Sabtu, 29 Mei 2010

natas bikin gila saya makin parah :)

Ini kisah lain lagi tentang kegilaan yang tak kunjung sembuh. Saya pikir akan ada perbaikan dalam mental dan kejiwaan selepas lulus SMA dan berpisah dari teman-teman tak waras lainnya. Ternyata, praduga ini tertebas habis oleh kenyataan bahwa saya malah makin menggila seiring dengan bertambahnya waktu yang saya habiskan di masa kuliah saya ini.

Diawali dengan inisiasi yang mempertemukan saya dengan manusia-manusia terkutuk oleh dusun Sembego (sudah pernah dituliskan di catatan sebelumnya), saya menapaki langkah yang makin meragukan akan membawa saya pada kesembuhan jiwa. Dimulainya kegiatan kuliah di sastra pun mengharuskan saya bergabung dengan grup yang minimalis dari segi jumlah anggota namun maksimal dalam hal keedanan. Seumprit mahasiswa yang menyesaki kelompok Tiwul Bantul ini menjadi geng mingsil yang hingga saat ini tak jelas keberadaan otaknya. Berlanjut ke minat saya untuk belajar mengenai jurnalistik, dengan yakinnya saya melenggang mendaftarkan diri ke UKM natas. Saya membayangkan kegiatan yang bermanfaat, mengasah otak, diskusi serius tentang banyak hal, dan liputan berita yang mengasyikkan. Nyatanya…

Acara nonton bareng pertama kali mempertemukan saya dengan beberapa orang yang pada akhirnya banyak mengambil peran dalam kegagalan penyembuhan mental kejiwaan saya. Bisa bayangkan duduk bersama pertama kali dalam kelompok yang beranggotakan Richy, Alex, Dimas Hendro, Bayu Japra, Santo. …………… krik. Kenapa laki-laki semua? Saya terima saja dengan lapang dada. Sepanjang menonton film, ada-ada saja kelakuan mereka, mulai dari membakar daun-daun kering dan rokok untuk mengusir nyamuk hingga yang paling penting dan dilakukan sepanjang waktu, melawak. Haduh…
Dikdas yang digelar memang masih menutupi kepribadian asli UKM ini. Tuntutan menulis sebuah berita pun saya jabani dengan sekuat hati. Namun, pada akhirnya pelantikan mengungkapkan sedikit dari wajah asli natas. Bersama kelompok bunga matahari, saya meliput dan menulis berita maha dahsyat tentang teletong. Aih, aih…dunia…ditambah lagi dengan gelak tawa tak henti dari manusia bernama Alex hanya karena tikus makan palawija (hingga hari ini saya tidak mengerti di mana lucunya).

Momen yang pada akhirnya menguak lebih jauh jati diri natas adalah Musyawarah Besar (Mubes). Saya tidak akan pernah bisa melupakan bagaimana persisnya Tara menggigil, seluruh badannya bergemeletuk hingga akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke ruang sidang. Di tengah kebingungan mencari celah untuk berebaring, Richy muncul seraya membentuk tanda salib di dahi Tara. Saya yang tengah terjaga karena kedinginan hanya melongo tak percaya. Apa-apaan ini? Kelakuan apa ini? Aaakkkkhhh….tapi, di balik kebodohan ini memang masih ada jejak-jejak keseriusan menggelar sidang yang tersirat lewat ‘adu argumen’ soal ‘dan/atau’.

Selepas Mubes, saya pun kerjaannya menyambangi ruang UKM tiap hari. Buat apa? Tidak jelas juga, ya cuma duduk-duduk atau nyanyi-nyanyi atau tidur-tiduran atau…bikin bintang, hahahahaha….. absurd? Jelas dong. Persahabatan nggak jelas ini ternyata membuahkan momen-momen lain yang makin memperparah penyakit kejiwaan akut bin kronis saya. Nongkrong-nongkrong sampai dini hari sambil menunggu Kang Ramto membereskan dagangannya selalu saja jadi kegiatan favorit. Belakangan dibuat lebih bermutu dengan menyelipkan diskusi-diskusi ringan namun bermanfaat untuk menambah pengetahuan. Begadang di rel kereta juga tetap hal yang tidak jelas namun digemari. Pada kesempatan begadang yang pertama, dengan menjijikkannya kami menunggui kereta lewat sambil shooting film seri Meteor Garden 76 (hah?). Begadang kedua tetap untuk shooting, kali ini bintangnya Pepet, dalam acara uji nyali…hah, nggak mutu.

