Kamis, 26 Agustus 2010

The Unspeakable Beauty

See it once
Think it once
Feel it once
Then I can do nothing but releasing what’s inside
The tears fell apart, pouring what had been being poured
Then it was done
I do not worry
‘Cause I know the day will come
when it comes back
when I’ll be silent as it happens
It’ll be back once, twice, three times,…
and many times
So when the time comes
I’ll be the one who is missing something so bad
who can say not of any words
who just freeze as looking through it
looking through the unspeakable beauty.





Dedicated to those who love “the unspeakable beauty”
Setelah menunda hasrat untuk menulis selama hujan kemarin hingga hujan badai dadakan hari ini
Rabu, 25 agustus – Kamis 26 agustus 2010, 00.11

Minggu, 22 Agustus 2010

raguuu

Hari ini aku ragu
Bukan ragu pada diriku dan keyakinanku
Hanya saja, dirimu yang menjadikannya meragukan
Tak ada pertanda yang menuju kemungkinan yang kuharapkan
Semuanya selama ini aku bangun dalam fantasiku sendiri
Carikan aku tempat berpijak selanjutnya
Tonggak penyangga selanjutnya
Karena aku masih mau bertahan padamu
Entah sampai kapan, yang jelas bukan sekarang


I don’t wanna run away but, I can’t take it. I don’t understand. If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am?

