, justru malah menandakan bahwa Sermo ini cukup pas untuk mengakomodasi hal-hal yang kami rencanakan. Sudah empat kali Sermo disambangi oleh gerombolan beridentitas sama. Tahun berganti, Sermo nampaknya tetap up to date (atau kami yang stagnan?) di tahun 2012. Maka, kami ke sana lagi. Rasa-rasanya memang sudah kenal, sudah mengakrabi setiap sudutnya. Tapi, Sermo tetaplah area di mana kita bisa melihat hewan-hewan (terutama serangga) yang sepertinya baru pertama kali kita lihat. Ada begitu banyak hal ajaib dan baru tentang Sermo setiap tahunnya. Maka, kami sadar untuk tidak main-main menghadapinya terlepas dari keakraban kami di tahun-tahun sebelumnya.

Di tahun 2012, kami menghabiskan waktu yang lebih singkat di Sermo. Biasanya kami bermalam di sana 4 hari, kali ini hanya 3 hari. Sama, cuaca Sermo juga cukup bersahabat di kesempatan ini. Akan tetapi, kali ini kami tiba di Sermo lebih awal. Siang yang amat panas (ngentang-ngentang) membuat kami berpeluh banyak sekali waktu menurunkan berbagai macam barang bawaan dari bak truk yang disewa. Sermo masih tetap cokelat. 2 tahun belakangan, kami selalu melakukan ritual menyiram tanah lapang sebelum semua persiapan dimulai. Tujuannya supaya tidak terlalu berdebu dan mengurangi hawa panas. Tahun 2010, jangan ditanya. Tanah lapang Sermo sudah becek lebih dahulu. Oh iya, bagi mereka yang sudah bertahun-tahun mengunjungi Sermo, pastilah kenal dengan seorang laki-laki yang kerap dipanggil Mas Rianto. Dia adalah pengurus Gerakan Pramuka Kwarcab Kulonprogo yang membawahi pengelolaan Bumi Perkemahan Sermo. Beberapa kali ia menyapa akrab teman-teman angkatan atas yang tentunya juga sudah lama kenalan dengannya.

Secara umum, Sermo berlaku baik juga pada kami tahun itu. Sampai dengan seekor hewan membuat heboh. Semua peserta dan sebagian besar panitia sedang ada di hutan pinus siang itu untuk acara diskusi. Cuacanya memang panas betul, semua orang kipas-kipas. Saya dan beberapa teman memilih untuk leyeh-leyeh istirahat di bawah rindang pohon. Sebagian yang lain mengisi waktu luang dengan menggali umbi tanaman yang saya tidak ingat persis itu jenisnya apa, entah kencur, jahe, atau kunyit. Kemungkinan besar kunyit. Ada banyaaaaak sekali tanaman itu di sana. Mereka baru berhenti membongkar umbi tanaman ketika diingatkan bahwa itu mungkin milik petani sekitar dan lebih baik jangan diambil. Mereka memang berhenti namun, sambil menenteng satu plastik umbi yang telah telanjur dibongkar.

Nah, sementara siang yang terik itu membuat kami malas melakukan apa pun, suara-suara dari saluran HT menggungah kami untuk bangkit. Informasinya tidak terlalu jelas. Saya baru mengetahui ada yang tidak beres ketika seorang teman dari kelompok Kemah Ceria mendatangi kami di hutan pinus untuk mencari Gondes, si koordinator keamanan. Setelah kasak-kusuk, pergilah Gondes kembali ke perkemahan. Saya bertanya pada teman-teman yang ikut kasak-kusuk tadi. Jawabannya, “Ada (orang) yang diseruduk babi.” Saya takjub. Saya tanya lagi yang lainnya, ia menjawab, “Tadi ada yang lagi bawa galon, lalu tiba-tiba ditabrak babi.” Saya tambah bingung, berusaha mencari tahu siapa yang tertabrak babi. Seorang lainnya memberi kabar begini, “Ada babi sebesar galon nubruk orang.” Tidak ada satu jawaban pun yang menolong.

