Sabtu, 11 Februari 2012

cursed triangle




I miss these boys! :)

lagu malam ini


Ingatanku diketuk lagi oleh nada-nada dan kata-kata. Setelah bertahun-tahun meninggalkan atau ditinggalkanaku tidak yakin yang manabagian hidup yang itu, akhirnya kudengar lagi alunan lagu ini. Masih sama. Masih selalu riang gembira, masih mengajak tubuh untuk bergoyang, dan masih selalu sangat menyenangkan untuk ikut bernyanyi.

Aku menyanyikan liriknya. Ternyata aku masih ingat sebagian besar darinya. Musiknya berbeda dengan yang kerap kudengarkan dulu. Aransemen ini menyempurnakan lagu indah ini sehingga jadi makin riang gembira dan hidup. Aku hanya bisa cengar-cengir seraya bersyukur dalam hati karena berhasil diselundupkan ke ruangan ini oleh seorang teman yang baik hati. Aku gembira sejadi-jadinya.

Namun, ternyata apa yang telah lama menghilang itu menyeruak muncul lagi. Lagu indah ini dimainkan lagi untuk kedua kalinya di panggung penuh warna menakjubkan di depan mataku. Aku tak lagi sanggup bernyanyi, padahal nadanya masih sama, liriknya masih sama, pun dengan aransemennya. Aku hanya duduk diam memandangi semua makhluk yang diterangi cahaya-cahaya menyenangkan itu. Diam-diam aku mengusap air yang menetes di ujung mataku. Kali ini aku benar-benar mensyukuri bahwa ruangan pertunjukan bagian penonton ditata untuk menjadi gelap.

Bukan. Bukan gesekan senar, bukan tarian asik si pemimpin. Bukan pula sekumpulan laki-laki dewasa yang kukagumi sejak kecil yang menjadikan lagu ini begitu berarti. Sudah kubilang, ingatanku beringsut muncul. Aku masih ingat orang yang memperdengarkan lagu ini di rumah pertama kali. Aku masih ingat bagaimana aku belajar menyanyikannya sambil membaca teks yang muncul di layar televisi. Aku masih ingat bagaimana orang itu tersenyum senang tiap kali aku menyanyikannya.

Nada-nada dan lirik ini sudah lama menghilang dari hari-hariku. Namun, aku masih bisa menyanyikannya. Aku masih bisa. Aku masih ingat dengan siapa dulu aku sering menyanyikan nada dan lirik ini. Aku rindu mendengarnya menyanyikan lagu ini. Aku rindu bernyanyi lagu ini bersamanya. Waktu sudah berlalu begitu lama dan aku masih tetap tak tahu arti dari lirik ini. Tapi, malam ini biarlah lagu ini memenuhi telingaku, memenuhi pikiranku, memenuhi hatiku, dan memenuhi rinduku.


tentang malam tanggal sembilan februari 2012
di salah satu ruang pertunjukan kota jogja

Sabtu, 04 Februari 2012

angka-angka


Berjalanlah,
jejakkan langkah demi langkah
kata mereka kau tak peduli jika tapak kakimu penuh darah dan nanah
tapi, aku peduli Bu, letakkan dulu lelah

Aku mau bercerita
bahwa aku dihantui angka-angka
yang menyusup, merangkak, muncul di mana-mana
kepala sakit, hati sakit, mata berkaca-kaca

Kau selalu bilang, “Jangan takut”
aku tidak ditumbuhkan untuk jadi pengecut
tapi Bu, tiap mereka muncul gelak tawaku terenggut
aku berdiam diri bertemankan sudut

Bu, jangan lagi berjalan jika kakimu berdarah
panggil aku untuk sekedar mengusap lukamu yang memerah
tak akan pernah ada yang salah
suatu hari, seperti katamu, kuncup yang tak gugur akan merekah

Jogja, 3 Februari 2012