Rabu, 04 Desember 2013

"Let it be," she said.

"When I find myself in times of trouble, Mother Mary comes to me speaking words of wisdom, "Let it be."."


So once again, she calms me down. What a mother.

Rabu, 06 November 2013

Si Ibu dan Tari Legong

Jumat minggu lalu saya menonton sebuah pertunjukan tari Bali di Yogyakarta. Pementasan ini digelar oleh sebuah komunitas bernama Sekar Jepun yang memang secara rutin setiap tahunnya menyelenggarakan pertunjukan tari. Tahun ini mereka mengusung tajuk “Legong Sang Kenya”. Menurut pengetahuan saya yang minim tentang tarian Bali, legong adalah salah satu jenis tariannya. Nah, ‘Sang Kenya’ adalah sebuah nama panggilan untuk seorang tokoh yang memang memiliki lumayan banyak julukan. Orang banyak mengenalnya dengan nama Maria atau Bunda Maria. ‘Sang Kenya’ diambil dari Bahasa Jawa yang berarti ‘sang perawan’. Begitulah Maria sering disebut.

Sebenarnya, tarian dengan tajuk yang hampir mirip juga pernah dipentaskan oleh Sekar Jepun di tahun 2011. Kali itu acaranya diberi judul “Legong Maria”. Tarian yang dipertunjukkan tahun ini adalah sebuah eksplorasi lebih dalam dari tarian Legong Maria. Tokoh yang diambil masih sama. Namun, ada penekanan khusus pada salah satu atribut Maria yang cukup mengena di hati konseptor tarian. Atribut itu ialah sebuah ungkapan kondang yang keluar dari mulut Maria, “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Kalimat ini adalah ikon kepasrahan Maria yang konon berusaha diteladani banyak orang, khususnya penganut agama Katolik. “Mu” pada kalimat itu merujuk pada figur Tuhan yang menurut Maria punya kuasa paling besar atas hidupnya. Oleh sebab itu, Maria mendeklarasikan keikhlasannya untuk menjalani kehendak Tuhan dalam hidupnya.

Interaksi saya dengan tarian Legong Sang Kenya* memang bisa dibilang hanya kurang lebih satu minggu. Akan tetapi, di suatu waktu jauh sebelum pementasan, saya sudah sempat bersinggungan dengan konsepnya. Konseptor tarian, yang adalah salah seorang pengajar di fakultas tempat saya belajar, bercerita pada saya tentang keinginannya untuk menumpahkan refleksi personalnya atas Maria dan kalimat saktinya itu dalam sebuah pertunjukan tari. Memang tidak ada kebetulan di dunia ini. Saat saya berhadapan dengan si konseptor dalam adegan penceritaan itu, saya tersenyum simpul seraya bingung. Masalahnya, sewaktu cerita konsep tarian itu sampai ke telinga saya, saya memang sedang bergumul dengan kalimat sakti Maria itu.

Entah mengapa, selama beberapa hari berturut-turut saya menemui kalimat itu di banyak tempat dan dari banyak orang. Tadinya hanya saya anggap angin lalu. Namun, setelah si konseptor juga menambah frekuensi saya berhadapan dengan “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu” itu, saya mulai dibebani pikiran tertentu. Ketika saya tersenyum simpul kebingungan itu, si konseptor tarian bertanya mengapa saya tersenyum mencurigakan. Saya menjawab seadanya bahwa beberapa hari belakangan saya sering menemui kalimat itu di mana-mana. Tanggapan darinyalah yang membuat saya sungguh-sungguh memikirkannya kemudian, “Dicari. Mungkin ada maksudnya.” Angin lalu yang hampir bablas itu tadi saya panggil pulang lagi. Ya, mungkin ada maksudnya.

Pencarian saya atas interaksi berturut-turut dengan ucapannya Maria itu berakhir entah di mana saya sudah lupa. Satu hal yang menandainya adalah kesadaran saya bahwa ungkapan itu menemui saya selama beberapa hari ketika saya mulai sering protes sama keadaan. Singkatnya, saya belajar lagi dari sosok yang namanya ditimpakan kepada saya oleh ibu saya itu untuk ikhlas. Ikhlas pada hidup dan berusaha menjalaninya dengan sungguh-sungguh.

Nah, tibalah saatnya saya menonton tariannya. Pertanyaan yang bergulir di kepala saya adalah, “Bagaimana sih bentuknya jika kalimat sakti Maria itu keluar dalam bentuk tari?” Jujur saja, saya hanya punya sedikit referensi tentang tari dan bagaimana mengapresiasinya. Dalam keterbatasan itu, saya berpendapat bahwa tarian Legong Sang Kenya kali itu sangat indah. Durasinya panjang, sekitar lebih dari tiga puluh menit. Total penari yang terlibat dalam tarian ini adalah dua puluh empat orang.

Saya menonton tarian ini dengan seksama ketika gladiresik pentas. Saat itulah kali pertama saya menyaksikan tarian ini secara utuh. Ketika kurang lebih separuh waktu tarian sudah berjalan, dimulailah adegan simbolisasi penyaliban Yesus, anak Maria. Ketika adegan ini ditarikan oleh tiga penari laki-laki, pemeran Maria dan penari perempuan lainnya bergerak sebagai latar. Adegan berakhir ketika salah seorang penari laki-laki menusuk perut penari Yesus. Dalam gerakan yang sangat gesit, penari Maria muncul di belakang penari Yesus dengan pose menopang. Gerakan tari dan musik melambat. Setelah beberapa waktu lalu penari Yesus berbalik menghadap “ibunya”. Lantas, ia menari menuju bagian belakang panggung. Penari Maria mengikutinya dari belakang. Hampir di ujung panggung, penari Yesus menghaturkan sembah. Itu salam perpisahan tentunya. Ia berpamitan pada ibunya lalu meninggalkan panggung. Tarian diselesaikan oleh sisa penari perempuan lainnya.

Persis ketika penari Maria menopang penari Yesus, air mata saya jatuh tanpa saya inginkan. Sialan, pikir saya. Saya tidak berharap menangis karena setelah ini masih harus berhadapan dengan banyak orang. Saya mengusapnya sebentar lalu berusaha menguasai diri. Jujur saja, saya terharu. Dalam tarian itu saya melihat keberadaan si Ibu Maria sebagai orang yang menopang putranya dalam kekalahan. Selebihnya, ia mengiringi anak tunggalnya itu menuju akhir perjalanan. Ketika Yesus lalu pamit, Maria melepaskannya. Tidak tertangkap oleh saya satu pun gerakan yang menandakan penolakannya pada peristiwa-peristiwa itu. Mungkin itulah kepasrahan Ibu Maria.

Memang dasar ibu yang satu itu selalu membuat saya deg-degan. Terima kasih ya, Bu.




*Konseptor: Ni Luh Putu Rosiandani
Koreografer: Ni Kadek Rai Dewi Astini
Penata Musik: I Nyoman Cau Arsana

Rabu, 09 Oktober 2013

The Beginning of the End or Vice Versa

Sudah menjelang akhir bulan September. Itu artinya saya sudah menyelesaikan salah satu rencana saya tahun ini. Rencana ini saya susun bersama beberapa teman akhir tahun lalu, 20 Desember 2012 kalau tidak salah. Tadinya, itu hanya sebuah obrolan kacangan. Sungguh kacangan. Isi obrolannya hanya demikian, “Ayo, bikin ini yuk.” Lalu dijawab, “Ayo, ayo.” Kurang lebih dua kalimat itu saja yang berseliweran selama mengobrol kacangan itu. Ternyata eh ternyata…

Kami lantas menawarkan kacang itu ke beberapa orang teman. Cukup banyak yang menyatakan bersedia ikut. Sebagian lainnya menolak karena akan sibuk mengerjakan tugas akhir kuliah yang ternyata sulit sekali untuk dicapai akhirnya. Sisanya menyatakan masih akan mempertimbangkan jawaban ya atau tidak dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Berbekal sejumlah orang yang sudah terlanjur bilang iya ini, kami melanjutkan obrolan kacangan tadi agar tidak sia-sia. Kami jadikan obrolan kacang rebus, setidaknya diolah dengan sederhana.

