Jumat, 21 Februari 2014

Huck Tengil

“NOTICE: PERSONS attempting to find a motive in this narrative will be prosecuted; persons attempting to find a moral in it will be banished; persons attempting to find a plot in it will be shot. –BY ORDER OF THE AUTHOR, Per G.G., Chief of Ordnance”

(“CATATAN: SIAPAPUN yang berusaha mencari motif dalam cerita ini akan dihukum; yang berusaha mencari pesan moralnya akan dikucilkan; yang berusaha menganalisis alurnya akan ditembak. -
ATAS PERINTAH PENULIS”)


Gambar diambil dari psychgames.weebly.com

Berkaitan dengan tulisan ini, semacamnya saya akan dilaporkan ke meja hukum setelah ini. Tapi apa daya, saya benar-benar ingin bercerita tentang “narrative” yang tidak boleh diapa-apakan tersebut meski mungkin cerita saya ini tidak ada apa-apanya. Saya abaikan sebentar saja larangan keras dari penulisnya itu.

Nah, kalimat-kalimat di atas tercantum di halaman dalam persis setelah judul di buku The Adventures of Huckleberry Finn. Satu-satunya alasan saya bersikeras baca buku ini adalah iri hati saya pada tokoh Huck dengan segala ketengilannya. Tadinya, ia adalah salah satu tokoh dalam buku tulisan Mark Twain lainnya berjudul The Adventures of Tom Sawyer di mana Huck ialah seorang kamerad setia Tom Sawyer. Seingat saya, buku itu sudah pernah saya baca dan sejak saat itu saya penasaran pada tokoh Huckleberry Finn. Seorang individu yang jadi idaman saya.

The Adventures of Huckleberry Finn tentunya berisi rangkaian petualangan Huck (Tom Sawyer tetap muncul di bagian awal dan menjelang akhir buku) sendiri. Hal yang membuat saya gemas pada Huck adalah ketidak khawatirannya pada banyak hal. Di beberapa kesempatan tentunya ia tetap merasa was-was mengingat ia membawa lari seorang budak kulit hitam yang dulunya bekerja di rumah bibinya, Jim, tanpa sepengetahuan siapa pun. Akan tetapi, semua hal yang terjadi di sungai yang dia arungi, di rumah kosong yang ia temukan, di hutan tempat perang saudara antarkampung, di mana pun, ia jalani begitu saja. Ia seakan-akan tidak khawatir besok makan apa atau jika terjadi badai mereka akan selamat atau tidak. Catat kata saya, ‘seakan-akan’.

Huck awalnya dirawat oleh salah seorang yang kemudian ia panggil bibi karena ayahnya, oleh pengadilan, dianggap tidak mampu dan tidak layak mengurus anak. Oleh bibinya, Huck dibawa ke pertemuan sekolah minggu, tapi Huck tetap mencuri. Huck diajari tata krama, tapi Huck tetap bikin geng bersama Tom. Kata benak saya, “Ini bocah merdeka.”

Ada sebuah kalimat Huck (yang sekaligus narator dalam cerita itu) yang langsung membuat saya tertawa terpingkal-pingkal untuk pertama kalinya begitu membaca buku ini. Kalimat itu tertera di bagian sangat awal dari bukunya. Begini bunyinya, “That is just the way with some people. They get down on a thing when they don’t know nothing about it” (“Begitulah kebanyakan orang-orang. Mereka sering menganggap remeh hal-hal yang bahkan mereka tidak tahu sama sekali”). Kalau saya ada di sisi Huck waktu dia bilang begitu, pasti saya akan menyahut, “Ciieee…”

Huck, oleh lingkungannya, dianggap sebagai bocah mbeling yang tidak habis-habisnya bikin masalah. Tapi, itu agak terkendali sejak Huck tinggal bersama bibi asuhnya. Menariknya, Huck bukanlah anak yang bertingkah nakal karena ingin mencari perhatian (seperti yang banyak dilakukan anak-anak lainnya). Huck tidak butuh jadi terkenal karena kebebasannya berlari ke sana-ke mari dan lain sebagainya. Huck hanya tidak betah bertingkah dalam keteraturan. Wajar saja, sebelumnya Huck hidup dengan dirinya sendiri, sekali waktu dengan ayahnya yang tukang mabuk itu. Huck melakukan semuanya itu semata-mata untuk bertahan hidup. Untuk merasa hidup.

