Minggu, 22 Januari 2012

mudah-mudahan masih bernama sama


Aku menyebutnya pengabdian,
apa yang berbinar di mata ibuku ketika memandikanku,
apa yang berlonjakan di mata bapakku ketika mengantarkanku ke sekolah pertamaku,
yang menghembus dari knalpot vespa tua keluarga,
yang tipis tapi sangat berarti di balik amplop gaji sebulan sekali,
yang berbisik doa di balik tirai-tirai kamar.

Aku menyebutnya pengabdian,
apa yang mengibaskan kapur dari seragam bapak dan ibu guruku dulu,
apa yang menyembul dari angka warna-warni di buku rapot,
yang mengeja not dan menyanyikan lirik lagu wajib,
yang menggebuk jemari ketika lalai merampungkan pr,
yang tersungging dari senyum bapak ibu guru ketika siswa bandelnya pada jadi bujangan.

Aku masih menyebutnya pengabdian,
apa yang dipanggul ibu tua menuju lautan barang rongsok,
tanah yang dicangkul, benih yang disemai, jagung yang dituai,
yang tersangkut di jala yang ditebar sepanjang malam berbadai.

Aku masih selalu menyebutnya pengabdian,
papan tulis yang tersembunyi di balik belukar dan rimba bernyamuk ganas,
yang menanam tunas kecil di tanah negeri yang konon dapat menumbuhkan tongkat kayu ini,
yang tak pernah menari di panggung meriah penuh umbul-umbul,
yang tak pernah jadi nyata di gedung besar tempat memikirkan nasib bangsa ini,
yang menguap dari udara,
yang suatu hari nanti…tunggu suatu hari nanti.

Kamis, 12 Januari 2012

Senyum-Mata, Layang-layang, dan Balon Api


Beruntunglah saya dan teman-teman seusia saya bahwa kami menjadi anak-anak di masa belasan tahun yang silam. Ketika itu kami masih bisa bergembira ria dengan mendengarkan lagu-lagu ceria maupun mengharukan dari si penyanyi ini, dan itu, dan ini, dan itu… Mereka kerap disebut penyanyi cilik. Dulu saya akan melonjak gembira ketika dihadiahi kaset Sherina dan Tasya misalnya (meski saya juga tidak akan pernah menolak untuk bersorak demi kaset Backstreet Boys dan Sheila On 7). Kini, lagu anak-anak terlanjur menghilang dari jagad musik negeri saya tercinta ini. Beberapa tahun belakangan sempat ada yang mencoba dengan ‘Tikus Makan Sabun’-nya. Akan tetapi, nampaknya kebiasaan tikus menelan sabun ini kurang cukup menarik untuk pasar anak-anak pada masanya. Herannya, tak satu pun penyanyi cilik muncul. Semuanya hilang tanpa bekas dan tidak tumbuh lagi. Hebatnya.

Sudahlah, saya sendiri tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengembalikan generasi penyanyi cilik dan lagu untuk anak-anak. Meski demikian, ada satu hal yang saya harap tidak akan turut raib dari dunia sekitar saya tak peduli saya beranjak tua sampai usia berapa pun, yaitu buku cerita anak-anak. Sebabnya, saya sangat menikmati cerita-cerita yang ringan dan menyenangkan itu. Saya menyukai ilustrasi dan gambar yang lucu di dalamnya. Saya mencintai kisah-kisah anak-anak yang mencapai ini dan itu atau menghadapi konflik ini dan itu. Saya sungguh-sungguh sadar bahwa buku cerita orang dewasa terkadang melelahkan meski menarik. Maka, buku cerita anak-anak adalah bahan untuk istirahat yang menyenangkan.

Saya baru saja membaca sebuah buku cerita anak-anak, salah satu karya Roald Dahl. Saya begitu gembira mampu mengantongi buku itu pulang hanya dengan harga Rp10.000,00 dari Gramedia. Gramedia, sodara-sodara! Rp10.000,00 adalah angka yang begitu menyenangkan untuk buku ini sementara saya masih bermimpi membeli buku tentang Tyranosaurus Rex untuk anak-anak berisi sekitar hanya 20 halaman dengan harga Rp20.000,00. Sudahlah, suatu hari saya akan membelinya. Kembali ke buku yang saya baca. Kali ini saya membaca salah satu cerita berjudul Danny the Champion of The World, atau dalam terjemahan Bahasa Indonesianya Danny Si Juara Dunia.



Kesenangan membaca buku cerita anak-anak, menurut saya, adalah adanya ruang yang lebih leluasa untuk menerima beberapa imajinasi untuk terjadi dalam cerita. Ruang ini dalam cerita orang dewasa sering kali dibatasi. Konflik yang dihadirkan sebenarnya cukup ringan, akan tetapi (salah satu bagian menyenangkannya) penulis mampu menguntainya dalam kata-kata yang  tetap membuat  saya berdebar menanti cerita petualangan itu berlanjut. Kisahnya tentang seorang anak laki-laki bernama Danny dengan ayahnya yang super duper asik. Mereka pergi berburu burung pegar di hutan milik seorang saudagar kaya yang pelit dan sombong. Menyenangkan sekali.

