Minggu, 18 Maret 2012

anak itu


Anak itu pernah ingin hidup selamanya
tapi, Bapaknya berkata, “Hidup selamanya tak adil”
Anak itu memimpikan hari-hari penuh cinta
namun, Ibunya bicara, “Kau bisa mati gara-gara cinta”
Anak itu sering bicara tentang membahagiakan orang tua
lalu, Abangnya menyahut, “Tapi, mereka selalu menangis dalam tiap kepergianmu mengejar mimpi”
Anak itu selalu berdoa untuk meminta hal-hal baik
dan adiknya berceletuk, “Tuhan selalu memintamu berusaha untuk mendapatkannya”
Anak itu mencari waktu untuk tersenyum dan tergelak
lantas temannya bersuara, “Hati yang sedih jangan ditutup-tutupi”
Sementara atau selamanya, dengan atau tanpa cinta, bahagia atau sengsara, berhasil atau gagal, bahagia atau meratap,
anak itu mengucap terima kasih untuk semua.


untuk Maria Anindita Pranoto, Yanuarius Jati Pradipta, dan Bonaventura Andhiko Aji Tresadi

Jumat, 09 Maret 2012

diam-diam bicara


Ada terlalu banyak hal, teman, yang tak akan bisa kita pahami lewat kata-kata. Demikian pula ada terlalu banyak hal yang tak akan bisa kita pahami dalam diam. Sebaliknya, ada terlalu banyak hal, teman, yang tak akan bisa kita sampaikan lewat kata-kata. Demikian pula ada terlalu banyak hal yang tak akan bisa kita sampaikan dalam diam. Tak bicara belum tentu berarti tidak mengerti. Sebaliknya, banyak bicara juga tak mesti berarti paham.

Selalu ada yang memilih bicara untuk menyampaikan sesuatu. Namun, diam juga pilihan untuk menyampaikan sesuatu. Banyak kata bisa jadi membantu kita memahami sesuatu. Akan tetapi, diam juga diperlukan untuk memahami sesuatu.

Bicara selalu membatasi kita di suatu titik. Serupa dengan diam yang juga memberi batas.
Kita bisa saja bicara banyak hal lewat diam. Bisa juga kita ternyata diam dalam begitu banyak kata yang terucap.

Lalu, bicara = diam?

25 Februari 2012

laki-laki


Aku punya cerita tentang sore ini, tentang sore mendung ini lebih tepatnya,
tentang laki-laki,
tentang seorang laki-laki besar berkacamata dan berjanggut,
tentang temannya yang selalu bersandal dan kalung rosario selalu mengganduli dadanya,
tentang temannya yang bercelana pendek ketat dan selalu jadi objek hinaan,
tentang temannya yang berambut indah dan mampu berteriak cempreng,
tentang temannya yang gendut dan lucu dan berbando,
tentang temannya yang suka tertawa serta berjanggut,
tentang temannya yang paling sipit di antara mereka,
tentang temannya yang menguncir sejumput rambut di ubun-ubun dengan mulut terus menganga,
tentang temannya yang bertubuh mini dan selalu riang,
tentang temannya yang kurus dan berambut berantakan.
Mereka, para laki-laki itu dan sore mendung ini, saling menikmati.

tanggal tiga, bulan tiga, dua ribu dua belas

menggurat, menciprat


Guratan itu tak pernah hilang ternyata
padahal sudah nyaris satu tahun berlalu
ia tak pernah dimaksudkan untuk jadi abadi
tapi, ia masih berusaha menyembul di tumpukan tulisan lain

Cipratan tinta itu masih punya cerita yang sama
tentang pemuda bersemangat
tentang ruang kelas yang menatapnya penuh perhatian
tentang jendela-jendela terbuka dan anginnya

Mereka abadi
layaknya kisah yang mengiringinya
layaknya nama-nama yang menari bersamanya