Teman-teman saya yang bergabung dalam obrolan kacang rebus ini sempat saya khawatirkan akan terjebak dan menjadi korban iming-iming muluk para personil obrolan kacang. Masalahnya to, ketika obrolan kacang rebus ini dimulai, semua rencana itu jadi tersusun sangat serius. Pada dasarnya, saya adalah orang yang cukup serius, maka saya bertahan dalam obrolan kacang rebus itu meski terkadang jantung saya berdegup lebih cepat karena gugup. Saya gugup mendengarkan teman-teman bercerita dan menyusun rencana ini untuk jadi cake kacang. Ya, bukan sekedar membutuhkan pengolahan sederhana seperti kacang rebus tadi, cake kacang butuh pengolahan yang lebih menyeluruh. Kacangnya harus dipilih yang baik, lalu disangrai (digoreng tanpa minyak). Setelah itu mungkin kacang akan dicacah menjadi ukuran yang lebih kecil atau bahkan remah. Bahan yang dibutuhkan pun bukan hanya kacang. Kami masih harus menyediakan tepung terigu, gula, mentega, telur, baking powder, bubuk vanili, dan lain-lain. Belum lagi kalau nanti harus pakai topping (bahan yang ditata di atas cake-nya, entah untuk hiasan ataupun penambah rasa), kami masih harus menentukan bahan apa yang pas dipakai supaya cake kacangnya jadi punya penampilan syantik dan rasa enak.

Hah, ternyata jadinya saya yang nyaris terjebak. Namun, seperti yang pernah dikatakan oleh seorang teman saya yang cukup kondang di dunia diskusi di fakultas tempat saya belajar, “Kita sudah terjebak dan tidak ada jalan keluar. Maka, jebaklah dirimu lebih dalam. Nikmati keterjebakan itu.” Saya cuma bisa bilang amin. Teringat pada kalimat-kalimat itu, saya jadi kembali percaya diri. Yang jelas, teman-teman saya yang terjebak sudah ada cukup banyak, maka kami akan menjebak diri lebih jauh sama-sama. Apabila tidak ada jalan keluar yaaa…tetap menanggungnya sama-sama. Hahahahaha….

Singkatnya, akhirnya menu cake kacang ini kami sepakati. Rencananya akan dikerjakan selama kurang lebih delapan bulan. Maka, kami memulainya seperti pasangan kekasih yang tidak direstui orang tuanya, backstreet. Kami sebenarnya tidak berniat untuk menjadikan ini sebagai rencana rahasia. Kami memilih diam-diam terlebih dahulu untuk menghindari intervensi berlebih dari pihak-pihak yang mungkin malah akan memaksa kami mengganti menunya jadi kacang yang lain. Tanpa kesepakatan tertulis dan terucap, kami menjalani proses penyusunan resep cake ini hanya dalam kelompok. Sayang seribu sayang, karena terancam akan disibukkan oleh kegiatan lain, saya dan seorang teman obrolan kacangan keceplosan. Gara-gara kelepasan omong ini, rencana pembuatan cake kacang jadi tersebar. Ya sudahlah, sekalian saja.

Rencana delapan bulan itu akhirnya bertambah jadi sembilan bulan. Alasannya supaya lebih matang dan tanggal jadinya lebih pas buat semuanya. Bulan-bulan ini bukan hal biasa. Beberapa hari dalam seminggu kami habiskan untuk ketemu dan menyiapkan diri. Bulan-bulan ini makin tidak biasa karena kami semua adalah amatiran di bidang ini. Tak satu pun dari kami punya latar belakang yang memadai untuk rencana ini. Saya khawatir harus menepuk jidat dan berujar, “Nah to, terjebak betulan.” Akan tetapi, berkat sempat kenal dengan seorang teman yang punya latar belakang yang cocok dengan rencana ini, kami jadi punya kesempatan belajar bersamanya. Sayangnya teman kami yang satu ini harus melanjutkan hidup. Maka ia berlabuh ke tempat lain dan membawakan pada kami seorang teman lainnya dengan latar belakang yang tidak diragukan lagi baik di bidang tempat kami mencoba bunuh diri ini.

Seru sekali. Cidera-cidera kecil maupun besar jadi teman kami selama sembilan bulan itu. Kadang, bangun tidur rasanya bukan segar, melainkan malah lemas. Cucian jadi tambah banyak akibat keringat yang mengucur banyak dan menyebabkan harus ganti baju. Sejak awal pertemuan dengan teman belajar yang hebat ini, saya dipertemukan dengan sebentuk teman yang divonis akan selalu berpasangan dengan saya dalam aktivitas yang membutuhkan kesamaan bobot tubuh. Kami sama-sama berbobot. Di tengah perjalanan, partner saya itu tambah gendut dan saya beranjak susut. Ini jadi tidak adil. Meski demikian, saya tidak banyak protes. Sebab berkat partner yang berbobot itu, tubuh saya jadi lebih kuat sebab aktivitas yang saya lakukan juga jadi jauh lebih berat.

Di sela-sela aktivitas fisik ini, kami juga harus terus memutar otak supaya dapat dukungan dari banyak orang dalam rangka mewujudkan rencana ini. Tidak mudah. Seliweran kesana kemari menjajakan potensi tim dan rencana ini memang belum tentu berbuah seperti yang kami harapkan. Akan tetapi, kami bertemu dengan banyaaaaak sekali orang dengan banyaaaaaak sekali kebaikan. Terima kasih kepada mereka semua. Sekarang, kami jadi punya lebih banyak orang untuk disapa jika menghadiri sebuah keramaian.

Nah, buah manis itu tidak begitu saja kami nikmati. Waktu memanjat pohonnya untuk memetik, kadang-kadang kami kena getahnya. Rencana kacangan yang jadi serius ini mendapat beragam komentar dari orang-orang yang mendengar kabarnya. Ada yang kagum dan mendukung, ada yang menyepelekan dan tidak percaya akan terjadi, ada pula yang tidak berkomentar apa pun (entah karena merasa komentarnya terlalu vulgar atau memang tidak punya sesuatu untuk dikomentari). Menghadapi ini semua, saya dan teman-teman kemudian berpikir bahwa gagal atau berhasilnya rencana ini baru akan diketahui sesudah prosesnya diselesaikan. Maka, tidak ada cara lain untuk mengetahuinya selain menyelesaikan apa yang sudah kami mulai. Perkara gagal atau berhasil, itu jelas jadi konsekuensi logis yang harus kami tanggung. Yang jelas, jika kami memilih untuk tidak melanjutkannya, maka hasilnya sudah pasti: gagal.

Namanya kelompok, isinya banyak orang dengan banyak kepala. Banyak kepala itu menyimpan banyak pengalaman dan cara pikir. Kadang, satu dan lainnya bisa berjalan beriring. Namun, bisa jadi hanya pura-pura berjalan beriring. Sisanya malah kerap bertabrakan. Biasa sekali kan. Saya memang tidak pernah merasa kelompok ini istimewa dibandingkan dengan yang lainnya. Dinamika di dalamnya jelas adalah sebuah kewajaran yang juga dialami banyak kelompok orang di muka bumi. Orang datang dan pergi, saling mencinta dan membenci, juga kadang bertenaga dan kadang lelah. Semua kewajaran ini baru akan jadi istimewa jika orang-orang di dalamnya menyimpan cerita-cerita itu dan jadi berguna barang sedikit untuk hidup mereka di cerita hidup mereka yang lain. Amin.

Pada akhirnya, rencana ini kami selesaikan juga. Kami hadapi saja yang memang harus dihadapi. Sudah banyak hal yang kami berikan dalam usaha ini, maka pada akhirnya biarlah kami melengkapinya agar purna ceritanya. Senang sekali melihat teman-teman kami mengapresiasi pekerjaan kami. Kami tertawa puas seusainya. Buat saya pribadi, momen ini terasa agak tidak mudah dipercaya. Saya bolak-balik teringat bagaimana semua ini dulunya hanya berawal dari sebuah obrolan kacangan. Obrolan kacangan ini jadi demikian adanya. Saya memilih berdamai dengan ketidakpercayaan itu dan menerimanya dengan lapang hati dan bahagia, ya obrolan kacangan ini sudah jadi nyata.

Sebelum proses ini persis berakhir, saya dan teman-teman di kelompok juga sudah pernah membayangkan bagaimana hidup kami sesudah ini. Sembilan bulan itu waktu yang cukup lama untuk berinteraksi. Nantinya, kami mungkin tidak intens bertemu dan mengobrol lagi. Namun, demikianlah semua harus berjalan kan. Kami akan kembali mengurusi cerita-cerita lain. Mudah-mudahan cerita sembilan bulan ini menjadi sesuatu yang bisa diceritakan lagi di kemudian hari.

Hah, mau saya tutup saja tulisan ini. Biar teman-teman sendiri yang memberi akhir pada cerita mereka masing-masing. Saya tuliskan lagi tulisan saya dalam selebaran kecil untuk para penonton hari itu, “Kami mengawali cerita ini dari sebuah cerita yang sudah selesai. Maka, setelah cerita ini selesai, semoga akan ada cerita yang lainnya.” Mengamini itu, saya kutipkan juga kata sutradara dalam sinopsis ceritanya, “When the story ends, another story begins.” Amin ya semuanya.



lagi-lagi tulisan berhari-hari

Kalau gede, mau jadi apa?

Ketika membaca surat kabar kemarin di pagi hari ini, saya menemukan sebuah artikel menarik. Saya cuplikkan sedikit bagian yang sangat menyentuh buat saya. Jangan berharap ini romantis.



"Sarjana yang terpelajar itulah salah satu kemiskinan bangsa Indonesia kini. Yang tersebar umumnya hanya sarjana pintar yang karena bukan terpelajar, mereka lemah rasa asih dan asuhnya, dangkal secara kultural, dan kurang arif.
...
Berbeda dengan sarjana terpelajar yang ingin meletakkan satu batu bata kebajikan untuk membangun peradaban, kaum pintar lebih berorientasi mengejar dan menumpuk kekayaan serta merengkuh kekuasaan."


- Kompas, Selasa, 8 Oktober 2013
dari kolom Analisis Politik dengan judul "Terkejut dan Heran"
oleh Sukardi Rinakit



Jadi, kamu yang mana? Eh, maksudnya, kamu mau jadi yang mana? :)

Selasa, 17 September 2013

"...even a great mistake, a lifelong mistake..."



"I do not fear to be alone or to be spurned for another or to leave whatever I have to leave. And I am not afraid to make a mistake, even a great mistake, a lifelong mistake, and perhaps as long as eternity too."



Itu kata karakter kesayangan saya dalam novel skripsi saya, Stephen Dedalus. :)

Rabu, 31 Juli 2013

"Don't imagine, you're too familiar..."





Waktu saya kecil dulu, ibu saya sering memutar kaset berjudul Just the Way You are yang berisi sejumlah lagu yang semuanya berjudul Just the Way You are. Hanya saja lagu-lagu itu masing-masing dinyanyikan oleh penyanyi yang berbeda. Awalnya aku sering protes karena bosan mendengarkan lagunya. Tetapi ibuku bersikeras memutarnya hampir setiap hari. Bahkan ia pernah bercerita bahwa ketika masih lajang dulu, teman yang adalah tetangganya juga pernah mengomentari kaset itu dengan bertanya, "Kenapa lagunya sama semua sih? Kaset macam apa ini?"

Setelah beberapa tahun berlalu (kira-kira ketika duduk di bangku SMA), saya akhirnya bersedia mendengarkan lagu ini dengan sungguh-sungguh setiap ibu saya memutarnya. Ternyata, lagunya sangat menyenangkan dan saya jatuh hati dibuatnya. Jadi, sejak saya meneruskan sekolah ke luar kota dan tidak tinggal bersama ibu lagi, saya selalu mendengarkan lagu ini atau melantunkannya jika saya sedang rindu padanya.

Tautan di atas berisi versi lain dari lagu tersebut. Ada banyak sekali penyanyi yang telah memproduksi ulang lagu tersebut. Bahkan grup lawak Warkop DKI pernah menggarap aransemen dangdutnya dengan sangat menghibur (saya suka sekali versi itu). Versi yang paling saya gandrungi tentulah yang ditembangkan oleh penyanyi aslinya, Billy Joel. Nah, tautan tersebut adalah salah satu versi yang cukup asik dan paling mirip dengan versi aslinya.

Bukan, ini bukan lagu jatuh hati pada seorang pemuda, melainkan lagu rindu pada ibu. Walau aku tak segan juga menyanyikannya suatu hari nanti untuk pemudaku. :)

Selasa, 30 Juli 2013

realitanya

"But, there's thing we can't do because they ain't gonna let us."


-Marge Whitney-


quoted from a playscript by Alice Childress

Selasa, 23 Juli 2013

Selasa, 09 Juli 2013

Film Kungfu dan Kesabaran

Sejak kecil, saya sudah bersinggungan dengan film-film kungfu. Yah, sebutlah demikian. Mulai dari film ‘boboho’, Once Upon a Time in China dengan Wong Fei Hung-nya yang legendaris, hingga rilisan masa kini. Saya selalu kagum menyaksikan adegan berkelahi yang biasanya dibubuhi efek suara kibasan kain, tapak kaki, dan tak lupa debu. Rasa-rasanya seperti sungguhan.

Nah, di antara sekian banyak adegan dalam film kungfu, favorit saya adalah adegan yang menceritakan latihan awal kungfu. Satu metode yang tak pernah luput ialah memikul dua gentong air dari sumber mata air hingga ke perguruan tanpa menumpahkan isinya sesedikit apa pun. Digambarkan di sana, medan yang ditempuh berupa bukit-bukit dan kebun. Alhasil, banyak pemula kungfu yang gagal menjalani tugas ini pada awalnya sebab isi gentong begitu penuh dan akan tumpah karena guncangan selama membawanya. Namun, guru mereka tak akan mengizinkan muridnya melewatkan latihan yang satu ini. Tak peduli tumpah sedikit maupun habis semua isinya, si murid akan disuruh mengulang lagi higga sanggup menyelesaikannya seperti yang diharapkan. Selama berbulan-bulan, bahkan mungkin hitungan tahun, si murid diberi tugas untuk memenuhi kebutuhan air di perguruan setiap harinya.

Hampir di semua film, pasti digambarkan sebuah peristiwa ketika si murid akhirnya bosan melakukan latihan yang sama berulang-ulang. Si murid tak sabar menantikan latihan jurus pamungkas dari gurunya. Tapi, selalu saja si guru tak mau kompromi tentang hal itu. Jurus pamungkas tak pernah disingkap sampai entah kapan. Si murid mau tak mau bersabar dengan segala tugas memikul gentong air dan berlatih kuda-kuda sekian jam setiap harinya. Tak ada yang lain.

Saya jadi teringat ketika masa awal mulai diajari memasak oleh ibu saya. Satu-satunya hal yang boleh dan harus saya kerjakan adalah mengupas bawang. Kemudian dilanjutkan dengan mengiris bawang. Selama bertahun-tahun ia tidak mengizinkan saya menyentuh bahan masak dan metode yang lain. Bosan saya menangis terus setiap kali diajak memasak oleh ibu.

Nah, dua cerita di atas ini melintas lagi sekitar seminggu yang lalu ketika saya sedang mengikuti sebuah sesi latihan olah tubuh bersama seorang teman bernama Doni Agung Setiawan. Telah beberapa sesi berlalu dan Doni Agung Setiawan tetap meminta saya dan teman-teman mengulangi semua latihan dasar olah tubuh. Dia memang membawakan banyak hal baru setiap sesinya, namun latihan dasar tidak bisa ditawar. Ketika kami berbincang di sesi latihan berikutnya tanpa Doni Agung Setiawan, beberapa orang teman mengutarakan kejenuhannya akan metode latihan yang tak kunjung berganti. Sebab kejenuhan ini, mereka sempat kehilangan minat untuk mengikuti sesi latihan.

Ternyata, dalam proses apa pun yang sedang dijalani, setiap pelakunya dituntut untuk punya kesabaran yang cukup. Memikul gentong air yang sama setiap harinya dan membuat gerakan tubuh yang sama setiap harinya pasti melelahkan. Apalagi jika tak ada tantangan baru yang muncul. Namun, layaknya cerita dalam film kungfu selalu paparkan, si murid yang tekun berlatih akan tumbuh jadi petarung yang handal. Tenaganya perlahan bertambah dan ia memiliki daya tahan yang baik. Sebagai catatan, waktu yang dibutuhkan tidak sebentar. Bisa jadi makan waktu sejak si murid masih kanak-kanak hingga akhirnya jadi pemuda. Meskipun itu cerita fiksi di film, tetapi hal yang sama juga akan berlaku di dalam kehidupan nyata. Mengulangi hal kecil yang sama setiap harinya pasti akan memberikan suatu pengaruh dalam diri.

Pengulangan macam itu ditujukan untuk memberikan manfaat. Kejenuhan yang muncul karenanya akan terbayar jika saja mau menyadari kembali sudah sejauh mana diri berkembang. Pasti ada yang berubah. Efek yang dirasakan atas kesabaran macam itu memang tidak muncul dalam waktu singkat. Meski demikian, jika suatu hari bertemu dengan rekan yang melewatkan hal-hal yang kita kerjakan tadi, maka kita akan tahu alasan kita meluangkan kesabaran untuk melakukannya.


Jalanilah dengan sabar.

Rabu, 03 Juli 2013

don't stay naked



"The whole world is putting on masks. You too. Don't stay naked."

-Parashurama-



quoted from The Mahabharata p.111

Selasa, 02 Juli 2013

(ke)sepi(an)


Katanya kita kesepian. Kata siapa? Kata kita sendiri sepertinya.