Gara-gara banyaknya kegiatan aneh bin ajaib ini, saya mulai jarang pulang ke kost. Rentetan peristiwa yang diawali dengan keberangkatan saya ke rumah Dimas Gundul bersama Tara dan Veta dalam rangka studi banding ternak ini kemudian dilanjutkan selama berminggu-minggu berikutnya. Mabuk-mabukan pun tak terelakkan. Awalnya saya tidak mau ikut campur dengan mendekan di kamar, tapi tergugah oleh rasa ingin tahu, saya keluar menunggui mereka semua mabuk. Kesempatan emas pun saya dapatkan untuk menampar mereka satu per satu sambil menonton mereka ndagel. Hahaha… Kami pun religius, terbukti dengan digelarnya kunjungan ke pantai Sadranan Wonosari dalam rangka memeriahkan Hari Nyepi. Bahkan kami menyusun kepanitiaan untuk kegiatan ini. Anggota panitia paling fenomenal disambar oleh seksi tumbal (saya tidak mau menyebutkan nama). Tapi ternyata panitia tidak ada gunanya sama sekali. Perjalanan yang dimulai jam 6 sore ini malah membuat kami harus terdampar sejenak di rumah mbahnya Bayu Japra untuk dapat tetap melanjutkannya. Kami terpaksa merampok stok makanan mbahnya Bayu karena tidak ada persiapan apa pun yang kami usung. Jam 11 malam baru kami beranjak lagi melanjutkan perjalanan. Tara dan Tamcong dengan mesranya mengangkut tenda, Richy berkutat dengan besi-besi yang sepadan dengan tulangnya, sementara Bayu Japra sendiri akhirnya memaksa Iren untuk menjejalkan tabung gas 3 kg di dalam tasnya. Kompor dan kayu bakar diusung oleh Mbah Buyut dan Pepet dengan sepeda motor tak berbaut (nah lho!) pulang pergi. Tengah malam, saya nyaris saja terlempar ke jurang. Akh, Al, Veta, Erda, Putri, kalian harus tanggung jawab pada ibu saya kalau saja saya benar-benar kecemplung malam itu. Ya sudahlah…

Setibanya di pantai jam setengah 1 pagi, kami menembus kegelapan seperti orang kurang kerjaan. Apa yang mau diliat di pantai jam segitu? Haduh, begonya… Tara langsung uring-uringan sekejap setelah anak-anak memutuskan untuk tidur di pondokan bambu. Tenda yang dibawanya susah payah (baca: mesra) dengan Tamcong ternyata tak berguna! Sama saja nasibnya dengan kompor dan tabung gas yang diusung dengan keukeuhnya oleh Bayu Japra. Kasihan mereka… Saya pikir setelah makan di rumah mbahnya Bayu, kami akan langsung tidur. Ternyata…jiwa barbar mendobrak keluar. Ikan-ikan langsung dibakar dan digerayangi tanpa ampun. Saya tidak kuat bergabung dengan kegiatan itu, saya prihatin,…(sambil memasang tampang memelas). Kemeriahan pagi disemarakkan dengan tertangkapnya seekor ikan yang sangat bodoh di kail yang ditebar Bayu Japra setelah lama saya dan dirinya berkeliling-keliling melempar kail ajaib tanpa pegangan itu (dasar Bayu aneh!). Richy pun akhirnya menemukan jati dirinya yang begitu multi dalam kunjungan kali ini: lumba-lumba berambut, siluman cumi-cumi, manusia purba, dan anjing pudel. Akh, memang dunia selalu kejam pada Richy…

Tak selesai sampai di situ, tur selanjutnya kami gelar bersamaan dengan misi duka. Ayahnya Dian sudah berhari-hari dirawat di rumah sakit, tapi kami tak juga sempat menjenguk. Ketika tiba kabar duka mengenai kepergiannya, kami langsung memutuskan untuk menyambangi rumah Dian di Sragen. Keputusan itu diambil jam 6 sore. Ke SRAGEN sodara-sodara! Kali ini saya menumpang di sepeda motor ‘pakde hangat’ (hahahahahahaha). Awal perjalanan sudah diwarnai dengan peristiwa ban bocor. Tapi, namanya juga natas, selama menunggu ban ditambal Tara dkk membuka buku pelajaran untuk mempersiapkan ujian besoknya. Ahay…perjalanan tanpa petunjuk ini terhenti sejenak ketika Pepet dengan santainya bilang, “Aku cuma ngerti jalan sampe sini.”………………………… saya kehilangan kata-kata. Perjalanan baru separuh dan rute selanjutnya tidak dikenali. Terpaksa mbah(k)nya Pepet kami cari ke kost, namun ternyata eh ternyata…yang bersangkutan sedang mejeng di mall. Akh, tak peduli apa pun yang merintangi (kecuali Si Komo yang bikin macet), kami JALAN TERUS (hidup SO7 >.<)! Jam setengah 1 pagi baru kami tiba di rumah Dian. Baru sekejap duduk di tikar, si Japra dengan sok asyik bilang ke saya untuk pulang jam setengah 2 pagi. Apa-apaan itu? Yah, setelah berbincang dengan Dian sambil menenangkan hati Tara yang mangkel karena ban motornya ikut-ikutan pecah, kami memutuskan untuk pulang jam 2 pagi itu. Sepanjang jalan, rasa kantuk menyerang ampun-ampunan. Nyawa dipertaruhkan dalam perjalanan pulang ini. Tapi, jiwa narsisme tak lekang oleh kantuk. Kami berhenti di setiap tempat yang sekiranya bagus untuk berfoto. Ckckck…

Wah, ini benar-benar gila. Saya jadi bingung bagaimana saya akan menyembuhkan mental saya jika setiap hari saja saya berelasi dengan orang-orang yang sama tak warasnya. Tapi, inilah jalanku, aku dipanggil untuk menapakinya (lho, sok religius). Teman-teman…sembuhkan saya!

