Paulo Freire : Pendidikan Bagi Kaum Tertindas

Satu lagi tulisan latah yang tujuannya untuk membagi informasi yang baru saja saya dapatkan dari sebuah bacaan. Satu bab dari buku Epistemologi Kiri tulisan Listiyono Santoso dan kawan-kawan kembali saya rampungkan tadi malam saat gangguan tidur melanda. Saya terseok-seok melahap sedikit demi sedikit buku ini karena di setiap halaman saya harus berhenti begitu lama untuk mengerutkan kening. Jika kemudian bisa dimengerti, saya akan melanjutkan. Akan tetapi, bila tidak jua paham saya akan tiba-tiba ngambek dan mandek membaca lalu membiarkan buku ini tergeletak begitu saja.

Seorang pemikir kiri bernama Paulo Freire memikat saya dengan pemikiran besarnya yang diulas secara singkat dalam salah satu bab di buku ini. Jadi, tulisan ini hanya rangkuman yang saya dapat dari tulisan Made Pramono yang sebelumnya menyarikan buku Paulo Freire, Education as The Practice of Freedom in Education for Critical Conscioudness.



Paulo Freire ialah seorang pemikir besar pada zamannya yang mendedikasikan hidupnya bagi perubahan pendidikan. Freire merilis pemikirannya sebagai bentuk kritik dari sistem pendidikan yang berjalan pada zamannya. Ide besar pemikirannya adalah tentang tujuan pendidikan sebagai instrumen yang mampu membebaskan manusia dari ketertindasan, yang mampu ‘memanusiakan manusia’. Menurutnya, pendidikan haruslah berorientasi pada humanisasi diri yang dinyatakan dalam usaha pengenalan realitas diri manusia dan dunia. Freire membawa filsafat ‘pendidikan bagi kaum tertindas’. Bagi Freire, penindasan apa pun alasannya adalah tindakan yang tidak manusiawi dan merupakan bentuk dehumanisasi. Pendidikan bagi kaum tertindas ini bertujuan untuk membebaskan mereka dari penindasan itu dan memanusiakan mereka. Dalam rangka pemanusiaan dan pembebasan itulah, Freire melihat penyadaran (conscientizacao) merupakan inti pendidikan. (Made Pramono, 2003: 131)

Menariknya, dalam pemikiran tersebut Freire mengemukakan pendapat bahwa dalam penindasan terjadi dehumanisasi tidak hanya bagi kaum tertindas (oppressed), namun juga bagi penindasnya (oppressor). Bagi kaum tertindas dapat dilihat jelas bentuk dehumanisasi yang terefleksikan dalam pelanggaran terhadap hak-hak mereka untuk hidup bebas dan ketakutan terhadap para penindasnya. Sedangkan bagi para penindas, dehumanisasi termanifestasi lewat tindak penindasan itu sendiri yang tanpa disadarinya akan menghancurkan dirinya sendiri. Untuk memperbaiki kondisi inilah Freire mengusung ide pendidikan bagi kaum tertindas karena menurutnya kaum tertindaslah yang akan mampu membebaskan kedua pihak (kaum tertindas dan penindas) dari dehumanisasi tersebut.

Untuk mewujud nyatakan ide besarnya ini, Freire mengusulkan sebuah metode, yaitu dialog kritis. Berikut saya kutip langsung dari tulisan Made Pramono:
Dialog, dalam hal ini secara esensial didefinisikan Freire sebagai kata yang disusun oleh refleksi dan aksi. Kata yang diucapkan tanpa tindakan (atau maksud tindakan) adalah verbalisme, dan perkataan tanpa refleksi merupakan aktivisme.

Freire menyatakan, “There is no true word that is not at the same time a praxis. Thus, to speak a true word is to transform the world.” Bagi Freire, pendidikan bagi kaum tertindas tidak terlepas dari praktik sosialnya. Teori ini tidak boleh hidup sebatas ide saja, namun diwujudkan dalam tindakan yang menuntut komitmen. Salah satunya contohnya ialah program pemberantasan buta huruf bagi ribuan petani miskin di timur laut Brazil, negara tempat tinggal Freire. Ia yang saat itu menjabat sebagai direktur utama Pusat Pengembangan Sosial University of Recife menyatakan kepeduliannya dalam program tersebut. Namun, pada tahun 1964, Freire ditangkap atas tuduhan ‘aktivitas subversif’ kemudian dibuang ke Chile. Di dalam penjara ia menulis karya pertamanya yang berjudul Education as The Practice of Freedom. Kepedulian Freire akan pendidikan tidak luntur meskipun menjalani masa pembuangan. Ia bekerja selama lima tahun pada program pendidikan untuk orang dewasa di Chile. Karya besar Freire yang sangat ternama berjudul Pedagogy of the Oppressed.

