Minggu, 24 Oktober 2010

aku dan tong sampah

Sudah lama juga saya nggak cerita-cerita tentang kebodohan zaman SMA. Cerita yang satu ini udah lama banget pengen saya tulis, tapi baru kesampaian sekarang. Ahahaha…..

Yak, ini adalah salah satu prestasi saya di SMA. Ulang tahun adalah moment yang memberikan kesempatan lebih bagi kami untuk melakukan sedikit keonaran. Maka…terjadilah. Indah adalah korban pertama. Setelah diguyur air oleh seantero kelas ditambah dengan personil kelas lain, saya menculik kunci motornya dan melarikan sepeda motornya untuk diparkirkan secara tidak senonoh di pojok lorong kelas. Musibah ini pun ditambah-tambahin oleh teman saya dengan menyelipkan batang bambu panjang di ruji roda depannya sehingga sepeda motor itu tidak akan bisa ke mana-mana. Joknya kami coret-coret dengan batu (hebat to, bisa nyoret-nyoret (nggores-nggores) pake batu). Sang gadis ulang tahun (terjemahan dari “the birthday girl”) hanya tertawa-tawa getir menyaksikan kejadian itu seraya memohon kuncinya dikembalikan. Teman saya yang lain menahan kuncinya sehingga si Indah tidak bisa pulang. Ketika itu saya sedang makan sesuatu. Setelah habis, bungkusnya saya buang ke tong sampah. Ketika itulah ide brilian muncul. Tong sampah itu ternyata kosong. Saya dengan pe-denya nyeletuk, “Ayo masukin Indah ke tong sampah!”  Ide itu benar-benar muncul sendiri dari kepala saya. Saya belum pernah melakukan dan menyaksikan hal serupa. Namun, ternyata saya kemudian menemukan bahwa hal ini juga kerap menjadi tren di tempat-tempat lain. Setelah menyuarakan ide brilian itu, saya pikir teman-teman hanya akan menanggapi dengan tertawa malas-malasan. Ternyata,…mereka semua langsung berdiri dan ambil posisi. Anggita memegangi kedua tangan Indah, saya kedua kakinya. Sisanya membukakan tutup tong sampah dan bersiap menjadi pemandu sorak. Indah hanya menjerit-jerit senang eh…maksudnya menolak tapi tetap sambil ketawa, maka kami pikir ia menyukainya. Dan kemudian…saya dan Anggita menjebloskan ia ke dalam kungkungan tong sampah. Pais dengan yakin meletakkan kembali tutup tong sampah itu di atas kepala Indah. Yeaaaahhh!! Kami tertawa puas sekali lalu membiarkan Indah melatih diri untuk mandiri. Ia harus mengeluarkan dirinya dari tong sampah itu tanpa bantuan orang lain. Oke. Misi pertama selesai. Rasanya bahagia sekali bisa mendidik Indah untuk makin mandiri.

Kejadian kedua terlaksana dengan lebih spektakuler. Kali ini tidak terjadi ketika hari ulang tahun, melainkan H-1 ulang tahun Shinta. Hal ini dikarenakan besoknya atau ketika hari ulang tahunnya, sekolah libur (lupa karena apa). Kami langsung bagi tugas. Sayangnya, pak Ketua Kelas tidak ikutan mengkoordinasi kegiatan ini. Beliau sedang ada urusan servis motor, kalau saya tidak salah gara-gara hari sebelumnya ia mengganti oli sepeda motornya dengan oli bekas. Ckckck…