Jumat, 28 Mei 2010

inkonsistensi

baru saja kembali aku baca bukti inkonsistensi seorang sahabatku. selalu saja hal ini terjadi dalam kasus sejenis yang ternyata merupakan kelemahan dari banyak orang yang kukenal. satu hal yang kusebutkan ini selalu saja jadi alasan mereka untuk bertindak inkonsisten. dengan bangga dan menggebu-gebu mereka akan datang padaku untuk mengadukan betapa sakit hati mereka dibuat oleh gadis yang mereka puja. di depan wajahku mereka meneriakkan sumpah serapah dan caci maki untuk gadis itu. aku hanya bisa mendengarkan. kemudian aku akan berkata, "hati-hati sama omonganmu, yakin kamu berani berkata begitu?" mereka pun akan dengan mantapnya menjawab, "ya, yakin! aku nggak suka disakitin terus." okelah, aku terima...

tapi, selalu saja begini kejadiannya. beberapa saat setelahnya, entah itu lama atau sebentar, aku akan menemukan bukti bahwa mereka melanggar ucapannya di hadapanku waktu dulu. aku akan mendatangi mereka untuk meminta konfirmasi. tentu saja tidak dengan nada marah, karena aku sungguh mengerti hal itu hanya menghabiskan tenagaku sementara mereka sendiri makin enggan menjawab. kuusahakan nada yang tidak menyindir tapi bermaksud menyindir. selanjutnya mereka akan tersenyum-senyum malu atau pun mengelak sama sekali. jawaban yang keluar selalu saja mengindikasikan adanya penguasaan terhadap diri mereka yang belum bisa mereka atasi. ya, aku tidak mau munafiklah. mungkin aku bisa menuliskan hal-hal ini karena aku belum pernah mengalami berada dalam situasi seperti yang mereka hadapi sekarang. mungkin nanti, aku pun akan bertingkah seperti mereka saat ini. entahlah...tapi, aku harap dengan sadarnya aku akan ketidaksukaan terhadap inkonsistensi ini, aku akan berusaha segenap hati untuk konsisten.

semuanya sudah kumulai dengan tidak lagi menyangkal apa yang terjadi di dalam diriku. aku berusaha sejujur mungkin pada diriku sendiri (meskipun aku masih menutupinya dari orang lain) dengan tujuan menentukan keputusan dan langkah yang tepat. jika keputusan itu tepat, akan lebih mudah bagiku untuk berlaku konsisten. dengan demikian, aku pun berusaha konsisten dengan ketidaksukaanku akan inkonsistensi. entah kenapa, aku sungguh tidak menyukainya, sekalipun dalam kondisi tertentu aku berusaha memakluminya. inkonsistensi mengindikasikan kelemahan bagiku. kelemahan yang merujuk pada kekurangmampuan seseorang untuk melindungi dirinya dari kekuasaan-kekuasaan (biasanya berupa kondisi) pihak lain di luar dirinya yang memaksa mereka untuk melakukan pelanggaran terhadap apa yang telah mereka ucapkan. toh banyak orang juga tidak menyukai inkonsistensi. ada saja pemakluman untuk situasi tertentu yang hingga saat ini pun belum kumengerti cara kerjanya. untuk hal itu memang aku belum berani berkata apa-apa karena segala hal mungkin terjadi di bawah kuasanya (silakan tebak sendiri situasi atau sistem apa ini).

mudah-mudahan tulisan ini pun tidak menjebakku di kemudian hari. akh, aku mau berusaha untuk konsisten, sekuat mungkin. amin.

Rabu, 26 Mei 2010

your hopeless statement

entah apa lagi yang ada di otakku sampai aku menunda postingan yang sejak kemarin mau kutulis dan sekarang malah menuliskan hal ini.

I wonder if only I have the bravery to say to you, "Jangan takut, jangan layu. There's always a way as long as you fight for your life. Be tough, please." You'll never imagine how bad it's felt when I read your hopeless statement...

kalimat ini keluar setelah aku membaca pernyataanmu yang begitu putus asa kedengarannya. entahlah, benar2 sedih aku mendengarnya. aku tidak tahu dan tidak bisa mengungkapkan secara benar tentang kekhawatiranku ini. kamu memang begitu membingungkan. baru saja aku dapatkan kesempatan untuk sedikit menyapamu, sekejap itu pula aku tahu apa yang meresahkan hatimu begitu sering.

aku tahu ini benar2 berat, aku tak akan pernah mengerti bagaimana rasanya sampai aku sendiri yang mengalaminya. tapi, aku sungguh ingin memiliki keberanian untuk menghampirimu dan menyatakan bagaimana aku ingin kamu terus berjuang. bersemangatlah (maaf jika ini benar-benar terkesan tidak penting)...

pasti kisah ini terasa sangat berat di pundakmu karena bahkan di bahuku saja sudah terasa begini berat.
berjuanglah, semua menyayangimu...semua ingin kamu mendapatkan yang terbaik...