Paragraf favorit saya di buku ini muncul di bagian awal dan membuat saya tersenyum girang karena mengingat sesuatu. Dulu, saya pernah ditunjukkan foto seorang gadis oleh seorang teman laki-laki saya. Katanya, ia menyukai gadis ini. Saya berusaha agak lama untuk menemukan ketulusan dalam lengkungan senyum foto gadis ini. Tetap tidak bisa. Lantas, saya bilang pada teman saya bahwa gadis itu tak sungguh-sungguh tersenyum. Ia bertanya alasan saya bicara begitu. Saya lalu menutup foto bagian mulut hingga hanya tersisa bagian mata ke atas dan menjawab, “Senyumnya nggak sampai ke mata.” Sebenarnya, itu hanya pendapatku saja. Dari dulu aku selalu mencari tahun senyum seseorang lewat matanya. Teman saya itu mengajukan pembelaan bahwa gadis itu tetap cantik. Hahaha… Nah, kebetulan buku ini menuliskan sebuah paragraf tentang itu. Bagian favoritku itu ada di halaman 17:
                Aku sangat gembira Dad mempunyai mata yang tersenyum. Ini berarti Dad tidak pernah memberiku senyum pura-pura, karena tidak mungkin membuat matamu berbeinar jika kau tidak merasa riang dalam dirimu. Bibir yang tersenyum itu berbeda. Kau dapat memalsu senyum-bibir setiap saat, hanya dengan menggerakkan bibirmu. Aku juga belajar bahwa senyum-bibir yang sesungguhnya juga selalu disertai dengan senyum-mata, jadi berhati-hatilah jika seseorang tersenyum padamu dengan bibirnya tapi matanya tetap sama. Yakinlah itu palsu.
Saya sepakat sepenuhnya dengan Danny.

Hal lain yang membuat buku ini secara pribadi sangat menyenangkan buat saya adalah kisah-kisah awal Danny. Suatu sore ayahnya menyebutkan sebuah kalimat sakti yang sekitar 3-4 bulan yang lalu sangat kusukai: “Anginnya sedang bagus hari ini.” Jika mendengar kalimat ini beberapa bulan lalu, saya akan sangat gembira karena teman-teman akan kembali mewujudkan kemampuan masa kanak-kanaknya dengan tubuh yang beranjak seperti om-om itu. Kami akan sama-sama menikmati bermain layang-layang meski dengan benang seadanya hasil dari mengumpulkan uang receh bersama. Demikian pula dengan Ayah Danny. Ia membuatkan anak semata wayangnya sebuah layang-layang berwarna biru dan menerbangkannya. Layang-layang itu tidak turun dari langit hingga pagi berikutnya.

Satu lagi, masih soal mainan. Hari berikutnya Ayah Danny membuatkan sebuah benda menyenangkan yang juga sudah kuidam-idamkan sejak bermain layang-layang bersama teman-teman kuliah itu. Balon api. Seorang teman yang mirip tabib dari Cina pernah menjanjikan akan membuatkan benda itu dan menerbangkannya di malam hari. Namun, apa mau dikata, meski berbagai macam tawaran konstruksi dan bahan-bahannya sudah direncanakan hingga hari ini keinginan yang satu itu belum kesampaian. Saya berusaha keras menahan diri membaca cerita bahwa Danny dan ayahnya menerbangkan balon api itu ketika malam tiba. Saya hanya bisa gigit jari.

Oh ya, buku ini juga mencantumkan sebuah pesan menarik di halaman belakang lho. Begini bunyinya :
                PESAN Untuk Anak-Anak yang Telah Membaca Buku Ini
                Kalau kau sudah tumbuh dewasa dan punya anak, ingatlah hal yang penting ini. Orangtua yang kaku samasekali tidak menyenangkan. Yang diinginkan anak-anak dan layak mereka dapatkan adalah orangtua yang ASYIK.

Betapa menyenangkannya membaca buku ini. Sebuah istirahat menyenangkan dan pengalaman menakjubkan bertualang kembali ke ruang imajinasi yang luas. Itulah sebabnya saya sungguh-sungguh berharap kita semua tidak akan pernah membiarkan buku cerita anak-anak menghilang dari muka bumi. Selamat membaca semuanya!

