Senin, 29 Maret 2010

Prasangka Penuh Harap

aku tak ingin jadi rembulan
yang tak bisa duduk bersamamu, wahai matahari
tak bisa, sekalipun kita saling melengkapi

aku ingin jadi awan
yang mampu meneduhkan panasmu
yang akan menitikkan rinai yang menyejukkan
yang akan meredam sumpah serapah untuk sinarmu
aku ingin jadi awan
karena ke mana pun kau pergi, wahai matahari
aku mengiringimu


*dibuat atas dugaan yang tak berdasar

Kamis, 18 Maret 2010

Hidup Dari Absurditas

tadi malam, saya habis berbincang dengan seorang teman satu kost yang juga kebetulan satu prodi dan satu UKM di kampus. entah kebetulan atau memang kita memiliki kemiripan dalam banyak hal seperti nasib dan kepribadian, malam itu kita membahas banyak hal. namun, secara garis besarnya kami menceritakan keminderan masing-masing yang ternyata telah cukup lama tumbuh dan bercokol dalam diri kami. hal ini menimbulkan kegoncangan besar dalam hidup kami yang kami kira sudah sangat matang (dalam artian, cukup nyaman dan bahagia untuk dijalani). atau katakanlah, kami merasa diri kami sebelumnya sudah menemukan seperti apa kami sebenarnya. namun, lingkungan yang kini berputar di sekitar kami membuat kami kembali merombak keyakinan itu dan bahkan malah meragukannya. tanpa sadar kami pun menciptakan diri kami seturut citra orang-orang yang ada di sekeliling kami. entah kami terjajah atau tidak, tapi jika dipikir-pikir banyak hal dalam kehidupan kami yang akhirnya dikontrol oleh mereka-mereka yang selama ini kami idolakan. perlahan mereka menyetir pola pikir kami, gaya bicara kami, dan yang paling sulit adalah mengubah diri kami menjadi bukan diri kami sebelumnya.

dari pandangan mereka tentunya pendidikan ini merujuk ke arah perbaikan namun, bukankah kebaikan itu subyektif pula? ya, baik menurut mereka...tapi pada kenyataannya tidak dianggap baik oleh lingkungan lainnya yang dulu mendidik dan membentuk saya. banyak sekali halangan yang merintangi perjalanan saya menuju titik di mana saya berharap bisa mengimbangi superioritas mereka. di sini pun saya haru skembali bertanya, superioritas macam apa yang saya maksudkan? saya mengakui (ini sungguh bukan bentuk kesombongan) bahwa selama ini saya dianggap superior oleh lingkungan sekitar saya. saya terbiasa menjadi andalan dan jalan keluar bagi banyak orang. tapi, asumsi bahwa diri saya adalah diri yang matang ini tiba-tiba dirobohkan tanpa ampun lewat rasa minder yang otomatis muncul ketika menyaksikan perubahan yang sangat signifikan di sekitar saya. SAYA SANGAT INFERIOR!

ada baiknya memang, melalui rasa malu saya menumbuhkan kemauan untuk belajar dan memperbaiki kualitas hidup supaya setidaknya bisa mengerti kehidupan mereka, syukur-syukur bisa mengimbangi. namun, setelah saya coba jalani saya menghadapi begitu banyak kendala yang sangat berat untuk dilewati. tidak hanya berkaitan dengan motivasi tapi juga dukungan dari lingkungan. pelan-pelan saya mencoba mencari tahu kenapa saya begitu kesulitan untuk mengikuti jalan hidup para dewa-dewi duniawi yang saya sembah superioritasnya ini. dan tersadarlah saya, bahwa ternyata standar superioritas yang mereka ciptakanlah yang selama ini menghalangi pertumbuhan saya. standar ciptaan mereka adalah intelektualitas. dan saya bukan seorang intelektual. tapi, saya sungguh ingin menjadi intelektual walaupun saya tahu usaha dan proses untuk mencapainya menuntut begitu banyak pengorbanan dan rasa sakit.