Rabu, 26 Mei 2010
20.25

setelah membaca tulisanmu yang begitu putus asa 

Senin, 24 Mei 2010

mau bersyukur

inilah salah satu alasan kenapa aku tidak pernah mau berhenti bersyukur. belum lagi habis aku mengikis perasaan sedih dan marah di dalam hati ini, orang-orang gila menyambangi ruangku. dilakukannya banyak hal yang tak mereka sadari menarik bibirku melengkungkan senyuman. sejenak saja mereka mampu meneteskan "painkiller" ke luka yang tengah menganga ini. dunia ini memang sulit dipahami. dalam sedetik ia mampu menghancurkan semua kebahagiaan dan harapan melalui hal sepele. namun, di detik berikutnya hal yang jauh lebih sepele membangun kembali puing-puing yang runtuh itu. baru saja aku berteriak, "LIFE IS SUCK!". tapi, sekarang aku mampu menarik kembali kata-kata itu dan menggantinya dengan, "There's nothing to be regretted in this beautiful life. You just need to see the backside of the damn thing so that the goodness of it can be seen clearly." maka, aku mau mensyukuri hidup ini. apa yang aku percaya mengenai cinta selalu tiba tepat pada waktu-Nya adalah hal nyata yang telah berulang kali kualami.

beberapa hari yang lalu, entah mengapa aku menuliskan kembali kata-kata yang dulu pernah kuciptakan ketika akan meninggalkan SMA,


even if the world gives me thousands reasons to cry,
I will never break in tears
as long as I own you
I will make myself through it all
'cause you are my survival... 

 aku mencintai kalian, orang-orang gila =)



ditulis dengan penuh syukur segera setelah mendapatkan penghiburan

ironi

bagaimana aku harus bertahan, Tuhan?
makin hari makin pedih saja
memang benar aku harus berjuang
tapi, jika begini keadaannya aku pasti sering jatuh

kali ini air mataku tak lagi terbendung
kali ini pun aku mengerti "sebabnya"
hanya satu hal yang tak juga kumengerti
mengapa "sebabnya" itu harus terjadi?
ya, lagi-lagi supaya aku kuat

kali ini aku ingin mengizinkan diriku marah
aku mengizinkan diriku tidak puas
aku mengizinkan diriku sedih
aku mengizinkan diriku menangis
karena aku sungguh tidak mengerti
entah siapa yang egois sekarang
entah siapa yang tidak peduli
aku rasanya tidak siap disalahkan lagi
atau mungkin memang selama ini menyalahkan diri sendiri
aku memakai rose-coloured spectacles untuk memandang orang-orang
(ini bukti bahwa aku sedang menyalahkan orang lain
muncullah rasa bersalah ketika menulis kalimat itu
tapi, aku ingin jujur
aku ingin mengatakan bahwa aku saat ini lelah)

kalau semuanya kuserahkan pada-Mu
kan bukan berarti aku tidak perlu berjuang?
bukan berarti aku tidak perlu memikirkan hari depan?
lalu, bagaimana ini?
masih adakah tuaian untuk hari esok,
jika hari ini mereka panen besar?
(aku benar-benar malu menuliskan kalimat itu
aku merasa benar-benar jijik dengan diriku
yang menyalahkan orang lain)

Tuhan, ampuni aku
ampuni aku untuk tulisan ini
aku tahu aku telah mengecewakan-Mu dengan berani menulis hal ini
juga mengecewakan mereka

tapi, aku sungguh sedih, Tuhan
sungguh lelah
bangunkan aku, pegangi aku
biar aku tidak takut, tidak layu

pulang (pulang)

aku akan pulang,
mengembalikan diri pada pelukan
pelukan kehangatan
di mana akan selalu ada senyum manis

aku akan pulang
kembali menikmati selimut
selimut kehangatan
di mana aku akan selalu meringkuk manja

aku akan pulang
kembali mencium baunya
bau kehangatan
di mana akan selalu kupejamkan mata dalam nikmat

aku akan pulang
tapi, aku meninggalkan sesuatu di sini
sepotong cinta yang telah tumbuh
untukmu keluargaku

nantikan aku kembali pulang,
pulang ke kehangatan yang sama dengan yang akan aku tuju
nantikan aku pulang

Rabu, 19 Mei 2010

iman ini perjuangan

Beberapa hari yang lalu, aku menemukan firman-firman ini:

"Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah terlebh dahulu membenci Aku daripada kamu."
                                                                                                                                  Yohanes 15: 18

; dan

"Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah."
                                                                                                                                 Yohanes 16: 2

; serta ini favoritku

"Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia."
                                                                                                                                 Yohanes 16: 33b.