Selasa, 10 Januari 2012

menjadi dewasa di negeri dongeng


Kurang lebih sejak dua tahun yang lalu, saya sering menulis ngalor-ngidul tentang kedewasaan, kekanak-kanakan, dan identitas yang bergejolak. Nah, dalam rangka kebingungan di penghujung tahun itu, saya sempat menaklukkan hati seorang teman lainnya supaya bukunya bisa saya pinjam selama liburan. Sampulnya identik dengan sampul buku-buku cerita anak-anak. Ketika membaca tulisan di sampul bagian belakangnya, saya langsung tertarik sebab buku itu disebutkan menceritakan tentang perjalanan menuju kedewasaan. Kedekatan tema buku itu dengan kegalauan yang tengah melanda saya kala itu menyebabkan saya penasaran. Beberapa hari yang lalu saya berhasil merampungkan buku berjudul The Book of Lost Things itu, atau dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Kitab Tentang yang Telah Hilang tulisan John Connolly.


Membaca bagian awal buku itu merupakan perjuangan berat karena saya berusaha betah membuka halaman demi halamannya seraya meyakinkan diri sekuat tenaga bahwa buku ini akan menarik. Saya hampir saja kehilangan minat baca. Buku ini memuat kisah hidup seorang bocah laki-laki bernama David, yang saya duga akan menjalani sebuah proses pendewasaan entah lewat cara apa. Ternyata eh ternyata, penulis buku ini berhasil membuat saya menyelesaikan bacaan ini dan memberikan komentar: unik.

The Book of Lost Things sekilas memang seperti sebuah buku dongeng untuk anak-anak. Tapi, jangan kaget ketika membalik sampul belakangnya dan menemukan tulisan ‘novel dewasa’ di sana. Sedikit tidak percaya, saya menemukan bahwa buku itu memang sesungguhnya ditujukan untuk orang dewasa. Tidak seperti novel dewasa lainnya, cerita dalam buku ini justru mengambil latar yang dekat dan identik sekali dengan dunia anak-anak, yaitu negeri dongeng. David, yang menjadi tokoh utama, dikisahkan sebagai anak laki-laki yang tengah beranjak dewasa dan harus berkutat dengan berbagai macam konflik dalam keluarga barunya, misalnya ketidaksukaannya pada ibu tirinya, perhatian ayahnya yang pelan-pelan memudar, serta kelahiran adik tirinya yang menurutnya merenggut segala kebahagiaan yang bisa dia dapatkan.

David ialah seorang anak laki-laki yang sangat gemar membaca. Ia menyukai buku-buku dongeng klasik dan hampir menghafalkan semua ceritanya. Singkat cerita, karena sebuah peristiwa ia jadi mampu mendengar buku-buku berbisik dan saling bicara satu sama lain. Awalnya memang terganggu, tapi lama kelamaan dia terbiasa dengan kemampuannya itu. Ternyata, kemampuannya itu berbuntut panjang. Seorang tokoh dalam cerita dongeng, si Lelaki Bungkuk, mendatanginya ke dunia nyata dan menggiringnya ke negeri dongeng. Di sanalah David memulai perjalanannya. Ia harus menghadapi berbagai macam halangan dan rintangan untuk dapat kembali pulang ke dunianya. Ia harus menemui sang Raja dan memintanya mencari dalam kitab kesayangan raja, Kitab Tentang yang Telah Hilang, cara untuk kembali ke dunia normal.

Perjalanan dan petualangan David di negeri dongeng memang seakan bagian klasik dari sebuah cerita anak-anak. Akan tetapi, detil-detil perjalanannya akan mengingatkan para pembaca pada hal-hal yang kerap ditemui seseorang dalam perjalanannya menuju kedewasaan. Poin yang menurut saya paling penting dalam cerita ini adalah menghadirkan kisah bahwa negeri dongeng sama sekali berbeda dengan yang ada di dalam bayangan anak-anak. Hal ini berkaitan dengan pengalaman hampir setiap orang yang beranjak dewasa bahwa kenyataan terasa makin tidak menyenangkan dan tidak seperti yang diidam-idamkan ketika kecil dulu. Ide ini tercermin dalam penokohan beberapa karakter dalam dongeng klasik yang benar-benar berbeda. Snow White atau Putri Salju bukanlah seorang gadis cantik yang lembut dan baik hati. Ia adalah seorang perempuan sangat gendut dengan tingkah menyebalkan. Ia tinggal bersama tujuh kurcaci yang terpaksa menampungnya karena mereka dikenai sanksi oleh pengadilan untuk mengurus Putri Salju. Mereka pernah mencoba meracuni Putri Salju dengan apel tapi ia berhasil dibangunkan oleh ciuman seorang Pangeran berkuda putih. Lucunya, bukan nenek sihir jahat yang meracuni putri ini. Selain itu, pangeran yang menciumnya itu tidak berkenan menikah dengannya. Lelaki itu langsung meninggalkannya setelah ia terbangun.

Perbedaan lain juga muncul dalam tokoh Gadis Berkerudung Merah. Dalam dongeng klasik, ia dikejar-kejar seekor serigala dalam perjalanan menuju rumah neneknya. Akan tetapi, dalam cerita ini justru gadis ini jatuh cinta dengan si serigala dan akhirnya tidur dengannya. Hasil dari hubungan mereka ini ialah makhluk setengah manusia dan setengah serigala, yang disebut Loup. Nantinya, kaum Loup ini berkembang terus jumlahnya dan mengejar-ngejar David dalam petualangannya di negeri dongeng.