Ide mengenai pendidikan bagi kaum tertindas dengan tujuan rehumanisasi manusia baik yang tertindas maupun penindasnya ini dimanifestasikan oleh Freire dalam rancangan sistem pendidikan yang dinamainya ‘problem-posing education’. Dalam bentuk ini, pendidikan dihadirkan dalam hubungan ‘partnership’ antara guru dan murid, di mana keduanya mampu saling memacu kreativitas dan kekritisan yang mendorong munculnya kesadaran. Dominasi guru yang diasumsikan mengetahui segala hal lalu membagikannya pada siswa diminimalisir sebab metode semacam ini dimaknai sebagai tindakan yang meletakkan siswa pada posisi tertindas. Problem-posing education memotivasi siswa menjadi pemikir yang kritis dan membuka seluas-luasnya kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas pribadinya. Pendidikan yang ditawarkan Freire ini mencoba memampukan individu-individu mengembangkan kemampuan mereka untuk memikirkan secara kritis eksistensi mereka di dunia dan merasa menguasai pemikiran mereka dengan berdiskusi pikiran tersebut, serta memanifestasi pandangan mereka tentang dunia baik secara eksplisit maupun implisit dalam pendapat mereka sendiri.

Pemikiran besar Freire ini memikat saya karena kemampuannya membaca dunia di sekelilingnya dan kepeduliannya untuk mendedikasikan hidup dan pemikirannya bagi ‘dunia’ itu. Dalam hal ini, realitas banyaknya kaum tertindaslah yang menggerakkan Freire untuk bergiat dalam pendidikan yang membebaskan ini. Ditambah lagi dengan prinsipnya yang menolak ide ini hanya sebatas teori melainkan menyatakan bahwa aksi sosial yang kongkret merupakan bagian tak terpisahkan dalam pemikiran besarnya ini. Pendidikan untuk rehumanisasi manusia yang terdehumanisasi oleh penindasan. Salut!

Komentar

  1. Terimaksih atas ulasan saudara.Disadari atu tidak para guru dewasa ini masih banyak sebagai penindas yang mematikan potensi pemikiran anak didik,bukan merangsang pemikiran mereka untuk berkembang namun guru banyak yang berperan sebagai pentransfer pengetahuan kepada siswa.Dengan prkataan lain hanya menuangkan apa yang ada di otak guru kepada siswa.

    BalasHapus
  2. Menurut saya, hal itu ada hubungannya dengan pergeseran esensi dan orientasi pendidikan. Pendidikan bukan lagi menjadi perantara antarmanusia untuk saling mendidik melainkan jadi lahan menyemai bibit manusia pekerja. Pendidikan tidak lagi membebaskan manusia, malah menindas. Sayang, Freire sepertinya kurang populer di kalangan para elit pembuat peraturan, terutama di bidang pendidikan. Terima kasih atas komentarnya. :)

    BalasHapus
  3. Sebagai guru saya merasakan sering tanpa saya sadari saya sudah menindas kreatifitas siswa...menyedihkan menjadi orang yang harus berada dalam lingkungan tertindas dan menindas. karena beralasan tuntutan kurikulum...

    BalasHapus
  4. :) buat ibu ninik, tetap semangat. semoga kegelisahan ibu menjadi sebuah pemacu untuk mencintai murid-murid dan mendidiknya dengan sepenuh hati. memang sulit lepas dari sistem, kita pun semuanya ada di dalam lingkaran itu. namun, berangkat dari kegelisahan inilah kita berusaha untuk memperbaikinya. :) semangat buat ibu ninik...

    BalasHapus
  5. puncak dari pendidikan yang digagas oleh freire merupakan upaya penyadaran terhadap orang orang yang merasa terdiskriminasi oleh sistem, lingkungan, agama dan lain nya.. mungkin ini menjadi suatu bahan renungan terhadap orang yang berkecimpung di dalam dunia pendidikan melihat realitas hari ini yang mana sistem pendidikan yang nota bane nya menjadikan warga belajar sebagai objek yang harus menuruti perintah sang subjek.. ironis negara yang kaya ini hanya menjadi negara boneka yang mana sistem dan sdm nya pun tidak memiliki kejelasan.. mungkin kesadaran manusia yang mengaku telah mengikuti pendidikan hanya sebatas moralitas yang normatif.. bila kita renungkan.. setiap warga yang telah meiliki kemampuan dalam bidang hal apapun seharusnya memberikan sedikit pengetahuan sebagai proses kesadaran bagi masyarakat yang belum mengerti apapun.. sayang keinginan itu hanya sebatas retorika yang tak pernah terejawantahkan...huhft

    BalasHapus
  6. menarik mbak!! Thanks
    tak hanya kalangan pembuat kebijakan di bidang pendidikan yang tak kenal tentang Freire.Para guru pun banyak yang tak kenal tentangnya.
    membuka cakrawala pandang guru pun masih sangat dibutuhkan kerja keras. Guru tak sekadar menjalankan "ketidakbijakan" pemerintah. Sekiranya minat pelajar melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi keguruan tak sekadar karena tidak diterima di fak yang diharapkan, tapi didasari minat dan cita-cita untuk perubahan besar pendidikan, hingga kemudian mereka lulus sebagai guru yang berkompeten, berharap dapat memunahkan guru yang dominan dan tidak kompeten. Perubahan pendidikan di negeri ini tak mudah, tapi kita harus tetap berusaha :)

    BalasHapus
  7. hihi..bagus pita, tambah refesrensi kie..hehhe
    mbok dikasih ulasan tentang kritik sastra mungkin...teorinya dan pendekatannya..hehehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer