Rabu, 09 Oktober 2013

The Beginning of the End or Vice Versa

Sudah menjelang akhir bulan September. Itu artinya saya sudah menyelesaikan salah satu rencana saya tahun ini. Rencana ini saya susun bersama beberapa teman akhir tahun lalu, 20 Desember 2012 kalau tidak salah. Tadinya, itu hanya sebuah obrolan kacangan. Sungguh kacangan. Isi obrolannya hanya demikian, “Ayo, bikin ini yuk.” Lalu dijawab, “Ayo, ayo.” Kurang lebih dua kalimat itu saja yang berseliweran selama mengobrol kacangan itu. Ternyata eh ternyata…

Kami lantas menawarkan kacang itu ke beberapa orang teman. Cukup banyak yang menyatakan bersedia ikut. Sebagian lainnya menolak karena akan sibuk mengerjakan tugas akhir kuliah yang ternyata sulit sekali untuk dicapai akhirnya. Sisanya menyatakan masih akan mempertimbangkan jawaban ya atau tidak dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Berbekal sejumlah orang yang sudah terlanjur bilang iya ini, kami melanjutkan obrolan kacangan tadi agar tidak sia-sia. Kami jadikan obrolan kacang rebus, setidaknya diolah dengan sederhana.

Teman-teman saya yang bergabung dalam obrolan kacang rebus ini sempat saya khawatirkan akan terjebak dan menjadi korban iming-iming muluk para personil obrolan kacang. Masalahnya to, ketika obrolan kacang rebus ini dimulai, semua rencana itu jadi tersusun sangat serius. Pada dasarnya, saya adalah orang yang cukup serius, maka saya bertahan dalam obrolan kacang rebus itu meski terkadang jantung saya berdegup lebih cepat karena gugup. Saya gugup mendengarkan teman-teman bercerita dan menyusun rencana ini untuk jadi cake kacang. Ya, bukan sekedar membutuhkan pengolahan sederhana seperti kacang rebus tadi, cake kacang butuh pengolahan yang lebih menyeluruh. Kacangnya harus dipilih yang baik, lalu disangrai (digoreng tanpa minyak). Setelah itu mungkin kacang akan dicacah menjadi ukuran yang lebih kecil atau bahkan remah. Bahan yang dibutuhkan pun bukan hanya kacang. Kami masih harus menyediakan tepung terigu, gula, mentega, telur, baking powder, bubuk vanili, dan lain-lain. Belum lagi kalau nanti harus pakai topping (bahan yang ditata di atas cake-nya, entah untuk hiasan ataupun penambah rasa), kami masih harus menentukan bahan apa yang pas dipakai supaya cake kacangnya jadi punya penampilan syantik dan rasa enak.

Hah, ternyata jadinya saya yang nyaris terjebak. Namun, seperti yang pernah dikatakan oleh seorang teman saya yang cukup kondang di dunia diskusi di fakultas tempat saya belajar, “Kita sudah terjebak dan tidak ada jalan keluar. Maka, jebaklah dirimu lebih dalam. Nikmati keterjebakan itu.” Saya cuma bisa bilang amin. Teringat pada kalimat-kalimat itu, saya jadi kembali percaya diri. Yang jelas, teman-teman saya yang terjebak sudah ada cukup banyak, maka kami akan menjebak diri lebih jauh sama-sama. Apabila tidak ada jalan keluar yaaa…tetap menanggungnya sama-sama. Hahahahaha….

Singkatnya, akhirnya menu cake kacang ini kami sepakati. Rencananya akan dikerjakan selama kurang lebih delapan bulan. Maka, kami memulainya seperti pasangan kekasih yang tidak direstui orang tuanya, backstreet. Kami sebenarnya tidak berniat untuk menjadikan ini sebagai rencana rahasia. Kami memilih diam-diam terlebih dahulu untuk menghindari intervensi berlebih dari pihak-pihak yang mungkin malah akan memaksa kami mengganti menunya jadi kacang yang lain. Tanpa kesepakatan tertulis dan terucap, kami menjalani proses penyusunan resep cake ini hanya dalam kelompok. Sayang seribu sayang, karena terancam akan disibukkan oleh kegiatan lain, saya dan seorang teman obrolan kacangan keceplosan. Gara-gara kelepasan omong ini, rencana pembuatan cake kacang jadi tersebar. Ya sudahlah, sekalian saja.