Pola itu tergambar jelas ketika Huck dan Tom menjelang akhir cerita hendak menyelamatkan Jim yang ditawan oleh keluarga Phelps karena diduga sebagai budak pelarian. Tom Sawyer bersikeras menyusun rencana agar Jim dapat kabur dari tahanan itu dengan terkenal dan penuh kehormatan. Tom sibuk memaksakan agar penggalian terowongan menuju dan keluar dari rumah tahanan Jim tidak dilakukan dengan sekop, melainkan dengan pisau kecil. Itu akan makan waktu kurang lebih sekian tahun. Biar dramatis, begitu pembelaan Tom. Jim juga harus menuliskan catatan harian yang kadang pilu namun tetap penuh dengan semangat pembebasan layaknya tahanan-tahanan lainnya yang terkenal sesudahnya. Akan tetapi, Huck tidak paham kegunaan semua itu. Satu-satunya hal yang ia mengerti adalah ia harus menyelamatkan Jim sesegera mungkin karena ia menyayangi Jim dan Jim tidak bersalah. Ia sudah mencoba protes pada Tom atas rumitnya teknis pembebasan Jim namun, Tom keras kepala. Huck terbiasa percaya bahwa Tom Sawyer itu manusia terdidik yang bisa menemukan cara lebih baik dalam melakukan segala hal. Maka ia manut. Tapi, Tom ingin membuatnya berkesan sementara Huck hanya ingin Jim kembali. Hanya itu.

Hal lain yang menakjubkan dari diri Huck adalah kefasihannya berbohong pada siapa pun. Ia jarang sekali gugup dalam mengarang cerita. Kisah-kisah karangannya mengalir begitu saja ketika ditanyai orang mengenai dari mana ia berasal, mau apa ia datang ke sana, mengapa ia memegang benda-benda yang sepertinya bukan miliknya. Huck dengan percaya diri menyusun kebohongan demi kebohongan. Geli sekali saya membaca cerita-cerita bohong itu. Jarang sekali ia ketahuan berbohong. Nah, sepertinya kebohongan memang atribut khusus Huck. Di paragraf pertama ceritanya, ia berkata demikian,

You don’t know about me, without you have read a book by the name of The Adventures of Tom Sawyer; but that ain’t no matter. That book was made by Mr. Mark Twain, and he told the truth, mainly. There was things which he stretched, but mainly told the truth.

(Kamu pasti tidak kenal aku jika belum pernah membaca sebuah buku berjudul The Adventures of Tom Sawyer—Petualangan Tom Sawyer—; tapi tidak apa-apa. Buku itu ditulis oleh Mark Twain, dan dia bercerita dengan jujur, yah sebagian besar begitu. Ada beberapa hal yang memang dia lebih-lebihkan, tapi sebagian besar dia jujur.)
Seakan-akan di buku tentang Huck, Mark Twain lebih banyak bercerita yang bohong ketimbang yang jujur. Kedekatannya dengan Mark Twain membuat dia berani bicara bahwa ada banyak hal bohong yang dituliskan oleh Mark Twain. Hahaha…

Huck, yang pada kebanyakan waktu hidup dengan dirinya sendiri, adalah pribadi yang realistis. Sesuatu yang ia hadapi selalu adalah realitas. Ia jarang berlarut-larut dalam imajinasi. Justru dalam kebohongan-kebohongan yang sering ia ciptakan itu, ia belajar tentang kejujuran. Huck tahu cukup baik hal-hal yang benar terjadi dan meski berusaha diubah banyak orang untuk jadi lebih baik tetap saja hal-hal tersebut tidak berkutik.

That’s just they way: a person does a low down thing, and then he don’t want to take no consequences of it” (“Memang begitu: orang melakukan perbuatan buruk, lalu mereka tidak mau menerima konsekuensinya”). Nah lho. Huck sudah berhadapan dengan beragam jenis orang mulai dari keluarga terhormat sampai bajingan tengik. Ia mengenal manusia-manusia ini dan kecenderungan-kecendungan mereka. Suatu kali pun ia pernah dengan rendah hati bernarasi, “But that’s always the way; it don’t make no difference whether you do right or wrong, a person’s conscience ain’t got no sense, and just goes for him anyway” (“Selalu begitu: tidak ada bedanya bertindak benar atau salah, hati nurani seseorang itu tidak berpengaruh dalam menilai orang lain, hanya berlaku buat dirinya sendiri”). Huck jelas tidak teledor, ia memperhatikan sungguh-sungguh orang-orang yang berinteraksi dengannya.

