Rabu, 28 Juli 2010

rendah hati (gagal di usaha kali ini)

Ternyata menjadi rendah hati itu bukan niat yang bisa diwujudkan dalam tempo satu kerjapan mata. Pun bukan sebuah keinginan yang dapat begitu saja tercapai meskipun telah mengusahakannya sepenuh hati.

Memang benar, ketika pohon tumbuh makin tinggi, angin yang menerpanya akan semakin kencang. Maka, tak semua pohon dapat bertahan dalam hempasan badai. Sulur-sulur akar yang berbonggol-bonggol dan membelit erat tanah yang menjadi landasan pijaknya tak menjadi jaminan bahwa badai pasti tak mampu menggoyahkannya. Bahkan tak jarang hembusan badai membuat akar-akar besar itu bergemeretak lalu kemudian tercabut sepenuhnya. Batangnya yang tinggi dan berdiri gagah perkasa itu diluluh lantakkan oleh angin yang bahkan tak berwujud kasat mata. Begitulah bagaimana sosok yang selama ini dipandang orang-orang dengan mendongak kini rebah kehilangan dayanya.

Namun, lihatlah pohon kecil yang tak sampai setinggi dada orang dewasa. Ia yang batangnya mampu melengkung ke sana kemari ketika dijadikan bahan mainan anak-anak yang kebetulan lewat atau memang sering bermain di sekitarnya. Ia yang daunnya sering kali dipetik seenaknya karena dapat dijangkau oleh tangan. Ia yang akar-akarnya belum merambat begitu jauh darinya, yang penting cukup untuk menyerap hara pelega dahaganya lalu kemudian dijalarkan keseluruh bagian tubuhnya. Lihatlah bagaimana ketika badai menghempasnya. Batangnya yang mungil dan hijau menggeliat dan meliuk mengikuti ke mana angin mendorongnya. Akar-akarnya pun tak ketinggalan dalam upaya mempertahankan pohon itu agar tetap berdiri di tempatnya. Hempasan badai menuntutnya untuk belajar meliukkan diri agar mampu bertahan. Maka, ketika badai berlalu, pohon kecil pun masih tetap berdiri. Pohon kecil yang selama ini dipandang orang-orang dengan menunduk mampu bertahan karena rendah.

Ketika aku memilih untuk belajar menjadi rendah hati, aku sudah memikirkan bagaimana sulitnya melawan keinginan diri untuk tetap terlihat tinggi. Namun, tak aku sangka bahwa dalam diriku sendiri aku masih belum bisa berdamai dengan respon pribadi ketika menghadapi sebuah masalah. Masih saja ada kekecewaan ketika orang lain bisa melakukan sesuatu yang lebih dibandingkan dengan apa yang telah aku lakukan. Mungkin jika aku memandangnya sebagai sebuah pancingan untuk lebih keras berusaha melakukan sesuatu yang lebih baik lagi itu tak menjadi masalah, namun kini aku kecewa kenapa bukan aku yang melakukannya duluan. Bodoh. Padahal aku sudah dibantu demikian mudahnya untuk dapat mengatasi masalah itu, akan tetapi masih saja muncul pikiran bahwa aku seakan-akan dikalahkan. Memalukannya lagi, aku tak terima akan hal itu. Aku malu pada diriku.

Hidup di lingkunganku selama ini, aku dipaksa menjadi orang yang mau mendengarkan. Aku tidak diberi banyak ruang untuk bicara mengenai apa yang tengah membebani hidupku. Jika aku diberi waktu untuk bicara, itu haruslah merupakan momen di mana aku memberikan solusi dan bantuan. Aku tidak diizinkan untuk bilang, “Tidak tahu.” Aku nyaman akan keadaan ini selama bertahun-tahun belakangan. Aku menikmati memandangi wajah puas dan lega mereka serta mendengar nada bicara yang gembira ketika ternyata masalah mereka teratasi. Kali ini, aku harus belajar untuk tidak terus menerus membiarkan hal ini terjadi. Aku berada dalam kondisi berbeda yang memaksaku untuk berani bicara dan mengambil sikap untuk kemudian mempertahankannya. Setelah proses penerimaan diri dan menata hati setelah mengalami kekecewaan tadi, aku akhirnya berjanji pada diriku untuk berusaha dan belajar berubah ke arah yang lebih baik.

Aku mau menjadi rendah hati.


Selasa, 27 Juli 2010 tengah malam – Rabu, 28 Juli 2010 dini hari
00.10
In The Arms of The Angel is being played

Senin, 12 Juli 2010

goyah

akhirnya aku menangis lagi. bukan karena menghayati kedekatan yang hangat, tapi justru karena merasa bersalah untuk banyak hal yang kuragukan. begitu selesai menulis kalimat pendek yang menyatakan bahwa aku mengalami kegoncangan, air mataku tumpah tak tertahan. mudah-mudahan ini jadi awal dari perubahan dan perbaikan. aku memilih untuk setia.


kali ini aku menyanyikannya untuk sosok lain,


apapun yang akan terjadi
takkan pernah aku sesali
bila menjalani semua dengan-Mu
bila memahami semua dengan-Mu
aku takkan pernah menyesal...
takkan pernah menyesal

Sabtu, 03 Juli 2010

pelangi kalah indah oleh hitam

pelangi hari ini
sapta warna melengkung megah di langit
yang kunikmati dalam indahnya sore
ditingkahi rintik hujan
meskipun matahari masih terus bersinar hangat

semuanya itu kalah
kalah indah

oleh hitam
bundar dan kecil di bumi
hitam itu sederhana
bukan bicara kegelapan
namun kehangatan

ternyata pelangi kalah indah

jumat, 2 juli 2010