Selain penggambaran tokoh yang berbeda ini, detil-detil lain yang identik dengan dunia orang dewasa juga muncul dalam permasalahan sosial tokoh-tokoh di dalamnya. Para kurcaci yang tinggal bersama Putri Salju saling memanggil ‘kamerad’ antarmereka. Dalam obrolan sehari-hari, mereka selalu berbicara tentang keadaan mereka sebagai kaum tertindas dan terus mengusahakan perjuangan kelas pekerja. Awalnya, mereka berdelapan, akan tetapi seorang saudara mereka yang bernomor tujuh tidak lagi mereka akui sebagai saudara. Sebabnya adalah kamerad nomor tujuh ini bekerja di perusahaan roti milik ibunya. Ketujuh kurcaci yang lain menganggapnya berkhianat karena ia bersekongkol dengan kaum ‘kapitalis’ (mereka biasanya menyebut gelar ini dengan kemarahan). Ketujuh kurcaci lainnya bekerja sebagai penambang berlian. Namun, mereka tidak pernah mau memberitahukan bahan tambang yang mereka hasilkan dan letak tambang itu pada siapa pun kecuali David. Alasannya, mereka tidak mau orang-orang mendengar tentang tambang itu dan mulai mengambil keuntungan secara berlebihan (eksploitasi) untuk diri mereka sendiri. Salah satu kurcaci itu menyebutkan bahwa selama tambang itu dirahasiakan, mereka hanya akan menambang secukupnya untuk kebutuhan mereka sendiri dan tidak akan pernah mengambil keuntungan lebih dari itu. Kisah para kurcaci ini akrab dengan gerakan perlawanan menentang kapitalisme yang pernah populer (bahkan hingga sekarang) di beberapa negara di dunia. Tentunya, dialog semacam ini tidak pernah muncul di dongeng klasik anak-anak.

Fenomena sosial lainnya muncul ketika David bertemu dengan seorang pemuda ksatria yang sedang dalam perjalanan mencari sahabat karibnya yang menghilang. Dalam perjalanan itu, mereka sempat beristirahat di balik sebuah gedung gereja tua. Ksatria bernama Roland itu mengemukakan pendapatnya tentang agama baru yang dibuat oleh Raja dan kemudian dianut oleh rakyatnya. Menurut Roland, agama itu membuat para penganutnya seakan buta dan menujukan semua orientasi kepada Tuhan. Mereka mulai berdoa meminta segala sesuatu kepada Tuhan. Ketika mereka berhasil mendapatkannya, mereka akan bersyukur. Namun, ketika tidak, mereka akan melihat itu sebagai ‘kehendak-Nya’ dan berpasrah pada apa pun yang akan terjadi. Roland menyempatkan diri berkata, “Tuhan macam apa itu?” Perdebatan dan pertentangan tentang sifat dogmatis agama sendiri memang menjadi salah satu isu yang lumayan bertahan aktualitasnya dalam dunia orang dewasa. Ketika anak-anak, hal ini mungkin bukanlah sebuah hal penting untuk diperhatikan. Rutinitas beragama terus dijalankan dan diajarkan. Namun, ketika menghadapi dunia yang lebih luas dan bertemu berbagai macam wacana, sebagian orang sempat mengalami masa-masa mempertanyakan segala hal yang dulunya diimani begitu saja. Agama salah satunya. Di bagian ini, penulis ‘menyempilkan’ permasalahan yang sering dialami orang yang beranjak dewasa ini. Saya sendiri tidak begitu yakin apakah komentar Roland tentang agama itu mewakili pola pikir dan sikap yang diambil penulis. Siapa tahu isu ini hanya sekedar dihadirkan untuk menyentil kesadaran pembacanya (yang mungkin pernah mengalami hal yang sama).

Masih berkaitan dengan Roland, David sempat menerima informasi sumbang tentang ksatria ini ketika ia bertemu lagi dengan si Lelaki Bungkuk. Roland yang menyebutkan bahwa ia sedang dalam perjalanan mencari sahabat laki-lakinya yang sangat dicintainya disebut-sebut memiliki hubungan khusus yang tidak semestinya dengan lelaki bernama Raphael itu. Alhasil, David sempat menjadi sangat takut dan menghindari Roland karena menduga Roland ialah seorang homoseksual. Siapa yang mengharapkan kisah macam ini muncul di dongeng anak-anak? David tentunya menghadapi gejolak besar dalam dirinya karena menemui kenyataan yang belum akrab dengan dunia bermainnya. Roland yang mengenali kecurigaan David itu menyelesaikan semua masalah dengan mengatakan bahwa hubungan antara dirinya dan Raphael adalah urusan mereka berdua sepenuhnya. Lagi-lagi, meski tak yakin apakah sikap Roland ini adalah representasi dari sudut pandang penulis, bagian kisah ini menghadirkan sebuah peristiwa benturan dalam hidup seseorang. Berhadapan dengan hal-hal yang sebelumnya ada di luar jangkauan dunianya tentunya sangat tidak mudah untuk David sebagai anak-anak. Tapi, pada kenyataannya itu sungguh-sungguh eksis di dunia nyata. Pergulatan untuk menerima kenyataan ini tentunya juga dialami oleh kebanyakan orang dalam perjalanan menuju kedewasaan. Proses penerimaan kenyataan yang tak sesuai dengan harapan. Pada akhirnya, David mampu mengesampingkan penilaian buruk yang tak sepenuhnya pantas untuk diberikan pada Roland itu. Ia menerima Roland sebagai seorang rekan perjalanan yang sepenuh hati mendampinginya dan mau menyelamatkan nyawanya.