Terlepas dari tindakan-tindakan tengil Huck, ia selalu bisa menimbang sejauh mana ia tega melakukan hal-hal itu pada orang-orang yang ia temui. Suatu ketika ia dan dua orang penipu yang menemani perjalanannya tinggal di sebuah rumah bangsawan yang pemiliknya baru saja meninggal. Dua penipu itu mengaku sebagai saudara si bangsawan (Huck diberi identitas palsu sebagai pelayan mereka berdua) agar dapat merampok warisan melimpah. Huck tadinya hanya akan diam saja melihat tindak-tanduk dua penipu itu namun, pada akhirnya Huck tidak tega dan merasa berhutang budi pada putri bangsawan itu. Huck akhirnya membeberkan penipuan kedua rekannya dan mengatur rencana agar uang warisan itu dapat kembali ke tangan pewaris sahnya. Ia berhasil dan dikenang si gadis putri bangsawan sebagai seorang penyelamat.

Huck selalu membuat saya iri terutama karena kemerdekaannya sebagai bocah. Dia sudah sangat menarik dengan semua ketengilannya yang justru amat jujur. Huck tidak pernah cari perhatian. Ia hanya ingin hidup tenang dengan orang-orang yang bisa menerima dia dan segenap gaya hidupnya. Ia mencari makan ketika lapar; ia kabur ketika dikejar penjahat; ia menyelamatkan orang yang tidak bersalah; ia menjaga dirinya dengan baik.


So, Huck, as I have known you a little bit more, I will not get down on you and people like you. :)

Kamis, 13 Februari 2014

Boys








Time flies. We grow, not go. Life is what lies ahead. But, home is where we always belong.


to boys
although they are not before flowers, they are lovely

Rabu, 05 Februari 2014

Ordinary and Safe

“Rosemary          : What’s the matter by being ordinary and safe?” –Doris Lessing

Saya petikkan kalimat itu dari sebuah naskah drama yang ditulis oleh Doris Lessing berjudul Each His Own Wilderness. Doris Lessing ialah seorang penulis asal Inggris yang cukup kondang. Saya sedang menonton gladi sebuah pentas drama yang dibuat teman-teman sebagai ujian akhir mata kuliah Staged Performance ketika kalimat itu saya dengar. Saya terkikik dalam hati.
                
Dalam naskah itu, kalimat tokoh Rosemary di atas disebutkan setelah terjadi sebuah konflik antara dirinya, Tony Bolton (seorang pemuda yang baru saja menghabiskan masa wajib militernya), dan Myra Bolton (ibu Tony, seorang aktivis dan demonstran yang flamboyan). Myra menentang Rosemary dan Tony yang menganggap tindakan Myra turun ke jalan untuk demonstrasi itu omong kosong. Salah satu adegan sebelumnya menampilkan Tony yang dengan sinis menyindir ibunya yang melakukan aksi massa untuk memperjuangkan pengentasan kemiskinan dengan bertanya, “Have you seen the poverty? I mean, the real one.” Dalam Bahasa Indonesia kurang lebih berbunyi, “Pernahkah Ibu melihat kemiskinan? Yang nyata.” Ibunya hanya diam. Jelas saja Tony bertanya demikian, ibunya hendak berangkat ke demonstrasi dengan mengenakan seperangkat busana mewah dan rapi.
                
Di bagian akhir drama, Myra begitu marah dengan pilihan Tony dan dukungan Rosemary untuk berdiam diri saja di rumah mengurusi kehidupan mereka supaya tenang. Myra menuduh mereka ingin menikmati revolusi yang diperjuangkan orang-orang di luar sana, namun dari tempat yang aman. Itulah alasan Rosemary mempertanyakan mengapa rupanya jika hidup aman dan biasa-biasa saja.
                
Nah, ingatan tentang drama ini membawa saya pada kondisi yang tengah saya pikirkan sekarang. Pernahkah kamu merasa kebingungan ketika harus mengambil keputusan untuk menyudahi atau mempertahankan sesuatu? Kondisinya, hal itu sudah patut disudahi karena tidak lagi memberikan manfaat apa pun. Jika dipertahankan, hanya akan ada segelintir orang yang harus mati-matian memelihara kehidupannya yang sudah hampir tanpa napas. Dalam kekalutan itu tetap ada usaha untuk berpikir jernih, yakni dengan memerinci hal-hal yang akan jadi bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan.
                