Sepertinya ini adalah salah satu istilah yang baru aku temukan ketika mulai beranjak dewasa. Jarang sekali kudengar seorang apalagi beberapa bocah yang menyatakan dirinya kesepian. Ketika aku bertumbuh menapaki jenjang usia remaja, saat itulah aku membedakan dengan sadar kondisi yang bernama ‘kesepian’ dari kondisi lainnya.

Meski kerap diduga tidak nyaman, toh kerap pula kesepian itu dicari. Biasanya di hari-hari yang terasa terlalu ramai. Dalihnya keinginan untuk menenangkan diri. Namun, tak jarang pula kesepian dihindari. Kali ini dalihnya, “Siapa yang tahan berdiam sendiri tanpa kawan?”

Bagaimana jika kali ini aku beri kesempatan untuk kesepian menjadi teman bicara? Sering kali kesepian berbicara padaku tentang betapa berartinya teman-teman yang sering mengelilingiku. Kali lainnya kesepian juga menceritakan kisah tentang kebosanan menghadapi orang yang sama, cerita yang sama, tingkah yang sama, pemikiran yang sama, dan banyak hal lain yang sama. Sepertinya ia jujur. Aku percaya ia jujur.

Oh iya, kesepian juga beberapa kali melakukan hal menyebalkan. Ia melagukan kekosongan besar yang selama ini ditutupi dengan cengir lebar demi tampak kuat dan orang lain tak akan bertanya tentang kekosongan tersebut. Kesepian bertanya nyaring, “Mengapa tak berani bermuka sedih?” Jangan-jangan memang berlari dari kekosongan dan berusaha melupakannya. Mungkin disusul doa tak sadar supaya berlari dan melupakan dapat menyelesaikannya. Doa sia-sia.

Buatku kesepian bukan tentang absennya bunyi. Kesepian justru sering kali berteriak lantang, meneriakkan apa yang selama ini mungkin ditolak didengar. Kesepian kadang membuatku merasa seperti robot yang terus bergerak karena program dan bukan karena rasa. Mengerikan. Robotnya yang mengerikan, bukan kesepiannya.

Ternyata kesepian bisa bicara. Coba balas kata-katanya.


untuk Fauzan

Rabu, 19 Juni 2013

A Letter to Pooh

Dear Pooh,

for even the most important person in your life, Christopher Robin, always called you "Silly Old Bear", I never seriously consider that you were saying something serious. I only adored you visually. But, ever since I believed that all children stories always bring many meaningful things, I started to believe that you were no more that silly.


These days, I do hope you exist in my real room. You just teach many valuable things in mostly stupid ways. It simplifies many things. You know, being adult is inevitable. Although I consider that my childhood was specially delightful, I consciously decided to grow mature. Yap, the consequence is that the books of adult are not as amusing as the children's.



That is why I love the way you say something just like it's nothing whereas in fact it IS a thing. Sometimes we need to comprehend something complicated, but we are not that patient to face the complicated words. Thank you for simplifying some of them. No, this is not a statement of avoiding complicated thing. I face it sometimes, even I choose so. However, it is pleasing to be able to touch deeper in a lighter way.


Thank you, Pooh.




Regards.

Kamis, 13 Juni 2013

mari bercerita




"Sungguh, bicara denganmu tentang segala hal yang bukan tentang kita selalu bisa membuat semua lebih bersahaja." -Payung Teduh

ketika aku akan mengayuh

akan tiba harinya
ketika aku menemukanmu pulang dalam keadaan lelah, sangat lelah
ketika aku menungguimu sejenak di sisi dipan seraya mengusap keningmu
ketika aku memelukmu sekejap dan mengecupmu singkat
ketika aku akan mengayuh sendiri
ketika aku mencarikan obat penurun panas untukmu
ketika aku akan mengayuh lagi pulang
ketika aku akan menungguimu sepanjang sisa malam

akan tiba harinya
aku akan mengayuh sendiri

ya, aku akan mengayuh sendiri
dengan kakiku sendiri
aku angan mengayuh demimu
untukmu



seraya bersepeda

Rabu, 12 Juni 2013

to be honest (or not to be)

Suatu Selasa sore, saya dan sejumlah teman berbincang. Rasa-rasanya bukanlah topik yang amat berat, akan tetapi jika diresapi lebih jauh kenyataan yang kami temukan tidak hanya demikian. Bukan berat, tapi berisi banyak sekali.

Perbincangan ini kami lakoni tidak dengan hanya duduk dan bercakap-cakap. Kami sempat bermain bersama. Ya, saya menyebutnya bermain. Bagian pertama disebut dengan 'olah tubuh'. Seorang teman bernama Doni Agung Setiawan yang sudah cukup lama bergulat dan bergulung di dunia olah tubuh mencontohkan sejumlah bentuk-bentuk tubuh untuk kami tiru. Hampir semuanya tak bisa kami lakukan dengan sempurna. Bahkan ada yang tak mampu sama sekali.

Di bagian akhir sesi tersebut, Doni Agung Setiawan mengajak kami bercakap-cakap. Dari pembicaraan tersebut, ketidakmampuan melakukan gerakan-gerakan yang ia contohkan ditengarai disebabkan oleh pikiran kami sendiri yang membatasinya. "Duh, nggak bisa," demikian biasanya kami membatin. Gara-gara satu kalimat ini saja, usaha apa pun bisa kandas dan ketidakmampuan itu akan jadi kenyataan. Inilah yang menurut Doni Agung Setiawan harus kami dobrak. Selama logika tubuh bisa menerima gerakan dan bentuk itu, tidak ada istilah 'tidak mungkin dilakukan'. Hal yang dibutuhkan hanya kemauan untuk mencoba. Tentunya perlu disadari bahwa ada resiko menderita cidera. Akan tetapi, demikianlah prosesnya harus berjalan.

Sesi kedua menjadi waktu untuk mengolah hal lainnya. Suara. Sebagian besar sudah biasa kami lakukan sehingga tidak terlalu menyulitkan untuk diikuti. Tantangan selanjutnya yang harus kami kuasai ialah kemampuan mempertahankan stabilitas suara yang (memang) ingin diciptakan meski harus dikombinasikan dengan gerakan-gerakan yang menghalangi produksi suara seperti biasanya.

Hal yang paling berkesan buat saya muncul di sesi ketiga. Kali ini giliran emosi, ekspresi, dan imajinasi yang diolah. Doni Agung Setiawan menyebutkan bahwa ada dua pilihan gaya yang bisa kami gunakan: alami atau palsu. Ia memaksudkan bahwa bentuk-bentuk emosi dan ekspresi dapat dipalsukan atau dibuat-buat tanpa harus lebih jauh mengutak-atik memori pribadi. Namun, metode pertama yang ia gunakan adalah "menemukan kenangan - mengingat-ingat kenangan - mengalami (mengekspresikan) ulang kenangan".

Nah, di sesi ini, meskipun saya juga harus berkonsentrasi pada diri saya sendiri, tak sengaja terlihat bagaimana teman-teman yang lain melakukannya. Doni Agung Setiawan hanya meminta kami menemukan empat jenis kenangan: gembira, sedih, marah, dan takut. Setelah melalui sesi ini, saya jadi mengerti bahwa ada sejumlah teman yang tidak pernah bisa marah atau bahkan tidak pernah mengalami ketakutan yang bisa diekspresikan. Menarik sekali.

Seusai sesi ketiga, Doni Agung Setiawan melontarkan sebuah frasa yang membuat saya menahan cengiran lebar menjadi hanya senyum simpul. Setelah saya rekonstruksi sendiri, begini kira-kira katanya, "Tujuannya adalah to be honest." Rasa-rasanya saya ingin tertawa terbahak-bahak. Menertawakan diri sendiri tentunya. Ya, to be honest or not to be, that is the question. :) Ya, emosi dan ekspresi bisa kita palsukan atau lebih-lebihkan (semacam yang lazim terjadi di sinetron), namun pertanyaannya adalah 'bagaimana jika kamu harus melakukannya dengan jujur?'

Saya rasa tulisan ini sampai di situ saja.

To be honest or not to be, that is the question.
Bagaimana jika kamu harus melakukannya dengan jujur?


hari kesebelas di bulan juni yang ke-dua ribu tiga belas

Jumat, 07 Juni 2013

"I don't want to be someone who walks away so easily, I'm here to make the difference that I can make"

Ever since I heard this song, I've been loving it. I directly listened to the lyrics, then I adored it more. It's just so honest. These few days, every thing that happened make me deeply wanting to sing it out to you.




When I look into your eyes, it's like watching the night sky or a beautiful sunrise
Well, there's so much they hold
and just like them old stars, I see that you've come so far to be right where you are
How old is your soul?