Perjalanan David menuju istana Raja bukanlah hal yang mudah. Ia harus mengalahkan makhluk-makhluk aneh dan menyeramkan yang membahayakan nyawanya. Makhluk-makhluk initermasuk kaum Loupmerupakan representasi dari rasa takut David. Sejak kecil ia sangat tidak menyukai tokoh serigala. Ketakutannya ini kemudian menjelma dalam cerita dongeng yang dimasukinya. Hal ini merupakan ide yang kerap kali muncul dalam banyak cerita. Menaklukkan ketakutan. Bahkan, sebagian besar cerita mengungkapkan bahwa hanya dengan cara itulah seseorang dapat mencapai sebuah kemajuan. Tiap orang pastinya mengalami peristiwa unik masing-masing dalam mengalahkan ketakutan itu. Waktu yang dibutuhkan tiap orang untuk bergulat dengan ketakutannya pun berbeda-beda (meski sebenarnya menurut saya nyaris sepanjang umur hidupnya manusia dibayangi ketakutan-ketakutannya). David sebagai tokoh anak-anak yang beranjak dewasa juga tidak luput dari perjuangan menaklukkan ketakutan ini. Ia diceritakan baru berhasil mengalahkan kaum Loup itu sepenuhnya setelah berhasil sampai di istana raja, yang artinya sepanjang kisah itu berlangsung David selalu dikejar-kejar oleh ketakutannya sendiri.   

Setelah melalui berbagai petualangan yang mengancam jiwanya, David berhasil tiba di istana dan bertemu dengan raja. Sang Raja ialah Jonathan Tulvey, saudara sepupu ibu tiri David yang diceritakan menghilang bersama adik tiri perempuannya ketika berusia 12 tahun. David menempati kamar Jonathan ketika ia tinggal di rumah ibu tirinya. Ternyata Jonathan juga masuk ke dunia dongeng ini dan tidak kembali. Ia menyerahkan adik tirinya kepada si Lelaki Bungkuk sebagai imbalan supaya ia bisa hidup tenang di dunianya sendiri. Rupanya, Jonathan juga mengalami pergulatan yang sama dengan David: rasa iri pada adik tirinya. Gadis kecil bernama Anna itu dibunuh oleh Lelaki Bungkuk dan jiwanya diambil untuk dijadikan penyambung nyawa si Lelaki Bungkuk. Dari Anna, David belajar mengatasi rasa irinya pada adik tirinya. Ia tidak mau adiknya disakiti dan dibunuh oleh Lelaki Bungkuk. Perlahan-lahan David menyadari bahwa sesungguhnya adiknya tidak punya salah apa-apa hingga ia pantas dibenci. Pergulatan batin macam ini sangat akrab dalam kehidupan manusia. Orang-orang kerap kali mencemburui orang yang lebih kecil dan lemah dibanding dirinya. Ketakutan bahwa orang-orang akan lebih mencintai si kecil ini menjadi momok dan kadang-kadang menyebabkan seseorang tega mencelakainya. Hal yang kerap kali luput dalam peristiwa semacam itu adalah kesadaran bahwa si kecil ini sebenarnya tidak bersalah dan tidak pantas diperlakukan demikian. Namun, pribadi yang menghadapi pergulatan ini bisa saja malu atau gengsi mengakui bahwa ia mengetahui hal itu sebab ia akan dinilai kekanak-kanakan.

