Minggu, 03 Mei 2015

Gendot

Jarak adalah yang kerap kali kusesali dalam rindu yang menyesakkan. Namun, dari jaraklah aku belajar mencintai. Pun aku belajar menghitung waktu, memutar balik ingatan tentang yang sudah mereka dan aku berikan, menghargai kehadiran mereka di tiap hariku, memikirkan hari depan bersama mereka, dan akhirnya belajar menjaga dan merawat mereka.


Aku punya beberapa teman. Dua di antaranya gendut. Mereka pun menyadari kondisi fisik itu. Tak pelak, mereka pun saling memanggil satu sama lain “Gendot”. Oh ya, nama mereka Anik dan Febi. Ketika pertama kali mengenal mereka, aku sudah melihat mereka bersama. Saat itu, aku sempat takut untuk kenal mereka lantaran mereka tampak gaul sementara aku tidak. Beberapa tahun sesudahnya, mereka pun mengaku padaku bahwa mereka juga sempat takut ketika melihatku pertama kali, dikira preman. Duh.

Dan… jadi kira-kira sudah enam tahun kami saling mengenal. Jika ditanya apa yang terlintas di kepalaku pertama kali jika nama mereka disebut, aku akan menjawab, “Seksi konsumsi.” Di bidang itulah mereka punya keajaiban yang tak terjawab dan tak tertandingi hingga hari ini. Febi dan Anik (dan Lolo yang tidak gendut) pernah memasang wajah panik sembari bicara padaku bahwa kami tak lagi punya stok makanan untuk melalui malam berbadai di sebuah bumi perkemahan di Kulonprogo sana, padahal ada sekitar 150-an perut yang rentan masuk angin. Aku mencoba tidak panik, tapi nyatanya memang usaha itu sia-sia. Kutemukan dua kardus arem-arem dan dua kardus nasi bungkus di kerumunan orang-orang yang rawan masuk angin itu. Ketika kutanyakan kepada Febi dan Anik (dan Lolo yang tidak gendut) mengenai kemunculan tiba-tiba arem-arem dan nasi bungkus itu, mereka menanggapi, “Iya, Pit. Kita cuma punya itu.” Biar kekinian: (((cuma))). Mungkin standar kami soal “tak punya stok makanan” itu berbeda. Nyatanya, tak pernah ada yang kelaparan selama dua gendot itu memegang tampuk kekuasaan seksi konsumsi. Tak pernah kelaparan, selalu ada kudapan tambahan, dan uang anggaran yang bersisa. Ajaib dan tak terjelaskan. Kalau ada yang bisa menjelaskan, mending tidak usah saja. Biar aku tetap percaya mereka ajaib.

Dengan karier yang gemilang di bidang konsumsi, dua gendot itu tak lantas tak berani mencoba tantangan yang lain. Febi ialah mitra permanenku jika kami harus mengurusi pertunjukan hajatan kami sendiri. Selain itu, dia juga jadi mitra permanenku untuk latihan olah tubuh gara-gara berat badan kami yang saling mendekati (ujung batas angka timbangan). Entah bagaimana caranya, kami berdua selalu berhasil saling menjerumuskan untuk menduduki posisi yang itu-itu lagi. Febi selamanya adalah pimpinan proyek terbaik dalam hidupku. Hahaha. Berlebihan sedikit, biar dia senang. Jika tekanan dalam garapan itu sudah mencapai puncaknya, tidak ada lagi yang bisa menolong Febi memperbaiki penampilannya. Ia akan tidak peduli bahwa celananya sudah sobek di sana-sini lantaran tubuhnya mekar, ikat rambutnya sudah meluncur sampai menjelang ujung rambut, wajahnya kumal, bulu ketiaknya mencuat ke sana kemari, ah, banyaklah pokoknya. Febi tidak akan peduli. Jika teman-teman menghinanya soal itu, dia hanya akan tertawa, tak peduli pokoknya.

Anik? Dia melebarkan sayap cukup luas sebenarnya. Meski ia tak pernah pindah dari lahan konsumsi, Anik mulai belajar jadi aktor. Aku tak akan pernah lupa dua penampilannya yang gemilang dan memukau penonton. Penampilannya sebagai aktor untuk yang pertama kali dilaluinya dalam kesesakan. Ya, semua kostum yang berhasil dipinjam tim untuk dikenakan Anik ukurannya selalu beberapa nomor di bawah ukuran tubuhnya. Nah, kuberi tahu sesuatu yang jadi rahasia umum: Anik punya punuk. Penampilannya kali itu membuat punuknya makin terpapar perhatian. Mumpung tokoh yang diperankan Anik dalam pertunjukan itu belum bernama, oleh sutradara tokoh ini diberi nama Camelia (dengan kata dasar “camel”). Nama itu langsung disepakati secara aklamasi. Hanya Anik yang bersikeras menggantinya, ia ingin bernama “Angelique”. Nama itu pun langsung ditolak secara aklamasi.

Penampilan kedua Anik di atas panggung sandiwara jauuuuuuh lebih di luar dugaan. Saat itu ia harus memerankan tokoh orang kulit hitam berusia dua puluhan. Entah mengapa, tim penata rias selalu kesulitan ketika harus mendandani Anik jadi hitam. Riasan tidak bisa menempel rata di wajahnya. Alhasil, ada bagian yang lebih hitam, sementara bagian lain masih kecokelatan. Anik bagai habis kejeblukan sesuatu. Nah, berbeda dengan penampilan pertama, kali ini Anik muncul dalam pakaian yang tidak sesak, malah cenderung kedodoran. Aku sampai tak habis pikir bagaimana ia dan tim penata busana bisa sepakat untuk membiarkan Anik mengenakan kostumnya kali itu. Kalau kamu kesulitan membayangkannya, nanti kuberikan fotonya di akhir tulisan ini.

