Sabtu, 16 Maret 2013

Don't Cancel a Walk because of Bad Weather


DON'T cancel a walk because of bad weather. If prepared with proper outdoor attire, you will really find the Atmospheric Conditions unfavorable to walking. In fact, walking against the wind provides a particularly beneficial workout.



Actually, I have tried to find the exact picture, but I failed. Picture above is the closest one to the writing below it. I quote it from a book that I borrowed from a Pooh-maniac-friend. It is entitled Pooh's Little Fitness Book. An amusing book. I read it after some days stuck on some theory books. I was totally refreshed.

Then, why the hell did I quote such writing? Honestly, what made me impressed was the picture above that writing in the book that I failed to find. It was the picture of Pooh and Piglet holding hands each other as the wind was blowing heavily. I was a little stupid that I almost cried because of that touching picture.

Do Not cancel a walk because of bad weather. It gives you a beneficial workout, instead. A friend or two will lead the way. At least, when you get lost, they will find the way with you. You will have a precious story to remember and to tell after. Keep walking, then. :)

Senin, 11 Maret 2013

laut


Aku mengenalnya sejak masih sangat dini usiaku. Aku dipertemukan dengannya untuk kali pertama oleh ayah dan ibuku. Hatiku diliputi gembira ketika pertama kali melihatnya, membauinya, menjamahnya, dan mulai mengingatnya. Aku memanggilnya laut.

Aku pun menghabiskan masa pertumbuhanku bersamanya. Kutuliskan kisah-kisah masa remajaku di pasirnya yang lembut dan membiarkannya disapu oleh ombak agar disimpannya kisah-kisah itu. Kuceritakan padanya tentang ujian sekolah yang telah berakhir, tentang persahabatan labil yang meninggalkan banyak kenangan lucu, dan tentang laki-laki yang kepadanya aku jatuh hati.

Cita-cita membawaku meninggalkan laut yang menumbuhkanku bersamanya sejak dari aku sangat kecil itu. Namun, tak sulit ditebak, aku belum bisa hidup tanpanya. Aku mengembalikan laut dengan caraku sendiri ke hidupku yang biasa-biasa saja ini.

Laut, dalam lakon Rara Mendut-nya Romo Mangun, selalu disebut dengan nama agung Samudera Raya. Tempat segala hal dikembalikan kepada alam. Tempat segala hal itu pula tak pernah ditolak. Laut memangku jasad pribadi-pribadi yang abadi dalam kenangan manusia pada masa itu. Pribadi-pribadi yang abadi karena memenangkan harkat kemanusiaannya meski dalam kekalahan.

Hingga kini, ia tetaplah laut yang sama. Tiap kali aku duduk di tepiannya, aku tahu bahwa aku memandang laut yang sama dengan laut yang menumbuhkanku sebab sejatinya semua laut selalu terhubung satu sama lain.

Aku tahu ia masih menyimpan cerita-cerita masa lampauku. Padanyalah aku pulang dan mengadukan kesedihan dan kekalahanku. Padanyalah kuhanyutkan air mata yang rasanya sama asinnya dengan percikan air garamnya. Padanyalah kusorakkan kejayaanku setelah menaklukkan satu lagi tantangan hidup. Padanyalah kuberikan tatapan bahagia lengkap dengan senyum jika telah kubahagiakan seseorang yang kucintai. Padanyalah kutitipkan rindu agar disampaikannya pada ayah, ibu, abang, adik, dan semua hal yang kukasihi.

Laut selalu mendengarkan kebisuanku. Ia menelannya dalam gulungan ombak supaya ringan sedikit perasaanku. Ia menerimanya tanpa satu pun gugatan atau keberatan. Ia menghiburku dengan kenangan-kenangan yang manis agar tak patah di jalan ketekunanku untuk melanjutkan hari.

Laut…padanyalah aku ingin pulang dan mengadu…kini…



11 Maret 2013
00.56




Sabtu, 09 Maret 2013

celetukan#4

Suatu kali saya mengobrol dengan teman-teman tanpa topik yang jelas hingga akhirnya maju ke topik akhir dunia alias kiamat. Menurut sejumlah kitab suci agama, ada beberapa tanda yang dapat disaksikan manusia akan kedatangan akhir zaman. Nah, obrolan saya dengan teman-teman ini menyimpulkan satu tanda lainnya yang juga merujuk pada kiamat. Tanda itu ialah runtuhnya pabrik koyo terakhir di dunia. Kesimpulan ini muncul bukan tanpa alasan. Iklan salah satu produk koyo adalah buktinya. Dari iklan tersebut kita tahu bahwa dunia ditopang oleh Atlas. Kita masih bisa hidup di bumi yang sama dari dulu hingga sekarang ini karena Atlas masih kuat menopangnya dan ketika ia mulai pegal-pegal, ia memakai koyo. Maka, koyo-lah yang menyelamatkan kita.
Pesan moral: waspadalah jika terdengar berita bahwa pabrik koyo terakhir di dunia telah bangkrut.
Pesan moral yang lebih penting lagi: hati-hati kalau mengobrol dengan teman.