Kitab Tentang yang Telah Hilang sendiri sebenarnya bukan benda berharga menurut si Lelaki Bungkuk. David berhasil mengetahui isi kitab yang menjadi harta karun satu-satunya milik sang Raja. Buku itu berisikan kisah-kisah masa kecil Jonathan Tulvey dan benda-benda kesayangannya yang selalu mengingatkannya pada masa itu. Ya, bagi orang lain kitab itu mungkin sampah. Namun, bagi Jonathan kitab itu satu-satunya hal yang menyadarkannya bahwa ia telah kehilangan banyak hal dari masa kecilnya yang bahagia. Tak aneh jadinya jika Jonathan begitu menyayangi kitab itu karena seluruh kebahagiaan Jonathan ada di dalamnya. Naaah…berkaitan dengan kitab ini, saya pikir semua orang memilikinya entah apa pun bentuknya. Tiap-tiap dari kita pernah melalui masa-masa yang membahagiakan (tidak mesti masa kanak-kanak) dan biasanya kita menyimpan kenang-kenangan tentang masa itu. Entah dalam bentuk buku harian, album foto, atau mungkin hanya dalam ingatan. Tak jarang, orang-orang berkomentar miring tentang kenangan itu dan menertawakan tingkah kita yang konyol untuk memeliharanya. Akan tetapi, sekonyol apa pun bentuk kenangan itu, kita mampu menemukan sebuah kebahagiaan di sana. Kebahagiaan yang juga memberikan banyak pelajaran dan akan terus dikenang sepanjang umur hidup.

Bagi saya sendiri, keberadaan Kitab Tentang yang Telah Hilang dalam kisah si David ini merupakan representasi dari hal-hal yang secara tidak sengaja telah banyak dilupakan oleh orang, entah itu karena kesibukan atau hal-hal lain. Perjalanan menuju kedewasaan pun menjadi salah satu alasan yang mungkin menyebabkan kelupaan itu. Saya sendiri sempat mengalaminya dan juga menemui beberapa orang yang mengalami hal yang sama. Keinginan menggebu-gebu untuk tumbuh dewasa kadang-kadang membuat seseorang melempar begitu saja kenangan masa kecil ke bagian ingatan yang paling dalam. Orang-orang ini kemudian berjalan menapaki begitu banyak ritual dan rutinitas kedewasaan. Suatu ketika, hal-hal yang telah mereka tekan jauh ke dalam ingatan yang paling dalam itu akan muncul. Hasilnya, kerinduan yang begitu dalam akan mereka rasakan meski hanya melihat atau menemui hal-hal kecil yang pernah muncul di masa lalunya. Sebagian orang salah perhitungan dengan rasa rindu ini. Mereka mungkin berpikir bahwa ini hanya sekelebat kenangan yang melintas kembali dan nantinya akan pudar dengan sendirinya. Nyatanya, tak sedikit yang mengalami galau berkepanjangan karena diingatkan pada kenangan-kenangan itu dan merindukannya begitu dalam.

Gambaran negeri dongeng yang sungguh jauh berbeda dalam kisah ini juga menghadirkan pengalaman banyak pribadi dalam menghadapi lingkungan tempat mereka tumbuh dewasa. Mimpi yang mereka idam-idamkan sejak kecil ternyata akan jadi beda ketika berhadapan dengan kenyataan. Persimpangan melintang di sana-sini, tak jarang pilihan jalan dalam persimpangan itu sangat menentukan cerita hidupnya.  Hadirnya wacana ini dan itu seiring dengan berkenalan dengan banyak orang juga menimbulkan kebingungan dan keragu-raguan. Dalam buku ini, si Lelaki Bungkuk sempat berkata, “Ketika kau masih anak-anak, kau melihat segala hal hitam dan putih. Namun, kini kau bukan anak-anak lagi, dan segala hal jadi abu-abu. Bahkan banyak orang dewasa tak berani mengambil keputusan karenanya dan hanya tahu perbedaan di antara keduanya…” Ngampleng banget buat saya. Berbagai macam hal yang ditemui dalam perjalanan kedewasaan itulah yang menjadikan ruang abu-abu dalam hidup saya makin melebar. Alasan belajar menerima perbedaan dan keberagaman sudut pandang awalnya memang terdengar meyakinkan, tapi pada akhirnya kadang-kadang menyulitkan sebab menimbulkan keengganan untuk mengambil sikap. Hahaha…mudah-mudahan bisa diperbaiki.

Yaaaahh…intinya novel yang baru saya baca ini menghadirkan berbagai macam konflik yang dialami seseorang dalam perjalanan menuju kedewasaan dengan latar cerita anak-anak. Hasilnya, cerita ini unik meski sebenarnya tidak sebagus yang saya harapkan. Saya sengaja merahasiakan bagian akhir ceritanya. Siapa tahu nanti ada yang mau membacanya (malah jadi tidak seru kalau sudah tahu akhir ceritanya). Kisah dalam buku ini menghadirkan sesuatu yang begitu dekat dengan kehidupan tiap orang yang niscaya akan mengalami proses pendewasaan (meski banyak orang bilang menjadi dewasa itu pilihan). Pengalaman pribadi dan refleksi masing-masing pembaca pastinya berpengaruh banyak dalam menginterpretasikan cerita ini. Sempatkanlah berefleksi lewat tiap hal yang kita baca karena kita sering kali kehilangan waktu untuk berhenti sejenak dan merenungkan banyak hal. Aheee! Selamat membaca buat yang berniat membaca, selamat berefleksi buat yang berniat berefleksi, selamat galau buat yang berniat galau! :)

Kamis, 05 Januari 2012

tentang buku Mahabharata


Saya baru saja menyelesaikan sebuah buku yang mulai saya baca sejak sebelum liburan. Kali ini dengan gembira saya mengumumkan bahwa saya sudah selesai membacanya! (senang sekali bisa menghabiskan buku lagi!) Buku yang beruntung saya baca ini adalah sebuah buku terbitan lama, namun baru saya baca tahun lalu. Sudah sejak 2003 buku ini terbit. Berbekal rayuan pada seorang teman, saya berhasil menggondol pulang buku tersebut untuk dirampungkan selama liburan. Setelah penjelasan panjang lebar yang tidak mendebarkan sama sekali, inilah judul bukunya………Mahabharata.