I won't give up on us even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up

And when you're needing your space to do some navigating
I'll be here patiently waiting to see what you find
'Cause even the stars they burn
Some even fall to the earth
We've got a lot to learn
God knows we're worth it
No, I won't give up

I don't want to be someone who walks away so easily, I'm here to make the difference that I can make
Our differences, they do a lot to teach us how to use the tools and gifts we got
Yeah, we got a lot at stake
And in the end you're still my friend, at least we did intend for us to work
We didn't break, we didn't burn
We had to learn how to bend without the world caving in
I had to learn what I've got, and what I'm not, and who I am

I won't give up on us even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up
Well, I won't give up on us
God knows I'm tough enough
We've got a lot to learn
God knows we're worth it

I won't give up on us even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up


Please do not give up on me. We know we worth it.


it keeps repeating in my mind

Rabu, 05 Juni 2013

to My Son the Fanatic

Kita pernah punya cerita yang mudah-mudahan tak akan lekang dimakan usia. Tentang pertemanan yang sungguh seperti kepompong karena hal yang tak mudah berubah jadi indah.



 

Ceritanya kita awali dengan sebuah perubahan. Bibir kita yang biasanya hanya untuk mengumpat dan mengejek satu sama lain, kali ini harus melafalkan kata-kata berbahasa lain yang kadang masih kita tebak-tebak pula artinya. Tak cuma itu, mimik wajah yang kita akrabi setiap hari berkutat seputar tawa dan kejahilan kali ini harus beralih jadi macam-macam rupa.




Kita bermain-main dengan waktu. Selalu begitu. Kita punya sekian hari untuk dihabiskan dengan usaha-usaha menuju tanggal mainnya. Rasa-rasanya hari-hari itu tidak beranjak ke mana-mana sebab kita tak sabar menanti ujung ceritanya. Namun, sesekali si waktu semacam sosok sialan yang tiba-tiba berlari entah ke mana sehingga tertinggallah kita dalam tumpukan pekerjaan yang juga sama tak sabar menanti diselesaikan.






 



“… but one time it would come because the earth moved round always.” Itu kata James Joyce melalui benak Dedalus. Ya, dan tibalah saatnya berdiri di panggung sandiwara.




Terus kita berbicara untuk mengusahakan yang lebih baik. Kadang tak sengaja memojokkan, menuding, berprasangka, bergosip. Maka, pemahamanlah yang selalu mengantar kita pada kenyataan bahwa kita saling membutuhkan dan sedang menjalani cerita yang sama.




Meski demikian, masih terus terulang kebodohan-kebodohan kecil. Semuanya untuk kita tertawakan bersama di kala senggang.




Artifisial. Tentu semua rekayasa kita. Wajah, suara, pakaian, cahaya, semuanya artifisial. Tapi, cinta yang kita beri untuk semua ini adalah satu-satunya hal yang tidak artifisial.




Purna sudah satu cerita kita.




Ada lelah dan sedih yang turut terbawa pulang, namun syukur tulus untuk semua cerita sederhana ini mudah-mudahan tetap bertumbuh di hati. Tumbuh layaknya kuntum manis dari kekasih hati…




dan semua hal tak mudah telah kita ubah jadi indah
geng bunga matahari rocks!

Senin, 27 Mei 2013

Waisak Punya Cerita

Akhir pekan lalu bertepatan dengan hari raya Waisak, saya mengunjungi Borobudur. Lima orang lainnya turut menyertai perjalanan yang terasa ‘penuh’ dengan sebuah mobil sedan. Yah, hidup mati sama-samalah. Hal yang membuat saya tertarik untuk datang ke sana sebenarnya adalah ritual perjalanan dari candi Mendut, ke Pawon, dan terakhir ke Borobudur. Apa daya, karena kondisi kesehatan yang kurang memadai, saya harus berpuas diri dengan cukup mengunjungi perhentian terakhir ritual perjalanan tersebut.
                
Bukan main ramainya jalanan menuju Borobudur. Dengan segala usaha, kami berhasil tiba di sana. Hujan rintik kami tembus seraya berjalan kaki menuju candi. Sepanjang jalan itu, saya bergumam dalam hati, “Yungalah, banyak sekali orang yang mau menonton ritual hari raya ini.” Ketika akan memasuki gerbang candi, saya sempat terhimpit kerumunan orang yang tetap saling dorong meski sudah dibentak-bentak oleh Satpol PP. Saya sempat khawatir, jangan-jangan ini acara konser grup band kondang di Borobudur. Setibanya di dalam kompleks candi, hujannya makin deras. Orang-orang berteduh di sejumlah tenda yang entah fungsinya apa (karena di hari-hari biasa tenda macam itu tak pernah ada). Namun, banyak pula yang tak gentar diguyur hujan demi melihat entah apa. Saya makin khawatir, jangan-jangan benar ini konser musik grup band kondang.
                
Tadinya kami memang hanya mengikuti arus pejalan kaki, tetapi akhirnya kami kebingungan sendiri sebenarnya orang-orang ini mau ke mana. Beruntung kami membawa seorang teman yang seharusnya ikut merayakan Waisak namun ia merayakannya dengan caranya sendiri. Ialah yang menuntun kami mencari jalan ke lokasi ibadah dilaksanakan. Lagi-lagi, saya membatin, “Yungalah, Idul Fitri, Natal, maupun Nyepi tidak pernah disaksikan oleh begini banyak orang yang tidak merayakannya. Ada apakah gerayangan dengan Waisak?” Salah seorang teman saya yang beragama Buddha yang juga ikut perjalanan ini malam sebelumnya sudah sempat membahasnya. “Mungkin dikira eksotis. Ada banyak botak-botak berjubah yang sedang berdoa,” demikian ujarnya. Bentuk orang-orang ini macam-macam. Ada yang cantik dan tampan, ada yang kelihatan seperti fotografer, banyak pasangan kekasih, ada yang lusuh dan basah kuyup (kami ada di antaranya), dan lain macamnya.
                
Saya lantas teringat komentar seorang teman semalam sebelum kami berangkat, “Itu perayaan Waisak kapitalis.” Entah apa persisnya yang ia maksudkan mungkin saya belum paham, namun ia memang menyarankan kami untuk melihat dan mengalami sendiri ketimbang termakan pendapatnya. Setelah melihat kondisi di Borobudur, saya dapat pemahaman sedikit. Tiba-tiba saya merasa kasihan pada orang-orang yang beribadah di sana. Jadi semacam tontonan. Entah apa yang sebenarnya ditonton. Saya sendiri membayangkan jika saya ada dalam kondisi seperti itu, pasti merasa sangat terganggu. Ingin beribadah, namun tempat itu jadi sangat riuh, sesak oleh orang-orang yang mungkin tidak berkepentingan. Susah juga ya. Saya kembali membatin, “Sepertinya tahun depan saya tidak perlu kemari lagi.”
                
Seraya hujan terus mengguyur, sejumlah umat Buddha masih meneruskan ibadah mereka. Saya bersyukur dalam hati bahwa hujan turun malam itu. Jika saja tidak hujan, mungkin situasinya akan jauh lebih berisik dan orang-orang yang beribadah akan makin tidak khusyuk. Teman saya yang berguna tadi sesekali menjelaskan ritual dan doa yang sedang dilakukan di sana. Menjelang akhir doa, (semacam) pembawa acara mengumumkan sesuatu lewat pengeras suara. Ia meminta supaya orang-orang tidak naik ke panggung karena doa masih berlangsung. Saya menoleh ke arah panggung dan menyaksikan sejumlah panitia membuat barikade dan bersusah payah memblokir rombongan penonton. “Kok ini jadi benar-benar seperti konser musik?” ujar saya dalam hati. Makin tak tega saya membayangkan perasaan para peserta ibadah.
                
Sejak beberapa tahun terakhir, perayaan Waisak di Borobudur memang diimbuhi dengan pelepasan seribu lampion. Sejumlah foto yang beredar tentang peristiwa itu memang terlihat sangat indah dan romantis. Tahun ini pun direncanakan demikian. Para peserta ibadah baru saja memulai ritual Pradaksina, memutari dan mendaki bangunan candi seraya berdoa. Semacam pembawa acara itu tadi kembali mengumumkan sesuatu lewat pengeras suaranya. Bunyinya kira-kira bahwa jika dalam waktu setengah jam ke depan hujan tidak reda, dengan sangat terpaksa pelepasan lampion dibatalkan. Sejurus kemudian, terdengar koor, “Huuuu…” dari sebagian pesar penonton. Saya dan teman-teman menimpali dengan tawa geli. “Kana bubar kabeh kana, lampion e ra sido. Do bali wae ndang,” begitu kata seorang teman. Benar saja, kerumunan orang di sekitar kami tiba-tiba menipis. Tak lama, segerombol anak muda melewati kami dan tertangkap kalimat, “Uh, kita di-PHP-in.” dari tengah-tengah mereka. PHP adalah singkatan dari ‘Pemberi Harapan Palsu’ yang sedang marak disuarakan. Kami tergelak makin semangat. Ooouu…ternyata…
                
Kami menunggu sampai ritual Pradaksina selesai baru akhirnya beranjak meninggalkan kompleks candi.  Sayangnya ritual itu tidak dapat diselesaikan seperti biasanya hingga puncak tingkat bangunan candi sebab hujan mengguyur cukup deras. Kami menyudahi perjalanan itu menjelang dini hari.
                