Segera setelah matrikulasi Fisika yang kami dapatkan gara-gara nilai try out tidak pernah memuaskan itu, Shinta pulang. Sepertinya ia tahu apa yang sedang kami rencanakan. Huh…dia salah besar. Kami tidak pernah merencanakannya, semua yang terjadi hari itu adalah murni spontanitas. SPONTANITAS! Aye! Saya buru-buru mencegat Shinta di pinggir jalan sebelum ia menyetop sebiji angkot. Setelah saya pikir-pikir alasan saya saat itu benar-benar tidak mutu dan tidak meyakinkan (saya lupa ngomong apa waktu itu). Shinta tidak mau masuk ke sekolah lagi, tapi saya tetap memaksa. Akhirnya (entah percaya atau tidak dengan yang saya omongkan), ia mau masuk lagi ke depan kelas. Sementara itu, beberapa ember berisi air sudah disiapkan di balik tembok kelas. Sesegera mungkin serombongan anggota kelas merubungi Shinta dan memeganginya supaya bisa diguyur. Tapi, Shinta tidak bisa dianggap remeh. Ia meronta seperti babi tertusuk jarum di sekujur tubuhnya. Ia menggelinjang, berkelojotan, menandak sana-sini demi tidak terjadinya penyiraman itu. Kami hampir lelah sampai pada akhirnya saya mengusulkan sebuah ide brilian andalan saya. “Masukkan Shinta ke tong sampah!” begitu instruksinya. Tanpa banyak bantahan kami kembali berkutat untuk menjebloskan Shinta ke dalam tong sampah. Namun, lagi-lagi ia berontak seperti babi tertusuk jarum di sekujur tubuhnya tadi. Semua orang sudah terengah-engah memeganginya. Namun, semangat tak pernah pudar…meski langkahmu dengan gemetar, kau tetap setia…ealah! Maksudnya, kami kembali berusaha. Tiba-tiba, Odi tanpa suara menunggingkan tong sampah yang sial itu menghadap punggung Shinta. Maka, dengan yakinnya anak-anak itu melepas pegangan pada Shinta dan mendorongnya ke belakang. YAK! Tepat sasaran! Shinta nyungsep dengan suksesnya di tong sampah yang kali ini ada isinya itu. Tanpa basa-basi, berember-ember air mengguyur Shinta yang tidak bisa keluar itu. 


Badannya yang agak lebih padat ketimbang badan Indah membuatnya tidak bisa melepaskan diri dari tong itu tanpa bantuan orang lain. Yeeeaaahh! Mantab!



Tak lama kemudian, seorang guru lewat dan menyaksikan kejadian itu. Ia hanya menahan senyum lalu berkomentar, “Jangan lama-lama ya!” Selanjutnya, seorang guru keluar dari kelas pojok yang sedang mengikuti matrikulasi Fisika. Ya, semua kelas 3 sedang matrikulasi hari itu. Sang ibu guru menemui saya. Saya agak kebat-kebit kali itu. Dengan nada agak emosi ia menanyakan pada saya apa yang kami lakukan. Saya hanya menjawab bahwa Shinta sedang ulang tahun. Ia kemudian mengomel pendek tentang tidak bawa baju ganti, nanti sakit, dan lain-lain. Saya menjawab tanpa berpikir, “Dia bawa baju ganti kok, Bu.” Ternyata jawaban itu menentramkan. Sang ibu guru kembali ke kelasnya.

Menurut pengalaman saya, sepertinya kegiatan mencemplungkan orang ke tempat sampah ini tidak hanya membahagiakan buat pelakunya, melainkan juga korbannya. Terbukti, Indah dan Shinta tertawa-tawa saja ketika hal itu terjadi pada mereka. Berarti memang kegiatan ini bermanfaat!


Tak habis sampai di situ saja, hari itu ide brilian mengalir deras di kepala saya. “Diangkat ke tengah lapangan, yo!” saya kembali mencetuskan ide gemilang itu. Semua pun langsung setuju. Beberapa orang laki-laki mengangkat tong beserta Shinta di dalamnya itu ke tengah taman. Matahari tengah bersinar cukup terik.





Ketika kami sedang mengelilingi tong sampah sambil menaburi Shinta dengan bunga tabur (memangnya jenazah!) sambil menari-nari girang, sang ibu guru yang sepertinya kehabisan kesabaran keluar lagi. Ia berjalan cepat ke tengah taman. Seketika itu pula kami semua membubarkan diri. Hanya Odi yang tersisa di depan tong sampah itu sambil memegangi tas sekolah Shinta. Odi, Odi… Saya berusaha menyembunyikan muka di balik pohon cemara. Sang ibu guru kali ini mengomel panjang. Shinta menanggapi dengan mengangguk-angguk dan sesekali bersuara, “Iya, Bu” dan “Betul itu, Bu” dari dalam tong sampah. Sementara itu, si Odi tidak juga beranjak dari tempatnya. Alhasil, ialah yang kena semprot langsung. Kami hanya terkikik-kikik. Tak satupun dari kami merasa patut bertanggung jawab dan menghampiri Shinta untuk mengeluarkannya dari jepitan tong sampah itu, begitu pun Odi. Ia hanya menggumam-gumam dengan bass penuh, “Udah Shin?”. Mungkin maksudnya ingin membantu Shinta keluar, tapi tak kunjung dilakukannya karena sang ibu guru masih terus mengomel dan Shinta hanya mengangguk-angguk setuju. Akhirnya, sang ibu guru sendirilah yang berinisiatif untuk mengeluarkan Shinta dari tong sampah.

