Kamis, 10 Februari 2011

Jika hidup harus berputar, biarlah berputar...

Hidup makin lama makin menjadi hanya rentetan hari-hari tanpa makna. Akan selalu tanpa makna kecuali aku sendiri yang berusaha memaknainya.


Hari ini ak baru saja kembali lagi ke Jogja setelah liburan lumayan panjang di rumah. Beda sekali atmosfir dan emosi yang terbentuk antara ketika aku akan meninggalkan kota ini dan ketika aku kembali dari rumah. Wajar saja mungkin ya, rumah memang terasa lebih nyaman bagiku. Sebenarnya, ini bukan peristiwa luar biasa. Toh, aku sudah melaluinya beberapa kali. Dalam beberapa hari setelah aku tiba lagi di kota ini, hidup rutinitasku segera kembali dan berputar lagi.

Tadi malam aku masih tidur di kamar yang menjadi tempat istirahatku selama 17 tahun. Tadi pagi aku masih menyuruh adikku membelikan sarapan bubur ayam yang dulu adalah langganan kami. Tadi siang aku masih menonton televisi di rumah, masih mengambil makan siang di meja makan yang usianya juga sudah belasan tahun, masih mandi di kamar mandi kecil yang dulu selalu menjadi rebutan antara aku dan abangku. Tadi siang aku masih di rumah. Namun, malam ini aku kembali harus tidur sendiri, mengunci pintu dan memasang alarm. Aku sudah tidak lagi di rumah. Aku melewati perubahan yang begitu cepat ini (super duper cepat, malah) tanpa rasa berarti. Aku tidak menafikan bahwa aku sedang berusaha menafikan sesuatu. Aku yang membuatnya jadi seperti itu. Aku menolak merasakannya terlalu dalam karena aku masih (lagi-lagi) belum bisa menguasai diri jika peristiwa ini terjadi lagi. Padahal, aku sudah melaluinya berkali-kali dan sadar sepenuhnya (sungguh-sungguh sepenuhnya) bahwa memang beginilah hidup harus berputar.

Aku belajar satu hal malam ini: mengebaskan rasa sakit menuntut untuk sungguh-sungguh siap dengan sentilan sekecil apa pun yang mampu menyentuh ego. Malam ini aku menangis sebentar. Bukan karena meninggalkan rumah atau sendiri lagi malam ini. Aku tadi sedang menunggu seorang teman dan karena ia tiba begitu lama aku meneleponnya lagi. Sebelum aku sempat mengatakan apa pun, dia membentak, “Sabar!” beberapa kali. Aku diam. Lalu berusaha menjawab, meski terbata, di tengah hujan kata-katanya. “Iya, nggak apa-apa.” Dia tidak sungguh-sungguh, dari dulu memang begitulah nada bicaranya. Hanya saja, inilah yang kusebut sentilan kecil yang ternyata menyentuh egoku. Mengalirlah air mata sebagai akumulasi dari semua rasa yang berusaha kukebaskan seharian ini. Aku kehilangan semangatku. Aku menjadi lesu malam ini. Mudah-mudahan besok akan segera mengembalikanku seperti semula.

Aku hanya tidak pernah membayangkan bahwa untuk menjadi dewasa terkadang aku butuh berpura-pura. Aku butuh menutupi satu dan lain hal karena satu dan lain alasan. Aku adalah anak yang tak terbiasa bilang cinta, bilang rindu, bilang sayang pada orang-orang terdekatku, dalam hal ini keluarga. Maka ketika aku merasakannya, aku hanya bisa menahannya dan sungguh-sungguh tidak berani mengeluarkannya.  Meskipun kali ini tidak ada suara bergetar, namun hatiku yang bergetar hebat. Aku seperti belum siap, padahal hidup tak pernah peduli aku sudah siap atau belum. Ia akan terus berputar, berputar, dan terus berputar. Bagi mereka yang terbawa olehnya, akan sangat sulit untuk berusaha menemukan sesuatu yang berarti di balik putaran-putaran itu. Yang ada hanya ikut berputar, ikut berputar, agak tidak terlindas.

Namun, sungguh, aku tidak bisa menafikan apa yang sedang berusaha kunafikan. Bahwa kepulangan ke kota ini adalah sesuatu yang biasa, yang dilalui kebanyakan orang, dan dimengerti pula oleh banyak orang. Aku tidak semudah itu menerimanya. Aku masih merasa ini hal yang besar dan jarang terjadi. Aku masih merasa perlu pengecualian dan pembenaran untuk merasa sedih dan khawatir jika waktu-waktu seperti ini tiba. Ketika aku berusaha meyakinkan diri bahwa hidup memang harus berputar dan aku tidak punya kuasa untuk menghentikan itu, hal ini hanya makin membuatku gelisah. Aku tidak bisa melepaskan bayangan ketika aku harus melepaskan abangku berkeluarga, ketika adek harus meninggalkan rumah untuk melanjutkan sekolah, ketika mama harus menghabiskan waktu sendirian di rumah setiap harinya, ketika kami makin sulit menemukan waktu yang pas untuk berkumpul bersama lengkap, ketika hidup terus berputar makin jauh, jauh sekali. Bagaimana aku harus melalui hari-hari itu? Apakah aku akan cukup kuat? Ternyata aku masih belum bisa berdamai dengan keadaan. Belum bisa.

