Sabtu, 26 Mei 2012

lima


Tentang sebuah hari ketika hal-hal yang pernah hilang kini mencuat kembali…

Bernafas tak lagi seringan biasanya, pejaman mata tak lagi setenang biasanya. Hal-hal itu bersalut rindu, menantikan pemiliknya memeluknya di pekarangan rumah seusai sebuah perjalanan jauh. Hal-hal baik ini kadang membuat ngilu di dada, mengalihkan semua rasa jadi hanya satu rupa, rindu.

Rindu yang menitikkan tetes-tetes kenangan di tiap gerak raga dan suasana. Rindu ini menuntun langkah menuju pendewasaan dan menunjukkan bahwa kehidupan yang terus berjalan ini adalah perjuangan panjang untuk bertumbuh, berbunga, dan berbuah.

Bersama rindu inilah aku berjalan, menumbuhkan diri, menguatkan hati.

Percayalah, aku merindukanmu untuk terus membagi kenangan tentangmu, tentang cintamu..



menuju 25 Mei 2012
melihat ketakkasatmataanmu selama lima tahun
bangga dan penuh cinta, untuk satu-satunya orang yang kupanggil ‘Bapak’

Sabtu, 05 Mei 2012

percayalah

Selalu ada bagian indah yang bisa dimaknai dari hari-hari yang melelahkan. Kata siapa bahwa jika tak punya waktu untuk bicara dari hati ke hati, maka kau tak akan mampu mencari tahu lebih dalam?

Waktu-waktu yang hanyut untuk bermain dan saling menertawakan memang selalu akan jadi sesuatu yang hidup dalam ingatan. Tak jarang malah mengipasi rindu agar baranya tak mati ketika waktu-waktu itu sedang melancong entah ke mana. Nah, saat itulah bagian paling seru dari sebuah hubungan mengajak untuk bermain bersama menggantikan waktu.

Bayangkan, betapa serunya belajar meletakkan sesuatu bernama kepercayaan di semua gerak raga untuk membiarkannya sampai pada orang-orang yang berlabel ‘tercinta’. Memang itu bisa jadi bagian yang amat sulit, tapi tak ada salahnya mendapati kendala ketika belajar melakukannya. Siapa tahu itu malah akan mengajarkan sebuah ketekunan. Nyatanya, memang sulit meyakinkan diri untuk akan tetap baik-baik saja dan memberi ruang untuk orang-orang tercinta itu bergerak leluasa. Namun, bagian menyenangkannya tiba ketika mencari cara untuk menyinarkan kepercayaan itu bersama pijaran mata, menghembuskannya bersama tiupan nafas, melantunkannya bersama penggalan nyanyian sederhana, menumpangkannya bersama rengkuhan kecil yang hangat, mengulurkannya bersama jabat tangan lembut, atau menyatakannya bersama lengkungan senyum manis. Banyak pilihan jika memang tak punya kata untuk bicara.

Rasa cemburu, takut ditinggalkan, dan rendah diri biasanya akan ikut-ikutan berlompatan mencoba mendapatkan perhatian. Menyikapinya tak kalah penting dengan menerimanya. Ternyata eh ternyata, cara untuk mengolahnya jadi sesuatu yang menenangkan hati bisa ditemukan. Mencintai adalah jawabannya. Membagikan sekedar berbagai ucapan selamat, tepukan hangat, atau apa pun itu bentuknya untuk mengungkapkan cinta merupakan sebuah jalan keluar yang begitu manjur dari buruan kecemburuan. Buatku, buatku lho, tidak pernah ada cinta yang tak berbalas. Ketika aku mencintai dengan tulus, aku tahu pasti bahwa aku akan dicintai dengan tulus pula. Itu nyata.

Terima kasih untuk kepercayaanmu. Maka, percayalah.

because when somebody loves me,
everything is always beautiful
every hours spent together
lives within my heart :)


“akhirnya ku menemukanmu saat ku bergelut dengan waktu” –Sheila On 7
ditulis dengan kebahagiaan tulus ketika bulan di Jogja kelihatan tumbuh lebih dari separuh