Belakangan memang saya tertarik mengetahui lebih banyak tentang cerita-cerita wayang. Nah, buku yang satu ini ialah salah satu versi tulisan tentang cerita epik tokoh-tokoh yang biasanya dilakonkan dalam bentuk kesenian wayang di Indonesia. Buku yang saya baca ini merupakan tulisan seorang penulis Bali, Nyoman S. Pendit. Saya senang sekali berhasil merampungkan bacaan ini karena saya mencoba membaca berbagai sumber tertulis cerita tersebut.

Pertama kali mengetahui cerita wayang, saya terduduk di angkringan kesayangan saya dan teman-teman selama 3,5 jam dengan kuping siaga. Tak lain tak bukan, saya diceritai secara lisan kisah-kisah menarik tersebut oleh seorang teman yang menggandrungi wayang sejak kecil hingga sekarang ia tak kecil lagi. Kisah super duper panjang (meski sudah dipersingkat dengan sangat dahsyat oleh penceritanya) itu saya dengarkan sambil berusaha mengingat-ingat setiap tokoh yang muncul di dalamnya. Saya menyebut kisah itu sebuah pohon silsilah yang demikian njelimetnya. Banyak sekali tokoh yang muncul; latar ceritanya pun harus berganti ke sana kemari supaya jalan ceritanya koheren. Beruntung, teman saya itu memiliki kemampuan bercerita yang menakjubkan. Ia mampu memaparkan kisah-kisah itu dengan sangat menarik. Sepulangnya dari wayangan angkringan itu, saya berusaha menuliskan kembali yang telah saya dengar. Ternyata eh ternyata, saya tak sanggup menyelesaikan tulisan itu.

Setelah lagi-lagi saya memberikan penjelasan yang tak mendebarkan, kini saya mau mengalah dan memulai mengisahkan alasan saya menulis tulisan membingungkan ini. Naaah…jadi, begini. Intinya, impresi yang timbul antara ‘mendengarkan’ dan ‘membaca’ kisah pewayangan ini ternyata berbeda. Sebenarnya, bukan dari sisi indera yang saya gunakan perbedaan ini muncul, melainkan lebih tepatnya dari versi cerita lisan teman saya dan yang tertulis dalam buku. Saya mengkhususkan perbedaan ini pada poin karakteristik tokoh dan penokohannya.

Dalam cerita lisan teman saya, sejumlah tokoh yang dominanmisalnya Pandawa dan Kurawa digambarkan sebagai tokoh yang datar (flat characters). Artinya, mereka hanya memiliki satu sifat dominan yang sangat menonjol dan menjadi ciri khasnya. Lebih jauh lagi, cara teman saya menceritakannya terlihat semacam mengabaikan sejumlah karakteristik tertentu dari tokoh-tokoh tersebut. Misalnya, tokoh Yudhistira yang dikenal memiliki sifat dominan jujur dan bijaksana disebutkan memiliki kelemahan yang berkaitan dengan kejujurannya tersebut, yakni gampang dibohongi dan dicurangi dalam sebuah permainan dadu sementara ia sendiri menolak untuk berbuat demikian. Contoh lainnya, Arjuna, seorang ksatria tampan tanpa cacat cela dan jago perang. Satu-satunya kelemahan Arjuna ialah tidak mampu menolak perempuan mana pun. Bhima yang ditokohkan sebagai seseorang berperawakan besar dan memiliki kekuatan yang tak terkalahkan juga menyandang kelemahan, yakni kerap mengabaikan sopan santun dan tata krama, serta bersikap kasar. Meski karakter baik dan buruk ini diceritakan oleh teman saya itu, tokoh-tokoh ini tetap saja datar. Sebab musababnya adalah karakter buruk mereka tidak terlalu mengambil peran penting dalam ceritanya. Semua ksatria Pandawa diceritakan sebagai tokoh yang gagah berani, membela kebajikan, dan selalu benar. Sebaliknya, penokohan Kurawa selalu menonjolkan karakter buruk mereka dan cenderung mengabaikan sifat-sifat ksatria yang mereka punya.