Sehari sesudahnya, muncul sejumlah hujatan dan kritik atas perilaku para penonton perayaan Waisak di Borobudur. Sebagian besar ditujukan untuk para fotografer, atau sebut saja orang-orang yang membawa kamera dan mengambil gambar. Ada sebuah foto beredar lewat jejaring sosial yang memuat gambar seorang fotografer menaiki salah satu stupa candi untuk memotret seorang biksu yang sedang berdoa. Jelas sudah tertulis di peraturan bahwa bangunan candi tidak boleh diduduki atau dipanjat. Caci maki ramai menimpali foto itu. Sedih juga mendengarnya.
                
Saya merasa menjadi salah seorang yang kemarin juga turut menyesaki lokasi ibadah. Yah, untuk pengalaman dan belajar dari sana. Mungkin tahun berikutnya saya memilih untuk tidak ke sana lagi. Saya merasa lebih baik candi itu menjadi lokasi ibadah yang tenang dan khidmat bagi para peserta ibadahnya. Mudah-mudahan para penonton kali berikutnya lebih berbesar hati untuk menghormati perayaan ini sebagai sebuah upacara ibadah. Supaya semoga semua makhluk berbahagia, begitu kata Buddha. J



purna Waisak, 27 Mei 2013

Minggu, 05 Mei 2013

"...ultimate wall to against on"


Ingin sekali rasanya menyambangi genangan raksasa bernama laut itu. Menggeletak di bibir pantainya menunggu semua lelah diguyur. Lalu, aku menjilat bibirku sendiri yang pasti asin, sudah biasa asin.

Angin akan menerbangkan butir-butir air dari dahi, alis, mata, hidung, pipi, bibir, dagu, telinga, semuanya. Agar samar apa yang sesungguhnya ingin diusap. Dadaku bergerak lembut naik turun, menghela udara seadanya.

Tak akan kutulis pesan dan kuhanyutkan dalam tubuhnya. Hanya akan jadi sampah. Laut tahu apa yang hendak kukirimkan. Ia akan membawanya persis ke alamat tujuan. Demikian aku akan tenang.


kata temanku, “She’s the ultimate wall to against on.”
tigahari

Jumat, 26 April 2013

bunga


Hadiah bunga nyaris tak pernah luput terpikirkan oleh laki-laki mana pun yang mempunyai kekasih dan ingin memberikan sesuatu saat momen tertentu. Perlambang keindahan katanya, yang supaya dengan dramatis dapat disandingkan dengan kecantikan gadis yang menerimanya. Tidak semua memang, tapi sebagian besar perempuan yang dikado bunga menyukai hadiahnya. Entah kenapa. Padahal, selalu saja bunga itu adalah kuntum merekah yang dipotong dari tangkai induknya. Jelas bunga itu tak bisa diharapkan untuk tumbuh dan berkembang lebih jauh lagi.
                
Bunga juga jadi primadona dekorasi di banyak kesempatan. Berbagai jenis, warna, bentuk, aroma bunga muncul dalam rangkaian-rangkaian yang konon masing-masing jenis, warna, bentuk, dan aroma tersebut punya filosofi tersendiri. Ternyata bunga pun berfilosofi. Bunga mengandung makna yang disematkan oleh entah siapa dan makna itu hidup turun-temurun sehingga bisa dimuat dalam ensiklopedi tentang bunga-bungaan.
                
Bunga mengantarkan seseorang dalam perjalanan kematiannya. Taburan bunga yang selalu muncul setiap kali pemakaman difungsikan untuk menyanggah identitas kematian yang suram, bau, dan buruk. Bunga menghindarkan makam dari satu warna suram, menebarkan wangi, dan membawa identitas keindahan.
                
Bunga menjalankan tugas sebagai media yang mengawinkan si jantan dan si betina. Dengan kata lain, mengawali sebuah proses panjang menuju kehidupan baru. Bunga membuka kuncup dan menyediakan diri menjadi pemersatu dua pihak yang berbeda namun dapat tumbuh jadi sempurna ketika berkontribusi bersama. Bungalah yang mengolah dan memelihara bakal calon kehidupan tersebut. Seraya menunggui bakal calon ini sungguh siap untuk memperkenalkan diri, bunga memelihara diri agar terlihat semakin cantik serta tetap menjaga diri dengan berbagai mekanisme pertahanan yang dimiliki.
                
Akan tetapi, bunga tidak egois. Bunga menanggalkan kecantikannya untuk menjadi layu. Sebab, hanya dengan cara demikianlah buah bisa memulai pertumbuhannya. Entah untuk nantinya jadi makanan bermanfaat dan bervitamin buat manusia, atau yang paling utama untuk menjadi garis penghubung agar siklus kehidupan terus berputar.
                
Tidakkah bunga tangguh?


ketika langit bersaput awan dan bintang enggan berpendar

to Fitri Handayanti Lubis



Happy birthday, dear Fitri Handayanti Lubis. :)

Sabtu, 16 Maret 2013

Don't Cancel a Walk because of Bad Weather


DON'T cancel a walk because of bad weather. If prepared with proper outdoor attire, you will really find the Atmospheric Conditions unfavorable to walking. In fact, walking against the wind provides a particularly beneficial workout.



Actually, I have tried to find the exact picture, but I failed. Picture above is the closest one to the writing below it. I quote it from a book that I borrowed from a Pooh-maniac-friend. It is entitled Pooh's Little Fitness Book. An amusing book. I read it after some days stuck on some theory books. I was totally refreshed.

Then, why the hell did I quote such writing? Honestly, what made me impressed was the picture above that writing in the book that I failed to find. It was the picture of Pooh and Piglet holding hands each other as the wind was blowing heavily. I was a little stupid that I almost cried because of that touching picture.

Do Not cancel a walk because of bad weather. It gives you a beneficial workout, instead. A friend or two will lead the way. At least, when you get lost, they will find the way with you. You will have a precious story to remember and to tell after. Keep walking, then. :)

Senin, 11 Maret 2013

laut


Aku mengenalnya sejak masih sangat dini usiaku. Aku dipertemukan dengannya untuk kali pertama oleh ayah dan ibuku. Hatiku diliputi gembira ketika pertama kali melihatnya, membauinya, menjamahnya, dan mulai mengingatnya. Aku memanggilnya laut.

Aku pun menghabiskan masa pertumbuhanku bersamanya. Kutuliskan kisah-kisah masa remajaku di pasirnya yang lembut dan membiarkannya disapu oleh ombak agar disimpannya kisah-kisah itu. Kuceritakan padanya tentang ujian sekolah yang telah berakhir, tentang persahabatan labil yang meninggalkan banyak kenangan lucu, dan tentang laki-laki yang kepadanya aku jatuh hati.

Cita-cita membawaku meninggalkan laut yang menumbuhkanku bersamanya sejak dari aku sangat kecil itu. Namun, tak sulit ditebak, aku belum bisa hidup tanpanya. Aku mengembalikan laut dengan caraku sendiri ke hidupku yang biasa-biasa saja ini.

Laut, dalam lakon Rara Mendut-nya Romo Mangun, selalu disebut dengan nama agung Samudera Raya. Tempat segala hal dikembalikan kepada alam. Tempat segala hal itu pula tak pernah ditolak. Laut memangku jasad pribadi-pribadi yang abadi dalam kenangan manusia pada masa itu. Pribadi-pribadi yang abadi karena memenangkan harkat kemanusiaannya meski dalam kekalahan.

Hingga kini, ia tetaplah laut yang sama. Tiap kali aku duduk di tepiannya, aku tahu bahwa aku memandang laut yang sama dengan laut yang menumbuhkanku sebab sejatinya semua laut selalu terhubung satu sama lain.

Aku tahu ia masih menyimpan cerita-cerita masa lampauku. Padanyalah aku pulang dan mengadukan kesedihan dan kekalahanku. Padanyalah kuhanyutkan air mata yang rasanya sama asinnya dengan percikan air garamnya. Padanyalah kusorakkan kejayaanku setelah menaklukkan satu lagi tantangan hidup. Padanyalah kuberikan tatapan bahagia lengkap dengan senyum jika telah kubahagiakan seseorang yang kucintai. Padanyalah kutitipkan rindu agar disampaikannya pada ayah, ibu, abang, adik, dan semua hal yang kukasihi.