sementara itu, selama ini saya dianggap superior dengan standar yang sangat berbeda. orang-orang melihat saya memiliki kematangan dalam berpikir dan bertingkah laku yang dilandasi dengan pengelolaan emosi yang baik. wah, saya memang ge-er dan sombong mengenai hal ini. saya berusaha untuk menghindari perbuatan pamer tapi tetap saja saya tidak bisa membiarkan sesuatu berjalan tidak seperti yang saya rencanakan. obsesi menjadi pegangan semua orang jugalah yang mendidik saya untuk berlatih menjadi pendengar yang baik dan jalan keluar bagi permasalahan emosional. mama lauren? bukan, saya bukan tipe seperti itu. hanya saja, walaupun apa yang saya lontarkan itu tidak terlalu berefek bagi pelaksananya, saya berhasil membuat diri saya bahagia atas ucapan "terima kasih" dari mereka yang mendapatkannya atau sekedar mendengar berita bahwa permasalahan sedikit tersederhanakan. superioritas ini membuat saya terlena dan lupa bahwa banyak hal yang perlu saya kejar untuk menjadi superior di bidang-bidang lain, terutama yang saya harapkan tadi, intelektualitas.

sekalipun saya berusaha keras untuk menjalani proses menuju kedewasaan intelektual, saya menghadapi kendala-kendala dasar yang berkaitan dengan kepribadian saya. absurd. kata teman saya, arti kata itu adalah ketiadaan makna. hmmm...bukan berarti saya tidak punya tujuan hidup (walaupun saya memang belum bisa menentukannya) tapi, saya sedang dalam proses perbaikan kualitas diri. saya selalu mengingatkan diri saya untuk berhenti memuja dan meniru orang lain hanya supaya bisa memperoleh ketenaran yang sama. hal-hal baik dari banyak orang memang boleh saya teladani tapi bukan untuk menjadikannya sebagai identitas pribadi, karena menurut saya itu plagiat namanya. saya selalu melakukan banyak hal yang bisa dikategorikan childish di setiap kesempatan. saya punya standar popularitas yang berkaitan dengan kemampuan muncul di keramaian sebagai biang keonaran. entahlah, jangan tanyakan mengapa saya bisa berpikir seperti itu. nah, kesulitan yang saya alami adalah...mereka yang superior dalam intelektualitas itu kurang mampu menerima absurditas dalam banyak hal yang saya jalani dengan tujuan bersenang-senang. saya sangat mengerti tuntutan untuk berubah dan menjadi dewasa selalu mengekor saya, mengetuk punggung saya minta diperhatikan. oke, saya selalu berusaha untuk itu, in progress. tapi, jika untuk menjadi seperti yang mereka harapkan saya terpaksa meninggalkan kegembiraan yang saya dapatkan dari hal-hal absurd ya...saya merasa belum sanggup. memang apa yang salah sih dari absurditas? toh saya hanya melandaskan hal itu pada perkerjaan-pekerjaan yang tidak diprioritaskan. saya hanya mencari kebahagiaan saya melalui hal-hal semacam itu untuk melepaskan penat setelah memaksa otak saya bekerja (padahal otak saya malas bekerja).

yah, sekali lagi...hidup itu pilihan. saya sekarang ini sedang menjalani hidup dengan multi kepribadian. banyaknya lingkungan yang berbeda yang saya tinggali menuntut saya untuk selalu fleksibel menyikapi perubahan-perubahan itu. saya dalam proses, saya sedang digodok supaya lebih matang, saya pasti bisa mencapai kemajuan dalam perbaikan kualitas diri. doakan saja supaya dapat berjalan lancar, sementara itu saya masih selalu butuh bimbingan lho...