Sementara terjadi kebingungan di hutan pinus, teman-teman yang ada di lahan perkemahan juga sudah berhenti memberi kabar. Entah ke mana atau apa yang sedang mereka lakukan. Seusai aktivitas hari itu, barulah Adul bercerita bahwa setelah berita tentang babi itu tersebar, Eric dan teman-teman lain yang tadinya sedang kelelahan malah jadi bergairah kembali. Eric langsung menghunus golok dan berjalan keluar tenda sambil berkata, “Mana makan malam kita?” Mereka sungguh-sungguh berkeliling mencari hewan yang tiba-tiba jadi kondang itu. Berkaitan dengan berita yang simpang siur, seorang teman lain dari Kemah Ceria yang akhirnya bercerita pada saya mengenai kejadian sesungguhnya. Mereka sedang istirahat siang di sekitar tenda mereka ketika tiba-tiba Dito (salah seorang dari mereka) datang dalam kondisi berkeringat dan langsung menjatuhkan diri di dalam tenda. Lainnya tidak begitu menghiraukan sampai dengan Dito bersuara, “Ono babi neng kene. Aku bar ditubruk.” Artinya, “Ada babi di sini. Aku baru saja ditabraknya.” Hebohlah mereka seketika. Ternyata cerita yang benar adalah: Dito sedang membantu teman-teman konsumsi memindahkan galon berisi air. Ia mendengar suara berkeresak dari semak-semak. Baru berniat mencari tahu, sesuatu dari balik semak itu melompat keluar dan menabrak tubuhnya. Dito jatuh, galon yang tengah dibawanya menggelinding. Babi itu lalu lari meninggalkannya (Kalau ceritanya salah, tolong diperbaiki ya). Sayang, Eric tidak jadi makan malam pakai daging babi. Hewan itu tidak ketemu.

Masih tentang hewan. Pada malam pertama kami menginap di Sermo, saya tidur di mobil bersama Anik dan Sakha. Karena lumayan lelah, saya tidak bisa langsung tertidur. Sambil berusaha tidur, saya memejamkan mata. Tiba-tiba terdengar suara seperti geraman yang cukup kencang. Saya bangun dengan panik. Saya melihat ke arah Sakha dan Anik, dua-duanya kelihatannya sudah tidur. Saya mencoba merem lagi. Suara itu datang lagi dan makin kencang. Ketika saya lihat Sakha bergerak sedikit, saya tahu dia juga belum tidur. Maka langsung saya sambar kesempatan untuk bertanya, “Itu suara apa, ya?” Dengan masih merem, Sakha menjawab santai, “Macan.” Saya tidak terima begitu santainya dia menjawab ada hewan buas di luar sana. Karena tidak ada penjelasan lebih lanjut, saya menyimpulkan itu bohong. Tapi, ya saya tetap tidak paham itu suara apa.

Ketika pagi tiba, saya menceritakan pengalaman itu kepada beberapa teman yang lain. Usut punya usut, mobil yang saya pakai tidur di malam sebelumnya itu diparkir bersebelahan dengan sebuah mobil lainnya. Misteri auman itu terkuak sudah. Ternyata, seorang panitia tidur di dalam mobil yang diparkir di sebelah mobil kami tadi malam. Namanya Kanzy. Dia mendengkur. Seperti macan. Saya benar-benar lega sekaligus takjub. Lega karena Sermo tidak jadi kedatangan hewan buas. Takjub karena dengkuran Kanzy bisa menembus kaca mobil dan terdengar seperti auman macan.

Seperti biasa, setiap kali akan pulang dari Sermo kami selalu bergambar di gunungannya yang ternama itu. Setelah semuanya beres, pulanglah kami.

Bahan perbincangan tentang Sermo tak kunjung habis. Sebenarnya, makrab itulah yang membuatnya jadi begitu akrab dengan kami. Ada banyaaaaaaaak sekali hal yang tidak sanggup saya ceritakan di sini. Mereka yang pernah berkunjung ke sana mungkin kenal dengan pendopo yang teduh itu, pohon-pohon kayu putih dan pabriknya di pinggir sungai, kamar mandi yang konon angker dan tak pernah dipakai, pintu saluran air yang baunya sangat tidak enak, gardu pandang, gunungan, dan waduk tempat memancing dengan papan peringatan bertulisan “Bahaya, dilarang memancing.”


