Senin, 27 September 2010

hujan kali ini

Hari ini hujan lagi.
Untuk pertama kalinya aku setuju sepenuhnya dengan sahabat yang rindu menikmati hujan bersamaku bahwa hujan belakangan ini tak lagi hangat.
Dia turun sesuka hatinya, mengacak-acak perasaan.
Untuk pertama kalinya aku tidak bisa menikmati keindahan tak terkatakan dalam hujan malam ini.
Ini salahku atau salah hujan?
Aku ingin hujan berhenti malam ini.
Aku rindu hari-hari tanpa hujan yang memberikan aku waktu untuk merindukan hujan dengan keindahan khasnya.
Keindahan tak terkatakan.
Kenapa taring hujan tumbuh lagi?
Atau sepertinya itu bukan taring, tapi seringai.

ditulis ketika hujan deras mengguyur sermo, 23 september 2010


Namun kini, sepenuh hati aku bersyukur pada Tuhan. 
Hujan dan badai memang akan selalu menghadirkan pelangi.
Mungkin tak terlihat, tapi terasa.
Aku mengalahkanmu lagi, siapa pun kamu.
Entah taring, entah seringai, entah apa pun yang jahat dalam hujan.
Aku selalu mampu menemukan keindahan tak terkatakan itu. =)

ditambahkan setelah badai di sermo, 25 september 2010 berlalu, dan semuanya berakhir indah

Sabtu, 11 September 2010

Aku Ingin Ada Bayu

Aku sedang duduk di kursi kayu warna biru
Memandangi seseorang
sedang menunduk mencorat-coret kertas
meja kayu merah itu terkadang ikut tercoret
Namanya Bayu
Satu hari berlalu…

Aku sedang duduk merangkai potongan lego
Masih kurang satu lagi
Bayu datang mengulurkan potongan terakhir
Wajahnya tersenyum manis
Dua bulan berlalu…

Aku sedang duduk menjawab soal-soal
Berhenti sejenak untuk berpikir
Seseorang melongok dari samping
Bayu mencermati jawabanku tanpa ketahuan guru
Sembilan tahun berlalu…

Aku sedang duduk menangis
di hadapan sesosok laki-laki
Aku terus berusaha
Tapi, Bayu akan tetap meninggalkanku
Sebelas tahun berlalu…

Aku sedang duduk menikmati masa tuaku
Anak perempuan kesayanganku tiba
menggandeng seorang laki-laki sebayaku
di dadanya tergantung tulisan : JUST FOR MY MOM
Bayu membuka mulut dan berkata, “Selamat Ulang Tahun.”
Lima puluh enam tahun berlalu…

Aku sedang duduk dalam kesakitan
Meringis menanti kematian
Di manakah Bayu?
Aku ingin ada Bayu…
Berapa tahun lagi akan berlalu?


Ditulis waktu kelas 3 SMA, plonga-plongo di kelas

namaku domba

Cari aku, merayapi pinggir kota yang riuh
namun teredam oleh angin
berkaca pada genangan air
mendapati sebentuk wajah
tapi bukan milikku
beralun kidung mesra di telinga
hati ini bersambut
sekejap terlintas bayang
padang rumput luas, menarikan hembus sang bayu
riak air, mengalirkan segar untuk dahaga
membaringkan diri di bawah mentari
pagi nikmat penuh rahmat
Kidung siapakah gerangan?
Kidung Cinta, ya itu Kidung Cinta
dari Ia yang merentangkan lengan
beri peluk surga
Ia adalah Cinta
dan aku kekasih-Nya
ku cari namaku, tempat tercurahnya kasih
lalu aku tahu.
Namaku domba.


Entah kapan, baru saja ditemukan 10 September 2010