Kamis, 11 Maret 2010

Tadi Malam, 10 Maret - Tadi Pagi, 11 Maret

aku
berdiri
mencoba menahan senyum
tapi tetap lepas

dan keesokan harinya
kembali menahan senyum
tapi tetap lepas

hujan
rinai yang mencari
kehangatan
akan sebuah penghapusan
dari rasa "kesepian"

lalu
pemahaman menghampiri
bahwa aku tak lebih
merasa dilindungi
hanya karena
aku tak lebih
duduk sendiri
sambil mencari (?)
atau menanti (?)

Selasa, 09 Maret 2010

Museum Keprihatinan

siang tadi, baru saja aku berkunjung ke sebuah museum di jogja. namanya museum wayang kekayon. kali pertama aku ke sana, seorang penjaga museum tersebut menyatakan bahwa museum telah tutup. kulirik jam, saat itu pukul 2 siang. padahal, informasi yang kudapatkan dari internet, museum tersebut buka dari jam 9 pagi hingga jam 4 sore. hari ini aku kembali lagi untuk meliput beberapa hal mengenai museum tersebut. impresi yang muncul saat pertama kali hingga tadi siang datang ke sana adalah : memprihatinkan. bahkan aku sempat mengumpat tadi siang ketika baru tiba di museum tersebut dan melihat segala sesuatunya lengang dan tertutup. ketika kuhampiri seorang penjaga separuh baya yang ada di sana, beliau memberi keterangan bahwa museum tersebut buka. dengan petunjuk seadanya, aku dan timku menjelajahi bagian dalam museum tersebut tanpa pemandu. bapak tua yang kami temui tadi menyarankan kami untuk menemuinya di kantor sehabis kami berkeliling jika ada yang ingin ditanyakan.

koleksi yang disimpan museum itu sangat mengagumkan. tak pelak memori dan baterai kamera digital pun melorot habis untuk mengabadikan setiap ruangan dan isinya. sesuai namanya, museum wayang kekayon mengoleksi berbagai jenis wayang dan peralatan yang berkaitan dengan hal itu. umur koleksinya tak tanggung-tanggung, sejak jaman baheula. seusai melihat-lihat bagian dalam museum sepi tersebut, kami pun berbincang dengan Pak Mulyono, penjaga, pekerja, perawat koleksi, sekaligus pemandu di museum ini. menakjubkan. atau memprihatinkan? seketika aku membayangkan bagaimana program Visit Indonesia Year yang lalu berjalan sesungguhnya? objek apa yang menjadi fokus dari program tersebut?

poin yang menarik dari diskusi kami tadi adalah fakta mengenai kepemilikan museum wayang tersebut. mungkin memang aku yang sangat awam terhadap info-info semacam ini, karena ternyata seorang temanku menyatakan ia telah tahu sejak dulu mengenai fakta tentang kepemilikan sebagian besar museum di Indonesia. museum wayang kekayon dimiliki oleh seorang profesor sekaligus dokter ahli saraf dan kejiwaan yang dulu pernah bergelar guru besar di sebuah universitas negeri ternama di Yogyakarta. wow, aku sungguh terkejut mendengar hal itu. ternyata museum ini milik pribadi, dibangun secara pribadi, dikelola secara pribadi, dan tentu saja dibiayai secara pribadi. hal pertama yang terlintas di benakku adalah : orang ini sangat kaya. pemilik museum ini adalah ayah dari seorang ahli telematika yang namanya lalu lalang di dunia pertelevisian (terutama setiap kali ada gambar-gambar yang diduga rekayasa). karena beliau telah almarhum, maka pengelolaan museum ini diserahkan kepada putra bungsunya.

sekali lagi, mungkin aku terlalu awam untuk membahas masalah ini. jadi mohon jangan ditanggapi sebagai ke-soktahu-an tapi, ini murni wujud keprihatinan yang muncul secara tiba-tiba. seorang teman yang saya sebutkan di atas memberi informasi bahwa 20% museum di Indonesia dimiliki oleh pribadi, bukan oleh pemerintah seperti yang selama ini banyak orang kira. hal ini bagiku sungguh-sungguh menakjubkan mengingat biaya pengelolaan museum itu tidak sedikit. namun, orang-orang (pemilik pribadi museum) ini dengan berani dan ikhlas menyisihkan dan menyumbangkan miliknya untuk mengelola museum sebagai sarana pelestarian budaya maupun sejarah. mengagumkan. memang, kebanyakan museum berada dalam kondisi yang begitu memprihatinkan dan seperti tak terurus. hal ini berkaitan dengan minimnya pegawai yang bekerja di sana. bahkan di museum wayang kekayon sendiri tidak ada seorang pun pegawai yang diperbantukan dari pemerintah untuk membantu pengelolaan museum. yang ada hanya 3-4 orang warga sekitar yang diupah oleh pemilik pribadi museum. entah dengan apa mereka bertahan, pengabdian ataukah kebutuhan akan pendapatan (sekalipun itu sangat minim)?

pemilik museum wayang kekayon bisa dibilang bukan tokoh ternama dalam dunia pewayangan, bahkan profesinya tidaklah berkaitan sama sekali dengan wayang. namun, beliau memiliki minat dan perhatian lebih terhadap pelestarian kesenian wayang. hanya dengan dasar itulah seorang dokter saraf dan kejiwaan membangun sebuah museum wayang. museum yang tidak ramai dikunjungi orang, hanya terkadang beberapa orang yang tertarik atau rombongan wisata dan studi. museum yang menggeliat lemah namun tetap berusaha keras untuk bertahan di tengah himpitan modernisasi yang makin menelan minat orang-orang akan budaya-budaya daerah. museum yang ditopang oleh orang-orang yang memeliharanya semata-mata karena kepedulian dan pengabdian, namun kurang diperhatikan oleh pemerintah. ya, memang pemerintah mengurusi banyak hal lain yang juga sama pentingnya. namun, selalu masyarakat berharap akan ada perhatian yang bisa membantu atau setidaknya memperpanjang kelangsungan museum-museum penuh ilmu ini. kepemilikan pribadi? tidakkah para pemilik itu menyumbang kontribusi yang begitu besar dalam dunia pendidikan dan pariwisata Indonesia? mungkin kontribusi tersebut layak untuk setidaknya diapresiasi dalam wujud yang kongkrit (membantu atau memberikan perhatian nyata termasuk di dalamnya)? semoga penyelenggaraan museum yang ada akan beranjak lebih baik di masa-masa yang akan datang sebagai sarana pendidikan dan pariwisata di Indonesia.

Kamis, 04 Maret 2010

Untuk Para Perempuan

tulisan ini aku dedikasikan untuk menyemangati para perempuan, agar menjadi bagian dari kehidupan yang akan selalu menghargai dan membutuhkan mereka...


tak mudah memang, ketika laki-laki menyebutkan kriteria perempuan ideal menurut mereka dan menyadari bahwa kita tidak memenuhi kriteria tersebut. tak pelak, alasanku menulis posting ini karena aku merasa sudah cukup berpengalaman dalam menghibur diri yang dianggap tak cukup "indah" di mata orang lain. tidak hanya di mata laki-laki, tapi juga di mata perempuan. padahal aku pun perempuan...

jika selama ini kamu percaya bahwa laki-laki menilai perempuan dari segi fisik, belajarlah untuk menerima teori itu sebagai hanya salah satu kriteria penilaian mereka terhadap perempuan. yang utama, janganlah mengandalkan teori tersebut untuk membenahi diri menjadi perempuan yang lebih baik. berhentilah memandangi cermin seraya menyesali mengapa pinggang dan pinggulmu tak lebih ramping, mengapa rambutmu tak seindah yang dijanjikan iklan shampo conditioner, mengapa wajahmu tak putih, mengapa kulitmu tak lembut, atau bahkan mengapa jerawat harus mengganggu hidupmu. berhentilah sejenak dan renungkan, adakah kamu ditinggalkan orang-orang karena bayanganmu di cermin tidak seperti yang kamu harapkan? ya, kamu memang perlu berbenah jika penyesalan akan bayangan di cermin itu menghinggapi pikiranmu. jangan hancurkan hidupmu dengan membiarkan ketidakpuasan itu bercokol dan terus tumbuh menekan akal sehatmu. resapilah bahwa tiap perempuan diciptakan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. syukurilah "unconditional love" yang selalu dicurahkan keluarga dan sahabat-sahabatmu, cinta yang tak mengenal syarat apa pun.