Hebatnya Shinta adalah tidak pikir panjang apa yang harus dilakukuan setelah keluar dari tong sampah. Tanpa ba-bi-bu, Shinta langsung melompat keluar sambil dibantu ibu guru lalu berlari mengejar kami yang juga langsung membubarkan diri. Sang ibu guru ditinggalkannya tanpa satu pun ucapan terima kasih atau basa-basi lainnya. Ketika dikejar, semua anggota kelas berteriak melarikan diri. Saya dan beberapa orang lainnya menerobos masuk ke ruang kelas kami yang sudah kosong. Menyingkirkan bangku-bangku dan meja dengan suara gaduh untuk mencari tempat perlindungan sementara Shinta melakukan hal yang sama untuk menemukan kami. Shinta ingin memeluk kami dengan tubuhnya yang sudah basah dan bau sampah itu untuk membalas dendam. Saya pikir itu tidak sehat, maka saya terus berusaha mencari cara untuk menyelamatkan diri. Saya berlari hingga ke pojok kelas dekat jendela yang terbuka. Shinta terus mendekat. Kalau saya tidak segera beranjak ia akan menangkap saya. Saya melirik satu-satunya peluang keselamatan saya, jendela. Yang terpikirkan hanya bagaimana caranya melompatinya tanpa ketahuan guru yang mengajar di kelas bawah. Oke, kelamaan. Langsung saja saya lompat tanpa mempertimbangkan bahwa saat itu saya mengenakan rok span selutut. Brak! Oke, saya sudah ada di luar kelas, Shinta tidak menyusul melompat. Ia hanya tertawa menyumpahi saya. Saya meneruskan kabur berlari mengitari dua kelas lainnya. Ketika mau berbelok untuk ke depan kelas lagi, di depan saya tiba-tiba berhamburan anggota kelas yang juga melarikan diri. Saya pikir Shinta lagi penyebabnya. Tapi, salah seorang dari mereka –sebut saja Nurul– menyebutkan dengan panik sambil berlari menjauh, “Nekma ngamuk!” Oke, ini baru namanya bencana. Saya pun turut kabur ke tangga bawah tanpa memikirkan mau menyembunyikan diri di mana. Terlihat oleh saya bilik kamar mandi yang kosong. Dengan gedebukan saya masuk dan mengunci pintu di dalamnya. Sambil mencoba mengatur nafas saya memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Oke, sepertinya habis ini saya akan tertangkap dan diseret ke ruang BK. Mengerikan juga sih, tapi yaaa…penghiburan saya waktu itu adalah pikiran bahwa itu akan jadi pengalaman seru sebelum lulus. Masa tiga tahun sekolah belum pernah dipanggil ke BK. Oke, setelah meyakinkan diri, saya membuka kunci kamar mandi dan keluar. Bersamaan dengan saya keluar, lewatlah Nurul. Saya tanya dari mana, jawabannya, “Bersembunyi di masjid, pura-pura sholat.” Jiiaaahhh….hebat juga idenya. Tapi, kalau saya tadi ikutan dia pasti tertangkap.

Memastikan kondisi sudah aman, saya dan Nurul berjalan menuju aula. Ternyata Shinta dan anggota kelas lainnya sedang duduk-duduk di parkiran motor sambil berusaha keras menahan tawa. Ternyata kami tidak dikejar lebih jauh. Mendengar kronologis kejadian dari mereka yang menyaksikan di TKP (di teras kelas), ternyata semua guru yang sedang memberikan matrikulasi itu keluar dari kelas untuk mengusir kami yang membuat keributan. Dan yang paling ramai ialah Nekma, dia keluar kelas memarahi siapa pun yang lewat seraya mengayun-ayunkan penggaris kayu andalannya dengan gerakan berbahaya. Ya sudahlah, sudah berlalu. Shinta masih saja berusaha membalaskan dendamnya dengan mengejar-ngejar saya, tapi untungnya ia tidak bisa menangkap saya. Walhasil, Odi, Mae, dan beberapa orang lainnyalah yang jadi korban pembalasan dendam kesumat yang membara. Shinta melepas kaos kakinya yang basah dan tidak karuan menjijikkannya itu lalu mengusapkannya pada sepeda motor Mae dan helm Odi. Bahkan sebagai puncaknya, ia memeras kaos kaki itu di dalam helm Odi. Bagaimana Odi pulang hari itu, saya benar-benar tidak tahu. Ahahaha….ya, hanya kenakalan kecil. Tapi, yang jelas: misi kedua pun berhasil. =)