Jika berusaha jadi optimis, bisa jadi keputusan untuk mempertahankanlah yang diambil. Mungkin keputusan ini juga akan dibela dengan keyakinan bahwa manusia itu berubah. Sayang sekali jika ternyata kesempatan untuk berubah dan memperbaiki keadaan itu malah ditutup. Romantisisme masa lalu juga jadi halangan yang cukup berat untuk menyudahinya. Kebanggaan atas kemenangan dan kejayaan tidak akan dengan mudah lepas dari ingatan. Belum lagi jika itu semua dicapai lewat berbagai kekalahan, lelah, sakit, dan cerita-cerita sumbang dari orang-orang. Dramatis. Setelah semuanya itu, bagaimana mungkin bisa disudahi begitu saja? Selain itu semua, tidak ketinggalan pula cita-cita luhur dan mulia (jangan sebut ini gombal karena memang ada yang dengan tulus berpikir demikian) untuk berusaha jadi berguna buat kehidupan orang lain. Benar-benar tega menyudahinya?
                
Nah, ternyata semua alasan untuk mempertahankan itu adalah juga alasan untuk menyudahi. Iya, manusia memang berubah. Berubah jadi apa dan bagaimana, tidak ada yang bisa memastikan bukan?  Kalau kondisinya sudah begini buruk, adakah yang dapat menjamin bahwa manusia tidak akan justru jadi lebih buruk lagi? Masa lalu yang romantis itu juga adalah bayang-bayang yang malah menguntit dan membuat manusianya ketakutan sendiri. Segala macam dramatisasi cerita lampau itu hanyalah tanggungan yang dijamin berat untuk dipanggul. Itu kan masa lalu, coba saja rasakan kondisinya sekarang. Bisa apa? Tentang cita-cita mulia itu, keinginan muluk yang tidak perlu dibesar-besarkan. Lebih baik disudahi, bukan?
                
Pikiran macam itulah yang berseliweran di otak saya tiap kali saya berusaha mengambil sikap atas kondisi ini. Itu belum semua, masih ada beberapa pendapat dari orang lain yang saling bertentangan. Ada yang bilang bahwa satu-satunya cara menuntaskan kebobrokan ini adalah dengan menghancurkan bentuknya sekarang. Sehabis-habisnya. Jangan ada sisanya. Biar nanti dimulai lagi dari awal tanpa dendam dan pengaruh masa lalunya. Tapi pikir saya, apa iya tidak akan ada sisanya? Memangnya ada hal yang tidak dapat pengaruh dari mana pun? Pendapat lainnya menuturkan kekhawatiran yang lebih mengerikan: jika ini disudahi, siapa yang mau memulai lagi? Tapi pikir saya, bukankah demikian siklusnya: sesuatu yang dimulai suatu saat akan berakhir, maka sesuatu yang baru dapat dimulai lagi.
                
Sampai di titik ini, saya teringat pada kalimat yang diucapkan Rosemary dalam drama yang saya jabarkan singkat di awal. Banyak manusia yang mendambakan kehidupan yang aman dan tenang. Ordinary and safe. Mereka mungkin ingin hidup dengan alur yang biasa-biasa saja tanpa perlu terlalu banyak mempertaruhkan batang leher mereka untuk dapat makan hari ini. Hidup bersisian dengan mereka sebagian lainnya yang terus bergejolak dan berontak. Orang-orang ini menilai bahwa keadaan saat ini parah dan busuk sehingga perlu dilakukan perubahan besar-besaran supaya semua manusia bisa hidup sejahtera. Di antara mereka juga tumbuh orang-orang yang percaya pada keniscayaan. Niscaya semua hal (yang dianggap) buruk itu akan terjadi sebagai suksesi. Maka, niscaya akan lahir hal lain yang bisa jadi lebih baik.
                