Rencana delapan bulan itu akhirnya bertambah jadi sembilan bulan. Alasannya supaya lebih matang dan tanggal jadinya lebih pas buat semuanya. Bulan-bulan ini bukan hal biasa. Beberapa hari dalam seminggu kami habiskan untuk ketemu dan menyiapkan diri. Bulan-bulan ini makin tidak biasa karena kami semua adalah amatiran di bidang ini. Tak satu pun dari kami punya latar belakang yang memadai untuk rencana ini. Saya khawatir harus menepuk jidat dan berujar, “Nah to, terjebak betulan.” Akan tetapi, berkat sempat kenal dengan seorang teman yang punya latar belakang yang cocok dengan rencana ini, kami jadi punya kesempatan belajar bersamanya. Sayangnya teman kami yang satu ini harus melanjutkan hidup. Maka ia berlabuh ke tempat lain dan membawakan pada kami seorang teman lainnya dengan latar belakang yang tidak diragukan lagi baik di bidang tempat kami mencoba bunuh diri ini.

Seru sekali. Cidera-cidera kecil maupun besar jadi teman kami selama sembilan bulan itu. Kadang, bangun tidur rasanya bukan segar, melainkan malah lemas. Cucian jadi tambah banyak akibat keringat yang mengucur banyak dan menyebabkan harus ganti baju. Sejak awal pertemuan dengan teman belajar yang hebat ini, saya dipertemukan dengan sebentuk teman yang divonis akan selalu berpasangan dengan saya dalam aktivitas yang membutuhkan kesamaan bobot tubuh. Kami sama-sama berbobot. Di tengah perjalanan, partner saya itu tambah gendut dan saya beranjak susut. Ini jadi tidak adil. Meski demikian, saya tidak banyak protes. Sebab berkat partner yang berbobot itu, tubuh saya jadi lebih kuat sebab aktivitas yang saya lakukan juga jadi jauh lebih berat.

Di sela-sela aktivitas fisik ini, kami juga harus terus memutar otak supaya dapat dukungan dari banyak orang dalam rangka mewujudkan rencana ini. Tidak mudah. Seliweran kesana kemari menjajakan potensi tim dan rencana ini memang belum tentu berbuah seperti yang kami harapkan. Akan tetapi, kami bertemu dengan banyaaaaak sekali orang dengan banyaaaaaak sekali kebaikan. Terima kasih kepada mereka semua. Sekarang, kami jadi punya lebih banyak orang untuk disapa jika menghadiri sebuah keramaian.

Nah, buah manis itu tidak begitu saja kami nikmati. Waktu memanjat pohonnya untuk memetik, kadang-kadang kami kena getahnya. Rencana kacangan yang jadi serius ini mendapat beragam komentar dari orang-orang yang mendengar kabarnya. Ada yang kagum dan mendukung, ada yang menyepelekan dan tidak percaya akan terjadi, ada pula yang tidak berkomentar apa pun (entah karena merasa komentarnya terlalu vulgar atau memang tidak punya sesuatu untuk dikomentari). Menghadapi ini semua, saya dan teman-teman kemudian berpikir bahwa gagal atau berhasilnya rencana ini baru akan diketahui sesudah prosesnya diselesaikan. Maka, tidak ada cara lain untuk mengetahuinya selain menyelesaikan apa yang sudah kami mulai. Perkara gagal atau berhasil, itu jelas jadi konsekuensi logis yang harus kami tanggung. Yang jelas, jika kami memilih untuk tidak melanjutkannya, maka hasilnya sudah pasti: gagal.