Mohon maaf yang sebesar-besarnya buat Indah dan Shinta. Kita teman yaaa… :D

sedikit cerita tentang perjalanan

Sebuah cerita lagi tentang perjalanan…

Akhirnya, setelah sekitar setahun diinterogasi mengapa aku tidak juga berangkat ke Semarang untuk menjenguk mbah buyutku seraya melontarkan berbagai macam alasan yang sebagian besar sejenis dengan kata “sibuk” dan “tak punya waktu”, kemarin aku berangkat sungguhan sendirian. Perjalanan itu hampir seperti tidak direncanakan. Aku berangkat meninggalkan Jogja dengan menggunakan kereta api. Aku cukup antusias karena itu adalah perjalanan pertamaku dengan menumpangi kereta api. Banyak orang selalu bercerita bahwa perjalanan dengan kereta api itu begitu menarik karena banyak pemandangan indah yang bisa disaksikan sepanjang perjalanan yang tidak akan didapatkan jika menggunakan kendaraan lain. Hm…bagaimana ya? Untuk sebagian besar orang mungkin benar, namun bagiku yaah…tidak juga. Pada kenyataannya aku tidak terlalu terpukau dengan apa yang melintasi jendela kereta. Aku menghabiskan separuh waktuku di kereta dengan membaca buku. Inilah yang membedakannya dengan perjalanan lainnya, ternyata aku tidak pusing membaca di kereta api. Syukurlah…

Perjalanan dengan kereta api itu memang menarik. Banyak hal yang bisa kulihat dan kurefleksikan. Itulah yang kukerjakan di kereta api. Bila mulai jenuh membaca, aku memandangi orang-orang di sekitarku dan aktivitasnya. Memandangi lalu merenunginya. Oh ya, satu lagi yang kupikir cukup menakjubkan. Pemandangan tempat huni orang-orang di pinggir rel kereta api tak berpengaman yang melintasi jendelaku yang rusak itu. Aku hanya membayangkan bagaimana mereka bertahan hidup di rumah yang agak kurang memadai itu, bahkan tanpa pengaman di sekitar rel. Selalu saja begitu… Namun, aku masih tetap saja belum bisa melakukan apa-apa untuk itu. Sial…

Setibanya di Semarang, seorang teman lama menjemputku lalu mengantarkanku ke rumah mbah buyutku. Ya, sambutan yang lazim untuk cucu yang sudah lama tidak terlihat, “Nduk, sudah besar sekali kamu sekarang.” Tanpa canggung aku menghabiskan malam itu dengan mengobrol dan memasak makan malamku sendiri seperti di rumah sendiri. Ya, aku merasa di rumah.

Esok sorenya, seorang sahabat yang kurindukan mengajakku bertemu di sebuah tempat. Aku langsung setuju karena memang aku benar-benar ingin menemuinya setelah setahun lebih terpisah. Hujan deras dan petir mengisi sore itu. Agak basah sedikit, aku menumpang kendaraan umum menuju tempat yang tidak kutahu persis di mana dan seperti apa itu. Ternyata sebuah pusat perbelanjaan, atau biasa disebut mall. Beberapa saat aku berkeliling di sana sambil menunggu sahabatku itu. Ketika kami bertemu, senyum dan tawa lepas keluar dari kami berdua karena bahagianya bisa bertemu lagi. Ia cantik sekali sekarang. Aku senang sekali melihatnya. Kami menghabiskan waktu dengan makan malam dan mengobrolkan banyak hal. Ia mengantarku pulang malam itu. Ah, terima kasih Tuhan aku bertemu lagi dengannya… =)

Sehari penuh berikutnya kuhabiskan dengan berkutat di rumah itu saja. Hujan dan petirnya datang lagi seharian. Aku mendengarkan banyak cerita tentang masa lalu dari mbah dan mbah buyutku. Aku bahagia bisa kembali ke sana. Ke tempat di mana mamaku dulu menghabiskan masa kecilnya. Puji Tuhan…syukur ini tak habis-habis… Mbah buyutku sudah begitu tua. Usianya 97 tahun. Kami semua kagum bagaimana ia masih terus melakukan aktivitasnya sendiri dan belum pikun. Ia masih saja ingat apa saja yang kami lakukan ketika ia dulu berkunjung ke rumahku sekian belas tahun yang lalu. Hebat. Namun, dua hari selama aku di sana, jemari tangan kanannya terasa kaku dan tidak bisa menggenggam benda-benda. Aku membantunya melakukan apa yang tidak bisa dilakukan tangan kanannya. Tapi, senyum dan tawa  tak pernah lepas dari bibirnya ketika aku menolongnya. Ia hanya bicara soal wajarnya hal itu karena usianya memang sudah terlalu tua. Hingga pada akhirnya, pagi terakhir sebelum aku pulang dari sana, ia memintaku untuk menyisiri rambutnya. Aku masuk ke kamarnya untuk mengambil sisir. Aku belum pernah ada di masa lalunya, namun entah bagaimana aku percaya bahwa kamar itu sungguh mengesankan keadaan masa lalu. Aku keluar lagi sambil membawa sisir dan menyisiri rambutnya yang tipis dan putih itu. Ketika kuurai ikatannya, rambutnya terurai panjang. Banyak helainya yang rontok. Kusisiri perlahan sambil membayangkan apa yang ia rasakan ketika menemukan kenyataan bahwa ia sudah tidak lagi bisa melakukan beberapa hal karena usianya. Membayangkan bagaimana ia menghabiskan hari-harinya ketika tidak diizinkan untuk beraktivitas seperti biasa lagi oleh keluarga. Membayangkan siapa yang diajaknya bicara ketika ia ingin bercerita. Membayangkan apa yang dilakukannya ketika seisi rumah sedang pergi semuanya. Ah, aku jadi sangat sedih membayangkannya…