tidak diragukan, memang diperlukan adanya kelebihan yang akan membuat mata orang-orang tertarik padamu dan kemudian bersedia untuk mengenalmu lebih lanjut. bukan, aku bukan bicara mengenai ketertarikan lawan jenis, tetapi daya tarik yang dapat dipancarkan untuk membuat orang-orang mengakui bahwa kamu adalah perempuan yang luar biasa. aku sudah pernah bertemu dengan perempuan-perempuan luar biasa itu, bahkan hingga saat ini mereka menjadi bagian dari hidupku. aku belajar beberapa hal dari mereka mengenai apa yang harus kamu punya sebagai perempuan untuk memberikan manfaat bagi kehidupan.

Jadilah cantik. perempuan luar biasa yang kukenal melakukan yang perlu mereka lakukan untuk memelihara dan merawat dirinya. menghargai semua yang mereka punya yang telah diberikan oleh Tuhan karena itu semua menjadikan mereka perempuan yang cantik. mereka tidak membiarkan dirinya terlihat "tak terurus" hanya karena mereka menghindari menjadi genit. tidak perlu melakukan yang berlebihan, bukan "mempercantik" tetapi memelihara dan merawat. dengan sendirinya, diri mereka terlihat cantik. tidak hanya itu, mereka membenahi kepribadian menjadi cantik. kepribadian yang akan membantu membuat orang-orang merasa nyaman di dekat mereka. bukan karena keindahan fisik mereka, melainkan oleh kecantikan pribadi mereka. aku tidak berbicara mengenai berbicara lembut atau duduk manis, yah oke memang hal-hal itu akan terlihat cantik, tetapi yang penting mereka membuat orang-orang merasa nyaman di dekat mereka, siapa pun itu.

Jadilah bijak. semua orang menyukai orang bijak. tidak hanya pintar atau cerdas atau pandai, orang bijak juga lembut. ia mampu mengontrol emosi dan menciptakan ketenangan. ia sabar, mau mendengarkan dan membantu menanggung beban orang lain. berusahalah menjadi jalan keluar dalam kebuntuan orang lain.

Jadilah kuat. para perempuan luar biasa yang kukenal semuanya adalah perempuan yang kuat, baik fisik maupun kepribadian. maka, hingga hari ini aku memegang teguh prinsip bahwa "aku terlahir sebagai perempuan bukan untuk menjadi lemah". mereka tidak mengeluhkan dan menghindari pekerjaan atau pun tanggung jawab yang membutuhkan energi besar untuk ditunaikan. mereka tidak lagi mencemaskan kuku-kuku akan patah, atau telapak tangan akan menjadi kasar, atau kulit akan menjadi hitam ketika mereka harus mengerjakan sesuatu yang berat. mereka tidak mengkotak-kotakkan pekerjaan menurut gendernya. mereka mengerjakan apa yang mampu mereka kerjakan, terutama jika itu tanggung jawab. selain itu, mereka adalah perempuan tahan banting dan tahan cobaan. mereka menghadapi masalah dengan lebih sabar dan belajar dari orang lain. mereka menangis jika memang beban yang mereka rasakan sangat berat. menangis memang membantu melegakan kesesakan dalam diri kita. tapi, seusai menangis mereka bersiap melakukan sesuatu untuk sungguh melepaskan beban masalah itu. jangan menyerah, karena akan selalu ada dukungan dari orang-orang yang mencintaimu.

