Bersabdalah saja maka saya akan sembuh

Berikut sebuah potongan cerita yang dikutip dari The Alchemist karya Paulo Coelho di halaman 200 - 203:

“Aku ingin menceritakan padamukisah tentang mimpi,” kata sang alkemis.
    Si anak lelaki mendekatkan kudanya.
    “Di Roma, pada masa pemerintahan Kaisar Tiberius, ada seorang laki-laki yang baik hari. Dia mempunyai dua putra. Yang seorang masuk militer dan telah dikirim ke wilayah-wilayah paling jauh dalam kekaisaran itu. Putra satunya seorang penyair yang memukai seisi Roma dengan syair-syairnya yang indah.
    “Suatu malam sang ayah bermimpi. Ada malaikan mendatanginya dan menyampaikan bahwa ucapan salah seorang putranya akan dikenal dan dibicarakan di seluruh dunia hingga turun-temurun. Sang ayah terbangun dari tidurnya dan menangis penuh rasa syukur, sebab hidup ini begitu murah hati kepadanya, dan telah mengungkap hal yang pasti membuat bangga ayah mana pun.
    “Tak lama sesudahnya, sang ayah meninggal ketika mencoba menyelamatkan seorang anak kecil yang hampir dilindas roda-roda kereta perang. Karena selama ini sang ayah menjalani hidupnya dengan benar dan saleh, ia langsung masuk surga. Di sana dia bertemu malaikat yang mendatanginya dalam mimpi.
    “’Selama hidupmu kau orang yang baik,’ kata malaikat itu padanya. ‘Kau menjalani hidupmu dengan penuh kasih, dan meninggal secara terhormat. Maka aku akan mengabulkan apa pun permintaanmu.’
    “’Hidup telah bermurah hati padaku,’ kata sang ayah. ‘Ketika kau muncul dalam mimpiku, aku merasa segala usahaku tidak sia-sia, sebab syair-syair putraku akan dibaca orang hingga turun-temurun. Aku tidak menginginkan apa-apa untuk diriku sendiri. Tapi ayah mana pun tentu akan bangga kalau anak yang dirawatnya sejak kecil dan diberi pendidikan hingga dewasa menhadi orang terkenal. Aku ingin mendengar ucapan anakku di masa depan.’
    “Maka malaikat itu menyentuh bahu sang ayah, dan mereka pun dibawa ke masa depan. Mereka berada di sebuah lapangan sangat luas, dikelilingi ribuan orang yang berbicara bahasa yang tidak mereka pahami.
    “Sang ayah menangis bahagia.
    “’Sudah kuduga syair-syair putraku akan abadi,’ katanya pada malaikat itu di tengah-tengah air matanya. ‘Bisakah kaukatakan padaku, syair-syair mana dari putraku yang diucapkan orang-orang ini?’
    “Malaikat itu mendekati sang ayah dan dengan lembut membimbingnya ke sebuah bangku yang tidak jauh dari situ. Mereka pun duduk.
    “Syair-syair putramu yang menjadi penyair sangat populer di Roma,’ kata malaikat itu. ‘Semua orang sangat menyukai dan menikmatinya. Tapi setelah masa pemerintahan Tiberius berakhir, syair-syairnya terlupakan. Kata-kata yang kaudengar saat ini adalah kata-kata putramu yang masuk militer.’
    “Sang ayah terperangah memandang malaikat itu.
    “’Putramu dikirim ke tempat jauh dan menjadi
centurion. Dia orang yang adil dan baik hati. Suatu siang salah seorang pelayannya jatuh sakit dan sepertinya akan mati. Putramu mendengar ada seorang rabi yang bisa menyembuhkan penyakit, maka dia pun berkuda berhari-hari untuk mencari rabi ini. Dalam perjalanan dia diberitahu bahwa laki-laki yang dicarinya ini adalah Anak Allah. Dia bertemu orang-orang yang telah disembuhkan oleh rabi ini, dan dari orang-orang ini dia belajar tentang ajaran-ajaran rabi itu. Meski dia seorang prajurit Romawi, akhirnya dia beralih memeluk kepercayaan mereka. Tak lama sesudahnya, dia tiba di tempat yang sedang dikunjungi rabi yang dicari-carinya itu.
    “Dia mengatakan pada orang itu bahwa salah seorang pelayannya sakit parah. Rabi itu bersiap-siap ikut pulang bersamanya. Namun begitu besar iman perwira Romawi ini, dan saat memandang ke dalam mata eabi itu, dia yakin yang ada di hadapannya ini Anak Allah.
    “’Dan inilah yang dikatakan putramu,’ kata malaikat kepada sang ayah. ‘Beginilah ucapannya kepada rabi itu, yang tidak pernah dilupakan hingga turun-temurun, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.”’”
    Sang alkemis berkata, “Setiap orang di dunia ini, apa pun pekerjaannya, memainkan peran penting dalam sejarah dunia. Dan biasanya orang itu sendiri tidak menyadarinya.”
    Si anak lelaki tersenyum. Tak pernah dibayangkannya bahwa pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan ternyata begitu penting bagi seorang gembala.
    “Selamat tinggal,” kata sang alkemis.
    “Selamat tinggal,” kata anak itu.