Namanya kelompok, isinya banyak orang dengan banyak kepala. Banyak kepala itu menyimpan banyak pengalaman dan cara pikir. Kadang, satu dan lainnya bisa berjalan beriring. Namun, bisa jadi hanya pura-pura berjalan beriring. Sisanya malah kerap bertabrakan. Biasa sekali kan. Saya memang tidak pernah merasa kelompok ini istimewa dibandingkan dengan yang lainnya. Dinamika di dalamnya jelas adalah sebuah kewajaran yang juga dialami banyak kelompok orang di muka bumi. Orang datang dan pergi, saling mencinta dan membenci, juga kadang bertenaga dan kadang lelah. Semua kewajaran ini baru akan jadi istimewa jika orang-orang di dalamnya menyimpan cerita-cerita itu dan jadi berguna barang sedikit untuk hidup mereka di cerita hidup mereka yang lain. Amin.

Pada akhirnya, rencana ini kami selesaikan juga. Kami hadapi saja yang memang harus dihadapi. Sudah banyak hal yang kami berikan dalam usaha ini, maka pada akhirnya biarlah kami melengkapinya agar purna ceritanya. Senang sekali melihat teman-teman kami mengapresiasi pekerjaan kami. Kami tertawa puas seusainya. Buat saya pribadi, momen ini terasa agak tidak mudah dipercaya. Saya bolak-balik teringat bagaimana semua ini dulunya hanya berawal dari sebuah obrolan kacangan. Obrolan kacangan ini jadi demikian adanya. Saya memilih berdamai dengan ketidakpercayaan itu dan menerimanya dengan lapang hati dan bahagia, ya obrolan kacangan ini sudah jadi nyata.

Sebelum proses ini persis berakhir, saya dan teman-teman di kelompok juga sudah pernah membayangkan bagaimana hidup kami sesudah ini. Sembilan bulan itu waktu yang cukup lama untuk berinteraksi. Nantinya, kami mungkin tidak intens bertemu dan mengobrol lagi. Namun, demikianlah semua harus berjalan kan. Kami akan kembali mengurusi cerita-cerita lain. Mudah-mudahan cerita sembilan bulan ini menjadi sesuatu yang bisa diceritakan lagi di kemudian hari.

Hah, mau saya tutup saja tulisan ini. Biar teman-teman sendiri yang memberi akhir pada cerita mereka masing-masing. Saya tuliskan lagi tulisan saya dalam selebaran kecil untuk para penonton hari itu, “Kami mengawali cerita ini dari sebuah cerita yang sudah selesai. Maka, setelah cerita ini selesai, semoga akan ada cerita yang lainnya.” Mengamini itu, saya kutipkan juga kata sutradara dalam sinopsis ceritanya, “When the story ends, another story begins.” Amin ya semuanya.



lagi-lagi tulisan berhari-hari

Kalau gede, mau jadi apa?

Ketika membaca surat kabar kemarin di pagi hari ini, saya menemukan sebuah artikel menarik. Saya cuplikkan sedikit bagian yang sangat menyentuh buat saya. Jangan berharap ini romantis.



"Sarjana yang terpelajar itulah salah satu kemiskinan bangsa Indonesia kini. Yang tersebar umumnya hanya sarjana pintar yang karena bukan terpelajar, mereka lemah rasa asih dan asuhnya, dangkal secara kultural, dan kurang arif.
...
Berbeda dengan sarjana terpelajar yang ingin meletakkan satu batu bata kebajikan untuk membangun peradaban, kaum pintar lebih berorientasi mengejar dan menumpuk kekayaan serta merengkuh kekuasaan."


- Kompas, Selasa, 8 Oktober 2013
dari kolom Analisis Politik dengan judul "Terkejut dan Heran"
oleh Sukardi Rinakit



Jadi, kamu yang mana? Eh, maksudnya, kamu mau jadi yang mana? :)