Lihatlah betapa kejamnya dunia memperlakukan orang yang percaya pada Yesus sang Putra. Siapa yang tahan menghadapi hukuman macam itu? Aku tidak suka dibenci orang. Aku tidak mau dikucilkan. Aku takut dianiaya dan mati. Lalu, bagaimana aku harus bertahan dalam imanku yang malah meletakkanku pada posisi rawan ini? Bagaimana dengan janji keselamatan? Rasul Paulus menjawabnya dengan pernyataan bahwa ia tidak peduli dengan nyawanya selama ia mampu menjalankan tugas pelayanan dari Allah. Hantaman keras buatku, mampukah aku menyatakan hal yang sama? Bahkan Yesus sendiri pun mau mendoakan murid-muridnya agar diberkati dan dibimbing Tuhan dalam tugas perutusan ini. Sebuah tugas mulia yang harus kuemban untuk kemuliaan Allah. Apakah aku akan terus menerus minta kebaikan dari Bapa sementara aku sendiri tidak mau berjuang untuk-Nya? Tidak. Ia tidak butuh siapa pun untuk memperjuangkan nama-Nya. Ia adalah Tuhan yang Maha segalanya. Apa yang seharusnya aku lakukan adalah bentuk syukur atas segala kebaikan-Nya. Mampukah aku untuk tetap setia memelihara kesetiaan ini? Usaha-usaha yang sedang kutempuh saat ini bertujuan untuk memperbaiki kembali hubunganku dengan Bapa agar lebih hangat. Kesibukan dan kepentingan lain yang selama ini sering mengganggu kemauanku untuk berdoa sedang aku coba kontrol. Aku lelah terus menerus menjauh dari-Nya. Dunia ini terlalu kejam buatku. Aku tidak mampu bertahan tanpa pegangan dan sandaran.


Aku mau belajar berjuang. Aku mau belajar merefleksikan hidupku. Aku mau belajar untuk menerima dan menikmati rasa sakit. Hingga pada akhirnya aku akan belajar menjalin hubungan yang mesra dengan Allah. Banyak teman-temanku yang juga merindukan hubungan yang hangat tersebut, namun masih terhalang oleh keraguan-keraguan yang timbul akibat sudut pandang yang sangat beragam. Alasan mengapa kami merindukan hubungan itu adalah ketenangan dan kenyamanan yang diperoleh darinya.


Ketika aku mau berusaha memelihara kesetiaanku, aku tahu Tuhan akan membimbingku. Aku tak kan pernah bisa jauh dari-Nya karena Ia sendiri setia. Ia akan selalu mengejarku saat aku menjauh dan merangkulku untuk pulang. Iman ini perjuangan. Apa pun yang terjadi aku mau tetap menjalaninya dengan sepenuh hati. Jika di tengah jalan nanti aku terjatuh, Allah sendirilah yang akan menarikku bangun dan mengobati lukaku. Tuhan Yesus pernah mengalami perjuangan yang lebih berat dan menyakitkan, tapi Ia mampu melewatinya dengan iman dan kesetiaan. Untuk perjuangan yang tak seberapa ini, pastinya aku juga harus mampu menjalaninya.

Iman ini perjuangan. Jalan terus!


Selasa, 18 Mei 2010
22.48

*the full version is still not good enough to be published

ini perjuanganku

Ini perjuanganku, Bung
perjuangan penuh darah dan peluh
memerangi apa aku tak tahu
aku dilarang membenci siapa pun
jika musuhku adalah ketidaksetiaan,
aku boleh memeranginya kan?

Ini perjuanganku, Bung
berkelit dari banyaknya jerat jahat
yang sulur-sulurnya mengikat erat
aku tidak berontak
aku dilarang berlaku kekerasan
jika musuhku adalah menyakiti,
aku boleh menghajarnya kan?

Apa pun yang mau kau bilang
ini tetaplah perjuanganku, Bung.


Selasa, 18 Mei 2010
22.56 

Jumat, 14 Mei 2010

Melucuti Keegoisan

apa lagi ini, Tuhan? kenapa tak juga mampu aku jadi dewasa? aku sangat mengerti bahwa keputusan ini menuntut banyak hal. aku harus mampu mensedikasikan banyak waktu untuk berpikir dan mempertimbangkan sebuah pilihan. aku harus ikhlas mengorbankan beberapa kepentingan pribadi. itu semua akan sangat menyakitkan, maka aku pasti butuh kekuatan lebih untuk menata hati yang hancur karena kemungkinan-kemungkinan terburuk. aku tahu itu semua. bahkan kadang dengan sok-nya aku mengajarkan teori ciptaan sendiri itu pada orang lain. tapi, kenapa selalu saja batu karang yang mengganjal jalanku? atau hanya kerikil yang kuanggap batu karang? sepertinya kemungkinan kedua. jika ya, memang benar aku hanya anak kecil.

aku kecewa pada diriku sendiri di saat seperti ini, Tuhan. aku tak pernah bisa beranjak dari kekanak-kanakanku. atau aku yang tak mau? akh, aku selalu mau jadi deasa. kerinduanku menjadi anak-anak ya hanya sebatas kerinduan yang kulampiaskan lewat hal-hal bodoh. jika saja orang lain yang mengalami hal ini dan menceritakannya padaku, dengan yakin aku akan menyarankan pilihan untuk mengorbankan kepentingan oribadi. tapi hari ini aku mengerti, ini tidak segampang yang aku pikirkan. aku rasanya ingin melucuti semua keegoisan dalam diriku, semua cemburu, semua kekecewaan dan ketidakpuasan yang selalu saja bikin sakit hati.

izinkan aku menangis jika aku memerlukannya. ya, izinkan aku menangis karena sedikit rasa sakit akan terkucur keluar bersama dengan air mataku. sementara sisa lukanya, biarkanlah mengering dihembus angin. nanti pasti akan kembali halus tanpa bekas. memang butuh waktu, tapi aku tahu penyelesaiannya akan selalu tepat waktu. bimbing aku, Tuhan. biar aku mampu membuat mereka yang mencintaiku mengulas senyum. bukannya aku mau sok, tapi jika memang (dan itu pasti) harus kubangun itu semua dengan luka dan air mataku, biarlah seperti itu adanya. biar tak lafi ada air mata tertumpah dari mata sosok-sosok cinta hidupku karena itu akan terasa lebih sakit buatku. obati luka ini, Tuhan. aku mau jadi dewasa.


