Rabu, 06 November 2013

Si Ibu dan Tari Legong

Jumat minggu lalu saya menonton sebuah pertunjukan tari Bali di Yogyakarta. Pementasan ini digelar oleh sebuah komunitas bernama Sekar Jepun yang memang secara rutin setiap tahunnya menyelenggarakan pertunjukan tari. Tahun ini mereka mengusung tajuk “Legong Sang Kenya”. Menurut pengetahuan saya yang minim tentang tarian Bali, legong adalah salah satu jenis tariannya. Nah, ‘Sang Kenya’ adalah sebuah nama panggilan untuk seorang tokoh yang memang memiliki lumayan banyak julukan. Orang banyak mengenalnya dengan nama Maria atau Bunda Maria. ‘Sang Kenya’ diambil dari Bahasa Jawa yang berarti ‘sang perawan’. Begitulah Maria sering disebut.

Sebenarnya, tarian dengan tajuk yang hampir mirip juga pernah dipentaskan oleh Sekar Jepun di tahun 2011. Kali itu acaranya diberi judul “Legong Maria”. Tarian yang dipertunjukkan tahun ini adalah sebuah eksplorasi lebih dalam dari tarian Legong Maria. Tokoh yang diambil masih sama. Namun, ada penekanan khusus pada salah satu atribut Maria yang cukup mengena di hati konseptor tarian. Atribut itu ialah sebuah ungkapan kondang yang keluar dari mulut Maria, “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Kalimat ini adalah ikon kepasrahan Maria yang konon berusaha diteladani banyak orang, khususnya penganut agama Katolik. “Mu” pada kalimat itu merujuk pada figur Tuhan yang menurut Maria punya kuasa paling besar atas hidupnya. Oleh sebab itu, Maria mendeklarasikan keikhlasannya untuk menjalani kehendak Tuhan dalam hidupnya.

Interaksi saya dengan tarian Legong Sang Kenya* memang bisa dibilang hanya kurang lebih satu minggu. Akan tetapi, di suatu waktu jauh sebelum pementasan, saya sudah sempat bersinggungan dengan konsepnya. Konseptor tarian, yang adalah salah seorang pengajar di fakultas tempat saya belajar, bercerita pada saya tentang keinginannya untuk menumpahkan refleksi personalnya atas Maria dan kalimat saktinya itu dalam sebuah pertunjukan tari. Memang tidak ada kebetulan di dunia ini. Saat saya berhadapan dengan si konseptor dalam adegan penceritaan itu, saya tersenyum simpul seraya bingung. Masalahnya, sewaktu cerita konsep tarian itu sampai ke telinga saya, saya memang sedang bergumul dengan kalimat sakti Maria itu.

Entah mengapa, selama beberapa hari berturut-turut saya menemui kalimat itu di banyak tempat dan dari banyak orang. Tadinya hanya saya anggap angin lalu. Namun, setelah si konseptor juga menambah frekuensi saya berhadapan dengan “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu” itu, saya mulai dibebani pikiran tertentu. Ketika saya tersenyum simpul kebingungan itu, si konseptor tarian bertanya mengapa saya tersenyum mencurigakan. Saya menjawab seadanya bahwa beberapa hari belakangan saya sering menemui kalimat itu di mana-mana. Tanggapan darinyalah yang membuat saya sungguh-sungguh memikirkannya kemudian, “Dicari. Mungkin ada maksudnya.” Angin lalu yang hampir bablas itu tadi saya panggil pulang lagi. Ya, mungkin ada maksudnya.

Pencarian saya atas interaksi berturut-turut dengan ucapannya Maria itu berakhir entah di mana saya sudah lupa. Satu hal yang menandainya adalah kesadaran saya bahwa ungkapan itu menemui saya selama beberapa hari ketika saya mulai sering protes sama keadaan. Singkatnya, saya belajar lagi dari sosok yang namanya ditimpakan kepada saya oleh ibu saya itu untuk ikhlas. Ikhlas pada hidup dan berusaha menjalaninya dengan sungguh-sungguh.

Nah, tibalah saatnya saya menonton tariannya. Pertanyaan yang bergulir di kepala saya adalah, “Bagaimana sih bentuknya jika kalimat sakti Maria itu keluar dalam bentuk tari?” Jujur saja, saya hanya punya sedikit referensi tentang tari dan bagaimana mengapresiasinya. Dalam keterbatasan itu, saya berpendapat bahwa tarian Legong Sang Kenya kali itu sangat indah. Durasinya panjang, sekitar lebih dari tiga puluh menit. Total penari yang terlibat dalam tarian ini adalah dua puluh empat orang.

Saya menonton tarian ini dengan seksama ketika gladiresik pentas. Saat itulah kali pertama saya menyaksikan tarian ini secara utuh. Ketika kurang lebih separuh waktu tarian sudah berjalan, dimulailah adegan simbolisasi penyaliban Yesus, anak Maria. Ketika adegan ini ditarikan oleh tiga penari laki-laki, pemeran Maria dan penari perempuan lainnya bergerak sebagai latar. Adegan berakhir ketika salah seorang penari laki-laki menusuk perut penari Yesus. Dalam gerakan yang sangat gesit, penari Maria muncul di belakang penari Yesus dengan pose menopang. Gerakan tari dan musik melambat. Setelah beberapa waktu lalu penari Yesus berbalik menghadap “ibunya”. Lantas, ia menari menuju bagian belakang panggung. Penari Maria mengikutinya dari belakang. Hampir di ujung panggung, penari Yesus menghaturkan sembah. Itu salam perpisahan tentunya. Ia berpamitan pada ibunya lalu meninggalkan panggung. Tarian diselesaikan oleh sisa penari perempuan lainnya.

Persis ketika penari Maria menopang penari Yesus, air mata saya jatuh tanpa saya inginkan. Sialan, pikir saya. Saya tidak berharap menangis karena setelah ini masih harus berhadapan dengan banyak orang. Saya mengusapnya sebentar lalu berusaha menguasai diri. Jujur saja, saya terharu. Dalam tarian itu saya melihat keberadaan si Ibu Maria sebagai orang yang menopang putranya dalam kekalahan. Selebihnya, ia mengiringi anak tunggalnya itu menuju akhir perjalanan. Ketika Yesus lalu pamit, Maria melepaskannya. Tidak tertangkap oleh saya satu pun gerakan yang menandakan penolakannya pada peristiwa-peristiwa itu. Mungkin itulah kepasrahan Ibu Maria.

Memang dasar ibu yang satu itu selalu membuat saya deg-degan. Terima kasih ya, Bu.




*Konseptor: Ni Luh Putu Rosiandani
Koreografer: Ni Kadek Rai Dewi Astini
Penata Musik: I Nyoman Cau Arsana