Ternyata rindu juga padanya. Mungkin lain kali asyik juga bertandang ke sana. Saya pasti jadi amat sentimentil jika tiba lagi di sana. Patutlah berterima kasih pada Sermo. Mudah-mudahan ada kesempatan untuk bertemu lagi dengannya, bertamu ke rumah teman lama. J



sudah habis sambungannya.



Jumat, 21 Maret 2014

Sermo: Sebuah Memoar (Bagian 2)



Tahun berikutnya, kami kembali ke Sermo lagi. Kali ini dengan santun dan persiapan lebih. Kami tak mau lagi diombang-ambingkan badai. Sermo jadi lebih cokelat. Lapangannya sebagian besar botak, bahkan rumputnya pun bersalut debu sehingga warnanya kekuningan. Sermo ternyata jauh lebih bersahabat tahun ini. Kami bermalam di sana 4 hari 3 malam dan tetap sehat. Kami sempat menunggui matahari terbit setiap pagi dan bersenang-senang di malam hari. Teman-teman lama dan tua pun turut mengunjungi kami di Sermo. Dini hari kedua, seorang teman yang biasa dipanggil Mas Sugeng berkelakar. Saya tengah berusaha tidur dalam posisi duduk memeluk lutut di sisi tembok bertangganya Sermo ketika Mas Sugeng berbicara dengan Samson yang juga masih terjaga. Mas Sugeng memprotes arah parkir kendaraan roda empat. “Kuwi ngopo mobil sakmono akeh e parkir madep kono? Piye nek tiba-tiba ono panitia sing titit e kekethok? Ndadak atret! Suwi!” Kira-kira artinya, “Kenapa semua mobil itu parkir menghadap ke sana? Bagaimana kalau tiba-tiba ada panitia yang burungnya terpotong? Harus mundur putar kepala dulu! Lama!” Samson terkekeh keras. Saya lemas, kelelahan. Tapi, saya sadar Mas Sugeng tidak sedang berkelakar, ia justru sedang memprotes keras teknis yang tidak tepat. Posisi parkir yang membuat mobil menghadap ke dalam itu tidak sesuai dengan standar penanganan kondisi darurat. Mestinya kepala mobil menghadap jalan keluar agar mudah digunakan dengan segera. Terima kasih Mas Sugeng.

Belum setengah jam saya tertidur, saya dibangunkan lagi karena memang sudah waktunya bergegas menyiapkan acara selanjutnya. Hari masih gulita, setengah sadar saya berdiri di pinggir lapangan. Menggigil kecil karena anginnya Sermo begitu menggigit. Kami akan memberangkatkan teman-teman peserta makrab ke perjalanan dini hari. Rekan saya yang berkepentingan, Adul dan Sakha, pamit untuk ikut mengiringi dan mendahului peserta menuju lokasi akhir perjalanan. Saya akhirnya memutuskan untuk berjaga di perkemahan, membantu persiapan yang lain. Setelah mereka berangkat, saya duduk sendirian di tepi lapangan. Tibalah Wowok dari dapur melapor pada saya bahwa air sudah mendidih dan siap diantarkan. Dengan polosnya saya berkata pada Wowok, “Oke Wok. Makasih. Dianter ke hutan pinus ya, Adul sudah di sana.” Wowok tidak protes. Ia hanya menimpali, “Ada senter, Pit?” Saya segera mencarikan senter lalu memberikannya pada Wowok yang sudah menenteng satu wadah besar air panas. Setelah senter ada di tangannya, Wowok tidak kunjung berangkat. Lalu ia berujar lagi, “Jaketku yang tadi kamu pakai untuk selimut mana ya, Pit?” Saya bergegas mencarinya. Tidak ketemu. Akhirnya saya menyerahkan jaket saya ke Wowok. Dia tadinya menolak namun, saya berdalih bahwa saya tidak perlu keluar dari perkemahan sehingga saya tidak akan kedinginan di lapangan ini. Wowok akhirnya mau mengenakan jaket saya dan berangkat mengantarkan air panas.