Sakit juga ya ternyata. Apakah semua orang dewasa juga melalui ini semua? Atau pada akhirnya hidup memang hanya jadi guliran waktu tidak bermakna? Sungguh aku tidak pernah membayangkan akan ada rasa ini.

Bolehkah aku memilih? Aku tidak bisa tidak percaya bahwa hidup akan terus berputar, aku akan tambah tua, semua orang tambah tua, hal-hal berubah, segalanya berubah. Jika memang demikian, aku memilih untuk belajar berdamai dengan hidup. Biarkanlah aku bisa menyadari di titik mana kini aku berada dalam tiap putaran hidup. Biar aku bisa menikmatinya, bisa memaknainya sekecil apa pun perubahan yang terjadi itu. Satu setengah bulan aku berada di rumah ternyata menjadi waktu yang luar biasa. Aku sungguh menikmati dan hanya ingin menghabiskan waktuku di rumah bersama orang-orang di dalamnya. Tiap hal yang kurasa berbeda kunikmati, kuhargai sepenuhnya, kuucapkan syukur untuk semuanya. Ada waktu ketika kami bepergian bersama, nyekar bersama, mengobrol bersama, menonton televisi bersama, makan bersama, merayakan ulang tahun bersama, hanyut dalam haru doa bersama, tertawa bersama, mendengarkan omelan bersama, waktu-waktu keluarga.

Tak hanya itu, dalam libur kali ini pun aku (dipertemukan) menemukan sejumlah orang yang sehari-hari hanya jadi bagian kecil dari perputaran hidup yang keterlaluan besarnya ini, orang-orang yang kadang nyaris terlempar (padahal sudah ada di pinggir) dari hidup yang berputar. Mereka ‘mengetuk hati’ku untuk tak hanya memikirkan cara bertahan di dalam putaran hidup, melainkan menjenguk sekitar yang hampir lepas dari roda besar ini. Mereka punya bagian besar dalam perputaran hidupku. Melanjutkan pilihanku tadi, aku mau belajar bernegosiasi dengan putaran hidup atasku. Meski memang putarannya tak akan pernah berhenti, aku meminta supaya aku diberi waktu dalam tiap titik pada putaran itu untuk melihatnya dengan sungguh, merenunginya, menghargainya, belajar darinya, dan akhirnya mengenangnya. Kalaupun hidup tak memberiku waktu untuk itu, aku yang akan memaksanya. Aku tidak mau melepaskan guliran ini dalam ketidak bermaknaan. Aku percaya semua titik pada putaran itu bermakna besar dan amat menentukan. Aku pernah membuktikannya.

Jika hidup harus berputar, biarlah berputar
Akan ada harapan, sekali lagi, seperti dulu

Ya, itulah yangmenjadi peganganku. Tuhan, terima kasih  untuk kesempatan belajar yang selalu ada tiap saat ini, terima kasih pula karena mataku dibukakan untuk menangkap pelajaran-pelajaran itu. Terima kasih.
Doakan aku ya.



9 Februari 2011, 23.25
Sudah di kamar kos lagi, memaknai hari

Rabu, 02 Februari 2011

Jalan-jalan ke Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu

Oke…ini satu lagi kegiatan saya pada liburan mahapanjang ini. Saya memang pernah meniatkan ingin melakukan wisata sejarah ke beberapa situs sejarah yang ada di kota kelahiran yang sedang saya sambangi untuk berlibur ini. Walaupun situs-situs yang saya rencanakan tersebut sudah pernah saya kunjungi semasa saya masih sekolah, namun kini saya punya ketertarikan lebih untuk mengunjunginya lagi. Hitung-hitung mengingat-ingat apa isinya karena sudah banyak juga tahun berlalu sejak terakhir kali saya mengunjunginya.

Kali ini saya mau berbagi beberapa gambar yang saya ambil (lagi-lagi dengan sembarangan dan tanpa teknik sama sekali) di salah satu situs sejarah yang saya pikir sangat penting dalam sejarah bangsa ini. Dua minggu yang lalu saya mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno. Lokasi tepatnya di daerah Anggut kota Bengkulu (maaf, saya lupa nama jalannya).

Rumah ini dulunya digunakan sebagai tempat tinggal Soekarno (presiden pertama Republik Indonesia) dan beberapa tokoh yang ikut diasingkan oleh pemerintah Belanda. Rumah ini mereka diami selama beberapa tahun sejak tahun 1938 sampai dengan 1942. Di kota inilah Soekarno menemukan belahan hatinya (entah yang keberapa, saya tidak tahu persis) yang kemudian menjadi ibu negara. Tak lain tak bukan, ialah Fatmawati yang juga dikenal sebagai penjahit bendera kebangsaan –Bendera Merah Putih.