Rabu, 12 Mei 2010
16.54

Senin, 10 Mei 2010

Rindu

Segumpal rindu biarlah tetap beku,
agar tak raib doaku,
doa untuk potongan yang terselip entah di mana.

Hanya dengan rindu aku mampu menginderanya,
biar tetap hidup ria ini,
biar jadi alasan.

Aku Mengasihinya

Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar daripada Aku.
                                                                                                                                                                        Yohanes 14: 28b   
ini kutipan Injil kemaren. yah, lai-lai aku akan bicara soal seseorang yang beitu kucintai, seseorang yang membekaskan rindu dalam tiap malamku.

kutipan di atas adalah perkataan Yesus sebelum ia meninggalkan murid-muridnya untuk mati di kayu salib demi menebus dosa anak-anak-Nya. ya, Yesus sempat meninggalkan pemahaman bagi para rasul agar mereka tidak menyesali kepergiannya meski biar bagaimana pun air mata sedih akan selalu berulir ketika seseorang yang kita kasihi harus meninggalkan kita. para murid dikuatkan oleh kata-kata itu.

lalu, bagaimana denganku? saat-saat ini 3 tahun yang lalu, aku menghabiskan masa-masa sulit dalam hidupku. baru saja berusia 15 tahun, begitu besar luka yang harus kutahan perihnya. 2 bulan penuh orang tuaku meninggalkan rumah untuk menjalani pengobatan. 2 bulan itu pula aku hanya tinggal dengan adik dan mbakku. aku diserahi tanggung jawab untuk mengelola keuangan rumah tangga selama orang tuaku pergi. aku baru 15 tahun, aku menghabiskan setiap malam 2 bulan penuh itu dengan novena tanpa henti. inilah masa devosiku yang paling mengagumkan. tak lain dengan intensi untuk kesembuhan dan jalan terbaik. 2 bulan itu pula air mataku selalu tertumpah sebelum aku mampu memejamkan mata. yang aku bisa hanya mendengarkan suara yang kian hari kian melemah, entah, tak terbayangkan olehku bagaimana keadaannya yang sesungguhnya. hingga akhirnya aku hanya mampu menumpahkan semua gundahku pada mereka yang kupanggil sahabat. ketika tiba waktunya aku dapat menjenguk sosok cinta dalam hidupku itu, aku tak menyiapkan hati. aku menghindari semua pikiran buruk yang ada demi mengurangi rasa sakit. aku harus kuat, aku berjanji untuk tak menangis di hadapannya. nyatanya, aku bukan batu karang seperti kelihatannya. aku hanya moluska bercangkang keras namun dengan isi yang lunak tak berdaya. tumpah lagi air mata, seperti malam-malam sebelumnya. aku berharap aku mampu jadi gadis dewasa yang menguatkannya, nyatanya tetap saja aku seorang bocah di hadapannya. seperti tahun-tahun berlalu, ia tak mau menyaksikan aku menangis. hingga hari ini aku masih mampu mengingat bagaimana persisnya ia mengusap air mataku sementara tubuhnya lemah sekali. tak disempatkannya wajah lemah dan sakit tergambar , ia selalu mau jadi humoris di mata anak-anaknya. dan itulah tawa pertama dan terakhirnya selama 2 bulan itu. bagaimana bisa aku tahan memandangi tubuhnya yang kurus dan sakit itu, hingga kini aku tak mengerti. selama 2 bulan itu aku dibohongi, hanya denan tujuan untuk tidak membuatku terbebani dengan pikiran itu. marahkan aku? tidak, sama sekali tidak. aku mengerti, ada beban yang lebih besar yang harus ditanggung wanita pujaanku itu. aku merasa tak patut marah, dia -tak lain- hanya ingin aku bahagia. berapa lama aku diberi waktu untuk menyiapkan diri? hanya semalam. lebih tepatnya beberapa jam. semua prediksi buruk yan pernah terlintas malam itu berebutan memenuhi otakku. menangis lagi. untungnya tak lagi lama. aku hanya diberi waktu semalam untuk melepas rinduku. aku hanya punya 1 malam untuk menyiapkan hati. pernahkah kubaca firman di atas sebelum hari itu? belum pernah, aku hanya mengerti konsep: Tuhan itu baik. syukurlah aku mampu bertahan dengan keyakinan (yang dipandang sangat sangat abstrak bagi sebaian orang) itu. dan akhirnya, dia memang pergi. aku berusaha berada di sisinya ketika waktunya hampir tiba. kubisikkan doa-doa di telinganya. semangat dan cinta semua tumpah ruah. aku tak lagi menangis. aku tahu dia mau pergi (setelahnya baru aku tahu, berat pada awalnya bagi dia untuk menerima hal itu, namun pada akhirnya ia mampu ikhlas). perjuangan selanjutnya harus kujalani tanpanya. apa pun yang terjadi, tanpanya.