Minggu dini hari, setelah hari sabtu yang menjadikanku ragu

Selasa, 17 Agustus 2010

Gelisah

    Perubahan lingkungan sosial tempat aku tumbuh kini ternyata membawa begitu banyak perubahan padaku. Awalnya memang kaget (pun sampai saat ini aku masih kerap kali kaget) ketika dihadapkan dengan hal-hal yang selama ini bahkan tak pernah kupikirkan ada di dunia ini. Mataku seperti dibukakan dengan begitu lebar. Tiba-tiba aku mampu melihat menembus sekat-sekat atau tirai-tirai yang selama ini menyelubungi begitu banyak hal yang kini terungkap ini. Tidak, aku belum apa-apa. Aku hanya seorang anak kecil yang baru saja keluar dari kandangnya seraya membawa keinginan untuk menyaksikan dunia luar yang katanya atau semasa kecil kudengar begitu menarik dan bebas. Ini dia aku saat ini, berdiri di tengah besar dan liarnya dunia yang kuidam-idamkan untuk dijalani dulu. Pertanyaannya, masihkah aku benar-benar mengharapkan hidup di dunia seperti ini?    Berhadapan dengan dunia berserta isinya yang kini kutinggali, aku memang mengalami goncangan yang cukup besar ketika berjalan dalam proses penyesuaian diri yang cukup ekstrim. Tak pelak, keterkejutan ini membuatku lebih banyak diam dan mendengarkan ketimbang harus bicara namun tak bisa mempertanggung jawabkannya. Siapa aku selama ini hancur berantakan. Aku sadari sepenuhnya aku bukan siapa-siapa. Akan tetapi, aku mengerti bahwa ini adalah sebuah proses belajar. Seiring waktu berjalan, aku mencoba membuat diriku meletakkan “belajar” sebagai orientasi sekaligus jalan. Ya, aku bergerak maju sedikit demi sedikit.    Apa yang kualami malam ini adalah hal yang sangat tidak mengenakkan. Aku gelisah. Bukan gelisah yang hanya sekejap karena suatu hal yang insidental, melainkan gelisah yang telah cukup lama muncul di otakku tapi tak kuberi cukup tempat untuk dipikirkan lebih lanjut. Perasaan gelisah ini timbul karena suatu hal besar yang kurasa berada di luar jangkauanku. Kegelisahan ini memang tidak kemudian menyita waktu dan menghancurkan konsentrasiku dalam beraktivitas, hanya saja secuil demi secuil berusaha menjejalkan diri dalam keheningan malam atau ruang kecil untuk berdiskusi sejenak dengan teman-teman seperjuangan. Pengalaman berbincang dan menjalani aktivitas dengan teman-teman baruku membuka mataku pada hal-hal yang selama ini terabaikan olehku.    Obrolan di bawah keremangan pohon kamboja atau langit malam di salah satu pojok kecil kota ini perlahan membongkar satu per satu dari begitu banyak kejanggalan dalam hal-hal yang selama ini kuanggap lazim. Tak jarang, mimik wajah tercengang atau teriakan tak percaya muncul dari diriku setiap kali obrolan-obrolan insidental ini    berlangsung. Yah, awalnya memang sulit untuk menerima betapa banyak kebusukan yang bersembunyi di balik kehidupan yang selama ini kujalani. Meskipun aku ialah seorang konservatif yang sering kali harus dengan susah payah diyakinkan, namun pada akhirnya aku percaya bahwa hal itu ada. Tiap kali obrolan ini membahas panas kebobrokan sendi-sendi kehidupan, aku selalu merasa gelisah. Kebobrokan yang hidup dalam sebuah sistem yang juga merupakan bagian dari kehidupan seutuhnya. Kehidupan yang secara hampir menyeluruh telah terseragamkan sehingga antarbagian tersebut satu sama lain hampir selalu menghadapi persoalan yang sama.    Ya, aku gelisah. Pada awalnya aku berpikir bahwa kegelisahan ini hanyalah efek dari euforia ketika mata ini akhirnya terbuka pada setidaknya sedikit hal baru yang tengah kupelajari. Namun, lama kelamaan aku mencoba merefleksikan kegelisahan macam apa yang sebenarnya mengisi pikiranku ini. Ketika bicara tentang sebuah institusi kecil dalam hidup sehari-hari, kami menemukan kejanggalan. Kejanggalan ini ternyata dipicu oleh tekanan yang tak kelihatan dari dinamika sosial di luar institusi ini. Karena hal ini, kerap kali sebuah bentuk tudingan dan penyalahan atas suatu pihak tidak bisa sepenuhnya kami layangkan. Banyak pihak lain (baik dalam kuantitas besar maupun kecil) yang turut punya andil dalam kejanggalan ini. Pada akhirnya, penyalahan justru akan menyudutkan diri kami sendiri karena kami pun masih hidup dalam lingkaran sistem ini. Tapi, tidak lantas kemudian kegelisahan itu raib tak berbekas.    Inilah titiknya ketika aku menyadari kegelisahan macam apa ini. Aku geram (bahkan sangat geram) tiap kali ada kebobrokan lain yang diungkapkan. Geram pada mereka yang berkutat di dalamnya, geram pada jalan pikiran mereka, geram pada dugaan bahwa mereka enggan mendengarkan kata hati, geram pada dugaan bahwa mereka tak lagi punya kepedulian untuk sejenak memandang orang lain di sekitarnya. Aku tidak suka akan itu semua. Sebagai seorang muda yang kerap kali naif, aku memang punya keinginan untuk memperbaiki itu semua. Di sinilah kegelisahanku ini menemui ruangnya, ruang di mana aku menyadari bahwa aku belum bisa melakukan sesuatu yang berarti untuk mengubah itu semua. Inilah kegelisahanku. Aku gelisah karena aku mengerti hal ini salah namun, aku tak punya daya untuk mengubahnya. Akh, sial! Aku gelisah karena ilmuku belum cukup dan aku masih butuh waktu sangat lama untuk belajar. Aku gelisah karena khawatir jangan-jangan aku hanya jadi seorang pembual yang bicara tanpa henti tapi tak memberi solusi. Aku gelisah karena merasa tak mampu melakukan sesuatu yang berarti untuk memperbaiki kejanggalan-kejanggalan tadi. Akh, aku benci menjadi tidak berdaya!
    Aku memang butuh lebih banyak kesempatan untuk belajar. Aku mau belajar untuk pada akhirnya mendedikasikan diriku untuk membuat dan mempersembahkan sesuatu yang berarti bagi hidup. Aku mau belajar bersama dengan teman-temanku agar langkahku untuk membuat mimpi dahsyat nyaris naif ini setidaknya mampu sedikit didekatkan pada kenyataan dengan lebih ringan. Semoga kegelisahan ini memacuku untuk terus bergerak. Semoga kegelisahan ini suatu saat dapat terobati, entah kapan pun itu.