Jadi, mengapa membahas Anik dan Febi? Hehehe. Ya, kalian tahu sendirilah alasannya. Tanggal 4 Mei 2015 pagi, mereka akan lepas landas menuju belahan dunia yang lain. Merajut cerita hidup lainnya. Ke negeri yang jauh sekali dari Yogyakarta. Dan untuk waktu yang tak singkat pula, satu tahun. Aku merasa tak perlu cemas, sebab Anik sudah kondang sebagai praktisi LDR dan Febi adalah penasihatnya. Maka, jarak yang lebih jauh ini akan mengantar mereka naik ke tingkat yang lebih tinggi dalam bidang LDR. Kali ini, tidak hanya LDR sama kekasih, tapi juga sama bapak, ibu, kakak, adik, teman-teman, rumah, penjaja siomay langganan, dan banyak lagi.

Apa yang akan kurindukan dari Anik dan Febi? Yang jelas: kehangatan. Mereka berdua adalah teman yang amat hangat, entah ketika memeluk maupun tidak. Kami pernah melalui masa bertemu setiap harinya, bahkan sampai berhari-hari hanya menghadapi wajah mereka melulu dan tidak bertemu dengan keluarga. Di saat yang lain juga kami pernah tak saling bersua hingga berminggu-minggu. Namun, kehangatan mereka tak pernah berkurang. Justru, semakin lama tak bertemu, semakin hangat mereka memeluk ketika akhirnya tiba waktunya untuk bertatap muka dan bertukar pelukan. Mereka juga bukan teman yang selalu lembut, hahaha. Sudah beberapa kali kami mengobrol sembari diiringi tatapan mata orang di sekitar yang keheranan, mengira itu arisan preman. Namun, di saat yang lain, Anik dan Febi bisa membuatku amat menye-menye karena pernyataan cinta yang tak diduga.

Anik dan Febi adalah teman-temanku bertumbuh menghadapi waktu-waktu yang tak ramah yang mengantarkan kami beranjak ke jenjang hidup yang selanjutnya. Teman-teman untuk berbagi hal yang kami sendiri belum bisa jelaskan mengapa terasa demikian. Teman menggerutu atas sekian banyak hal yang amat membingungkan belakangan ini. Teman menertawakan kedunguan diri kami sendiri dan kekacauan hidup yang embuh kenapa bisa begitu. Pertemanan dengan merekalah yang mengajariku bahwa kita selalu bisa memilih untuk bersikap hangat meski diterpa kebingungan, ditimpa kesesakan, dihajar kelelahan, dan bahkan diliputi kemarahan. Tak lain karena di mataku, Anik dan Febi adalah dua gendot yang tampaknya tak punya udel. Tak ada lelahnya mereka itu. Seliweran ke sana kemari melintasi beberapa kabupaten dalam satu hari, memenuhi janji dengan si itu dan si ini, makan segala macam kudapan dalam satu waktu (hahahahaha), namun tak pernah lupa tertawa dan membuat orang-orang yang ditemuinya bahagia pula.

Perjalanan mereka menyeberang ke benua lain ini kuyakini akan jadi kisah hidup yang indah buat mereka. Bukan berarti segalanya akan mudah. Jelas tidak pernah mudah. Pindah ke rumah lain yang jaraknya begitu jauh dari orang-orang yang dicintai akan menimbulkan perasaan yang amat kecu. Hahaha. Dan “rindu” itu juga bukan hal yang mudah diselesaikan. Perasaan yang satu itu bisa mengobrak-abrik segalanya dalam waktu singkat. Namun, bukan berarti tidak bisa diurusi. Nik, Feb, percayalah, kalau kalian di sana rindu, kami di sini setiap hari juga rindu sama kalian.

Meski langit yang kita pandangi sama (tsaaah), tidak usah membohongi diri, kita sedang tidak sama-sama, mau bertemu pun susah. Kalau kalian sedang selo sore-sore di sana dan ingin iseng telepon keluarga di Yogyakarta, belum tentu keluarga di sini betah melek larut malam untuk menjawab telepon kalian. 

HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA. Bukan jahat, ini cuma tidak mau sekadar ngeyem-yemi ati. Jaraknya memang jauh, komunikasi bisa jadi tidak begitu mudah, tapi semoga kalian yang di sana dan kami yang di sini semuanya mau bersabar dan berusaha tetap menyediakan waktu untuk melepas rindu.

Hati-hati di perjalanan kalian, ya. Tetaplah menjaga satu sama lain. Kalian tidak perlu saling dititipkan dengan kalimat semacam, “Nik, titip Febi, ya” atau “Feb, titip Anik, ya”. Kalian kan bukan kantong plastik yang harus dititipkan kalau mau masuk supermarket. Kalian masing-masing adalah pribadi yang bisa jaga diri. Gentho, je. Jangan syedih-syedih, ini perjalanan yang kalian pilih, jadi berbahagialah!


Porter   : Whatever happened, don’t you fret none. Life is too short. 
Mama  : Oh, I’m gonna fret plenty! Do you know what I wrote to Florence? 
Porter   : No, Ma’am. You don’t have to tell me. 
Mama  : I said, “Keep trying.”


Marge "Anik" Whitney
Iya, ini Febi. Dia mah gitu orangnya.

Wajah blong harian


You both are always our gendots, our beloved gendots! :* <3 o:p="">