Berbulan-bulan setelahnya barulah Adul bercerita pada saya bahwa suara Wowok lebih dahulu tiba di hutan pinus ketimbang tubuhnya. Wowok ternyata mengumpat sepanjang jalan. Saya lantas bertanya alasan Wowok mengumpat. Ia menjawabnya demikian, “Kowe ki ra peka! Aku ki jaluk dikancani!” Wowok memarahi saya yang tidak peka karena sebenarnya dini hari itu Wowok minta ditemani berjalan ke hutan pinus. Saya tertawa keras-keras dan membela diri, “Lha kan waktu itu kamu cuma minta senter sama jaket, Wok. Lha ya tak kasih.” Wowok kembali mengomel menjelaskan bahwa itu hanya kedok yang gagal saya pahami. Jalur menuju hutan pinus itu berbatu dan diapit pepohonan agak rapat. Memang sudah ada beberapa lampu minyak yang dipasang di sepanjang jalur itu tapi, tetap saja gelap. Ternyata Wowok hanya butuh teman. Senter dan jaket tidak cukup baik untuk jadi temannya. Maaf ya, Wok.

Wowok jadi bintang di Sermo tahun itu. Sebelum kejadian mengumpat di jalan ke hutan pinus itu, ia sempat bikin heboh panitia lewat saluran HT. Sore itu peserta makrab baru saja menyelesaikan trekking. Jadwal selanjutnya buat mereka adalah mandi. Maka, diumumkanlah himbauan pada para peserta untuk bergantian mandi. Lokasi kamar mandi Sermo mengapit dapur—yang tahun itu jadi markasnya Wowok, si koordinator konsumsi. Terang saja Wowok punya banyak interaksi dengan kamar mandi. Nah, setelah himbauan mandi itu tersiar, tiba-tiba Wowok berusaha membatalkan jadwal mandi. Ia mengabarkan lewat HT dengan nada panik, “Peserta jangan disuruh mandi dulu, ada semangka di kamar mandi!” Saya bingung mau jawab apa. Saya tidak paham apa yang dimaksud Wowok. Daripada bingung bincang-bincang lewat HT, saya memilih mendatangi langsung kamar mandi yang menghebohkan itu. Setibanya di dapur, saya menemui Wowok dan bertanya. Ia langsung menjawab, “Iki lho!” sambil menuding semangka di meja dapur. “Ini tadi ada di dalam kamar mandi cewek.” Masalah selesai. Peserta akhirnya boleh mandi lagi. Usut punya usut, semangka utuh itu bisa ada di kamar mandi akibat ulah seorang teman kami bernama Aryo Baskoro. Ia berbelanja semangka (tertipu pedagangnya pula!) lalu berusaha mendinginkannya dengan meletakkan buah itu di kamar mandi. Iya, saya tahu, tindakan itu memang tidak jelas. Namun, masalah masih tersisa berupa kebingungan saya atas perilaku Wowok. Mengapa dia begitu takut pada semangka di dalam kamar mandi sampai-sampai ia melarang peserta mandi? Mengapa tidak langsung dikeluarkan saja (seperti yang akhirnya ia lakukan)? Mengapa Wowok heboh? MENGAPA? Sampai saat ini, setelah hampir 3 tahun berlalu, saya tetap tidak menemukan jawabannya.

Tahun itu saya sempat memanjakan keinginan saya pribadi untuk duduk di puncak gunungan Sermo menikmati sore yang cerah sambil melihat aktivitas di perkemahan. Hanya sebentar memang. Tapi, cukuplah untuk membuat saya punya gambar di kepala mengenai Sermo yang manis.

Ada-ada saja tingkah teman-teman saya tahun itu. Pernah terjadi sebuah tenda dome terbang dari lokasi seharusnya dan mendarat di lapangan bawah. Leo, seorang panitia penjaga keamanan, panik waktu diberi tahu sebab menurut pengakuan Leo ada Amor (panitia lainnya) yang sedang tidur di dalamnya. Saya juga sempat membangunkan teman-teman petugas dokumentasi di pagi hari dan meminta mereka memotret acara senam pagi itu. Kalang kabut mereka bangun. Seorang di antaranya saya temukan sedang berdiri di tepi lapangan, menggenggam kamera di tangannya, dengan mata tertutup. Saya takut Dias (nama bocah aneh ini) tertidur dalam posisi berdiri; dia bisa jatuh. Saya goncang-goncang tubuhnya sambil memanggil namanya. Dias langsung menyahut, “Aku nggak tidur, Mbak!”. Saya makin bingung, “Terus, kenapa merem?” Dias mengeluarkan jawaban ini, “Mataku masih blereng kena sinar, bentar lagi bisa melek kok.” Ada-ada saja.