Rumah ini tidak terlalu besar, terdiri dari beberapa ruangan yang sepertinya dulunya berfungsi sebagai kamar tidur para penghuninya. Di bagian depan ada sebuah beranda kecil yang asri –kini digunakan sebagai loket penerimaan pengunjung. Untuk memasuki dan berkeliling di bangunan ini, pengunjung dikenakan biaya Rp2.500,00 (dua ribu lima ratus rupiah). Inilah potret rumah pengasingan tersebut ketika masih ditempati oleh Soekarno dan teman-teman.



Seperti rumah lainnya, sederet dengan beranda terdapatlah sebuah ruang untuk menjamu para tamu. Ruangan ini dilengkapi dengan satu set kursi dan meja tamu terbuat dari kayu.


Di bagian kanan beranda ada sebuah ruangan yang memajang sepeda ontel tua dalam kotak kaca. Konon, sepeda ini dulunya digunakan oleh Soekarno dan para penghuni rumah tersebut.


Dua ruangan lainnya memuat ranjang yang dahulu digunakan sebagai tempat tidur oleh Soekarno dan tokoh-tokoh lain yang diasingkan. Layaknya kamar tidur lainnya, salah satu kamar juga menjadi lokasi bertenggernya meja rias.



   




























Seperti dikenal orang banyak, Soekarno adalah seorang cendekiawan pula. Bolehlah kita menduga bahwa ia adalah seorang yang gemar membaca. Rumah ini pun masih menyimpan dua lemari kaca berisi buku-buku yang dulu dibaca oleh Soekarno. Sayangnya, saya dan teman saya sempat bertanya pada penjaga tentang izin untuk membuka lemari dan melihat buku-buku itu namun, tidak dikabulkan. Pihak pengelola mengaku bahwa lemari itu hanya dibuka selama enam bulan sekali untuk perawatan. Alasan lainnya adalah kondisi buku yang sudah tidak memungkinkan lagi untuk dibaca oleh umum berkenaan dengan usianya yang sudah sangat tua dan sejumlah buku mengalami kerusakan yang cukup parah.





Teman saya memiliki ketertarikan yang lebih pada buku-buku ini. “Mari kita lihat, buku macam apa yang dibaca Pak Karno ini,” begitu katanya dengan takjub. Ia sempat mencatatkan beberapa judul buku yang masih bisa terbaca oleh kami, seperti: Het Post Zegelboek, Jong Java’s Lief en Leed, Mia Bruyn-Buwehand, de Rhynmonders, The Automatic Letter Writer, Plammarion-in Het Stervensuur, dan Katholieke Jeugdbubel. Saya dan dia benar-benar tidak bisa menebak apa arti judul-judul buku itu kecuali The Automatic Letter Writer.

Saya belum pernah benar-benar tahu jika Soekarno ialah juga seorang pemusik, atau paling tidak mempelajari musik, atau tertarik pada musik, atau apa pun di sekitar musik. Saya menemukan sederat buku –yang saya tebak dari judulnya– bicara tentang musik.


Oh iya, saya menduga Soekarno ialah juga seorang seniman. Dalam masa pengasingannya di Bengkulu, ia menulis naskah tonil berjudul Monte Carlo. Hebatnya lagi, naskah itu tak hanya jadi sekedar naskah, melainkan juga dipentaskan. Di rumah ini disimpan beberapa lemari yang memuat kostum-kostum pemeran sandiwara Monte Carlo tersebut.



Selesai dengan ruangan-ruangan di dalam rumah, saya dan teman saya menjenguk ke halaman belakang. Lagi-lagi ada sebuah beranda kecil yang nyaman (saya benar-benar suka beranda itu) yang menghadap ke pekarangan belakang. Di sudut sebelah kanan, terdapat hal yang menarik perhatian saya. Sebuah sumur dengan papan bertuliskan banyak kata. Silakan dibaca sendiri.



     
Rumah pengasingan ini pun dilengkapi dengan sejumlah foto yang dipajang secara acak di beberapa ruangan.



    
     





 




















Tak lupa pula foto keluarga Soekarno bersama Fatmawati.


Namun, dari sekian banyak foto, di bawah ini adalah favorit saya.


Surat cinta Bung Karno untuk Ibu Fatmawati


Kurang lebih, begitulah isi rumah yang dulunya didiami Soekarno dan beberapa temannya dalam masa pengasingan di Bengkulu. Rumah ini dipugar oleh pemerintah setempat dalam beberapa tahun belakangan (saya lupa tepatnya kapan). Halaman depan yang sangat luas ditambah lagi dengan pekarangan belakang yang juga lengang tetap dipertahankan. Kini, keduanya ditanami bunga-bunga dan pohon-pohon. Keadaannya jadi jauh lebih asri daripada sebelum dipugar.



    
Maka, berakhir sudah tur saya di situs sejarah yang satu ini. Tulisan ini fungsinya hanya untuk berbagi cerita sekaligus pamer. Terima kasih.