Jadilah dirimu sendiri. setiap perempuan tercipta unik. tak perlu meniru orang lain supaya menjadi lebih dicintai. perempuan luar biasa memperjuangkan apa yang mereka punya. mereka pun mengembangkan talenta mereka supaya bermanfaat bagi orang lain. mereka dicintai karena mereka adalah perempuan luar biasa.

Tersenyumlah. ya, tersenyumlah. ketika perempuan-perempuan luar biasa itu menyunggingkan senyum kepadaku, aku dapat merasakan cinta yang mereka pancarkan dari senyum itu. dengan tersenyum mereka mampu meredakan amarah yang menggelegak siap tumpah, mampu menghapuskan air mata sedih sekaligus meneteskan air mata haru, mampu mengurai kerumitan masalah, dan yang terpenting mampu mengisi kembali kekuatan dan semangat untuk menghadapi dunia. dan dengan tersenyum, mereka selalu terlihat sangat cantik. lebih cantik dari biasanya.




berdirilah tegak wahai perempuan, angkat kepalamu menatap dunia. dunia yang melahirkanmu sebagai manusia yang lembut namun menyimpan kekuatan yang indah di dalam diri. berjuanglah untuk kehidupanmu dan kehidupan seutuhnya, engkau begitu berharga karena dunia membutuhkanmu...

Selasa, 02 Maret 2010

It Supposes To Be The 55th Birthday

hari ini tanggal 2 Maret 2010...
seharusnya, hari ini aku mengirimkan sms di pagi hari untuk Bapakku
mengontak keluarga di rumah menanyakan masak apa untuk hari ini
dan manyun sedih karena tidak ada di rumah

seharusnya...

namun, aku tidak mungkin melakukannya. sudah 3 kali 2 Maret aku tidak mampu menemui Bapakku untuk mengucapkan selamat ulang tahun. sudah 3 kali 2 Maret pula dia tidak pulang ke rumah untuk merayakan hari itu dengan sekedar makan bersama dan berdoa bersyukur.
Tuhan sudah membawanya pulang ke tempat dari mana ia berasal. aku selalu berusaha untuk tidak menyesali peristiwa itu karena aku tahu Tuhan memberikan yang terbaik untuk keluargaku dan untuk Bapak sendiri.

Bapak, bagaimanakah perayaan ulang tahun di surga? adakah lebih baik daripada di rumah kita sendiri? ya, pasti lebih baik...
Bapak, Pita sudah nggak bisa lagi mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung kepadamu. nggak apa-apa, Pita nggak menyesalinya. Pita hanya ingin memberi tahu, bahwa kami sekeluarga selalu rindu pada Bapak. sudah lama sekali kita nggak berkumpul di rumah. kalau saja Bapak masih bisa pulang ke rumah, pasti malam ini kita akan makan dan berdoa bersama. Mama belum pernah bikinin black forest buat ulang tahun Bapak ya? padahal hari ini ulang tahun yang ke-55. ya salahnya Bapak, lebih doyan serabi atau bolu pandan sih...
maaf ya Pak, sampe umur segini Pita belum bisa jadi dewasa. Pita selalu nangis kalo keinget Bapak, padahal udah cukup lama Bapak pergi. sayangnya Bapak nggak sempat mengantar dan menyaksikan Pita jadi mahasiswa. Pita belum bisa bantu Mama banyak, Pita masih sering ngerepotin Mama.
sekarang, Pita nggak bisa berdoa minta kesehatan dan panjang umur buat Bapak. lalu, Pita harus mendoakan apa Pak? bukankah tak ada kehidupan yang lebih baik selain di sana? yah, mungkin doa ini akan sama dan selalu sama dengan yang Pita daraskan tiap malam. supaya Tuhan menerima Bapak di pangkuan-Nya. semoga rasa rindu yang begitu besar ini bisa terobati dengan doa-doa itu ya Pak. doakan juga kami sekularga supaya bisa menjalani sisa perjuangan hidup kami dan selalu kuat untuk menjadi seperti yang Bapak harapkan.

selamat ulang tahun, Pak...