12 Agustus 2010, 02.36
berlagu-lagu dialunkan selama mengetik tulisan ini di dini hari yang lelah

Selasa, 10 Agustus 2010

Bahaya dalam Maya

Ilustrasi oleh : Vincentius Wishnu (Mahasiswa BK '08 USD)


    Siapa tak kenal Facebook? Salah satu situs jejaring sosial ini disebut-sebut sebagai situs yang menempati ranking atas dalam jajaran situs paling populer saat ini. Bahkan karena banyaknya pengguna internet yang mengaksesnya, Facebook diramalkan akan menyaingi situs mesin pencari yang selama ini menjadi situs internet nomor satu di dunia, Google. Prediksi tersebut bukanlah hal yang begitu mengejutkan mengingat fenomena yang secara kasat mata dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari di mana begitu banyak orang menjalin hubungan pertemanan di dunia maya lewat berbagai media setiap waktu. Tak hanya Facebook, internet secara keseluruhan dengan berbagai fitur di dalamnya dapat dikatakan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidup sebagian besar masyarakat.
    Dunia maya, atau yang lebih akrab dikenal secara luas dengan nama internet, merupakan fenomena yang menarik untuk diperhatikan perkembangannya. Peran dan fungsinya sebagai media komunikasi dan akses informasi telah berkembang menjadi begitu penting seiring dengan pertumbuhannya. Internet yang dulunya dikategorikan sebagai suatu hal yang mewah bagi sebagian orang, kini penyebarannya merambah ke seluruh lapisan masyarakat. Antusiasme masyarakat yang begitu besar pada internet juga merupakan lahan bisnis yang menjanjikan untuk diusahakan. Menjamurnya bisnis warung internet (warnet) yang saat ini tersebar luas di seluruh pelosok daerah juga turut mendukung besarnya jumlah konsumsi masyarakat akan akses dengan dunia maya. Secara umum, dunia maya (internet) memang memfasilitasi masyarakat untuk dengan mudah mendapatkan informasi dan berkomunikasi melintasi rentang jarak yang tak terhingga. Akan tetapi, di balik semua kenyamanan dan kemudahan tersebut ternyata ada ‘efek samping’ yang menguntit dan memicu bahaya. Adakah yang pasang mata akan gerak sosok maya berbahaya ini?
Internet: Dulu, Kini, dan Nanti
    Pada awal kemunculannya, internet tidak mungkin diakses oleh semua kalangan masyarakat. Amerika Serikat di tahun 1969 membangun jaringan komputer untuk keperluan militer. Proyek berlabel ARPANET (Advanced Research Project Agency Network) digalang oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat  dalam rangka merancang sistem pertahanan militer negara. Situs Wikipedia menyebutkan bahwa jaringan ARPANET ini menghubungkan komputer yang berada di titik-titik vital agar mempermudah upaya mengatasi serangan nuklir dan menghindari adanya informasi terpusat yang seringkali rawan untuk dihancurkan dengan mudah dalam situasi perang. Karena fungsinya yang begitu vital dalam menjaga keamanan negara, jaringan ini hanya menghubungkan empat situs, yaitu Stanford Research Institute, University of California, Santa Barbara, dan  University of Utah.
    Proyek ini ternyata berkembang begitu pesat dan berbagai universitas menyatakan diri ingin bergabung di dalamnya. Untuk tetap menjaga keamanan, jaringan ini kemudian dibagi menjadi MILNET yang ditujukan bagi keperluan militer dan ARPANET untuk keperluan non-militer. Gabungan dari kedua jaringan ini kini lebih dikenal dengan nama internet. Pertumbuhan pengguna internet mulai meroket ketika di tahun 1990 tim Berners-Lee meluncurkan penemuan mutakhir mereka, yaitu aplikasi World Wide Web (WWW) atau yang saat ini lebih dikenal dengan sebutan situs web. Melalui aplikasi ini, pengguna internet dapat dengan lebih mudah bertukar informasi dalam bentuk materi dan konten web. Di Indonesia, internet mulai menjamah masyarakat di tahun 1990 yang lebih dikenal dengan nama Paguyuban Network.
    Dengan diperkenalkannya aplikasi World Wide Web, internet tumbuh makin pesat dalam waktu-waktu berikutnya. Berbagai materi dan konten dengan topik yang beragam disajikan dalam bentuk web sehingga dapat dengan mudah diakses oleh semua pengguna internet. Berbagai konten tersebut di antaranya ilmu pengetahuan, berita, perdagangan, mode, karya seni, dan lain-lain. Beragamnya materi yang disajikan di internet memacu pertumbuhan jumlah pengguna internet yang kemudian juga berdampak pada kebutuhan untuk membuat fitur-fitur internet makin menarik. Kemudahan yang diberikan internet dalam akses informasi ilmu pengetahuan menjadi salah satu daya tarik internet. Akses ini dipermudah lagi dengan kehadiran mesin pencari yang membantu menemukan banyak referensi untuk satu jenis informasi yang dicari. Dalam perkembangannya, informasi berbentuk berita dan bisnis pun disajikan dalam dunia maya. Hal ini berdampak muncul kebutuhan untuk mengakses internet secara mobile (bergerak) yang kemudian dijawab dengan modifikasi alat teknologi akses internet yang dapat dibawa dengan praktis ke mana pun penggunanya pergi, misalnya telepon genggam dan PDA.