Setelah kusisiri, ia mengucapkan terima kasih sambil beberapa kali mengusap matanya. Aku tidak tahu, adakah ia menangis? Beberapa kali ia mengutarakan secara sekilas kesedihannya karena bolak-balik diomeli oleh mbahku, atau anaknya yang ada di rumah itu. Hatiku benar-benar terasa miris. Aku terbayang bagaimana mamaku benar-benar menyayanginya. Mbah buyutku selalu senang dan sangat antusias tiap kali ditelepon oleh mamaku. Bahkan ketika aku di rumahnya, ia sempat menanyakan mengapa mamaku tidak ikut sekalian. Ternyata ia sungguh merindukan mamaku. Terima kasih Tuhan, aku masih diberi kesempatan untuk menemuinya lagi dalam keadaan sehat. Terima kasih…

Dari semua perjalanan itu, ternyata aku tidak bisa jatuh cinta pada kota itu. Entah kenapa. Mungkin karena terlalu banyak tanda-tanda metropolitan di sana, atau apalah aku juga tidak tahu. Yang membuatku ingin kembali ke sana hanya rumah itu dan sahabat-sahabatku. Rumah yang terasa begitu “rumah” buatku serta sahabat-sahabat yang mengembalikanku pada kenangan masa sekolah. Aku akan kembali ke sana suatu kali berikutnya, tunggu saja.


Saat Aku Lanjut Usia tadi tidak sengaja berputar

Jumat, 22 Oktober 2010

kota (kota) rindu

ada matahari dan awannya yang gelap
cahayanya masih bisa tembus
petani di pematang sawahnya,
menggengam pacul seraya matanya mengikuti gerak keretaku..
angin ini tak habis-habis menggempurku
ternyata jendelanya rusak..

mau ke mana aku?
mau mengobati rindu,
mencari pemenuhannya..
tapi untuk yang satu ini,
aku pun harus meninggalkan rindu pada kota yang telah lewat..



perjalanan menuju semarang

Minggu, 17 Oktober 2010

jatuh cinta pada kota ini

Belakangan ini teman-teman mulai suka menyanyikan tembang yang dilantunkan oleh mas Katon berjudul “Yogyakarta”. Bagiku, lagu ini indah. Aku ingat, seorang teman pernah menceritakan padaku sejarah lagu ini. Penulisnya ialah seorang laki-laki yang patah hati karena ketika datang ke rumah kekasihnya ia melihat gadisnya itu sedang bersama laki-laki lain. Ia akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah dengan menuntun Vespanya.

Pulang ke kotamu,
Ada setangkup haru dalam rindu…


Ya, deskripsi yang tepat. Lirik di atas inilah yang selalu kurasakan ketika kembali lagi ke kota ini. Apa tepatnya yang membuatku dulu memilih kota ini untuk melanjutkan pendidikan belum juga kutemukan dengan jelas. Selain karena saran dari orang tua, aku sendiri pun sudah memilihnya. Kedatanganku yang pertama ke kota ini adalah ketika aku masih duduk di tahun terakhir di SMA. Hanya 4 hari aku bermain di sini, namun ketika dalam perjalanan menuju bandara untuk pulang ke rumah, aku menangis. Entah kenapa, tapi aku merasa begitu menyukai kota ini. Banyak teman yang sudah lebih dahulu tinggal di sini mendoakanku agar benar-benar melanjutkan kuliah kemari. Puji Tuhan, doa itu terkabul…