Senin, 01 Maret 2010

Stop Judging Person by His Physical Performance!

tulisan ini aku dedikasikan untuk seorang teman yang mungkin nggak akan pernah membaca posting ini. untuk keamanan, namanya tak akan aku sebutkan.

menilik judulnya, aku pasti akan merasa sangat munafik jika membandingkannya dengan yang terjadi ketika pertama kali aku bertemu dengan temanku ini. seorang laki-laki dengan rambut lurus panjang melebihi bahu yang dibiarkan tergerai, biasanya mengenakan topi lusuh warna merah di atas kepalanya, badannya kurus cungkring seperti junkies, kaos belel kedodoran yang menampakkan ukiran tato bertuliskan kata-kata dalam bahasa latin di bagian dadanya, rokok yang terus mengepul dari mulutnya. seram. aku bahkan tak berani menegurnya saat itu. aku belum pernah punya teman seperti dia. dan aku pun tak pernah berpikir akan berteman dengan dia...

hingga tiba saatnya aku berkutat dalam sebuah kegiatan bersamanya, posisi kami menuntut kami untuk selalu berkomunikasi baik secara langsung maupun tak langsung. dan aku mulai belajar menerima aku harus mampu bekerja sama dengannya, bagaimanapun penampilan dan sifatnya.

bisa dibilang, dia ini agak sedikit mirip atau katakanlah "setipe" dengan seorang temanku waktu SMA dulu. kesamaannya adalah, mereka kerap kali secara tiba-tiba mencurahkan isi hatinya mengenai masalah-masalah pribadinya yang tidak biasanya diceritakan kepada orang sembarangan tanpa aku minta. awalnya memang aku terkejut dihujani cerita-cerita tentang pengalaman hidupnya, tapi sejenak kurenungkan aku merasa tersanjung. bagaimana tidak? aku adalah orang baru baginya, baru 2 hari kami kenal saat itu dan dia langsung mempercayaiku untuk mendengarkan keluh kesah pribadinya. tak ada hal lain yang bisa kurasakan selain merasa ge-er karena dianggap nyaman untuk diajak bicara. pelan-pelan aku tau, bahwa ia telah mengalami kekecewaan begitu sering dalam hidupnya. aku sungguh bersimpati atas semua kisahnya itu. dia menceritakan bagaimana ibunya kecewa padanya, bagaimana ia memutuskan untuk berhenti minum minuman keras (sungguh ia berhenti!), dan uniknya dia pun menyebutkan pertanyaan mengenai bagaimana jika ia berhenti merokok. hal-hal yang tidak banyak kudengar dari teman-temanku khususnya laki-laki. satu hal yang membuatku berani menuliskan judul di atas adalah kisahnya mengenai perlakuan orang-orang di program studinya. dengan penampilan fisik yang mengidentikkan dirinya dengan preman atau "anak nakal" itu, dia menerima perlakuan sosial yang kurang adil. ia merasa dirinya dikucilkan dan dianggap tidak pantas. kalian tau prodinya apa? Pendidikan Agama Katolik. yah, memang aku pun awalnya tak percaya, tapi memang begitu kenyataannya.
ia mengaku bahwa ibunya yang menyarankan untuk masuk prodi tersebut, meskipun begitu ia masih diberi kesempatan memilih prodi lainnya. tapi, ternyata ia diterima di prodi Pendidikan Agama Katolik, sehingga ia merencanakan untuk pindah prodi tahun ajaran berikutnya. bahkan ia sempat mendiskusikan denganku prodi apa yang akan selanjutnya ia pilih untuk kuliahnya, namun di lubuk hatinya ia malas melanjutkan kuliah. hal inilah yang menjadi alasan mengapa ia sering kali meninggalkan kelas-kelasnya tanpa peduli apakah ia akan lulus atau tidak untuk mata kuliah tersebut.
dari berbagai curahan hatinya itu, aku menangkap sebuah pemahaman bahwa ia sungguh sangat mencintai ibunya. bapaknya telah meninggal beberapa saat yang lalu. kini ia merasa bertanggung jawab untuk menjaga dan membahagiakan ibunya. namun, tampaknya niat itu belum dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan. selama satu tahun ajaran yang lalu setelah lulus STM, ia memutuskan untuk menunda masuk kuliah. dia punya band yang cukup ternama di kota ini. dia bermain drum dalam band itu. selama setahun penuh dia mendedikasikan waktunya untuk berkarya bersama band ini sambil mengumpulkan uang dari honor manggung dan rekaman mereka. hebat, aku salut untuk hal itu. dia menyatakan bahwa honornya itu dia tabung untuk meringankan tanggungan masa depannya. pernahkah kalian membayangkan seorang "anak nakal" berpikiran seperti itu?
seiring waktu berjalan, dia terus mencurahiku dengan berbagai cerita mengenai persoalan hidupnya. sering kali kami ngobrol via sms hingga kotak masuk penuh dengan nama kami masing-masing. lama-lama pun aku mengerti, bahwa dia memang tidak seperti kelihatannya. He's not the way he looks like. dia punya sisi dirinya yang lembut dan pengertian, yang dipenuhi kasih sayang untuk orang-orang yang dicintainya dan tak ingin dikewcewakannya. beberapa hari yang lalu, secara tiba-tiba dia mengirimkan sms berbunyi "mengalami kebingungan pikiran dan jiwa". setelah aku tanya lebih lanjut, dia mulai menceritakan apa yang sedang meresahkan hatinya. dan jawabannya adalah dia merasa bersalah karena kuliahnya berantakan sehingga membebani ibunya dan mengkhawatirkan tanggungan2 hidupnya yang lain yang belum bisa dipenuhinya sendiri. sungguh, pernyataannya itu membuatku terharu. aku mampu merasakan betapa ia mencintai ibunya dan ingin berbuat sesuatu untuk merubah keadaan. dia juga bilang dia punya niat untuk berubah tapi, dia belum bisa mengatasi halangan yang merintangi niatnya itu.