Salah satu fitur internet lainnya yang banyak diminati saat ini ialah situs pertemanan. Diawali dengan diluncurkannya situs Friendster, makin banyak masyarakat yang menolehkan matanya pada internet. Setelah itu menyusul tumbuhnya situs-situs pertemanan lainnya dengan keunggulan dan fasilitas masing-masing. Tahun 2006, gebrakan datang dari seorang mahasiswa Harvard College bernama Mark Zuckerberg dengan situs pertemanan baru hasil kreasinya yang diberi nama Facebook. Sebenarnya, Facebook sudah mulai beroperasi sejak tahun 2004, namun hanya dalam lingkup universitas di mana pendirinya menempuh pendidikan pada saat itu. Karena banyaknya permintaan dari universitas lainnya untuk dapat pula memanfaatkan jaringan ini, Facebook kemudian dikomersialkan secara mendunia. Situs pertemanan dalam dunia maya memungkinkan pemilik akunnya menjalin komunikasi dengan orang-orang pemilik akun lainnya seakan tanpa dibatasi jarak. Menariknya, situs yang juga kerap disebut situs jejaring sosial ini pun dilengkapi dengan berbagai fitur yang membuat aktivitas berteman di dunia maya makin asik, misalnya bertukar pesan, foto dan gambar, obrolan atau yang lebih dikenal dengan istilah chat, dan masih banyak lagi. Banyaknya fasilitas yang dapat diakses dalam situs pertemanan dunia maya ini menyebabkan ledakan masif dalam peningkatan jumlah pengguna internet. Hal ini dapat dengan jelas terbaca dalam data dari internetworldstats.com yang menyebutkan bahwa peningkatan jumlah pengguna internet dunia pada rentang tahun 2000 – 2009 mencapai 380,30%. Statistik ini juga menyebutkan peningkatan jumlah pengguna internet di Indonesia dengan angka yang fantastis. Dalam rentang waktu sembilan tahun, pengguna internet di Indonesia tahun 2000 yang berjumlah 1,7 milyar mengalami kenaikan sebesar 1150%.
Meskipun popularitas situs jejaring sosial begitu kentara dan menarik perhatian dalam perkembangannya, internet juga dimanfaatkan sebagai media publikasi karya seni. Tersedianya ruang yang terbuka dan dapat diakses secara bebas oleh siapa saja menjadikan internet pilihan yang terjangkau untuk mendukung produktivitas berkarya. Fasilitas semacam ini tidak hanya dimanfaatkan oleh seniman-seniman amatir dalam usaha penjajakan respon masyarakat terhadap karyanya, melainkan juga oleh para seniman kawakan untuk memperluas ruang berkarya mereka.
Memperhatikan beragamnya konten internet dan kecepatan pertumbuhannya, Cisco Virtual Networking Index (VNI) melalui risetnya memprediksi bahwa permintaan layanan internet mobile akan tetap tinggi meskipun terjadi kemerosotan ekonomi. Dalam riset itu disebutkan pula prediksi bahwa pada tahun 2014, perangkat bergerak (mobile) pribadi, antara lain telepon genggam, iPad, notebook, dan sejenisnya akan menjadi unsur penting yang paling banyak digunakan dalam lalu-lintas internet. Jumlah lalu-lintas data yang diakses di dunia maya pun diperkirakan akan mengalami kenaikan yang sangat signifikan dalam rentang tahun 2009 hingga 2014.
Ancaman Bagi Intelektualitas
    Internet sebagai salah satu produk perkembangan teknologi memang memainkan peran dan fungsi positif dalam kehidupan masyarakat penggunanya. Akan tetapi, dampak negatif yang ditimbulkan aktivitas seseorang di dunia maya pun tak luput dari perhatian masyarakat. Munculnya berbagai kasus kriminal, maraknya pornografi, dan pencurian karya tanpa hak cipta merupakan beberapa contoh fenomena yang menjadikan dunia maya sebagai salah satu lahan operasinya. Di samping itu semua, tanpa disadari aktivitas masyarakat di dunia maya berpotensi menimbulkan ancaman bagi intelektualitas mereka sebagai pengguna.