Kebetulan tadi malam aku baru menonton kesesakan dan keramaian warga Yogyakarta yang tumpah ruah di sepanjang jalan Malioboro hingga alun-alun utara. Nama acaranya Jogja Java Carnival 2010. Ternyata rangkaian acara ulang tahun kota Yogyakarta. Tadi malam pula aku merasakan dihimpit dari berbagai arah dan hampir mati (didramatisir sedikit supaya menarik). Berjalan kaki mencoba menyeruak kerumunan untuk sedikiiit saja menyaksikan apa yang sedang berpawai di jalan. Namun, akhirnya kami pasrah dan memutuskan untuk menunggu pertunjukan kembang apinya saja. Maka, kami mencari tempat untuk duduk dan menunggu. Hampir saja kami memanjat beberapa skafholding. Untung saja tidak jadi. Kami baru tahu bahwa benda itu adalah sumber meledaknya kembang api yang kami tunggu-tunggu ketika pertunjukan kembang apinya dimulai. Hebat, ini Yogyakarta. Meskipun begitu, di tempat yang sama untuk kedua kalinya aku menyaksikan ironi di tengah besarnya euforia tadi malam. Setahuku, alun-alun yang berada di depan Keraton itu berfungsi sebagai tempat bertemu dan bersatunya raja dengan rakyatnya. Manunggal ing kawula gusti. Kalau tidak salah itu yang aku tangkap dari kuliahku semester lalu. Namun, yang kusaksikan tadi malam adalah kerumunan rakyat berdesak-desakan sambil berjingkat melongokkan kepala dan tenda-tenda berkain putih dan manis berlabel “VVIP”. Hanya sedikit cerita…

Sudah hampir 16 bulan aku tinggal di kota ini. Begitu banyak hal yang menarik perhatianku di sini. Dengan cepatnya aku merasa betah dan bahagia tinggal di sini. Meskipun kerinduan akan rumah  selalu terasa, namun aku selalu menemukan kembali semangatku ketika melihat sekeliling dan apa yang aku punya di sini. Banyak hal yang tidak pernah kulakukan di kampung halamanku menjadi rutinitas dan hal favoritku di sini. Aku belajar banyak hal, aku menemukan banyak hal, aku menyukai banyak hal, maka aku merindukan banyak hal tentang kota ini…

Seorang teman yang kini telah pindah ke pulau lain pernah mengajakku mengobrol tentang keadaan Yogyakarta. Ia berkomentar bahwa Yogyakarta semakin hari semakin penuh saja. “Makin penuh dengan orang-orang seperti kita ini dan tidak mau pulang,” begitu katanya. Aku hanya tertawa membenarkan. Kami sepakat bahwa kota ini ngangenin. Ngangenin banget. Tak terbayang ketika tiba waktunya aku harus meninggalkannya untuk melanjutkan hidup dengan entah apa. Apa sebenarnya yang membuatku mencintai dan seringkali merindukan kota ini? Aku punya beberapa jawaban yang sebenarnya tidak memuaskan bagiku sendiri. Tidak memuaskan karena tidak cukup tepat mendeskripsikan alasan yang sesungguhnya aku rasakan dan tidak bisa aku jelaskan. Tapi, tidak apa-apa. Hal-hal yang membuatku rindu akan kota ini adalah… (terdiam lama untuk menuliskannya). Apa ya? Mungkin keremangan kolong jembatan layang tengah malam hingga dini hari yang sesekali ditingkahi deru dan getaran kereta api yang melaju di rel. Mungkin bertaburnya pertunjukan berbagai jenis seni di berbagai tempat hampir setiap hari sampai-sampai tidak diketahui. Mungkin harga makanannya yang menakjubkan sehingga bisa menghemat uang kira-kira untuk berfoya-foya sedikit di bulan berikutnya. Mungkin suplai buku-buku selundupan atau bajakannya yang juga membantu menekan pengeluaran tanpa mengurangi keingintahuan. Mungkin tempat-tempat indah (para pasangan kekasih menyebutnya “romantis”) untuk menghabiskan malam sambil berefleksi. Mungkin pengamen-pengamen jalanan yang berserikat dan meneriakkan perlawanan lewat musiknya. Mungkin benda-benda unik dan aneh yang dapat ditemui di pinggiran jalan. Mungkin teman-teman yang sekaligus adalah keluargaku di sini. Atau mungkin…yah, pokoknya semua hal tentang Yogyakarta. Aku takut melewatkan hal-hal lain ketika aku menyebutkannya satu per satu. Memang sebenarnya, semua hal tentang kota ini ngangenin.

Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi,
Bila hati mulai rindu tanpa terobati…


Sepertinya aku mulai benar-benar jatuh cinta dengan kota ini. Kita lihat bagaimana selanjutnya…




Baru saja benar-benar menyadari bahwa kota ini menakjubkan
Kebetulan berbarengan dengan tadi malam nonton Jogja Java Carnival dengan nyaris terlempar bersama kembang api jika benar-benar memanjat skafholding

Rabu, 13 Oktober 2010

nostalgia tentang cuaca

Cuaca hari ini benar-benar menakjubkan. Dimulai dari kemarin sore yang berakhir dengan sebuah senja yang merah. Aku girang bukan kepalang ketika kemarin tidak sengaja melihat langit dari balik jendela ruangan dan daun-daun rimbun pepohonan. Senjanya benar-benar merah. Senja merah pertamaku di Jogja setelah satu tahun lebih di sini. Sayang beribu sayang (sial, lebih tepatnya), aku sedang tidak bisa meninggalkan ruangan itu jauh-jauh untuk mencari tempat lapang di mana aku bisa menonton senja merah itu hingga merahnya menggelap menuju hitam. SIAL! Aku hanya bisa misuh kemarin.

Dulu, aku pernah dengar dari seorang teman bahwa senja yang merah adalah sebuah pertanda bahwa cuaca keesokan harinya akan cerah. Nyata adanya untuk hari ini. Seharian ini tidak turuh hujan sama sekali. Sejak dari pagi hingga sore hari, cuaca benar-benar memanjakan. Langit biru cerah, awan-awannya berarak santai. Bukan awan hitam. Sore tadi ketika aku berguling-guling di sebuah gazebo kecil di kampus seraya menunggui komputer jinjingku dipakai seorang teman untuk kelayapan di dunia maya, aku bolak-balik menyuarakan keinginanku untuk bertandang ke pantai. Sudah beberapa hari terakhir, cuaca sore begitu indah. Aku menyebutnya sebagai “sore yang sempurna untuk ke pantai”. Rasanya pasti bahagia sekali menghabiskan sore cerah seperti itu di pantai dengan hembusan anginnya. Aaaaahhh….benar-benar ingin ke pantai. Aku rindu ke pantai…

Meskipun sorenya begitu sempurna, ternyata aku belum dapat kesempatan untuk main ke pantai hari ini. Selain karena pantai lumayan jauh dari tempat tinggalku di sini, aku juga sudah punya janji untuk menemani seorang teman mengerjakan tugas kuliahnya. Maka, berangkatlah aku menuju tempat makan dengan kriteria romantis à la pasangan-pasangan muda masa kini. Outdoor, remang-remang cahaya senthir kecil di atas mejanya, angin yang berhembus, dan yang paling penting…langit malam berbintang yang bisa dipandangi dengan puas. Aku dan temanku adalah anomali di sana. Kami belajar dan mengerjakan tugas kuliah. Hahaha…makanya temanku memilih tempat semi-outdoor dengan lampu yang agak sedikiiiit lebih terang (padahal tetap saja remang). Setelah menghabiskan kudapan dan memberikan penjelasan semampuku pada temanku itu tentang tugas kuliahnya yang kami kerjakan, kami memutuskan untuk pulang. Ketika berjalan menuju parkiran, kami mendongak menatap langit. Aahh…cerahnya bukan main. Tidak ada awan, bintang-bintang terlihat banyak, sesekali sinarnya ditingkahi kelap-kelip lampu pesawat yang melintas. Kami sepakat bahwa langitnya benar-benar indah. Namun, kami berdua merinding kedinginan karena angin dan lembabnya. Bahkan jok motor temanku berembun, padahal baru jam 8 malam.