Hmm…jelas sekali menarik buatku. Aku belum pernah mendengar kisah yang diceritakan sang alkemis itu kepada anak lelaki di dalam cerita. Klarifikasi: aku termasuk orang-orang yang mengenang kata-kata sang prajurit Romawi itu hingga saat ini. Sungguh, aku terkesan betul dengan kisah ini. Karena kata-kata itu begitu berarti buatku, aku mencoba bertanya pada ibuku yang aku pikir mungkin punya pengalaman lebih soal cerita ini. Dan beliau memang tahu. *prok, prok, prok. Ia menyebutkan bahwa kisah itu juga ada di dalam alkitab, di bagian Injil. Sayang, ia lupa di mana letak persisnya. Maka, malam ini aku memutuskan untuk mencarinya.
Jeng…jeng…aku menemukannya. Tercantum di Injil Lukas 7:1-10 (baca: Injil Lukas bab 7 ayat 1 sampai 10). Inilah versi alkitabnya:

Yesus menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum
Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya: “Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami.” Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuah di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” Dan setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, didapatinyalah hamba itu telah sehat kembali.


    Memang agak berbeda, namun ada yang memuat kalimat yang lebih mirip dengan potongan cerita sang alkemis itu di Injil Matius 8:8 (baca Injil Matius bab 8 ayat 8). Ceritanya mirip, namun kalimat yang diucapkan prajurit itu kurang lebih serupa:

Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.”


    Wow, waktunya menjelaskan alasan semua ini begitu menarik perhatianku. Di dalam perayaan Ekaristi yang dirayakan oleh umat Katolik terdapat bagian di mana semua umat mengucapkan kalimat yang serupa dengan yang diucapkan oleh prajurit tersebut. Perayaan Ekaristi diselenggarakan setiap hari di seluruh penjuru dunia oleh berjuta-juta orang, itulah sebabnya sang malaikat dalam cerita The Alchemist menyebutkan bahwa kalimat prajurit itu tidak pernah dilupakan oleh orang-orang turun-temurun. Bagian ini dalam Ekaristi ditandai dengan seusai mengucapkan Doa Syukur Agung, imam (biasa juga disebut Pastur) mengangkat hosti besar dan piala berisi anggur –yang melambangkan tubuh dan darah Kristus– ke hadapan seluruh umat. Ia kemudian melanjutkannya dengan doa yang kurang lebih berbunyi seperti ini: Berbahagialah saudara-saudari yang diundang ke dalam perjamuan Kristus. Selanjutnya, seluruh umat akan menjawab kalimat yang mirip dengan yang diucapkan oleh prajurit itu: “Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya. Tapi, bersabdalah saja maka saya akan sembuh.

   Momen itu adalah bagian dalam Ekaristi yang paling berkesan buatku. Aku selalu berusaha menghayatinya lebih dalam dari semua bagian yang lain. Nyatanya, memang hanya bagian inilah yang paling dominan aku hayati jika dibandingkan dengan bagian lainnya. Terutama ketika aku mengalami masa-masa krisis. Aku bisa serius ketika mengucapkannya. Ketika mengucapkan kalimat itu, aku berharap Tuhan menyembuhkan semua penyakitku. Semua keletihan dan keraguanku, semua iri hati dan dengki, semua rindu, semua kekecewaan dan kesedihan, semuanya. Bagiku, itu merupakan bentuk kerendahan hati dan pernyataan iman paling dahsyat. Sekaligus, kalimat itu menunjukkan bahwa betapa Tuhan itu mahabaik dan mahakuasa.   

Ada alasan lain yang membuat kisah-kisah ini begitu menarik buatku. Ketika aku bertanya pada ibuku tentang cerita ini, ia mengungkapkan bahwa firman alkitab itulah yang terakhir kali dibacakannya untuk didengarkan bersama dengan almarhum bapakku. Waktu itu, mereka berdua sedang berada di Jakarta, di rumah seorang keluarga, karena sedang menjalani pengobatan untuk bapakku. Hari itu hari raya Pentakosta, namun mereka berdua tidak bisa ikut misa di gereja. Maka ibuku mengajak bapakku berdoa bersama. Ibuku secara acak memilih firman itu. Sekedar memberitahu, saat itu bapakku sudah dinyatakan secara medis tidak bisa sembuh dari kanker yang menggerogotinya. Ternyata, sabda terakhir yang didengarkan bapakku itu bicara tentang kesembuhan. Bersabdalah saja, maka saya akan sembuh. Aku tidak pernah tahu persis apakah kisah ini juga bermakna besar bagi bapakku –aku tidak sempat tanya dan aku baru tahu beberapa hari yang lalu–. Syukur pada Tuhan, pada akhirnya bapakku bisa menerima semua rencana-Nya dengan tenang dan ikhlas. Setelah itu, ibuku juga bilang bahwa kejadian itu membuatnya selalu terkenang akan almarhum suaminya itu tiap kali ia mendaraskan kalimat itu di dalam Ekaristi.

Sudah ah, aku cuma mau cerita sebuah letupan-letupan peristiwa yang saling berkaitan dan menarik buatku beberapa waktu belakangan ini.

Sekaligus aku mau berterima kasih pada Tuhan atas pertemuanku dengan kisah-kisah ini. Terima kasih banyak ya, Tuhan. :)





 
 
Bengkulu, 9 Januari 2010, 23.38
Di kamar sendiri; ditemani hujan, alkitab, dan The Alchemist; duduk berselimut

Komentar

Entri Populer