    Internet merupakan wadah di mana para penggunanya dapat dengan bebas menyediakan dan mengakses informasi yang bersifat apa pun. Keleluasaan ini ternyata merupakan ruang yang terjangkau bagi setiap orang untuk dengan mudah menyajikan banyak jenis informasi. Sebagai konsekuensinya, pengguna pun dapat dengan leluasa mengakses informasi-informasi tersebut. Hal yang menjadi poin yang perlu diperhatikan ialah kecenderungan minat para pengguna internet terhadap konten atau materi informasi yang diaksesnya. Secara umum, fitur internet dengan materi populer lebih diminati jika dibandingkan dengan fitur yang menyajikan informasi-informasi alternatif. Populer dalam hal ini berarti hal-hal yang disukai oleh banyak orang atau yang sedang menjadi tren di masyarakat, contohnya fesyen dan mode, musik populer, dan gaya hidup. Sejatinya, merupakan hal yang sah dan lazim bahwa tiap periode waktu memiliki jenis materi populer masing-masing, seperti materi populer zaman ini yang telah disebutkan sebelumnya. Akan tetapi, sangat disayangkan ketika masyarakat kemudian cenderung mengesampingkan isu-isu sosial yang telah terlebih dahulu menjadi masalah bersama yang semestinya dicari jalan keluarnya.
    Di balik gaya hidup nyaman dan bahagia yang kerap kali muncul sebagai tolok ukur tren masa kini, masih ada problem-problem sosial yang semestinya menjadi perhatian masyarakat, antara lain masalah pendidikan, kesehatan, kemiskinan, dan lain-lain. Sayangnya, isu-isu semacam ini ternyata kalah menarik untuk didiskusikan bila dibandingkan dengan isu-isu mainstream dengan materi populer tadi. Indikasi akan hal ini dapat ditinjau dari contoh yang dekat dengan masyarakat pengguna situs jejaring sosial, misalnya Facebook. Bila dicermati, hanya sebagian kecil dari pengguna Facebook yang menulis status dengan mengangkat masalah-masalah sosial sebagai topiknya. Selain itu, forum-forum diskusi yang ramai disambangi dan diisi oleh para pengguna internet adalah diskusi dengan tema-tema populer, contohnya atlit olahraga atau selebriti favorit.
    Kecenderungan minat masyarakat yang lebih besar terhadap materi-materi populer di dunia maya dikhawatirkan akan mengikis kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya yang disesaki masalah-masalah sosial yang sudah disebutkan sebelumnya. Kenyamanan yang diperoleh ketika bergelut dalam topik-topik populer mungkin saja dapat membuat masyarakat merasa enggan ketika harus bersinggungan dengan problem sosial yang menuntut perhatian lebih untuk dapat menyelesaikannya. Sebagai imbasnya, permasalahan sosial yang hidup di masyarakat tersebut akan terus tertunda penyelesaiannya dan akan terus menghantui kehidupan masyarakat.
    Layaknya budaya populer lainnya, ancaman yang mengiringi kehidupan dunia maya di masyarakat adalah konsumerisme. Tak bisa dipungkiri, aktivitas di dunia maya berpotensi besar untuk menjadi candu bagi masyarakat penggunanya. Bukti nyata dapat dilihat dari menjamurnya pengguna yang mengakses internet setiap saat melalui berbagai media dengan beragam intensitas keperluan, mulai dari sekedar menulis status baru di Facebook hingga mencari informasi penting tentang apa yang sedang terjadi. Statistik mengenai peningkatan jumlah pengguna internet telah diuraikan dalam sub judul “Internet: Dulu, Kini, dan Nanti” di atas. Mengakses internet tentunya membutuhkan sarana yang diakomodasi dengan sejumlah biaya. Ketika seseorang kecanduan menggunakan internet, ia dituntut mengalokasikan dana untuk dapat memenuhi keinginannya tersebut, entah untuk penyediaan alat teknologi yang mendukung maupun biaya aksesnya. Mau tak mau, aktivitas di dunia maya yang berlebihan beresiko menimbulkan sifat konsumtif.
    Tak hanya itu, kecenderungan konsumerisme juga dapat timbul dari konten yang dicantumkan dalam dunia maya. Konten-konten yang kerap muncul di internet berpotensi menciptakan hegemoni ide tentang tren yang dianggap oleh sebagian masyarakat “harus” diikuti. Kelompok masyarakat tersebut berpandangan bahwa gaya hidup yang ditampilkan di internet merupakan standar yang perlu mereka penuhi untuk menjaga eksistensi. Pandangan ini memicu keinginan untuk membeli dan mengkonsumsi barang-barang yang menjadi atribut gaya hidup populer tersebut. Tak jarang, hasrat untuk memenuhi keinginan ini membuat seseorang menghalalkan segala cara dalam mengusahakannya, bahkan kriminal. Dengan kata lain, internet menjadi salah satu media yang turut menciptakan kebutuhan masyarakat.