Sebenarnya saya mau bilang apa sih? Yah, tak lain tak bukan, bicara tentang cuaca pasti aku ingin bernostalgia dengan acaraku dan teman-teman sekitar 2 minggu yang lalu. Sore indah yang dalam sekejap berubah jadi bencana selalu saja jadi bahan pembicaraan akhir-akhir ini. Badai itu lagi. Hujan deras itu lagi. Evakuasi itu lagi. Sermo itu lagi. JAKSA itu lagi. Memang aku selalu bilang bahwa aku tidak pernah kecewa atau pun menyesal semuanya berakhir begini. Toh, akhirnya tidak buruk. Malah berpelangi. Tapi, tiap kali menikmati cuaca yang begitu cerah dan indah, pikiranku tidak pernah bisa ditahan untuk berceletuk, “Coba waktu itu seperti ini.” Miris rasanya…ada banyak hal yang bisa dilakukan jika saja cuaca hari itu seindah hari ini. Kenapa aku bisa berpikir seperti itu? Karena aku pernah menyaksikan dan menikmati indahnya Sermo di sore dan senja hari. Bahkan ketika itu, aku membuat janji dengan seorang teman yang juga bersamaku menikmatinya di atas gunungan sambil menatap langit. Kami akan menghabiskan sore hari kedua acara kami di atas gunungan ini. Melakukan hal yang sama, menatapi dan menikmati tak hanya langit, tapi juga semuanya tentang Sermo. Semuanya. Karena semuanya memang sangat indah. Tapi, ternyata sore yang kami harapkan itu tidak datang. Ia didahului sang badai. Tidak apa-apa, toh sang badai membawa pelangi. Terima kasih ya untuk semuanya. Aku ikhlas. Aku percaya akan ada banyak sore sempurna lainnya untuk dinikmati bersama di tempat lain yang tak kalah indahnya. Ya…pasti ada. Tunggu aku hai sore sempurna yang indah…



Tulisan ngalor-ngidul yang agak didramatisir, dari cuaca kemarin sampai (lagi-lagi) JAKSA
Minggu, 10-10-2010 (sepertinya memang agak istimewa seperti yang orang-orang bilang)

Minggu, 10 Oktober 2010

terselamatkan oleh kerinduan

beberapa hari yang lalu, saya mengobrol dengan seorang teman dari angkatan di atas saya. dulu, saya sempat takut padanya karena dia bolak-balik mengomentari apa yang saya lakukan itu salah. namun, pada akhirnya saya menikmati beberapa kali obrolan dengannya. topik obrolan beberapa hari yang lalu itu tidak seperti biasanya. kami ngobrol tentang siapa itu Yesus. pertanyaan pertama darinya cukup membingungkan untuk dijawab. mungkin saya sendiri yang membuatnya membingungkan karena ingin berhati-hati dalam memilih jawaban. hal ini saya lakukan sebagai respon dari pengalaman-pengalaman sebelumnya mengobrol dengannya. pada akhirnya saya menjawab siapa itu Yesus dari perspektif seorang Maria Puspitasari Munthe. dia manggut-manggut mendengarkan jawaban saya. kemudian saya balik bertanya tentang pendapatnya. sebuah jawaban yang menurut saya apik keluar darinya.

"Yesus itu adalah sepenuhnya Tuhan. Justru karena kerendahan hati-Nya-lah, Ia mengambil rupa manusia. Dia itu Cinta. Semua hal tentang-Nya dilakukan dengan Kasih."

kira-kira begitu (nggak sepenuhnya persis).
tanpa sadar, obrolan itu pun berubah menjadi curhat. saya tiba-tiba ingin menceritakan ketakutan dan keraguan yang selama ini saya rasakan. saya tumpahkan semuanya dalam deskripsi singkat yang sampai sejauh ini belum berani saya ceritakan pada orang tua saya sendiri. dia menjawab lagi, "Ketakutan itu wajar, justru ketakutan dan kekhawatiran inilah yang membuat orang bertahan hidup dengan melakukan sesuatu."

ya, saya jadi berefleksi. memang, saya percaya bahwa rasa takut itu sangaaaaaattt manusiawi. yang saya rasakan inilah yang menjadi bagian dari menjadi manusia. oke, setelah paham bahwa itu sangat manusiawi, hal selanjutnya yang meresahkan saya adalah bagaimana saya bertindak mengatasi ketakutan dan kekhawatiran tersebut. ketakutan itu bisa membuat manusia bertahan hidup karena ia menimbulkan rencana dan keinginan untuk bertindak. naah, sekarang saya ingin bertindak. tapi, belum tau apa! sedih sekali rasanya. mungkin tidak sepenuhnya tidak tau, tapi masih menghadapi kendala dalam melaksanakannya. maka kini, saya ingin berusaha untuk benar-benar melakukannya. mungkin memang sulit dan makan waktu, tapi ya inilah jalan yang harus ditempuh untuk menjawab ketakutan dan kekhawatiran dan keraguan itu. saya pun menambahkan dalam obrolan itu bahwa saya benar-benar bersyukur atas pengalaman ini. saya bilang, "Setiap kali hampir tiba pada titik yang merupakan puncak ketakutan, kekhawatiran, dan keraguan itu, sejauh ini saya selalu bisa kembali. Saya bertahan karena terselamatkan oleh kerinduan. Rasa rindu itu ternyata berarti banyak, dan syukurlah saya masih bisa merasa rindu." semoga usaha ini diberkati. Amin.