Laut selalu mendengarkan kebisuanku. Ia menelannya dalam gulungan ombak supaya ringan sedikit perasaanku. Ia menerimanya tanpa satu pun gugatan atau keberatan. Ia menghiburku dengan kenangan-kenangan yang manis agar tak patah di jalan ketekunanku untuk melanjutkan hari.

Laut…padanyalah aku ingin pulang dan mengadu…kini…



11 Maret 2013
00.56




Sabtu, 09 Maret 2013

celetukan#4

Suatu kali saya mengobrol dengan teman-teman tanpa topik yang jelas hingga akhirnya maju ke topik akhir dunia alias kiamat. Menurut sejumlah kitab suci agama, ada beberapa tanda yang dapat disaksikan manusia akan kedatangan akhir zaman. Nah, obrolan saya dengan teman-teman ini menyimpulkan satu tanda lainnya yang juga merujuk pada kiamat. Tanda itu ialah runtuhnya pabrik koyo terakhir di dunia. Kesimpulan ini muncul bukan tanpa alasan. Iklan salah satu produk koyo adalah buktinya. Dari iklan tersebut kita tahu bahwa dunia ditopang oleh Atlas. Kita masih bisa hidup di bumi yang sama dari dulu hingga sekarang ini karena Atlas masih kuat menopangnya dan ketika ia mulai pegal-pegal, ia memakai koyo. Maka, koyo-lah yang menyelamatkan kita.
Pesan moral: waspadalah jika terdengar berita bahwa pabrik koyo terakhir di dunia telah bangkrut.
Pesan moral yang lebih penting lagi: hati-hati kalau mengobrol dengan teman.

Selasa, 19 Februari 2013

lawas


Beberapa malam yang lalu saya menonton sebuah acara penampilan beberapa grup band di kantin kampus saya. Senang juga rasanya bisa bergoyang sedikit sambil menyaksikan mereka bermain musik. Akhirnya saya nonton band-band-an lagi.

Acara itu dijuduli “Flashback#2”. Ceritanya, sudah pernah dibuat #1-nya sekitar dua tahun lalu. Usut punya usut, nama ‘Flashback’ dibubuhkan untuk acara ini sebab para penampilnya ialah sejumlah grup band legendaris yang pernah berjaya di jagad musik Universitas Sanata Dharma dalam kurun waktu sekian tahun yang lalu. Oleh karena itu, adalah sebuah keniscayaan bahwa begitu banyak wajah yang tak lagi muda berkerumun di kantin kampus saya ini.

Sambil komat-kamit melantunkan lirik lagu rock Indonesia lawas yang dikumandangkan oleh sebuah band bernama Ronggo Warsito, hati saya tergelitik. Tersenyum saya memandangi personil grup band itu yang mungkin sudah pantas jadi bapak. Ah, peduli amat pada usia. Rasa-rasanya semuanya kembali muda dan segar karena menikmati permainan musik mereka sendiri. Makin lebar senyum saya ketika mencermati para penonton yang meneriakkan lirik-lirik yang pasti sudah sejak dulu mereka hapal. Mungkin sejak lagu itu sedang nge-hits untuk pertama kalinya. Ya, orang-orang lawas membawakan lagu-lagu lawas.

Setelah band yang satu ini mundur, saya pun menarik diri dari kerumunan penonton untuk mengistirahatkan kepala yang sudah mulai agak berputar rasanya. Sambil menikmati udara dingin di pinggir lapangan, saya masih bisa menonton aksi panggung dan aksi penonton yang sama menariknya. Perhatian saya teralih pada seorang gadis kecil berjaket merah muda. Sejumlah orang dewasa yang bahkan untuk teman-teman seusia saya masih terasa sangat mengerikan mengelilinginya dengan gembira. Saya pikir si gadis kecil akan menangis takut. Nyatanya, ia juga menyambut teman-teman ayah dan ibunya itu dengan tawa gembira. Disingkapnya hood jaket merah muda itu dan tampaklah kepalanya yang gundul. Ia pun mulai menirukan gaya seseorang di sampingnya yang juga mulus batok kepalanya: mengelus-elus kepala. Tak ketinggalan tawa puasnya. Menggemaskan sekali.

Malam itu semua orang ‘tua’ itu bertingkah seakan lupa usia. Seakan masih remaja tubuh dan pikirannya. Tak perlu ada yang protes. Untuk malam itu semuanya sah-sah saja. Jika selama ini waktu yang membawa mereka untuk terus melangkah maju, mengapa tak boleh untuk sekali ini mereka bersama-sama menghentikan waktu yang selalu saja tak pernah mau diajak kompromi? Biarlah hanya ‘seakan’ berhenti, atau ‘seakan’ berulang, tapi jelas itu jadi kesempatan yang amat berharga.

Memang tak salah jika kerap orang berujar, “Andai kita bisa mengulang waktu.” Meski mereka tahu persis hal itu tak akan mungkin terjadi, tetap saja terkadang itu bisa jadi kalimat romantis yang menyadarkan mereka bahwa sungguh sesuatu yang bermakna telah terjadi di masa lalu. Maka, tak heran pula jika nostalgia adalah salah satu kegiatan yang disukai sebagian orang.

Kenangan tentang masa lalu, entah itu buruk maupun baik, merupakan sesuatu yang istimewa. Mampu menjadi referensi belajar yang baik, dia. Dijadikan bahan tertawaan atau makian pun, tak akan berubah. Ketika sebagian orang mencoba melenyapkannya atau menguburnya jauh-jauh di dalam sanubari, tak pernah betul-betul kenangan itu menghilang. Pada waktu-waktu yang tak terduga, ia mampu kembali mencuat dan menjungkir balikkan banyak hal. Yang indah jadi bubrah. Yang bubrah jadi indah.

Siap bernostalgia dengan sesuatu yang lawas?



Tak ada yang perlu kau bunuh dari masa lalumu. Letakkan saja masing-masing darinya di tempat yang pantas. Suatu kali, ia akan senang jika dikunjungi kembali. Dan kau pun akan senang dapat bertemu lagi dengannya.

Minggu, 03 Februari 2013

namamu


Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.  –Korintus (13:12)


Hai. Mudah-mudahan tidak bernada sedih.

Ini untukmu. Satu bagian hidupku. Ya, itu tidak akan pernah berubah mungkin sebab memang aku tak mau. Maaf jika kita tidak satu pilihan. Toh, memang kita bebas memilih kan?

Kehilangan mungkin bagi sebagian orang harus diatasi. Entah dengan menutup lubang yang tertinggal kosong itu atau mengisinya dengan hal lain. Buatku, tak ada satu pun kehilangan yang pernah kualami dapat teratasi dengan cara demikian. Tak ada satu pun. Sebab, sungguh, tak ada yang sanggup menggantikan apa yang pernah begitu berarti di dalam hidup tak peduli sebagai kesayangan maupun sasaran kebencian.

Maka, demikianlah. Jika memang siapapun akan melangkah pergi, ruang mereka akan tetap kosong. Aku tak akan melepas papan nama yang menandai tiap ruangan itu biar jika ada yang berkunjung ke dalam, mereka akan tahu bahwa ruang itu sudah ditempati dan tak akan diberikan untuk yang lainnya. Biar mereka mencari sendiri ruang baru buat mereka. Aku yakin masih ada banyak sekali ruang untuk ditempati di dalam.

Jangan protes. Cobalah pahami kepercayaanku: tak ada satu pun dari kita yang sanggup menggantikan yang lain. Tenang, itu bukan berarti kita tak bisa berbahagia lagi. Bukankah jika ruang itu tetap dipelihara dalam kekosongannya, justru menyenangkan jika suatu hari pemiliknya akan kembali menginap di sana? Memang hidup harus berputar, dan biarkanlah ia tetap berputar, sebab kemudinya tetap ada di tangan kita masing-masing.

Mungkin memang seperti kutipan Alkitab di atas (itu satu ayat persis sebelum ayat favoritku dari sekujur tubuh tulisan dalam Alkitab), sekarang aku hanya mengenal(mu) dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal(mu) dengan sempurna. Nanti kita akan melihat muka dengan muka. Setelah segala hal yang pernah kita alami…termasuk pilihan kita nanti…


untukmu yang tak akan terganti, selayaknya siapa pun dalam hati
hati-hati selalu dalam langkahmu :’)

Sabtu, 02 Februari 2013

tersenyum terharu

Cukup lama untuk akhirnya aku punya kesempatan tahu apa yang terjadi dengan dirimu sementara aku di sisi lain negara ini meringkuk bingung karena rindu.