    Konsumerisme sendiri telah beresiko menimbulkan masalah lainnya. Salah satu di antaranya ialah kesenjangan sosial yang semakin kentara antara kalangan masyarakat yang hidupnya berkelimpahan harta dengan kelompok lainnya yang belum mencapai kemapanan ekonomi. Ketika kesenjangan ini tumbuh subur, harmoni dalam relasi antaranggota masyarakat sulit untuk terjalin. Kepedulian akan kaum miskin semakin terkikis dan kebutuhan konsumsi makin meningkat.
    Hal menarik lainnya yang perlu diperhatikan sebagai akibat yang timbul dari fenomena menjamurnya aktivitas dunia maya adalah kecenderungan akan banalisme. Banalisme dalam konteks ini diartikan sebagai kedangkalan. Salah satu bentuk contoh yang dapat diperhatikan ialah begitu banyak tulisan-tulisan pendek yang disajikan di dunia maya. Para pengguna internet secara perlahan akan terbiasa membaca tulisan-tulisan pendek tersebut untuk mengetahui sebuah informasi. Kebiasaan ini kemudian menimbulkan preferensi terhadap tulisan-tulisan pendek dibandingkan dengan sebuah buku. Tulisan pendek sudah jelas memiliki keterbatasan ruang untuk mencantumkan informasi dan mengulas topik yang diangkat. Berbeda halnya dengan buku, pembaca buku biasanya akan mendapatkan lebih banyak informasi dan uraian yang lebih lengkap dan rinci mengenai sebuah tema. Ketika seseorang lebih memilih untuk membaca tulisan pendek dengan ruang yang lebih sedikit untuk menguraikan sebuah topik, tentunya informasi yang didapatnya lebih sedikit pula bila dibandingkan dengan kondisi di mana ia membaca sebuah buku. Jika demikian, referensi untuk menganalisa topik yang dibaca juga sedikit dan beresiko menimbulkan salah pengertian karena ada poin informasi yang “hilang” atau tidak terakses.
    Bentuk kedangkalan lainnya tersirat dalam fenomena situs jejaring sosial atau situs pertemanan. Dalam kehidupan nyata, sosialisasi dengan orang lain dalam bentuk pertemanan dibangun lewat sebuah proses yang memakan waktu. Selain itu, kedua belah pihak yang menjalin hubungan tersebut perlu mengadakan pendekatan dan penjajakan untuk mengetahui banyak hal tentang rekannya melalui keseharian dan kontak yang dijalin. Namun, dalam sosialisasi yang dibangun lewat situs jejaring sosial, proses tersebut acap kali terlewatkan. Pemilik akun situs pertemanan biasanya akan menyajikan informasi umum dan khusus mengenai dirinya, mulai dari data diri hingga minat dan aktivitasnya. Sebagian besar situs jejaring sosial memberikan kemudahan bagi para penggunanya untuk saling bertukar informasi tersebut secara bebas, meskipun ada beberapa kesempatan untuk mengatur privasi informasi tersebut. Akses kepada informasi pribadi ini ternyata dianggap sebagian pengguna cukup untuk dapat menjalin relasi yang lebih intim. Padahal, justru dalam dunia maya peluang untuk membubuhkan informasi fiktif lebih luas terbuka. Banyak pengguna, entah dengan dasar apa, berani mengambil resiko menjalin relasi (meskipun di dunia maya) dengan pengguna lain yang terkadang hanya diketahui sebatas informasi profil dan foto yang dicantumkan.
    Situs pertemanan memang membawa manfaat besar dalam bersosialisasi terutama bagi orang-orang yang terpisah jarak cukup jauh. Namun, tak menutup kemungkinan situs ini menjadi lahan kriminal berbasis relasi dunia maya, seperti penculikan, pemerasan, penipuan, pencemaran nama baik, dan lain-lain yang belakangan ini sering diangkat di media massa. Meskipun situs jejaring sosial menawarkan kemudahan dalam akses yang tidak terbatas jarak, proses sosialisasi yang intens antarindividu merupakan unsur yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
    Dari uraian di atas dapat dibaca bahwa dunia maya dalam manfaat dan resiko bahayanya berdiri bagai dua sisi mata uang. Di satu sisi, internet merupakan sebuah produk teknologi yang terus berevolusi menyempurnakan diri dengan tujuan mengoptimalkan kemudahan dan nilai guna yang dapat diperoleh penggunanya. Namun, semuanya itu tidak lepas dari potensi bahaya yang menjadi ancaman bagi para pengguna itu sendiri. Salah satu jalan yang dapat ditempuh untuk meminimalisir dampak buruk aktivitas di dunia maya adalah pemanfaatan secara bijak oleh para penggunanya. Mengatur intensitas akses ke dunia maya dengan meletakkan prioritas pada berbagai keperluan diharapkan akan membantu menghindarkan pengguna internet dari kecenderungan-kecenderungan yang dijabarkan sebelumnya. Selain itu, juga diperlukan kemampuan untuk memilah informasi yang diakses lewat dunia maya menjadi bagian yang patut atau perlu diketahui dan sebaliknya. (Maria Puspitasari Munthe)



