Sheila on 7, Kenangan, Mimpi, dan Kenyataan (Apaan Sih?)




Sore tadi menjelang jam kerja berakhir, saya iseng-iseng menelusuri channel-channel YouTube yang menarik untuk dilanggan. Tak sengaja… lewat depan rumahmu… saya lihat video berdurasi hampir satu jam dari channel Sounds From The Corner yang dulu pertama kali saya kenal gara-gara video live gig-nya Pengantar Minum Racun. Ternyata eh ternyata, video kali ini adalah dokumentasi penampilan live Sheila on 7! Gambar-gambar itu diambil ketika mereka manggung di acara Soundrenaline di Bali.

Singkat cerita, sa putar sudah. Di lagu yang mana saya lupa, Mas Duta menyanyi sambil senyum-senyum. Duh, esemmu Mas….

Seperti biasa, saya membaca deskripsi singkat yang dibubuhkan administrator pengunggah video Sounds From The Corner itu. Begini bunyi sepotongnya:

What did the 90s teach you?

It taught me that good music doesn’t bullshit. Good Pop music empowers you in the simplest ways: honest, straightforward and strangely, well marketed. Sheila on 7 formed in 1996 and the first album was released at the edge of the decade (1999) but the self-titled album resonated pretty much how Indonesian Pop Music was back then. This was when the industry was still working, arguably healthy.

Saya mah ndak pinter mengomentari mana musik bagus mana jelek. Mengingat Sheila on 7 sendiri sudah memproduksi beberapa album dan reaksi saya ketika mendengarkan album-album itu selalu berbeda dan berubah. Lagu pertama mereka yang saya dengarkan adalah Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki. Kalau ndak salah saya masih SD kelas 1 (apa TK, ya?). Beberapa tahun setelah itu, segera selepas saya mulai belajar gitar patah-patah dengan lagu pertama Potong Bebek Angsa, lagu Sheila on 7 itulah yang saya mainkan sering-sering gara-gara kuncinya hanya dua: C dan G.

Saya sempat ketinggalan mengikuti sejak album “Pejantan Tangguh” dirilis. Saya baru maraton mengejar ketertinggalan soal musik mereka di tahun 2006 karena seorang teman sekelas dulu penggemar Sheila on 7 juga. Setelah masa itu, saya bisa dibilang cukup mutakhir soal mengikuti rilisan-rilisan mereka.

Waktu masih SMP dulu, Sheila on 7 sempat konser di kampung halaman saya, Bengkulu. Namanya anak kecil, ibu saya jelas tidak membolehkan saya berangkat nonton konser yang akan dijejali ribuan orang itu. Alhasil, saya hanya bisa meratapi usia sambil berharap cepat gede (apa-apaan itu?!). Keinginan nonton konser live mereka saya simpan dalam hati (sempat saya tulis juga sih di 100 mimpi yang ingin saya capai dalam hidup). Hingga akhirnya saya berangkat ke Yogyakarta untuk kuliah… kota tempat tinggalnya para personel grup musik kesukaan saya itu.

Tak menunggu lama, di tahun pertama kuliah ternyata Sheila on 7 diundang manggung live di kampus saya. Saya waktu itu masih jadi anak UKM band-band-an gaul (padahal saya ndak pernah ngeband), jadi kebagian tugas membantu menunggui backstage. Jadinya cuma bisa mendengarkan dari belakang panggung terbuka, sambil mengintip-intip ke depan sesekali.

Hmm… sehabis acara itu, twit saya pernah dibalas satu kali oleh Mas Duta. Ya deg-degan sih waktu membacanya, tapi dengan cepat saya lupakan. Hahaha. Entah kenapa, kalau tidak karena menulis ini saja saya sudah hampir lupa sepenuhnya. Beberapa kali pernah tidak sengaja bertemu dengan personel-personel band ini. Tapi ya sudah, begitu saja. Paling ya beberapa kali saya umbar-umbar ceritanya ke teman-teman (alay!), setelah itu ya… ya sudah, mau apa? Hahahaha.

Pengalaman nonton konser tunggal mereka juga ndak akan pernah saya lupakan deh. Itu konser ulang tahun ke-16 Sheila on 7. Saya hampir tepar waktu bersiap akan nonton konser setelah seharian kuliah dilanjut latihan teater sampai petang. Untung saya berhasil bertahan. Konsernya jelas tidak mengecewakan. Lagu Hingga Ujung Waktu tidak dinyanyikan, hanya diputarkan secara instrumental di jeda istirahat konser. Tetapi, ah, dasar penonton konser, suka bikin darah saya berdesir. Para penonton menyanyikan lirik lagu itu ramai-ramai, padahal tidak ada siapa-siapa di panggung. Saya memilih merem buat menikmatinya, tidak ikut menyanyi. Mendengarkan orang segitu banyak hafal lirik dan bernyanyi ramai-ramai itu aduhai indahnya. Ah, gitu deh pokoknya…

Perasaan saya sama Sheila on 7 (emang kowe sopo???!!!) juga sempat naik turun. Halah. Hahaha. Iya kok. Jadi, pada beberapa album terakhirnya, saya sempat merasa aneh ketika mendengarkannya. Ada banyak hal berubah. Banyak hal berbeda. Malahan beberapa lagu sempat saya rasa tidak bagus. Tapi, setelah didengarkan beberapa kali, bisa juga saya menikmatinya. Memang harus diakui juga, ada lagu-lagu yang minor, bukan karena tidak turun di radio atau televisi, tapi karena memang tidak begitu menarik hati.

Ketika album “Musim yang Baik” rilis diiringi kabar bahwa ini album terakhir mereka bersama major label, saya makin tertarik menunggui produk musik mereka selanjutnya ketika berbendera indie. Semoga makin asyik.

Sudah ah, begitu saja ceritanya. Kapan-kapan kalau ketemu pemantik yang sentimentil, saya mungkin menulis tentang mereka lagi. Simaklah video ini, entah hatimu sedang gundah atau sedang bungah, saya yakin (kalau kamu penggemar) video ini akan menyemarakkan perasaanmu. Tambah semarak gundahmu, atau bungahmu.

Adios!


Komentar

Entri Populer