hari ini aku menyadari aku telah mampu bertahan begini kuat, meskipun air mata masih saja sering terurai di kala tertentu saat kenangan tentangnya mendesak kepentingan lainnya. aoa yang aku tangisi? tak lebih dari egoku sendiri yang mengkhawatirkan apa yang akan terjadi padaku jika dia pergi. ia sudah sembuh. dengan kepergiannya, semua sakit dan penderitaannya diangkat sehingga ia bisa pulang kepada Dia yang memiliki segalanya. Dia yang lebih besar daripada manusia. aku begitu mengasihinya Tuhan, aku mencintainya sepenuh hati. maka, aku melepaskannya dengan sukacita, terimalah dia. aku tahu hidup tanpanya memanf terasa lebih berat. tapi, bukankah pada akhirnya aku pun juga harus mengusahakan hidupku sendiri? semua orang pun harus berjuang keras untuk hidupnya. dia telah lebih dahulu berjuang sangat keras untuknya, untukku, untuk semua cinta dalam hidupnya. bukankah pantas baginya untuk mendapatkan waktu istirahat? kin iwaktuku, untuk ganti berjuang keras, untukku, untuknya, dan untuk semua cinta dalam hidupku. inilah caraku untuk mengasihinya, aku mau berjuang untuk kebahagiaan dan kebanggaanya.

rindu yang bercokol tiap saat kutebas dengan berdaras doa. entah bagaimana hancurnya aku tanpa doa-doa itu (ini subyektif dan fakta BAGIKU). rindu ini mengajarikau beberapa hal. pertama, rindu itu menimbulkan perih. butuh kemampuan lebih untuk mengobatinya. kedua, rindu itu candu. meski aku tahu itu sakit, aku tetap menumpuk rindu itu. mungkin ini penyakit klise banyak orang ketika berhadapan dengan cintanya, "berkubang dalam rasa kasihan pada diri sendiri". pelajaran ketiga, rindu ini menyemangatiku. itulah mengapa aku menumpuknya. aku mau terus berjuang. dengan merasakan rindu padanya, aku diingatkan akan cita-citanya yang selalu ingin kuusahakan sekuat tenaga. ia pergi bukan untuk menyaksikan aku hancur. ia tahu aku sudah cukup mampu melanjutkan hari tanpanya. tanggung jawab lagi. di awal tulisan ini, aku menyesali usiaku yang masih muda (menurutku) untuk diserahi tanggung jawab begini besar. dan sekarang aku malu. aku tahu dan pernah menyaksikan, mereka yang belum lagi 10 tahun harus berjuang lebih berat daripada aku. 15 tahun, masih mudakah itu? apa yang aku harapkan? kemanjaan hingga tua? maaf, tidak.

aku mengasihinya Tuhan. terima kasih untuk memanggilnya pulang. aku mau tumbuh jadi kuat. aku mau berjuan. rindu ini, biarkanlah tetap hidup di hati. bila sakit dan menimbulkan luka, aku tahu ke mana harus berlari mencari kesembuhan.

"'Cause I miss you, body and soul so strong and it takes my breath away.
And I breathe you into my heart and pray for the strength to stand today.
'Cause I love you whether it's wrong or right.
You know I can't be with you tonight, but you know my heart is by your side..." -daniel beddingfield-


Rabu, 5 Mei 2010
23.02

Senin, 03 Mei 2010

rendah hati

ada satu hal yang selalu ingin kucapai dalam hidupku.

aku sangat ingin menjadi rendah hati

sejauh ini, aku masih berusaha keras untuk mencapainya. tapi, jalannya memang tidak selalu mulus. jelas tidak akan pernah mulus. kenapa tiba-tiba aku melontarkan kalimat ini? semuanya didasari ketika suatu malam aku tidak bisa pulang ke kost karena jam malam sudah lewat sangat jauh. terpaksa aku menumpang menginap di kamar kost seorang teman bersama dengan 3 orang teman lainnya. dengan formasi tidur persegi, kami melewatkan sejumlah waktu untuk berbincang. dalam obrolan itu, timbullah niatku untuk berefleksi. tak sekedar merenunginya, namun juga menuliskannya agar di hari depan mampu kubaca ulang dan kujadikan pedoman untuk mengatur hidup yang lebih baik. entah kenapa, aku tiba-tiba jadi ingin menuliskan refleksi itu rutin namun hingga hari ini belum mampu juga aku mengusahakannya.
maka, topik pertama yang sangat ingin aku angkat dalam refleksi pribadiku adalah "rendah hati". sejak dulu, aku selalu iri pada siapa pun yang mampu bersikap rendah hati. seorang teman pernah berkomentar mengenai keinginanku untuk menjadi rendah hati. begini kira-kira katanya, "rendah itu agak berkesan negatif." dan waktu itu saya menanggapinya dengan kalimat, "entahlah, 'rendah' dalam rendah hati selalu mengesankan sebuah sikap yang agung bagiku." ya, di mataku seseorang yang rendah hati adalah sosok yang agung. ia mampu menekan keinginan untuk sombong dan pamer, padahal kebanyakan orang yang rendah hati adalah mereka yang memiliki banyak hal untuk dibanggakan. kapan aku bisa jadi seperti itu?

