kotak-kotak berwarna


Itu kumpulan kotak-kotak warna yang membentuk kotak lagi. Ada enam jenis warna. Rubik, begitu kata orang-orang. Sebut sajalah apa pun namanya, yang jelas benda itu mengingatkanku pada sesuatu. Baru saja aku memainkannya lagi.

Sesuatu melintas di kepalaku. Tak lain sebuah gambar mental bangsal rumah sakit lengkap dengan pasiennya. Siapa lagi kalau bukan aku. Aku ingat bahwa awalnya aku membantah pernyataanmu bahwa memainkan rubik itu gampang. Lantas kamu mengajariku pelan-pelan. Sangat perlahan. Aku lambat sekali mengerti, tapi kamu tidak berhenti sampai aku benar-benar menguasainya. Satu kali, dua kali, aku berhasil menyelesaikan teka-teki warnanya.

Hari-hari berikutnya, ketika kamu pulang sejenak untuk mandi atau berbenah diri, aku meletakkan telepon genggamku di sebelah bantal lalu menyalakan penghitung waktunya. Bukan sombong, tapi kala itu aku sanggup menyelesaikan permainan kotak berwarna itu paling cepat dalam tiga menit. Tiga hari berturut-turut aku melakukan hal itu. Terima kasih ya, lumayan menarik untuk membunuh waktu membosankan di bangsal berbau obat itu.

Beberapa lama sesudahnya, aku tidak pernah menyentuh benda itu lagi. Alhasil, ketika berjumpa lagi aku lupa cara menyusunnya. Aku mencoba mengingat-ingat lagi. Suatu ketika, aku menemukan rubik yang bubar, lalu aku menyusunnya satu per satu sesuai warnanya. Lalu, aku mengirimimu pesan singkat, memberi tahu bahwa aku sedang menyusun rubik dengan cara membongkarnya. Kamu lalu membalas: “Curang.” Setelahnya, terulang lagi. Aku lupa lagi, lalu belajar memainkannya lagi.

Kau tahu, sekarang aku bisa memainkannya. Lancar. Namun, satu hal yang dari awal belajar kamu berusaha ajarkan padaku tetap belum bisa aku pahami: logika berpikir. Aku tak benar-benar paham mengapa harus melakukan gerakan ini dan itu dengan rumus tertentu pada kotak-kotak berwarna itu. Layer pertama dan kedua masih bisa kuterima. Lain halnya dengan yang ketiga, aku tak paham apa-apa. Maaf, kata teman-teman memang logikaku secara umum bermasalah.

Apa mungkin logikaku yang tak memadai inilah yang membuatku tidak bisa memahami ada apa saat ini. Aku berusaha memahami mengapa teringat padamu itu sebegitu pentingnya untuk ditulis. Bahkan aku sendiri belum bisa memahami alasan kita sudah lama sekali tidak bertemu. Aku pernah merasa bisa mengenali dan mengerti layer pertama dan keduamu. Namun, ternyata layer ketigamulah yang sungguh-sungguh tak pernah kupahami.

Jika nanti kamu sudah berkenan, aku siap belajar lagi dengan logikaku yang pas-pasan ini: memahami logika layer ketiga. Bilang saja ketika waktunya sudah tiba.


7  tahun tsunami Aceh
23.02

Komentar

Postingan Populer