yang kuhargai dari dirinya adalah ketulusan hatinya dan keberaniannya untuk mengakuinya pada orang lain bahwa ia merasa kecewa pada apa yang sedang dilakukannya sekarang karena dia anggap belum mampu membahagiakan atau memenuhi harapan orang yang dia kasihi. di balik kerasnya cangkang preman yang dia kenakan, ada sebentuk hati yang lunak di dalam dirinya. banyak orang yang berpenampilan seperti dia menyangkal kepemilikan mereka atas hati yang lembut itu. mereka merasa tidak pantas mempedulikan cengengnya suara hati mereka. namun, temanku ini tidak. dengan tulus dia mengakui bahwa dia membutuhkan semangat dan dukungan untuk memperbaiki keadaan. dan aku yakin, dia akan mampu merubah keadaan menjadi lebih baik. aku sangat yakin.

keluhannya bahwa kerap kali dia dihina dan dipandang rendah oleh orang-orang hanya karena dia berpenampilan agak di luar batas kewajaran menyadarkanku bahwa tanpa aku sadari, selama ini aku masih sering menilai orang dari penampilan luarnya dan bahkan tidak berusaha mengerti kepribadian orang itu. temanku yang satu ini telah mengubah pola pikirku, dan membuat aku bangga bisa berteman dengannya. karena memang tidak semua orang mau menerimanya sebagai teman. aku berjanji, aku akan membantunya semampuku untuk mewujudkan keinginannya memperbaiki keadaan. I'll try not to judge person by his physical performance...


Semangat, doa, dan dukunganku selalu untukmu teman...
You're gonna make things better =)