Naaah... membaca buku Mahabharata tulisan Nyoman S. Pendit awalnya membuat saya agak kaget. Saya semacam anak kecil yang mengimani bahwa pangeran berkuda putih itu selalu baik hati dan tampan. Ia akan menyelamatkan putri cantik yang selalu tersiksa untuk dijadikan permaisurinya. Ia akan mengalahkan nenek sihir jelek yang jahat. Demikian halnya dengan cerita wayang. Saya dibekali dengan kepercayaan bahwa semua Pandawa itu baik hati dan tak akan melakukan perbuatan tercela. Saya percaya bahwa semua Kurawa itu makhluk jahat tanpa perasaan dan suka perang. Nyatanya, buku ini berkata lain. Semua tokoh datar dalam cerita lisan teman saya dulu itu berubah menjadi karakter bundar…hahaha (terjemahan dari round characters), yah maksudnya menjadi tokoh yang lebih realistis dari segi wataknya (tidak dari segi kesaktiannya). Misalnya, tokoh Yudhistira menjadi lebih mendekati manusia nyata ketika dikisahkan sedang bermain dadu dengan Kurawa. Yudhistira yang bolak-balik kalah karena dicurangi memang tak mau berbuat curang, akan tetapi ia menjadi kalap dan lupa diri. Ia sampai hati mengorbankan adik-adik kesayangannya, kerajaannya, dan (bahkan) istrinya. Gara-gara itu semua, para Pandawa dan Drupadi (istri mereka) dihina habis-habisan dan dipaksa menjalani hukuman pengasingan di hutan selama dua belas tahun. Penokohan Yudhistira yang jujur dan bijaksana menemui sisi kemanusiaannya ketika ia diceritakan lupa diri dan tega berbuat tidak pantas pada keluarganya sendiri. Contoh lainnya ialah penokohan Bhima. Meski memang ditokohkan sebagai ksatria yang kasar dan memiliki kekuatan besar, Bhima dalam Mahabharata yang saya baca ialah seorang tokoh yang mendekati manusia sesungguhnya ketika ia menghadapi perang. Dendamnya pada Duryodhana membuatnya tega melanggar aturan perang pada masa itu dan bertindak keji dengan meremukkan paha Duryodhana (padahal menurut aturan perang, dilarang menyerang tubuh bagian bawah perut) dan menginjak-injak kepalanya ketika ia sekarat. Selain Pandawa, Karna yang juga dikategorikan sebagai tokoh antagonis dalam buku ini memiliki sisi lain dirinya yang bertolak belakang dengan keburukannya. Karna sempat diceritakan sebagai seorang ksatria pemberani dan setia. Ia juga berhati besar dan luhur karena ia berperang di pihak Kurawa demi membalas jasa Duryodhana dalam hidupnya meski ia tahu Pandawa adalah saudaranya sendiri.

Dari tiga contoh itu, saya ingin menunjukkan perbandingan antara kedua versi cerita yang pernah saya ketahui. Sosok-sosok protagonis dalam kisah ini juga dideskripsikan memiliki sifat antagonis yang juga menonjol dan signifikan dalam cerita. Tak hanya penokohan mereka, bahkan para petinggi-petinggi kerajaan, ksatria-ksatria besar, para brahmana, dan bahkan para dewa pun digambarkan memiliki dua belah sisi kepribadian. Kedua sisi kepribadian ini digambarkan dengan tidak berat sebelah. Semua tokoh protagonis harus berkutat dengan nafsu dan kelemahan-kelemahan mereka. Hal-hal tersebut berusaha mereka tekan (represi), akan tetapi layaknya manusia pada umumnya mereka juga kerap lengah dalam usaha tersebut sehingga sifat itu mencuat ke permukaan. Sebaliknya, para tokoh antagonis yang digambarkan selalu berusaha merebut kekuasaan dengan rakus dan lain sebagainya ternyata juga dinilai memiliki sifat-sifat ksatria (yang pada masa itu dianggap sangat mulia), misalnya tak mau mundur dari medan peperangan sebelum menyelesaikan tugasnya. Tak lupa, sifat-sifat ksatria yang mereka tunjukkan ini pun mendapatkan apresiasi dari para dewa dan tentunya dari penulis sendiri (dengan membubuhkan keterangan bahwa tindakan itu sangat heroik dan sebagainya).

Inilah bagian menarik dari membaca buku ini. Penokohan bagi tiap karakter di dalamnya dibuat lebih realistis dan menyerupai manusia pada umumnya (memiliki sisi baik dan buruk). Kedua sisi kepribadian ini pun diletakkan dalam porsi yang tepat sehingga keduanya signifikan dalam cerita dan menjadikan tokoh tersebut tidak datar.

Kesimpulan tambahan, membaca selalu memberikan sebuah pengalaman yang berbeda. Maka, membacalah! Hehe… begitu saja deh cerita saya kali ini. Mahabharata adalah sebuah buku yang layak dibaca oleh siapa pun yang tertarik. Saya juga menyukai nilai-nilai kebijaksanaan yang diselipkan di dalamnya. Recommended!