Sermo baik sekali tahun itu. Cuacanya baik untuk kami beraktivitas. Sempat turun gerimis sebentar di malam kedua. Meski persiapan sedikit lebih baik, darah saya berdesir lagi mengingat tahun sebelumnya. Saya akui, ketika gerimis itu turun, saya kalap. Semua orang yang tersedia saya mintai tolong untuk menyiapkan tempat beratap. Saya berdoa sungguh-sungguh dalam hati, semoga tidak terulang lagi badai macam sebelumnya. Saya berkomunikasi lewat HT dengan siapapun yang memegangnya. Saya dan Sakha sepakat bagi tugas mengurusi lapangan bagian atas dan pendopo bawah. Adul sedang offline sebab ia jadi penampil dua kali malam itu. Saya kaget ketika terdengar suara Adul memanggil lewat HT padahal HT Adul sedang saya kantongi dalam keadaan mati. Saya dan Sakha dipanggil ke tepi panggung. Ketika melihat Adul, saya berusaha menahan tawa. Mukanya serius sekali (nampaknya ia juga panik) namun, pakaiannya sungguh tidak serius. Ia berbicara dengan kami dalam balutan kostum pom-pom boys. Adul pakai rok dan tanktop, wajahnya berrias. Ternyata, hujan tidak jadi turun malam itu. Sermo menjaga kami dengan baik tahun itu.



masih ada lagi sambungannya...

Kamis, 20 Maret 2014

Sermo: Sebuah Memoar (Bagian 1)

Warnanya cokelat. Setidaknya begitulah yang banyak tertangkap oleh hasil jepretan lensa kamera. Sesekali hijau.

Saya berkenalan dengannya pertama kali di tahun 2010. Saya menginjakkan kaki di sana untuk pertama kalinya karena sebuah keputusan bunuh diri yang terlanjur saya ambil sebelumnya. Tapi, ya sudahlah, saya pertanggung jawabkan saja keputusan terburu-buru itu. Menurut beberapa orang, ada yang terlewatkan dalam pertemuan pertama kami dengan Sermo kala itu: kula nuwun. Semuanya masih baik-baik saja hingga tiba saatnya bersiap bermalam di sana untuk beberapa hari. Kami menghampiri Sermo dengan serangkaian kejadian nahas. Satu per satu kabar kecelakaan menyambangi telinga saya. Kabar terakhir di malam itu datang ketika saya terjebak hujan deras yang memaksa rombongan saya menunda melanjutkan perjalanan ke Sermo meski hanya sekitar 10 menit lagi kami akan sampai. Saya lupa bagaimana persisnya perasaan saya saat itu, yang jelas seperti ada yang memukul dada saya. Saya gagap menjawab kabar yang disampaikan lewat telepon itu. Setelah telepon itu, tiap ada teman yang melemparkan guyonan, saya hanya tersenyum terpaksa.

Sebab hujan tak kunjung reda sementara kami harus segera tiba, saya dan rombongan yang berteduh langsung tancap gas menuju Sermo. Tiba di sana, saya sungguh kebingungan. Makin terbukti bahwa keputusan yang saya ambil dulu itu sungguh-sungguh tindakan bunuh diri. Saya tidak tahu harus berbuat apa, mengarahkan sesuatu pun tidak tepat, meminta sesuatu ditolak, memberi sesuatu ternyata tidak dibutuhkan. Saya hanya menunggui hujan. Hujan yang terus mengguyur itu malah membangkitkan kecurigaan teman-teman saya. Mereka merasa ada yang tidak pas dengan hujan itu. Seakan-akan hujan merupakan pertanda selamat datang yang tidak ramah. Mereka masih bisik-bisik sehingga saya juga belum paham. Saya baru mengerti keadaannya ketika segerombol orang keluar dari ruangan yang tadinya dikunci dan tidak boleh dimasuki siapa pun. Ternyata mereka habis berdoa, berusaha menghentikan hujan. Satu di antara mereka keluar dari ruangan sambil menggelengkan kepala dan bergumam, “Susah. Dia nggak mau.” Siapa pula ‘dia’?