Apa urusannya semua ini dengan kondisi membingungkan yang saya alami tadi? Saya sepakat dengan keniscayaan macam itu, bahwa kadang memang dibutuhkan kehancuran untuk memulai lagi sesuatu yang baru. Tapi, hal itu tidak akan pernah dengan serta merta terjadi tanpa campur tangan siapa pun, apa pun. Saya tidak masalah dengan pilihan untuk hidup ordinary and safe seperti yang diinginkan Rosemary dan Tony. Wajarlah jika manusia menginginkan itu mengingat sudah begini berat hal-hal yang harus mereka hadapi setiap harinya untuk tetap bertahan hidup. Sementara itu, saya juga belajar banyak dari mereka yang memilih mengusik sedikit (atau banyak) hidup mereka yang memang tidak pernah baik-baik saja untuk memperjuangkan sedikit (atau banyak) kesempatan untuk menghidupi sesuatu yang lebih baik. Jika tidak ada yang berani melakukannya, entah bagaimana sebagian manusia akan menjalani hidup yang manusiawi. Inilah yang membuat saya percaya bahwa keniscayaan yang saya sebutkan tadi tidaklah akan dapat terjadi apabila tidak ada manusia yang bergerak. Tidak ada manusia yang menghancurkan. Tidak ada manusia yang membangun kembali.
                
Saya percaya bahwa setiap manusia selalu punya kegelisahan yang baik disadari maupun tidak menggerakkan manusia itu untuk terus bergerak dan mencari. Saya tidak meragukan itu sama sekali. Jika demikian, mengapa saya begitu lamban dalam mengambil pilihan menyudahi atau mempertahankan? Bukankah pada akhirnya siapa pun yang menjalaninya akan turut merasa gelisah? Nah, inilah bagian yang selalu membuat saya berhenti karena benar-benar kehabisan keberanian. Iya, saya memang percaya bahwa kegelisahan itu selalu menghinggapi masing-masing manusia. Namun, hal yang membuat saya tidak berani taruhan adalah kemauan dan keberanian manusianya untuk menjawab kegelisahan itu. Siapa yang bisa menjamin hal semacam itu?
                
Inilah kekhawatiran yang saya pikirkan dalam hidup semacam ordinary and safe. Situasi tenang dan aman bisa jadi membuat manusia enggan untuk bergerak lagi. Manusia khawatir akan capek, jatuh, tersandung akar pohon, terbentur meja, kejatuhan tangga, lecet dan tergores, kehujanan, serta lainnya jika harus keluar lagi dari rumah yang tenang dan nyaman. Nah, apa jadinya jika ternyata kegelisahan dan jawabannya itu berada di luar rumah? Beranikah manusianya mengambil semua resiko sakit dan terluka itu deminya?
                
Sesuatu yang hanya terus-menerus membuntuti masa lalunya yang jaya tapi tak bisa berdamai secara rasional dengan kondisinya saat ini yang sudah tidak lagi sehat pastilah melelahkan untuk dihadapi. Ia sibuk bicara tentang masa lalu dan tidak mudah baginya untuk mendengarkan suara zamannya kini. Jelas saja banyak yang menganjurkan untuk menyingkirkan hal macam itu. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa sejarah hidupnya itu memberi pelajaran bagi mereka yang mengenalnya. Ketika inilah segelintir dari teman lama itu merasa berat hati jika harus merelakan ia diistirahatkan. Orang-orang ini keberatan bukan karena sirnanya jasad, melainkan hilangnya semangat. Mereka akan tetap bergairah menantikan sesuatu yang baru. Adakah yang mau dan berani memulainya?
                
Rosemary dan Tony dalam drama Each His Own Wilderness mungkin jengah dengan hiruk pikuk peperangan dan demonstrasi yang memenuhi hidup mereka setiap hari. Ditambah lagi mereka kecewa pada Myra yang terlibat dalam itu semua tapi sungguh tidak tahu apa-apa pada kenyataannya. Ya, terlibat tapi tidak tahu apa-apa. Lalu buat apa? Atau mungkin Myra memang tidak pernah ingin tahu apa-apa karena ia merasa hidupnya berkecukupan dan memungkinkan ia untuk jadi demonstran tanpa harus ikut jadi miskin? Lantas, siapa sebenarnya yang hidup ordinary and safe ? Tidakkah Myra juga merasa aman dengan kondisinya saat itu ?
                
Jadi, begitulah. Tulisan ini adalah jawaban saya untuk pertanyaan Rosemary. Masih adakah keberanian manusia untuk menjawab kegelisahannya? That is the matter by being ordinary and safe.




sangat kontekstual meski tidak disebutkan konteksnya
Jogja, penghujung bulan kesayangan