seorang kenalan dulu pernah mengirimkan sebuah pesan di hari ulang tahunku yang ke-16. aku sudah lupa bagaimana persisnya isi pesan itu, kira-kira seperti ini:

        ketika jadi tunas, 
        







kita melihat embun seperti titik air raksasa
        kupu-kupu seperti burung raksasa.
        









namun, ketika kita tumbuh menjadi pohon yang besar,
        






bahkan burung-burung pun bersarang pada kita.
        .....
        menjadi dewasa bukan berarti kita mengerti segalanya
        bahkan menirukan tawa anak kecil pun kita sudah tidak mampu 
 
        maka dibutuhkan jembatan untuk menghubungkannya
        yaitu, kerendahan hati

yah, sama sekali ngelantur, padahal teks aslinya bagus sekali, sayang sudah aku hapus. beberapa tahun berikutnya, ketika aku membaca salah satu kumpulan cerpen Dewi 'dee' Lestari, aku menemukan bait yang mirip dengan pesan temanku itu. ternyata ia mengutipnya dari cerpen itu. seketika aku teringat kembali betapa gembiranya aku saat dikirimi sms tersebut. ya, aku selalu ingin menjadi anak kecil lagi, di mana segala hal nampaknya bukan beban. tidak seperti ketika hari ini aku mengemban begitu banyak tanggung jawab dan harapan banyak orang. aku tumbuh dalam lingkungan yang membuatku terlihat sedikit 'lebih' dibanding teman-teman lainnya. maaf bukan sombong, tapi memang hanya 'terlihat'. aku sebenarnya belum punya apa-apa untuk dibanggakan. sungguh. inilah mengapa aku malu dengan keadaanku sekarang. aku seringkali mengharapkan pujian atau setidaknya perhatian atas apa yang sudah kucapai, padahal itu bukan apa-apa. aku masih ingin sombong, aku sungguh kecewa akan hal ini.

mengapa aku ingin jadi rendah hati? karena ketika aku rendah hati, aku mampu meluangkan hatiku seluas-luasnya untuk mengakui bahwa aku tak tahu apa-apa. dengan demikian aku akan mau belajar dari banyak orang, siapa pun dia, di mana pun kami berada, dan dalam situasi bagaimana pun. orang yang rendah hati selalu dicintai banyak orang karena ia mampu menempatkan diri menjadi setara dengan orang-orang kebanyakan meskipun ia sebenarnya 'lebih'. dengan menjadi rendah hati, aku akan mampu bersikap bijak karena aku mau mempertimbangkan pendapat orang-orang demi tercapainya keputusan yang terbaik. siapa yang tidak mencintai orang yang rendah hati? tidakkah sangat membahagiakan ketika kita dicintai semua orang? rendah hati adalah jembatan untuk menikmati relasi yang hangat dengan orang-orang di sekitarku. namun, sangat sulit untuk menjadi rendah hati.

sayangnya, impian ini tidak kucantumkan dalam daftar 100 mimpiku. sekalipun kucantumkan, aku tidak yakin akan dapat mencoretnya. aku berharap aku baru akan mencoretnya di saat aku hampir mati karena itu artinya sepanjang hidupku aku selalu berusaha untuk menjadi rendah hati. semakin rendah hati, semakin rendah hati, dan semakin rendah hati. untuk setiap hal yang berhasil kucapai, aku ingin menjadi semakin rendah hati. ingin kutekan keinginan untuk besar kepala dan menggurui orang lain, aku mau jadi rendah hati. aku mau mendengarkan orang lain, aku mau belajar mengerti orang lain. instrumen-instrumen inilah yang akan aku gunakan untuk belajar rendah hati. ya, aku tahu memang membutuhkan waktu yang lama dan perjuangan yang panjang. tapi, bukan hal yang mustahil. aku akan jadi rendah hati, dengan bimbingan Tuhan. amin.

Aku Mau Ikhlas

Hari ini aku mencarimu,
di balik embun,
di naungan matahari.
Tak jua kutemukan matamu,
cahaya yang menari.

Kau ada di dalam hujan,
berupa rinai yang sejuk.
Kau ada bersama angin,
berupa hembus harap.
Kau tak kasat mata,
namun nyata ketika ku terpejam.
Kau tak berwujud,
namun imajinasiku kau genggam.
Aku lari,
coba kebaskan titik debu.
Kau menggelayut di sisi.
Kau jauh, sekaligus sedekat nyawa...

Jangan hempaskan aku,
nanti aku sakit dan mati.
Biarlah pikirku terus bergulir,
hiduplah dari peluh dan air mataku.
Tariklah ulas senyum,
lalu aku mau ikhlas...


*diposting ketika turun hujan deras tiba2*