Tulisan ini adalah versi asli dari penulis sebelum diedit oleh pemimpin redaksi SCRIPTURA  terbitan LPM natas edisi Expo Insadha 2010.

Minggu, 01 Agustus 2010

ironi

ini hanya sebuah malam. ketika hartaku dibawa seseorang tanpa pemberitahuan, ketika aku bertahan hidup dari tangan orang lain. aku memutuskan untuk keluar sejenak dari jenuhnya rute yang kulalui setiap hari, menghirup udara dingin malam yang begitu menusuk dadaku dan tenggorokanku yang tengah terbatuk...

tapi, malam ini, ada ironi...
kasat mata namun, tak banyak yang menyadarinya...
ironi di kota ini...


bulan sedang separuh, kuning menyala
sayang, tak banyak yang tahu akan hal ini,
takjubku hanya sekejap, lenyap berganti prihatin
mengapa tak ada yang memandanginya layaknya aku memandanginya?
hanya di sebelahnya, sinar lain berpijar di langit yang sama
beragam warna meledak sambil mengepulkan asap
mengapa ia begitu riuh?
sementara keindahan yang teduh sang bulan kalah
ini ironi


euforia
aku membaui euforia di bawah sini
ketika bass drum menghentak diiringi distorsi senar
ketika semua kepala mengangguk menggila
ketika keringat menciprati sesamanya
ketika alkohol menyusupi akal sehat dan memaksa mereka berjalan linglung
ketika tubuh meliuk dan bergerak lepas kendali
dan debu mengepul ke udara, karena kaki yang tak habis menggesek tanah...

di belakangnya, hanya di belakangnya
bangunan lambang kemegahan masa lampau berdiam tenang
dalam kegelapannya yang menimbulkan penasaran
sebuah simbol feodalisme yang kini kerap dipertanyakan
hening, entah maksudnya apa
ini juga ironi


di tengah kerumunan dalam balutan euforia ini
seorang ibu tua, menggenggam ujung karung di belakang punggungnya
wajahnya menoleh kian kemari meneliti mencari sampah
tak kah kau sadar ibu, di sekitarmu mereka menari lupa diri?
tak kah kau sadar ibu, keringatmu sehari berjalan kalah basah oleh keringat mereka yang sekejap berjoget?
sang ibu mengais rezeki dalam kepulan debu
tak sadarkah kau ibu, ini sudah tengah malam?
ini pun ironi

entahlah, ini hanya tentang keindahan bulan yang terabaikan
ledakan kembang api bertabrakan
keheningan kediaman sang sultan
gelora euforia wajar yang membutakan
dan sang ibu di tengah kerumunan
aku hanya mau bilang itu

sudahlah, ini ironi.

tentang malam terakhir di bulan Juli tahun ini