Saya mulai paham siapa yang mereka maksud dengan ‘dia’ itu ketika tercetus sebuah usulan yang disepakati untuk dilakukan berupa memanggil bala bantuan yang lebih mumpuni untuk mengurusi hujan ini. Datanglah dari ujung lain kota ini dua orang pemuda—berhujan-hujan—untuk mencoba negosiasi yang lebih baik dengan si ‘dia’. Beberapa waktu kami menanti sambil berlagak tenang sementara dua pemuda itu menyalakan dupa di tengah lapangan yang diguyur air hujan. Nyala kok. Namun, malah tersambar ban mobil yang tidak sadar ada benda itu di sana. Seketika semua orang kalang kabut: teman saya bernama Samson berlari mengejar mobil itu untuk menghentikan supirnya, dua pemuda tadi lari menuju dupa, saya bingung tidak karuan. Si supir mobil diminta untuk meminta maaf (entah dengan cara apa) pada ‘dia’ yang dihadiahi dupa itu. Setelah itu, dupa coba dinyalakan kembali. Tak sampai sepuluh menit berselang, baranya mati. Dinyalakan lagi, mati lagi. Begitu seterusnya hingga akhirnya dua pemuda yang sudah berdiri di sebelah saya ini menggerutu. Salah satunya berujar, “Wah jan, goro-goro kae lho! Ket mau neng kono, ra gelem.” Kurang lebih artinya, “Wah, gara-gara itu lho! Dari tadi di sana, nggak mau.” Saya makin bingung sebab pemuda itu menyebut ‘kae’ sambil menuding bagian atas sebuah pohon di pojok. Saya mulai paham dan memilih untuk tidak bertanya apa-apa karena saya memang tidak melihat apa-apa selain langit.

Singkatnya, hujan sedikit mereda malam itu. Kami bisa melanjutkan persiapan hingga hari berganti. Siang itu kami menunggu peserta malam keakraban menyusul kami di Sermo. Tibalah mereka sambil dihujani rintik gerimis. Kegiatan sore hari itu harus dipindah lokasi bolak-balik dari dalam ruangan ke luar ruangan serta sebaliknya karena hujan yang turun lalu reda, lalu turun lagi, kemudian reda lagi. Saya merasa dikerjai. Teman-teman mengiyakan. Sudahlah, saya tidak terlalu paham hal-hal semacam itu maka saya mengalihkan pikiran ke hal yang lain.

Pagi hari kedua membawakan harapan yang membuat kami sedikit berbunga-bunga. Hari ini sepertinya akan cerah. Kami memberangkatkan teman-teman peserta untuk berjalan kaki menyusuri wilayah Sermo. Setibanya kelompok pertama di pos paling akhir, tiba-tiba awan hitam menggulung cepat bergulir dan menghujani kami sederas-derasnya. Acara dibubarkan, semua orang dikembalikan ke perkemahan. Ternyata perkemahan pun amburadul. Semua orang basah sore itu. Malamnya hujan sudah reda, tapi kami tetap basah. Beberapa orang basah air mata karena terpaksa mengantar pulang teman-teman peserta. Perasaan saya? Remuk.


Keesokan harinya kami menutup perjumpaan dengan Sermo dengan mengemasi semua barang. Kami sempatkan berfoto di gunungan Sermo yang ternama itu. Di foto itu, kami tampak bahagia. Tampak bahagia. Dalam beberapa hari sepulang dari sana, saya mendapati kabar buruk masih terus menyambangi telinga saya. Seorang teman tertimpa musibah kecelakaan yang cukup parah, seorang lainnya pingsan dan sakit. Saya teringat cerita teman-teman (entah burung atau bukan) mengenai pengalaman mengunjungi Sermo dua tahun sebelumnya. ‘Dia’ ikut pulang bersama mereka. Saya kalut sekali waktu itu. Menemui seorang teman lalu menangis sejadi-jadinya karena ketakutan. Takut hal yang serupa terulang dan teman-teman kena akibatnya. Untungnya, semua hal dapat berjalan dalam kendali kami dan mereka yang sakit dapat segera pulih. Sermo ternyata tidak suka diajak main-main.


akan ada sambungannya...