Ternyata kamu pun merindu.

Maaf untuk punggungku yang sempat berlalu dari pandanganmu.

Percayalah, aku selalu ingin segera pulang.

Dan ini aku pulang...


tersenyum terharu :')
setelah januari berakhir

Selasa, 29 Januari 2013

sore ini persis seperti hari 'mengejar merapi' kita


Sore ini persis seperti hari ‘mengejar merapi’ kita.

Kau terus berlari ke arah utara. Menerobos jalan-jalan sempit, memotong keramaian lalu lintas. Aku tak habis-habis tersenyum. Sesekali kuputar kepalamu menghadap jalan raya karena tentu akan jadi bahaya jika kau terus mengarahkan pandanganmu pada Merapi ketika kita sedang tidak menghadap utara. Terus, kau terus berlari. Enggan berhenti. Bahkan malam yang turun pun tak menghentikan lajumu mendekati Merapi. Pipiku mulai pegal tersenyum. Gedung-gedung tinggi itu menyelamatkanku dari ancaman kram sebab akhirnya kau menyerah setelah mereka menghalangi pandangan pada si cantik yang menjulang.

Kau putar arah ke selatan. Di sudut mataku tertangkap semburat oranye dan ungu yang sangat menyejukkan. Ini perjalanan yang sempurna. Matahari di sana sudah nyaris tertutup sepenuhnya oleh garis semu cakrawala. Tersisa bias warna sinarnya yang konon dicintai banyak orang sebagai salah satu suasana sendu sempurna selain rintik hujan. Tapi, aku tak merasa sendu. Aku bahagia. Ini hadiah yang hebat. Kukira aku sudah selamat dari kram, ternyata pipiku mulai pegal lagi. Aku tertawa bahagia.

“Lain kali kita akan mengejar merapi lagi,” begitu katamu.

Rabu, 23 Januari 2013

sudah selesai

Setelah berjarak sekian hari, ternyata tidak seheboh awalnya. Jadi, ceritanya saya akhirnya purna menunaikan tugas mulia: membaca novel yang digunakan untuk menulis tugas akhir kuliah. Ternyata, novel yang terdiri dari 196 halaman ini butuh menghabiskan waktu kurang lebih satu tahun untuk mencicipinya sampai halaman terakhir. Bisa-bisanya...bisa dong. Ini dia biang keroknya...



Sebuah tulisan pakde James Joyce yang konon menjadi awal karya besarnya. Waow. Tadinya, saya membaca ini atas rekomendasi teman. Saya mulai berpikir untuk beralih ke buku lain mengingat halaman demi halamannya saya lalui dengan amat sukar. Sebab musababnya ialah saya banyak menyaksikan kosa kata yang baru terbaca pertama kali dalam hidup saya di buku ini. Namun, entah mengapa saya berusaha keras bertahan maju perlahan-lahan. Sempat buku ini tak pernah berhadapan dengan lingkungan selain bagian dalam tas kuliah saya. Sempat pula saya tinggalkan di meja kamar selama berbulan-bulan karena saya hampir ngambek.

Maka, pada tanggal 18 Januari 2013 pukul 21.25 saya sampai-sampai ingin berlari keluar rumah dan mengguncang-guncang pagar dengan gembira karena akhirnya halaman 196 sudah saya baca hingga kata terakhirnya yang tak diakhiri tanda baca titik (.). Uwaow. Itulah hasil tirakat harian ketika liburan tiba. Sekarang buku ini ramai ditempeli kertas penanda warna-warni di berbagai halamannya. Nantinya, semua penanda itu akan saya pindahkan ke halaman yang persis sama di buku dengan judul sama yang akan menjadi milik saya sebagai hadiah ulang tahun dari seorang teman (buku yang saya baca itu pinjaman).

Sejauh ini, buku di atas adalah terbitan dengan catatan kaki terbanyak yang pernah saya baca. Keterangan catatan kaki itu tidak dibubuhkan di margin halaman di mana istilahnya dicantumkan, melainkan dikumpulkan jadi satu di bagian belakang. Semacam appendix.

Nah, sekarang jatahnya berpikir mau diapakan cerita dalam buku ini. Tapi, paling tidak satu langkah dari permainan ini sudah terjajaki. Hore.

Senin, 14 Januari 2013

on January


I accidentally remember this photograph. Once my little brother used to upload this and tag me on my Facebook acount. It was such a surprise when I found this photo 'again'. Hahaha... counting the candles on the cake, it should be my seventh birthday. That was how a birthday used to be in our home. Our mother cooked some special menu and never forgot the one that has always been being my favourite: black forest. :)

Having everything ready on the table, we would be sitting around and said a prayer. Afterward, everyone would greet me happy birthday. Actually, I have never demand any present from our family. However, in several random years they gave me some things which were intended to be presents.

I never wanted to have any party for my birthday. I never invited anyone to come on that day. It was always comfortable to celebrate it by giving thanks to God with this small lovely family.

What's funny in this photograph is that only my eyes that were looking straight to the camera. My older brother's (on my right) were looking at the cake. The younger one (on my left) was staring at the rice. All of us just realized it 13 years after this was taken. I nagged. They laughed. It was fun. :)

Well, I am 21 now. This is the very first year when birthday was not like what it used to be. But, it's really fine. There is nothing to complain. I found the underlying theme of my birthday: simplicity. :)


feeling january :)

Minggu, 06 Januari 2013

menjawab pertanyaan


“Daya tahan itu sama dengan keinginan manusia untuk hidup. Siapakah yang bisa meniadakan keinginan macam itu?”

Persis di atas kalimat tersebut saya membubuhkan kertas penanda supaya mudah bagi saya untuk menemukan kembali letakknya di balik halaman-halaman buku yang memuatnya. Kalimat itu tercantum dalam sebuah esai tulisan Romo Sindhunata berjudul ‘Pencak silat, Politik, dan Kejujuran’ yang saya kutip dari salah satu buku kumpulan esainya yang bertajuk ‘Ekonomi Kerbau Bingung’.

Buat saya, kalimat itu terasa sangat bertenaga. Tergambar di sana bahwa ada satu jenis keinginan yang tak bisa begitu saja dipupuskan oleh orang lain. Keinginan manusia untuk hidup, begitu katanya. Pertanyaan yang muncul di kalimat kedua seakan memberikan kesan bahwa tak mungkin ada yang mampu meniadakan keinginan seperti itu.

Setelah berhari-hari gelisah karena sebuah hari penting dalam hidup saya telah berlalu dan saya tak kunjung menemukan jawaban atas sebuah pertanyaan, kalimat di atas menjadi sangat membekas. Beginilah kira-kira.

Saya sering kali menemukan kata ‘keinginan untuk hidup’ atau ‘semangat untuk hidup’ di  berbagai cerita tentang seseorang yang menderita penyakit ganas yang memberinya hanya sedikit kesempatan untuk bertahan hidup. Poin dramatisnya selalu terletak pada perbandingan antara diagnosa medis yang cenderung pesimis dengan keinginan atau semangat yang optimis. Faktanya, banyak orang yang mampu pulih dari penyakit beratnya karena satu alasan: ia berjuang untuk hidup.

Maunya, saya juga mampu memahami hal tersebut tanpa perlu menderita penyakit ganas terlebih dahulu. Jika dilihat ke belakang, memang banyak masa-masa sulit yang pasti dialami semua orang. Akan tetapi, tak sedikit pula waktu-waktu yang terekam sebagai manisnya hidup. Kenangan macam inilah, yang menurut pengalaman saya, menjadi alasan untuk tidak begitu saja mencampakkan harapan untuk hari-hari yang lebih baik di tengah masa-masa yang sulit.

Ketika seseorang memiliki keinginan yang kuat untuk hidup, saya membayangkan ia menggenggam keberanian yang sangat besar. Hal itu saya yakini sebab hidup memang tak pernah mudah. Maka, ketika keinginan untuk bertahan hidup itu tumbuh, saat itulah keberanian mengiringinya. Keberanian untuk tetap menjejakkan kaki di jalan di depan mata meski mungkin sulit membaca kemungkinan konsekuensi yang akan muncul. Buat saya, itu juga berarti kesederhanaan untuk berbesar hati menerima dan memahami kehidupan. Dengan kesederhanaan yang sama, mudah-mudahan tumbuh semangat untuk memperbaiki kekurangan dan tidak kapok belajar mengasihi sesama.

Semoga sungguh tak ada yang mampu meniadakan keinginan macam itu.


6 Januari 2013; 22.44
menjawab pertanyaan yang selalu terlontar setiap tanggal 3 Januari